KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 16


__ADS_3

__________________💔💔💔___________________


Pemuda itu duduk bersandar di kepala kursi kerjanya dengan beralaskan kedua telapak tangan sebagai penopang. Matanya terpejam mengingat seorang gadis berhijab panjang menutupi hingga pinggang. Senyum manis selalu menghiasi wajah cantiknya.


Ghibran bangkit dari duduknya seraya mengembuskan nafas kasar. Mengusap wajah dengan kedua tangan.


"Ya Allah," lirihnya pelan.


"Kamu kemana Syah? Kenapa kamu pergi, tanpa berpamitan. Mengapa kamu menghilang begitu saja, kenapa? Aku tahu, kamu terluka. Hatimu hancur. Tapi, aku pun juga sama sepertimu Syah. Aku sama terlukanya seperti dirimu, sama hancurnya," sambungnya sembari menatap sendu selembar fhoto ditangan.


"Setidaknya, jangan bersikap seperti ini. Kasihan Azizah, dia selalu menyalahkan dirinya sebagai penyebab perginya dirimu Aisyah."


"Rasa ini masih tersimpan rapi, di hati ini Syah. Entah, apakah aku bisa mencintai wanita selain dirimu. Bahkan, walaupun saat ini aku dan Azizah sudah menikah. Tak sedikitpun perasaan ini berkurang untukmu Aisyah."


Ghibran mendekap erat fhoto itu ke dalam pelukannya. Air mata tak terasa mengalir begitu saja, membasahi pipi pemuda berkulit putih itu. Ia masih belum bisa melupakan wanita yang amat ia kagumi dari dulu. Walaupun, kini dirinya sudah menjadi suami orang.


"Astagfirullah, apa yang sudah aku lakukan." Ghibran tersadar dari keterpurukannya, mengingat Aisyah. Pemuda itu menyimpan selembar fhoto di atas meja kerja dengan terbalik.


"Maafkan aku, ya Allah. Tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Aku akan berdosa, jika masih memikirkan wanita lain selain istriku. Maafkan aku ya Allah. Maafkan aku Azizah."


Ghibran mengusap kasar wajahnya seraya mengembuskan nafas. Lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Lalu, pemuda itu kembali duduk di kursi kerjanya.


***


Azizah tengah membersihkan halaman rumah. Ia menyiram tanaman yang ada di sana. Terlihat dari kejauhan, sang umi mertua datang menghampiri Azizah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Nduk, sudah selesai belum?" tanya umi Aminah. Azizah menoleh dan berhenti dari aktivitasnya.


"Sebentar lagi mi, kenapa?"


"Hmm, umi mau keluar sebentar. Kamu mau ikut?" Umi Aminah memberikan sebuah tawaran.


"Tidak, mi. Zizah masih banyak pekerjaan," tolak Azizah lembut seraya tersenyum.


"Yasudah, kamu jangan terlalu capek nduk. Biar cepat hamil," celetuk umi Aminah. Sontak ucapan umi mertuanya membuat Azizah terkejut dan hanya terdiam.


"Yasudah, umi berangkat dulu yah. Kamu hati-hati di rumah," sambung umi Aminah, menepuk pelan bahu Azizah.


"Nggih, mi. Hati-hati." Azizah mencium punggung tangan umi mertuanya. Umi Aminah hanya tersenyum.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Umi Aminah pun pergi berlalu meninggalkan Azizah dirumah seorang diri. Azizah masih memandang kepergian umi mertuanya itu hingga tak terlihat lagi. Seulas senyum tersungging diwajah ayunya. Lalu, gadis itu pun meneruskan menyiram tanaman.


Kini, Azizah tengah seorang diri di rumah besar itu. Ia berjalan menuju kamarnya setelah selesai menyiram tanaman. Gadis itu duduk di atas ranjang lalu menghempaskan tubuhnya yang mulai terasa lelah. Setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah. Gadis itu teringat, akan ucapan umi mertuanya yang menyuruhnya untuk cepat hamil.


