
Esoknya, Azizah pergi ke taman kampus karena ia pikir Ghibran pasti ada disana. Namun Azizah tidak melihat Ghibran disana.
"Kemana lelaki aneh itu? Biasanya dia ada disini," ujarnya, sembari melihat ke sekeliling area taman.
Azizah pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu, sementara ditempat lain Ghibran sedang termenung diteras kamarnya. Ia masih memikirkan tentang Aisyah dan perasaannya terhadap Aisyah.
"Yaa Allah, kenapa perasaan ini tidak mau hilang. Semakin aku mencoba untuk melupakannya kenapa bayangnya semakin nyata" gumam Ghibran dalam hatinya.
Umy Aminah menghampiri Ghibran tanpa sepengetahuan Ghibran dan membuat ia terkejut.
"Apa yang sedang kamu pikirkan nak?" Aminah berdiri disamping Ghibran.
Ghibran menoleh dengan wajah yang terkejut, lalu berkata, "Umy."
"Apa yang tengah kamu pikirkan? ceritakan saja pada umy nak, apa kamu sedang memikirkan perihal perjodohanmu?" tanya Aminsh Menatap Ghibran dengan penuh lamat.
Ghibran diam tidak langsung menjawab pertanyaan dari umynya itu.
"(Tidak, aku tidak mungkin menceritakan ini semua pada umy,)" gumam Ghibran dalam hatinya.
Umy Aminah menepuk pundak Ghibran sembari berkata, "Ceritakan saja nak,"
"Tidak Umy, ini tidak ada hubungannya dengan perjodohan Ghibran. Ghibran hanya sedang memikirkan tugas kuliah saja, besok harus segera diselesaikan." jawab Ghibran berbohong.
Umy Aminah tersenyum melihat kelakuan anaknya itu, ia tahu anaknya saat ini tengah berbohong. Karena tak ada seorang ibu yang tidak memahami anaknya, ia selalu tahu kapan anaknya itu berbohong atau tidak. Aminsh hanya tersenyum, mendengar penuturan sang putra.
"Tidak apa-apa, jika kamu tidak ingin menceritakannya pada umy. Tapi umy tahu kamu sedang berbohong,"
"Tidak umy, sungguh Ghibran tidak berbohong Ghibran hanya...." Ghibran menoleh kearah Uminya dan mencoba meyakinkan Uminya itu namun Aminah langsung memotong ucapan Ghibran.
"Matamu tidak bisa berbohong nak, seorang ibu pasti tahu tentang anak-anaknya. Umy tidak akan memaksa kamu untuk menceritakan semuanya pada umy karena umy percaya kamu pasti bisa menyelesaikannya. Kamu sudah cukup dewasa nak untuk menyelesaikan masalahmu sendiri." ujar Aminah, menasehati.
Ghibran hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Aminah. Memang benar saat ini ia tengah berbohong, namun ia pun tidak mungkin menceritakannya pada Uminya karena itu perihal perasaannya. Biarlah, biar dia sendiri yang merasakan tanpa harus orang lain mengetahuinya.
"Oiya, besok malam calon istrimu akan datang kesini untuk makan malam bersama. Kamu jangan sampai lupa, kamu tidak ada kegiatankan dikampus?"
Ghibran menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, Aminah menepuk pundak Ghibran dan tersenyum lalu berlalu meninggalkan Ghibran.
Ditempat yang berbeda, Azizah sedang duduk didalam kelas sembari memegang buku Ghibran yang tertinggal kemarin. Ia terus memikirkan keberadaan Ghibran karena hari ini ia tidak melihat Ghibran di Kampus.
"Cowok aneh itu Kemana yah? tumben dia Gak masuk kuliah. Bukannya dia paling rajin,"
Azizah menghela nafas sejenak dan ia melihat Aisyah dikejauhan sana menuju kedalam kelas,ia segera memyembunyikan buku Ghibran kedalam tasnya. Aisyah menghampiri Azizah sembari tersenyum lalu duduk disamping Azizah.
