
Pemuda tampan itu hanya terdiam mematung memandangi wanita yang tengah membelakanginya. Tiba-tiba hatinya terasa berbeda, seperti ada perasaan yang mengganggu hatinya. Bukan, bukan karena Azizah memegang barang-barang miliknya atau mengetahui dirinya masih menyimpan fhoto Aisyah. Melainkan, tatkala Azizah menyebut nama laki-laki lain, tiba-tiba hati Ghibran terasa begitu berbeda, seolah pemuda itu tak suka pada Fahmi.
Fahmi, yah Fahmi adalah temannya dulu saat masa kuliah. Tapi, kenapa Ghibran seperti tak suka jika Azizah menyebut nama pemuda itu. Lagipun, ia sudah mengetahui jikalau Azizah menyukai Fahmi. Lantas, ada apa dengan hati juga perasaanya?
Tok, tok, tok
Ghibran mengetuk pintu di sampingnya yang sudah terbuka sedari tadi. Azizah yang mendengar ketukan pintu langsung menoleh ke sumber suara.
"Kamu, kok balik lagi, kenapa?" tanya Azizah yang sudah berdiri masih memegang buku milik Ghibran.
"Ada yang ketinggalan, makanya saya balik lagi," jawab Ghibran seraya berjalan menuju arah lemari. Azizah hanya terdiam dengan buku di tangannya.
Pemuda itu mengambil beberapa dokumen di lemari khusus buku. Di kamar Azizah, memamg terdapat lemari buku. Karena wanita itu sangat suka membaca, jadi lemari itu dikhususkan untuk tempat menyimpan novel dan komik-komik miliknya. Namun setelah menikah, sepertinya ia harus berbagi lemari dengan suaminya Ghibran.
"Ini dia," ucap Ghibran meraih sebuah dokumen di lemari.
Ghibran melangkah menuju pintu kembali. Namun langkahnya terhenti dan menoleh pada Azizah yang masih berdiri. Ghibran pandangi Azizah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hingga matanya terhenti pada sebuah buku yang dipegang oleh wanita itu. Terlihat, raut bingung namun ada rasa khawatir diwajah Azizah. Mungkin ia takut, kejadian di kampus dulu terulang. Ghibran marah-marah karena wanita itu mengambil barang miliknya tanpa sepengetahuan si empunya.
Buru-buru Azizah menyimpan kembali buku itu ke dalam koper, dan ia tampilkan senyumnya sedikit kikuk.
"Kenapa?" Ghibran sedikit memajukan dagunya.
"Ha, tidak, tidak apa-apa," ucap Azizah kikuk, sesekali ia tersenyum tipis.
"Saya tahu, kamu takut bukan?" Azizah hanya memicingkan matanya.
"Takut, takut kenapa?"
"Takut, kejadian di kampus dulu terjadi lagi. Tenang saja, itu tidak akan pernah terulang. Saya menghargai kamu sebagai istri saya sekarang dan apapun yang saya miliki adalah hakmu juga."
Penuturan Ghibran membuat wanita itu terkejut dan bingung. Tak biasanya, pemuda itu bersikap manis seperti itu. Ada yang berbeda di diri Ghibran saat ini. Azizah hanya terdiam melihat kepergian Ghibran.
"Apa maksud dari perkataan Ghibran tadi? Dia bilang apapun yang menjadi miliknya adalah hakku juga. Apa maksudnya?"
Azizah berbicara sendiri tentang kebingungan dan keanehan dari sikap Ghibran tadi.
"Bahkan, laki-laki menyebalkan itu tidak memarahiku. Bukankah, yang kulakukan tadi sama seperti di kampus dulu. Tapi, kenapa dia tidak marah? Bahkan, dibuku ini ada fhoto Aisyah." Azizah memegang buku itu setelah ia ambil kembali tadi.
"Seharusnya, dia marah bukan? Karena, menurutku ini adalah hal pribadi. Ah, sungguh aneh! Ada apa dengannya? Apa dia sudah mulai bisa menerima kehadiranku dalam hidupnya? Tidak, tidak, jangan kepedean Azizah. Jangan baper, dasar bodoh."
***
"Saya tahu Azizah, saat ini kita memang belum saling memiliki perasaan itu. Tapi, sekarang kamu adalah istri saya dan kamu berhak atas hidup saya. Saya menghargaimu sebagai seorang istri."