"Bagaimana aku bisa cepat hamil? Sedangkan, aku dan Ghibran saja belum pernah melakukan itu. Aku belum siap ya Allah. Aku tahu, yang kulakukan ini salah dan berdosa. Tapi, sungguh aku benar-benar belum siap, ya Allah. Maafkan Azizah mi, karena belum bisa memberikan apa yang umi dan abi inginkan,"


ucap pelan gadis itu seraya memejamkan kedua matanya. Tak terasa ia tertidur di atas ranjang Ghibran.


Hari mulai sore, waktu sudah menunjukkan pukul 16:15, waktunya Ghibran untung pulang setelah seharian bekerja. Ghibran keluar dari ruangannya, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita mengenakan pakaian seperti Aisyah. Tengah berjalan menuju pintu utama. Buru-buru, pemuda itu berjalan untuk mengejarnya.


"Aisyah, benarkah itu Aisyah?" Gumamnya seraya berlari kecil mengejar wanita itu.


Hingga ia sampai diluar kantor dan melihat wanita itu tengah berada di pinggir mobil dengan seorang lelaki. Mereka terlihat begitu dekat juga mesra. Ghibran hanya terdiam mematung di halaman kantor melihat wanita itu bersama seorang lelaki. Wanita itu melihat ke arah Ghibran yang juga melihatnya. Lalu wanita itu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.


"Ah, ternyata bukan," ucap Ghibran pelan.


"Tapi, kenapa wanita itu. Mirip sekali dengan Aisyah? Ah, mungkin aku hanya sedang rindu," sambungnya seraya melangkah menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang jalan, pemuda itu terus mengingat kejadian tadi. Hingga, ia melihat kembali sosok wanita diluar tengah berjalan mirip dengan Aisyah.


"Aisyah!" Ghibran menghentikan mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil.


"Aisyah, tunggu!" teriak Ghibran, berlari menghampiri wanita yang dianggap mirip dengan Aisyah.


"Aisyah," panggil Ghibran.


Wanita itu menoleh, dan membuat Ghibran sedikit terkejut. Ternyata, wajahnya berbeda. Wanita itu bukan Aisyah, yang selama ini ia cari dan rindukan.


"Kenapa, mas?" tanya wanita itu sedikit bingung.


"Maaf mbak, salah orang." Ghibran tersenyum getir, wanita itu pun hanya tersenyum lalu berlalu pergi meninggalkan Ghibran.


"Astagfirullah, kenapa semuanya seperti Aisyah? Sebegitu rindunya kah aku padanya?" Gumam pemuda itu seraya berjalan memasuki mobil, lalu melaju pergi dengan mobilnya.


Sementara itu, Azizah masih tertidur pulas di atas ranjang milik Ghibran. Mungkin ia kelelahan karena pekerjaannya seharian ini. Juga, karena otaknya selalu terpikirkan tentang Aisyah yang menghilang begitu saja.


Ghibran sampai di rumahnya, pemuda berwajah tampan itu keluar dari mobil. Rasa lelah tak begitu ia rasakan. Justru, pemuda itu tengah diliputi kegundahan hati yang amat dalam karena kejadian tadi. Selalu Aisyah yang ia lihat, bahkan seolah hanya ada Aisyah yang kini selalu dilihat oleh netranya.


"Assalamualaikum." Ghibran mengucapkan salam seraya mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban.


"Lho, kok, pintunya tidak dikunci." Ghibran terkejut, tatkala mendorong pintu dan langsung terbuka.


Ghibran melangkah, masuk ke dalam rumah. Namun, rumah itu terlihat sangat sepi. Seolah tak ada penghuninya. Ghibran semakin merasa bingung.


"Sepi sekali, kemana umi dan Azizah?" Melihat ke sekeliling rumah, tak ada satu orang pun yang ia lihat.


Ghibran duduk di sofa ruang tengah. Ia sandarkan kepalanya di ujung sofa, seraya memejamkan kedua mata. Kini, hatinya benar-benar terasa gelisah, gusar dan gundah gulana. Selalu terpikirkan tentang Aisyah. Padahal, kini dirinyapun sudah menikah. Tidak seharusnya, terus memikirkan wanita lain selain istrinya.