"Assalamualaikum, zah" sapa Aisyah.
"waalaikumsalam, tumben syah kamu datangnya agak siangan?"
__ADS_1
"Iyaa Zah, aku kesiangan. Semalaman aku ngerjain tugas kuliah sekarang aja masih ngantuk,"
"Mmmm gtu." Azizah hanya manggut-manggut mendengar penuturan Aisyah, sembari membaca buku dihadapannya.
Aisyah menoleh kebelakang dan melihat kearah meja Ghibran, dan terlihat kosong ia merasa heran.
"Zah, Ghibran Gak masuk?"
"Ciyeee, nanyain Ghibran," goda Azizah.
"Apa sih Zah, aku cuma heran aja biasanyakan dia paling rajin. Apa dia lagi sakit yah zah?"
"Ciyeee mikirin cowok aneh itu,"
Azizah terus menggoda Aisyah yang terus menanyakan keberadaan Ghibran, dan Aisyah hanya tersipu malu. Pipinya pun sudah mulai memerah karena menahan malu, Azizah terus menggoda Aisyah sambil tertawa pelan.
\* \* \*
Pagi itu, Ghibran sedang termenung ditaman kampus. Ia masih terus memikirkan perasaannya terhadap Aisyah dan tentang perjodohannya yang harus ia alami dalam hidupnya.
"Apa harus, saya katakan yang sejujurnya pada Aisyah soal perasaan ini?? Belum tentu jugakn dia juga merasakan hal yang sama dengan saya. Akhhhh! Ghibran kenapa kamu begitu pengecut, kamu tidak bisa mengatakan soal perasaan kamu sama Aisyah kamu tidak lebih Dari seorang pecundang Ghibran"
Tanpa sepengetahuan Ghibran ternyata Azizah sudah berada dibelakangnya sedari tadi dan mendengarkan semua yang Ghibran katakan tadi.
"Katakan saja semuanya, biar semuanya jadi real" Azizah berdiri tepat dibelakang Ghibran.
"Kamu, sejak kapan kamu ada disini?"
"Sejak tadi," Azizah melempar senyum, dan kini ia tengah berhadapan dengan Ghibran walau agak berjauhan.
"Sejak tadi?" tanya Ghibran, sedikit terkejut.
Azizah menganggukkan kepalanya.
"Itu artinya kamu mendengarkan semua perkataan saya, tidak sopan!" pekiknya kesal, lalu berbalik lagi membelakangi Azizah.
Azizah menghampiri Ghibran dan kini mereka saling bersampingan.
"Iya, aku sudah mendengarkan semua yang tadi kamu katakan, bahkan semuanya. Ya, memang menguping pembicaraan orang lain itu tidak sopan tapi yang tadi kamu katakan semuanya tentang Aisyah dan apakah kamu lupa kalau aku ini adalah sahabatnya? Jadi, apa pun tentang dia ada sangkut pautnya sama aku"
"Oke, terus setelah kamu mendengarkan semua itu kamu mau apa?"
"Aku mau melihat sahabat aku bahagia. Kalau kamu memang benar benar mencintai Aisyah, aku harap jangan pernah sakiti dia."
"Tapi saya tidak akan pernah mengatakan semuanya pada Aisyah."
"Kenapa?" Azizah menoleh dan menatap Ghibran yang melihat kedepan.
__ADS_1
"Karena semuanya akan terbuang sia-sia. Karena saya yakin Aisyah tidak mencintai saya." Ghibran terus memandang lurus ke depan.
Sementara itu, ternyata Aisyah melihat Ghibran dari kejauhan tengah bersama Azizah. hatinya pun bertanya-tanya kenapa Azizah ada bersama Ghibran, padahal Azizah selalu dibuat kesal olehnya tapi kenapa saat ini mereka hanya berdua saja disana. Pikiran Aisyah kini diliputi rasa penasaran dan tanda tanya.