Ghibran berbicara sendiri sambil berjalan menuju mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, pemuda itu melaju dengan kecepatan tinggi. Entah, mau kemana dia pergi dan ada urusan apa hingga hari libur seperti ini Ghibran pergi.
Ghibran mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Pikirannya pun yang terus teringat pada Aisyah membuat ia tak bisa mengendalikan mobilnya. Kepalanya tiba-tiba terasa begitu sakit, ia memegang erat kepalanya menahan rasa sakit.
"Kenapa kepala saya tiba-tiba terasa sakit sekali? Ah, ada apa ini."
Mobil yamg dikendarai oleh Ghibran mulai oleng dan tak terkendalikan. Hingga di arah berbeda, terlihat sebuah mobil akan melintas. Namun, Ghibran tidak bisa mengendalikan mobilnya lagi. Akhirnya pemuda itu membanting setir dan mobil Ghibran menabrak sebuah pohon besar. Ghibran terpental ke depan dan kepalanya terbentur pada setir pengemudi.
Asap keluar dari mobil Ghibran, perlahan api mulai terlihat di sana. Suasana sepi, tak ada satu orang pun yang melintas. Sementara Ghibran masih berada di dalam mobil, tak sadarkan diri. Tiba-tiba ada seorang wanita yang akan melintas dan melihat ke arah Ghibran. Wanita itu tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Api semakin membesar, Ghibran harus cepat dikeluarkan dari mobil itu.
"Astagfirullahaladziim." Wanita itu menutup mulut dengan kedua tangannya lalu berlari menuju mobil.
Tak perduli api yang makin membesar, wanita itu terus berusaha membuka pintu mobil. Terlihat dari luar, Ghibran masih pingsan di dalam mobil. Wanita itu melihat ke arah dalam berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
"Bertahanlah, aku akan menolongmu," teriak wanita itu, lalu berlari mengambil sebuah batu yang ada di sana. Lalu, ia memukul kaca mobil dengan batu itu hingga akhirnya pecah.
"Alhamdulillah," ucap syukur wanita itu. Lalu berusah membuka pintu mobil.
Tidak butuh waktu lama, wanita itu berhasil membuka pintu mobil. Lalu berusaha mengeluarkan Ghibran yang masih tak sadarkan diri. Melihat api yang semakin besar wanita itu menarik tubuh Ghibran ke tempat yang sedikit jauh dari tempat mobil itu berada. Hingga akhirnya, terdengar letusan kuat. Mobil Ghibran meledak, dan hangus terbakar api.
Beruntung, pemuda itu bisa selamat karena adanya wanita itu.
Wanita itu membalikkan tubuh Ghibran yang tengah tengkurap. Terlihat raut terkejut dari wajah wanita itu. Matanya mulai berkaca-kaca melihat keadaan Ghibran.
"Ghibran," ucap wanita itu menutup mulutnya,merasa terkejut.
"Ya Allah Ghibran, apa yang sudah terjadi?"
Perlahan mata Ghibran mulai terbuka, samar-samar ia melihat wanita di dekatnya. Tak begitu jelas, namun dirinya dapat mengenali sosok wanita itu.
"Aโ aaiโ issโ syah," ucap Ghibran terbata-bata lalu kembali tak sadarkan diri.
***
Azizah tengah membuat teh manis untuk uminya di dapur. Tiba-tiba ponselnya berdering. Terpampang di layar ponselnya nama Ghibran. Yah, Ghibran yang menelepon. Azizah sedikit merasa aneh, karena tak biasanya pemuda itu menelpon dirinya.
"Ghibran, ada apa dia telpon aku? Tumbenan banget, tidak biasanya." Azizah pun menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo, Assalamualaikum, ada apa?" ucap Azizah.
"Waalaikumsalam." Terdengar dari balik ponsel suara laki-laki. Namun, itu bukan suara Ghibran,, Azizah tahu itu. Wanita itu sempat terdiam karena merasa terkejut.
"Hallo mbak, maaf apa ini dengan keluarganya Mas Ghibran?"
"Iya pak, betul. Saya istrinya, ada apa yah pak?"
"Begini mbak, suami mbak mengalami kecelakaan tadi."
"Astagfirullahaladziim." Azizah terkejut dan secangkir teh yang tengah ia pegangpun terjatuh. Fatimah mendengar suara pecahan dari cangkir itu dan langsung melihat ke arah putrinya.