"Ya Allah," lirih Ghibran, menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa, perasaan ini masih Kau simpan di hatiku, ya Allah? Sedangkan, kini aku sudah mempunya istri. Kenapa, aku tidak bisa melupakan Aisyah, kenapa? Ya Allah, tolong hilangkan rasa ini terhadap Aisyah. Aku akan berdosa, jika terus memikirkan wanita lain selain istriku." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Aisyah, kamu dimana? Apa kabarmu di sana? Semoga kamu baik-baik saja," sambungnya, mengusap wajah kasar.


Ghibran bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar tidurnya. Ghibran membuka pintu, dan terlihat di ranjang Azizah masih tertidur pulas. Ghibran berdiri mematung di dekat pintu, memandang Azizah dari kejauhan. Dan, otak jailnya mulai bekerja. Berjalan mendekati Azizah yang tengah tertidur.


"Sepertinya, ini waktu yang tepat buat balas kejahilan, gadis menyebalkan ini tadi pagi." Ghibran tersenyum nakal.


Pemuda itu menyimpan tas kerjanya di atas nakas kecil dekat ranjang. Lalu, ia mencari alat make up milik Azizah yang tertata rapi di meja rias.


"What! Masa cuma ada ini doang?" gerutu Ghibran, memegang alat make up Azizah yang ala kadarnya. Hanya ada bedak bayi, lip gloss dan sebotol kecil minyak telon untuk bayi.


"Rupanya, gadis menyebalkan itu tidak pandai berdandan. Hmm, terus gimana saya mau jahilin dia?" Ghibran mulai kebingungan dan hanya terduduk di kursi rias.


"Aha, saya tahu." Ghibran tersenyum jahil.


Ghibran menghampiri Azizah yang tengah tertidur. Lalu melakukan aksi kejahilannya. Ia oleskan bedak bayi sebanyak mungkin pada wajah Azizah secara tidak beraturan. Tidak cukup itu saja, selanjutnya pemuda itu memoleskan lipmatte milik Azizah yang tadi ia temukan di dalam pouch kecil milik Azizah.


Mungkin efek kelelahan, gadis itu tidur sangat nyenyak. Bahkan kejahilan Ghibranpun tak sedikitpun ia rasakan. Ghibran tersenyum puas, setelah melihat wajah Azizah yang sudah cemong dipenuhi bedak dan lip matte. Lalu, pemuda itu pergi menuju kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Ghibran pun selesai mandi. Dan ia keluar dari kamar mandi lalu langsung mengerjakan shalat ashar. Setelah selesai, Ghibran duduk di sofa panjang. Tempat biasanya Azizah tidur semalaman. Pemuda itu tersenyum geli memandang wajah Azizah. Azizah masih terlelap dalam tidurnya.


"Astagfirullah, ini orang apa kebo? Gak bangun bangun dari tadi. Apa, saya bangunkan saja yah? Inikan udah sore. Mungkin dia belum shalat."


Ghibran bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Azizah. Tapi, ia bingung bagaimana caranya untuk membangunkan Azizah.


"Bagaimana, membangunkannya?"


"Azizah, Zah. Hey, bangun. Ayok bangun." Ghibran menggoyangkan tubuh Azizah. Namun Azizah tetap tidak bergerak.


"Dia tidur apa pingsan, sih. Susah banget dibanguninnya," sambung pemuda itu mulai kesal.


"Azizah, bangun. Udah sore ini." Sekali lagi, Ghibran membangunkan gadis di hadapannya.


Azizah mulai mengerjapkan kedua matanya. Samar-samar, ia melihat Ghibran yang tengah berdiri di hadapannya.


"Ayok, bangun," perintah Ghibran.


Azizah kembali menutup matanya, dan malah langsung menarik tubuh Ghibran. Hingga pemuda tampan itu kini berada di sampingnya. Ghibran terkejut, namun tiba-tiba ia terus memandangi Azizah di hadapannya yang masih memejamkan kedua mata. Kini mereka seolah tengah berpelukan sambil tiduran.


"Kalau, dilihat-lihat. Wanita menyebalkan ini, cantik juga yah," puji Ghibran, memandangi Azizah.


"Astagfirullahaladziim, apa yang sudah saya katakan tadi?" Ghibran tersadar dan langsung mengalihkan pandangan.


Azizah membuka matanya dan terbelalak. Saat melihat Ghibran sudah ada di hadapannya, tengah memandanginya. Mereka saling pandang satu sama lain, beberapa saat. Ada rasa berbeda yang dirasakan oleh gadis itu. Tiba-tiba jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. 'Dug, dug, dug'. Begitulah mungkin bunyi detak jantung gadis itu sekarang.