"Ghibran sama Azizah! sedang apa mereka disana? Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Apa Azizah juga menyukai Ghibran?? Tapi tidak mungkin, bukannya Azizah sangat membenci Ghibran. Tapi kalau pun benar Azizah menyukai
Ghibran tak apalah aku akan berusaha untuk memgikhlaskannya, walaupun mungkin ini semua berat," ucapnya lirih.
Aisyah pun pergi meninggalkan tempat itu, Sementara Ghibran dan Azizah masih membahas soal tadi.
"Kamu belum mengatakan soal perasaan kamu sama dia tapi kamu sudah yakin kalau dia tidak menyukai kamu, setidaknya dicoba dulu jangan kalah sebelum berperang. Katakan semuanya pada Aisyah sebelum semuanya terlambat. Jangan jadi pengecu!"
Ghibran hanya terdiam membisu, Azizah menyodorkan sebuah buku pada hadapan Ghibran dan ia melihatnya dengan wajah terkejut.
"Kenapa buku ini ada pada kamu? Kamu tahu, saya cari-cari buku ini kemana-mana. Tidak tahunya ada dikamu." Ghibran langsung mengambil buku tersebut
"Kemarin, buku kamu ketinggalan ditempat Kemarin itu. Malah marah-marah masih mending aku balikin, bukannya bilang terima kasih malah ngomel-ngomel. Dasar tidak tahu berterimakasih!" pekik Azizah menatap lurus ke depan.
"Iyaa, terima kasih," Ghibran beranjak pergi dan Azizah memanggil Ghibran
"Ghibran," panggil Azizah, sedikit berteriak.
"Ada Apa lagi?" Ghibran menoleh kearah Azizah.
"Apa kamu yakin Gak bakalan bilang semuanya pada Aisyah?"
"Yah, saya tidak akan pernah mengatakannya. Tidak akan pernah sampai kapan pun."
"Kenapa? Bukankah kamu mencintai Aisyah?"
"Kalau pun saya katakan semuanya pada Aisyah, itu percuma saja,"
Azizah merasa heran sekaligus penasaran dengan ucapan yang sudah dilontarkan oleh Ghibran.
"Percuma, kenapa harus percuma? aku tahu Aisyah juga menyukai kamu. Semuanya tidak akan percuma."
"Semua percuma, karena kamu tahu saya.." Ghibran tidak meneruskan ucapannya, ia hanya tertunduk dan terdiam beberapa saat.
"Karena kamu tahu apa? Lanjutkan ucapan kamu, jangan bicara setengah-setengah."
"Karena saya, sudah dijodohkan oleh orang tua saya." lirih Ghibran, dan langsung melangkah pergi meninggalkan Azizah seorang diri.
Azizah terkejut mendengar apa yang Ghibran katakan, Azizah terdiam setelah mendengar pengakuan Ghibran yang mengatakan bahwa dia sudah dijodohkan. Azizah jadi teringat akan perjodohannya, karena Uminya pernah mengatakan bahwa nama calon suaminya adalah Ghibran, apakah mereka orang sama.
"Apa! Dijodohkan?? Apa jangan-jangan orang yang umy jodohkan itu adalah Ghibran? Akhhh tidak mungkin, yang namanya Ghibran itu banyak bukan dia saja. Tapi, kalau pun benar masa Iyaa dia Ghibran yang mau dijodohin sama aku?? Akhhh yasudahlah, pokoknya aku harus bisa menyatukan Aisyah dengan Ghibran, harus!" ujar Azizah mantap untuk bisa menyatukan Ghibran dan Aisyah, sahabatnya. Azizah pun melangkah pergi meninggalkan taman.
Dan ternyata Fahmi sedang memperhatikannya di kejauhan. Fahmi melihat kepergian Azizah, dan rasa penasaran di pikirannya kini meliputinya saat ia melihat Azizah tengah bersama Ghibran.
__ADS_1
"Azizah dan Ghibran, mereka tadi sedang apa? Kenapa kelihatannya dekat sekali, apa mereka ada hubungan? Akhhh tidak mungkin!" Fahmi menepis praduga di otaknya, lalu ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa penasaran.