"Mbak, mbak, hallo." Orang disebrang sana terdengar memanggil-manggil Azizah, karena tadi Azizah sempat terdiam sesaat.
"Iya hallo pak, apa suami saya sudah dibawa ke rumah sakit?" Rasa khawatir mulai menyelimuti diri Azizah.
"Sudah mbak, sekarang Mas Ghibran sudah berada di rumah sakit pelita kasih."
"Iya pak, saya akan segera ke sana. Terima kasih pak."
Azizah menutup telepon itu, air mata tak disadari sudah membasahi wajah ayunya. Fatimah yang melihat ada yang tidak baik pada Azizah langsung menghampiri.
"Ada apa toh nduk?" tanya Fatimah bingung dan merasa khawatir.
"Ghibran kecelakaan mi," jawab Azizah lemas menatap lurus ke depan.
Entah, kenapa perasaannya sangat takutโ takut terjadi kenapa-napa pada Ghibran. Padahal ia tak mencintai pemuda itu.
"Ya Allah, astagfirullahaladziim. Kita harus cepat ke sana nak, ayok."
"Iya mi."
__ADS_1
"Kamu harus tenang yah sayang, sabar nak, yah. Apa mertuamu sudah dikabari?" Azizah hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari sang umi. "Yasudah, biar umi saja nanti yang mengabari. Sekarang lebih baik kita segera ke rumah sakit."
Azizah hanya mengangguk pelan, berjalan ditemani sang umi menuju ke rumah sakit. Sementara di tempat lain seorang wanita sedang besama seorang lelaki, yang menelpon Azizah tadi di rumah sakit.
"Terima kasih pak," ucap wanita itu berterima kasih pada laki-laki di dekatnya yang memberikan sebuah ponsel padanya. Lalu, laki-laki itu pergi.
"Aku gak bisa mendengar suaramu Zah, maafkan aku. Ya Allah, semoga Ghibran baik-baik saja."
Wanita itu melihat ke arah depan dan melihat Azizah juga uminya berjalan masuk ke dalam rumah sakit, buru-buru wanita yang berhijab panjang itu pergi dari tempat itu sedikit berlari setelah melihat kedatangan Azizah.
Kini, pemuda berkulit putih itu tengah ditangani oleh para petugas medis di dalam sebuah ruangan. Sementara Azizah dan uminya tengah menunggu diluar dengan penuh kekhawatiran. Ghibran di dalam ruangan itu, tak sadarkan diri dengan alat bantu kesehatan yang menempel pada tubuhnya.
Seorang dokter dan beberapa suster tengah bersusah payah merawat dan melakukan tugasnya, melihat kondisi pemuda itu yang saat ini benar-benar parah. Entah, apakah keajaiban akan berpihak pada Ghibran atau tidak.
Azizah terus berjalan mondar-mandir ke sana ke sini tak karuan. Rasa cemas dan khawatir dirasakan oleh wanita berhijab itu. Ini kali pertamanya ia merasakan rasa takut teramat hebatnya pada Ghibran.
"Ya Allah, semoga Ghibran tidak apa-apa, lindungilah dia ya Allah," lirih Azizah penuh rasa takut.
"Sabar nduk, tenanglah. Suamimu pasti akan baik-baik saja. Percayakan pada dokter dan serahkan semuanya pada gusti Allah." Fatimah menghampiri Azizah, menyentuh pelan pundaknya. Wanita paruh baya itu terus berusaha menenangkan putri semata wayangnya itu. Azizah hanya terdiam dan menatap lamat pada uminya.
Sementara itu Haryo dan Aminah datang dengan terburu-buru dan rasa cemas. Terlebih Aminah, wanita paruh baya itu terlihat sangat syok tatkala mendengar kabar buruk tentang putranya, Ghibran.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Aminah yang sudah terlihat kalut.
"Umi." Azizah langsung menoleh pada umi mertuanya itu. "Maafkan Azizah umi, Zizah tidak bisa menjaga Ghibran dengan baik."
"Tidak nak, ini bukan salahmu, ini sudah musibah." Aminah langsung menarik Azizah ke dalam pelukannya.
Azizah menangis terisak, sejadi-jadinya dipelukan Aminah. Entah, apa penyebabnya kenapa wanita itu begitu terpukul. Bukankah, dirinya tidak mencintai Ghibran?
"Maafkan Azizah umi."