"Aaaakh!" teriak Azizah, mendorong Ghibran dan langsung berdiri menjauh.


Ghibran tersungkur dan masih terbaring di atas ranjang dengan rasa terkejut dan bingung.


"Kamu, kamu sedang apa tadi?" tanya Azizah, membelakangi Ghibran.


"Bohong! Kamu pasti ...." ujar Azizah tidak meneruskan ucapannya. Karena rasa takut mulai menyelimutinya.


"Apa? Kalau bicara, jangan setengah-setengah. Ayok, teruskan ucapanmu."


Azizah berbalik, menoleh pada Ghibran dan menatap pemuda itu dengan kesal.


"Kamu pasti, mau ...."


"Mau apa? Saya ini suami kamu, wajarlah jika melakukan itu. Itu kan sudah menjadi hak saya, bukan?" Ghibran memotong ucapan Azizah seraya terkekeh pelan.


Azizah hanya terdiam dan mulai ketakutan. Ia meremas ujung hijabnya. Benar yang dikatakan oleh Ghibran, jika kini mereka sudah suami istri. Dan sepenuhnya Ghibran sudah berhak melakukan apa pun terhadap Azizah. Namun, gadis itu belum siap untuk semua hal itu. Tak terasa, air mata mulai jatuh di pipi. Ghibran yang melihatnya sedikit terkejut, lalu terkekeh kembali melihat Azizah.


"Hey, kenapa menangis? Tidak terjadi apa-apa. Tenanglah, kamu masih seperti dulu. Saya tidak melakukan apapun sama kamu," tutur Ghibran berdiri di hadapan Azizah.


Azizah masih terdiam mematung, tertunduk. Ghibran duduk kembali di sofa panjang.


"Percayalah! Saya tidak melakukan apa-apa sama kamu. Tadi, saya hanya membangunkan kamu saja. Tapi, kamu malah menarik saya dan akhirnya terjatuh seperti tadi. Kalau tahu akan seperti tadi, tidak akan saya bangunkan kamu," tutur, Ghibran menjelaskan panjang lebar dan sedikit kesal.


"Benarkah, seperti itu?" tanya Azizah, mendongahkan kepala menatap Ghibran. Ghibran hanya mengangguk cepat.


"Sudah sore, udah shalat belum?" tanya Ghibran, Azizah hanya menggeleng pelan.


"Yasudah, shalat dulu sana."


Azizah berbalik dan melangkah menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba Ghibran memanggil Azizah. Alhasil, terpaksa gadis itu harus terhenti dari langkahnya.


"Hey, tunggu!" panggil Ghibran.


"Apa lagi?" Azizah menoleh, sedikit kesal.


"Saya haus. Bisakah, kamu membuatkan teh terlebih dahulu?" pinta Ghibran.


"Kamukan, bisa buat sendiri. Ini udah sore, saya belum shalat," tolak Azizah, berbalik.


"Eitt, kamu lupa? Saya ini suami kamu sekarang. Apa kamu, mau jadi istri durhaka?"


"Hmm, iya. Baiklah, akan aku buatkan," kesal Azizah.


Sengaja, Ghibran menyuruh Azizah untuk membuatkan dirinya minuman. Karena, jika tidak maka kejahilannya tidak akan berjalan dengan sempurna. Dan, ia yakin pasti orang tuanya sudah pulang.


Azizah pergi ke dapur dengan rasa kesal. Dengan cepat, ia mengambil satu buah gelas dan mulai membuat teh.


"Dia pikir, dia siapa. Seenaknya saja, menyuruhku. Iya memang, dia suamiku. tapikan, ini sudah sore. Aku belum shalat dan mandi. Dasar, lelaki menyebalkan!" gerutu Azizah.


Selesai membuat teh, gadis itu berjalan pergi dari dapur. Dan bertemu dengan umi mertuanya yang terkejut melihat wajah Azizah.

__ADS_1


"Nduk, tunggu nak," panggil Umi Aminah.


"Iya umi, kenapa? Umi mau dibuatkan, teh juga?" tanya Azizah, menoleh dengan membawa satu cangkir teh.