"Tidak sayang, ini bukan kesalahanmu."
"Sudah nduk, yang tenang yah. Ghibran pasti akan baik-baik saja, abi tahu betul putra abi itu sangat kuat, pasti dia bisa melewati ini semua." Haryo terlihat lebih tenang dibanding ketiga wanita itu. Walau sebenarnya hatinya juga merasa takut dan khawatir, tapi itu tidak boleh diperlihatkan pada mereka.
"Ayok nduk, jeng duduklah," titah Fatimah pada Azizah dan Aminah. Kedua wanita itupun menurut saja, lalu duduk disebuah kursi ruang tunggu, juga Haryo ikut duduk di samping sang istri.
"Nduk, kenapa ini semua bisa terjadi nak? Bukankah, hari ini adalah hari libur," tanya Aminah pada Azizah setelah ia melepaskan pelukannya pada menantunya itu.
"Azizah juga tidak tahu mi, tadi pagi Ghibran bilang sama aku kalau dia ada urusan, makanya pergi keluar. Dan beberapa jam kemudian setelah kepergian Ghibran, ada telpon kalau Ghibran kecelakaan." Azizah tertunduk sedih, sang umi mencoba menenangkannya, mengelus lembut punggung wanita itu.
"Ya Allah Ghibran, putra umi," lirih Aminah sedih.
Seorang Dokter pun keluar dari dalam ruangan itu. Azizah dan umi juga kedua mertuanya bangkit berdiri langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Haryo.
"Alhamdulillah, putra bapak sudah melewati masa kritisnya dan sekarang sudah baik-baik saja," jawab sang Dokter seraya tersenyum.
"Alhamdulillah." Semua berucap syukur mendengar penuturan dari Dokter.
"Tapi, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan kepada bapak dan ibu, mengenai kondisi putra bapak." Dokter itu terlihat mulai serius, mencoba memperbaiki letak gagang kacamata yang ia kenakan.
"Kabar buruk, kabar buruk apa Dok? Katakan pada kami," tanya Azizah penuh penasaran dan khawatir. Sang Dokter sedikit melirik pada Azizah sesaat lalu kembali melihat pada Haryo.
"Begini, pak, buk. Karena benturan yang mengenai kepala putra bapak cukup keras. Membuat separuh ingatannya menghilang, putra bapak hanya akan mengingat kejadian di masa lalu."
"Jadi, maksud Dokter, putra saya hilang ingatan?" tanya Aminah sedih. Dokter itu hanya mengangguk pelan.
"Iya buk, tapi hanya separuh saja. Dia hanya ingat akan kejadian di masa lalunya saja. Lebih jelasnya lagi, nanti saya kasih keterangan kesehatannya. Saya permisi." Dokter itupun pergi meninggalkan mereka.
"Ya Allah Ghibran, anakku. Putra kita bi, putra kita." Aminah terlihat sangat syok, air mata sudah tak bisa dibendung lagi olehnya. Haryo berusaha menenangkan sang istri, memeluknya dengan erat.
Azizah, bagaimana dengan wanita itu? Jelas ia juga sangat terpukul mendengarnya. Walaupun wanita itu belum mencintai Ghibran, tapi kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Azizah berlari menjauh dari tempat tadi.
"Azizah," panggil Fatimah, tapi tak dihiraukan oleh Azizah. Ia terus berlari dengan penuh isak tangis.
Sementara itu, wanita yang menyelamatkan Ghibran tadi kini tengah duduk di tepi ranjangnya. Masih memikirkan keadaan pemuda itu. Wanita itu menatap lurus, melihat ke arah luar jendela. Gelap, hening, satu bintangpun tak terlihat. Seolah semesta juga ikut serta terluka.
"Ghibran, kenapa itu semua bisa terjadi padamu. Semoga kamu baik-baik saja. Ya Allah, semoga Ghibran tidak mengalami luka yang serius. Kasihan Azizah, saat ini dia pasti sangat terpukul dan sedih. Sebagai sahabat, harusnya aku menemaninya sekarang. Maafkan aku Azizah, maafkan aku." Air mata terasa sudah membasahi kedua pipinya. Tak kuasa lagi, menahan kesedihan yang dirasa.
Azizah tengah berada di dalam kamar mandi. Merasakan kesedihan yang teramat dalam. Cairan beningpun semakin deras mengalir dari kedua kelopak matanya.
"Ya Allah, kenapa ini semua terjadi padanya. Aku tahu, aku tidak mencintainya tapi walau bagaimanapun dia adalah suamiku. Kenapa, Engkau mengambil separuh ingatannya? Apa ini cara-Mu agar dia bisa melupakan Aisyah? Dan, dan dia juga pasti tidak akan ingat padaku juga pernikahan kami. Sebenarnya, apa yang Engkau rencanakan untuk hidupku ya Allah. Pertama, Kau memisahkanku dengan orang yang aku cintai dan sekarang, Kau buat suamiku hilang ingatan. Kenapa, untuk apa?"
Azizah menangis sejadi-jadinya menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Entah, mengapa dirinya bisa merasa terpukul sehebat itu. apakah, dirinya mulai mencintai Ghibran?
"Tunggu dulu." Azizah menghapus air matanya dengan tangan. "Kenapa aku bisa sesedih ini, bukankah aku tak mencintainya?" Lalu berdiri lagi.
"Kau mulai mencintainya, Azizah." Terdengar suara seseorang, Azizah langsung menoleh mencari sumber suara itu. Terlihat sosok seperti dirinya mengenakan gamis putih.
"Sudah, tinggalkan saja dia Azizah. Ini waktunya. Untuk apa kau bertahan dengan orang yang tidak kamu cinta." Terdengar lagi suara lain, Azizah kembali menoleh. Terlihat sosok seperti dirinya mengenakan gamis hitam.
"Tidak Azizah, itu tidak benar. Tetaplah bersamanya, temani dia." Sosok bergamis putih berbicara.
"Tinggalkan saja, Azizah, tinggalkan." Sosok bergamis hitam juga berbicara. Azizah menoleh ke sana ke sini, bingung.
"Jangan Azizah."
"Tinggalkan Azizah."
"Jangan Azizah."
"Tinggalkan Azizah."
Azizah melihat kedua sosok itu bergantian. Wanita itu mulai pusing, dan tak bisa mengendalikan diri melihat kedua sosok itu.
"Diaaaaaam!" teriak Azizah seraya menutup dua telinganya dan memejamkan kedua mata.
Perlahan, Azizah membuka matanya dan kedua sosok itu sudah tak terlihat lagi di sana. Nafasnya kian memburu, terdengar kelelahan.
"Nduk, apa kamu baik-baik saja nak?" Terdengar suara Fatimah mengetuk-ngetuk pintu dari arah luar. Azizah hanya melihat pintu itu, tak langsung membuka pintu.
* * *
Kecelakaan yang menimpa Ghibran, membuat pemuda itu menjadi hilang ingatannya separuh. Ia hanya mengingat kejadian-kejadian dimasa lalunya atau kejadian yamg sudah berlalu. Dalam ilmu medis, disebut amnesia anterograde. Dan perihal pernikahannya dengan Azizah, tentu saja pemuda itu takan mengingatnya.
Kini, Ghibran masih terbaring lemah diatas kasur, masih belum sadarkan diri setelah Dokter menanganinya beberapa jam yamg lalu. Karena keadaan Ghibran yamg belum stabil sepenuhnya, maka belum diperbolehkan untuk masuk kedalam ruangan itu.
Azizah masih berada didalam kamar mandi, menatap lekat kearah pintu. Suara Fatimah masih terdengar diluar terus memanggil-manggil Putri semata wayangnya. Setiap ibu pasti akan merasakan juga kesedihan yang dirasa oleh anaknya, begitupun dengan Fatimah.
"Nduk, buka nak, keluar sayang. Apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Perlahan Azizah membuka pintu kamar mandi, tertunduk dengan mata yang sudah terlihat sangat sembab. Fatimah langsung memeluk Azizah, wanita itu kembali terisak dalam pelukan sang umi.
"Sabar nak, sabar sayang, ini cobaan. Kamu pasti kuat nduk." Fatimah terus menenangkan Azizah, mengelus lembut punggungnya.
"Ini, ini semua salah Azizah mi," lirih Azizah, semakin terisak.
Lagi, wanita itu kembali merasa bersalah. Setelah, dulu merasa bersalah pada sahabat terbaiknya dan kini pada suaminya. Luka itu kembali datang menerpa diri Azizah. Semua rasa sakit semakin menyatu.