"Tidak sayang, wajahmu kenapa? Apa kamu sedang memakai masker, nak? Tapi, kenapa ada lipstik juga diwajahmu."


"Masker," ucap Azizah pelan.


"Azizah, tidak pakai masker mi." Azizah mulai kebingungan.


"Ayok, ikut umi."


Umi Aminah menarik pelan tangan Azizah, membawanya ke kamar miliknya. Dan kini mereka berdua tengah berdiri berhadapan dengan cermin besar dan panjang, hingga seluruh tubuh terlihat.


"Sekarang, coba lihat wajahmu baik-baik."


Azizah melihat wajahnya dicermin, sontak ia terkejut melihat wajahnya sudah cemong dipenuhi dengan bedak putih juga lipstik. Ini pasti kerjaan Ghibran, pikirnya. Pantas saja, tadi pemuda itu memaksa dirinya untuk membuatkan teh. Ternyata, ada maksud dan tujuan.


"Maaf, mi. Zizah permisi."


Azizah keluar dari kamar dengan rasa kesal, sembari masih membawa teh untuk Ghibran. Azizah berjalan menuju kamar Ghibran. Kesal, jengkel dan marah kini ia rasakan. Ternyata, Ghibran tengah berdiri di bawah tangga dengan terkekeh geli. Azizah menghampiri Ghibran dengan rasa kesal.


"Ini, pasti perbuatan kamu kan?" tanya Azizah kesal.


"Kalau, iya, kenapa?" Ghibran terkekeh geli.


"Nih, dasar menyebalkan"" Azizah memberikan teh itu pada Ghibran, lalu gadis itu melangkah pergi.


Ghibran tertawa puas, terkekeh geli memandang kepergian Azizah. Azizah berbalik, menoleh kesal pada Ghibran yang masih menertawakannya. Lalu, kembali melangkah pergi menuju kamarnya. Umi Aminah yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepala menyaksikan adegan antara anak dan menantunya.


Sementara itu, Azizah tengah duduk seraya membersihkan wajahnya. Rasa kesal dirasakan oleh wanita berhijab itu. Kejahilan Ghibran benar-benar membuat Azizah murka dibuatnya. Bagaimana bisa, pemuda itu melakukan itu padanya.


"Memangnya dia pikir, dia itu siapa? Seenaknya saja, ngelakuin ini semua sama aku," gerutu Azizah sembari membersihkan wajahnya dengan tisu.


"Suamimu."


Ghibran sudah berdiri di belakangnya, Azizah hanya melongo melihat kehadiran Ghibran dibalik cermin. Terlihat, pemuda itu menampilkan senyuman ciri khasnya. Nampak cuek, namun jika melihat senyuman itu terasa teduh. Azizah berhenti membersihkan wajahnya. Gadis itu seketika menoleh, melihat Ghibran yang masih berdiri dibelakangnya.


"Sejak kapan, kamu ada di sini?" tanya Azizah merasa bingung.


"Baru saja," jawab Ghibran santai, lalu duduk di tepi ranjang.


"Kenapa? Kamu pasti terkejut, yah?" Ghibran terkekeh pelan, meledek Azizah yang tengah kebingungan.


'Yah jelas, aku terkejutlah. Orang tiba-tiba ada di sini, udah kayak setan aja. Astagfirullah Azizah, apa yang kamu katakan tadi? Kamu jangan lupa, lelaki di hadapanmu ini adalah suamimu. Kamu harus bisa menghormatinya.'


Gadis itu bersenandika dalam hatinya, menatap lamat pada Ghibran yang duduk di tepi ranjang. Ghibran hanya menampilkan senyumnya melihat kebingungan diwajah cantik Azizah.


"Kenapa? Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu, melihat saya? Saya tampan yah?"


Ghibran menaik turunkan alis tebalnya di depan wajah Azizah. Bahkan sangat dekat. Perasaan itu, kini mulai terasa lagi oleh Azizah. Jantungnya selalu berdetak lebih kencang jika Ghibran mendekatinya. Perasaan apa yang tengah ia rasakan. Membuat Azizah semakin merasa bingung.