"Tidak nak, ini sudah takdir." Fatimah melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata diwajah putrinya itu. "Sudah, jangan menangis terus. Kamu harus kuat, kamu harus terlihat tangguh didepan suamimu. Jangan sampai, suamimu nanti bersedih juga."
Fatimah terus menenangkan Azizah seraya memberi sebuah nasihat pada sang anak. Walau ia tahu, putrinya itu sangat terpukul namun Azizah harus terlihat kuat demi kesembuhan Ghibran. Itulah yang Fatimah katakan. Azizah hanya menatap lamat sang umi lalu kembali memeluk Fatimah.
"Ayok, lihat suamimu, nduk," ajak Fatimah sambil melepaskan pelukannya, Azizah hanya mengangguk pelan. Lalu mereka berdua pun pergi dari tempat itu.
Haryo dan Aminah masih duduk diruang tunggu. Aminah sangat terpukul akan kenyataan yang harus menimpa sang putra. Wanita paruh baya itu terus menangis sedari tadi. Haryo hanya menenangkan istrinya itu, merangkul Aminah dengan penuh kasih sayang.
Azizah dan sang umi datang menghampiri mereka berdua. Azizah mendekat pada sang umi mertua. Duduk disamping Aminah, umi mertuanya itu menoleh dan langsung memeluk sang menantu dan semakin teriaak dalam tangisnya.
"Ghibran nduk, Ghibran."
"Iya mi, sabar mi, ini cobaan dari Allah. Kita harus kuat," ucap Azizah berusaha menenangkan umi mertuanya. Haryo dan Fatimah hanya melihat iba pada mereka berdua.
"Masuklah nak, temui suamimu, temani dia," titah Haryo, menatap Azizah. Azizah langsung melepaskan pelukannya dari Aminah.
"Apa sudah boleh masuk, bi?" tanya Azizah.
"Boleh nak, masuklah," jawab Haryo tenang.
"Lebih baik, umi dan abi saja yang lebih dulu masuk. Bukankah, kalian berdua lebih utama, karena orang tua Ghibran."
"Tidak nak, kamu istri Ghibran sekarang. Kamu yang lebih berhak atas suamimu."
"Tapi, bi umi pasti ingin melihat keadaan Ghibran sekarang dan bukankah surga seorang suami itu tetap pada kaki ibunya."
"Benar nak, tapi itu beda lagi urusannya. Sekarang kamu adalah istri putra umi, kamu yang lebih berhak atas dirinya. Masuklah nak," timpal Aminah, menyentuh lelan lengan Azizah. Wanita itu hanya menatap lamat umi mertuanya. Lalu, Azizah melihat pada Fatimah, seolah tengah meminta pendapat dan Fatimah hanya mengangguk pelan seraya tersenyum. Azizah ikut tersenyum.
"Baiklah mi, Zizah akan masuk." Aminah tersenyum, Azizah bangkit berdiri lalu melangkah menuju pintu.
Krek..
Perlahan, wanita itu membuka pintu kamar inap Ghibran. Terlihat disana, pemuda tampan itu masih terbaring dengan dibantu alat pernafasan juga infusan yang tertempel ditangannya. Azizah masih enggan untuk mendekat pada Ghibran, wanita itu hanya terdiam dibibir pintu melihat keadaan pemuda tampan itu sekarang.
Dengan memberanikan diri, Azizahpun melangkah masuk kedalam kamar inap. Pintu kamar kembali ditutup secara perlahan. Wanita itu berjalan dan mendekat pada Ghibran lalu duduk disebuah kursi yang berada disamping Ghibran. Azizah terus menatap lamat pemuda itu yang belum sadarkan diri dari pingsannya.
"Hey, lelaki menyebalkan, bangun! Lihatlah, dirimu, lemah, jelek. Ayok bangun! Apa kau takut denganku? Ayok bangun. Dasar payah!
Azizah terus berucap seolah tengah meledek Ghibran. Namun, hatinya sebenarnya sudah terasa sesak. Suaranyapun terdengar terbata-bata tatkala mengucapkan kalimat itu. Air mata pun kembali keluar dari mata wanita itu.
"Ghibran, bangun, ayok bangun. Ayok jahili aku lagi. Jangan diam seperti ini, bangun." Azizah sedikit tertawa diikuti dengan tangisnya.
Wanita itu memegang pelan tangan Ghibran. Rasa sakit dihati, membuat ia terus saja menangis. Apalagi melihat keadaan Ghibran saat ini. Azizah semakin merasa bersalah.