'Perasaan apa ini? Kenapa tiap Ghibran mendekati aku, jantungku berdetak sangat kencang sekali. Rasa apa ini ya Allah? Rasanya, sama seperti rasaku terhadap Fahmi. Tapi, kenapa rasanya ini sangat berbeda? Aku tak pernah merasakan deg-degan sehebat ini, saat bersama Fahmi. Apa, aku mulai jatuh cinta dengan lelaki aneh ini? Oh tidak! Tidak mungkin, apa secepat ini rasa itu hadir?'


Azizah bergumam dalam hatinya, menatap mata Ghibran dan alisnya yang terus dinaik turunkan.


"Pede sekali, kamu," pekik Azizah, menjauh dari Ghibran.


"Bukan pede, tapi kamu harus menyadari. Kalau suamimu ini, memamg tampan," ucap Ghibran menyombongkan ketampanannya.


"Harusnya, kamu merasa beruntung karena sudah dinikahi oleh lelaki seperti saya," sambung Ghibran semakin percaya diri.


"Kepedean banget, sih kamu. Aku, kalau bukan karena dijodohkan. Gak bakalan mau, nikah sama kamu. Lelaki yang menyebalkan dan juga aneh!" umpat Azizah kesal dan melangkah pergi.


Namun, dengan cepat Ghibran langsung menarik tangan Azizah. Hingga gadis itu terbawa, tersungkur dalam dekapan Ghibran. Kini, kedua insan itu saling berpelukan di atas ranjang. Mata mereka sesaat saling berpandangan.


'Apa ini? Kenapa aku begitu betah berlama-lama memandang wajah wanita menyebalkan ini.'


Ghibran berucap dalam hatinya, seraya tersenyum tipis memandang wajah ayu Azizah. Azizah pun sama, ia hanya terdiam memandang Ghibran.


'Rasa apa ini, sebenarnya? Apakah aku mulai menyukainya? Ah, tidak mungkin. Di hati ini masih tersimpan rapi nama Aisyah.'


Ghibran terus menatap lekat wajah Azizah, hingga tak sadar ia selalu tersenyum memandang Azizah. Azizah mulai tersadar akan perlakuan Ghibran dan langsung melepaskan pelukan Ghibran. Lalu mendorong tubuh pemuda itu.


"Kamu, jangan nyari kesempatan, yah!" Azizah kesal berdiri di samping ranjang.


"Maksudmu?" tanya Ghibran berdiri di samping Azizah.


"Yah, tadi kamu, berani-beraninya peluk aku," gerutu Azizah.


"Memangnya, tidak boleh memeluk istri sendiri?"


Deg!


Ucapan Ghibran membuat Azizah terdiam membisu. Benar yang dikatakan oleh pemuda itu, tak salah jika memeluk dirinya. Karena saat ini, Ghibran adalah suaminya dan berhak melakukan apapun padanya.


"Lagi pun, kita ini sudah halal dan saya berhak melakukan apa saja terhadapmu. Bahkan lebih dari tadi," sambung Ghibran menatap Azizah, gadis itu hanya terdiam tertunduk.


"Tapi, sayangnya. Saya tidak ingin melakukan itu, lebih tepatnya belum bisa dan belum siap," sambung Ghibran seraya duduk kembali di tepi ranjang.


"Maaf Zah, saya belum bisa melakukannya. Dan saya minta maaf, soal kejahilan tadi. Yasudah, sekarang lebih baik kamu mandi terus shalat. Bukankah, kamu belum shalat?" Ghibran bangkit lalu pergi keluar meninggalkan Azizah.


Azizah masih terdiam mematung dan kini ia roboh juga. Dijatuhkannya tubuh ke lantai dengan lemas. Benar memang, kini mereka sudah halal, tapi belum sama-sama siap untuk melakukan kewajiban. terlebih, karena perjodohan ini pun telah menghancurkan hidup seseorang, yaitu Aisyah sahabatnya sendiri.


Rasa bersalah kembali hadir menghantui Azizah. Ia menangis segugukan mengingat Aisyah yang entah kini berada dimana. Ingin rasanya, ia bersujud untuk meminta maaf pada Aisyah. Namun, wanita itu tahu, semua itu tidak akan merubah keadaan dan hati Aisyah yang sudah hancur.

__ADS_1


__ADS_2