"Bangun Ghibran, bukankah kau mencintai Aisyah? Ayok bangun, cari Aisyah, dapatkan dia kembali." Azizah semakin sesegukan, seorang diri menatap lekat pada suaminya itu.
***
"Ya Allah, ya Rabbku, berikanlah kesembuhan untuk Ghibran. Segeralah angkat penyakit dari tubuhnya. Sembuhkanlah suamiku ya Allah. Hanya kepada-Mu hamba meminta pertolongan wahai Dzat pemberi segalanya. Rabbana attina fiidunya hasanah, waqiina adzabannar, Aamiin." Azizah mengusap lembut wajahnya, mengembuskan napas perlahan.
Seminggu sudah, Ghibran dirawat dirumah sakit. Namun, pemuda itu belum sadarkan diri saja. Karena pendarahan hebat akibat benturan dikepalanya yang sangat keras itu membuat Ghibran koma. Azizah selalu berdo'a untuk kesembuhan Ghibran. Tak pernah henti, terus mendo'akan kesembuhan suaminya. Seperti, sore itu Azizah telah selesai betdo'a untuk Ghibran.
"Nduk, sayang," panggil Aminah sedikit berlari menghampiri Azizah yang masih duduk didalam mushola. Wanita itu menoleh melihat kedatangan umi mertuanya. Terlihat, wajah Aminah berbinar bahagia. Semoga ada kabar baik, fikir Azizah.
"Nduk, suamimu sudah sadar nak."
"Alhamdulillah."
Azizah langsung berucap syukur dan sujud syukur, hatinya sangat bahagia mendengar kabar baik dari umi mertuanya itu.
"Benarkah, itu umi?" tanya Azizah Fitri masih belum percaya. Aminah hanya mengangguk seraya tersenyum. Melihat respon dari umi mertuanya itu Azizah juga ikut tersenyum dan langsung memeluk Aminah.
Walau, dirinya belum mencintai pemuda yang kini menjadi suaminya. Tapi, Azizah sangat bersyukur dan merasa bahagia mendengar keadaan Ghibran. Apakah, wanita itu sudah mencinta Ghibran tapi ia tak menyadari akan perasaannya itu?
"Alhamdulilah umi, aku sangat bahagia mendengarnya."
"Iya nak, umi juga sangat bahagia dan bersyukur. Akhirnya keajaiban untuk putra umi telah Allah berikan. Ayok nak, temui suamimu." Azizah hanya mengangguk, dan mereka berdua pun pergi dari mushola.
Haryo sudah berada didalam kamar inap Ghibran. Pemuda itupun juga sudah safar dari komanya. Azizah beserta Aminah masuk dan menghampiri kedua lelaki itu yang tengah asyik berbincang.
Mata Ghibran langsung tertuju pada Azizah, setelah kedatangan mereka berdua. Sekarang, wajah Azizah terlihat asing bagi Ghibran. Pemuda itu terus memandangi wanita itu. Azizah hanya melempar senyum dan tertunduk.
"Siapa wanita ini, mi. Kenapa umi datang bersamanya? Apa, saya mengenali wanita ini?" Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Ghibran.
Deg.
Sakit, mendengar itu membuat Azizah sedikit terluka. Benar saja, Ghibran tidak mengenali dirinya apalagi pernikahannya. Pemuda itu hanya mengingat masa lalunya saja. Mungkin hanya Aisyah yang masih ia ingat. Tentu saja, karena wanita itu adalah seseorang yang Ghibran cintai.
"Dia istrimu, nak," ujar Aminah.
"Istri?" Ghibran mengulang ucapan uminya. Dirinya terlihat sangat terkejut mendengar penuturan dari Aminah.
"Iya nak, dia adalah istrimu," timpal Haryo membenarkan ucapan sang istri. Ghibran melihat pada azizah beberapa saat, lalu kembali melihat pada kedua orang tuanya bergantian.
"Apakah, Ghibran sudah menikah mi?" Ghibran kembali bertanya, seolah tak puas akan jawaban pertama.
"Iya le," jawab Aminah.
"Kapan mi, bi?" Ghibran melihat bergantian pada umi juga abinya. Azizah hanya terdiam, tak mungkin ia ikut bicara, karena Ghibran tak mengenalinya mana mungkin pemuda itu akan percaya pada perkataannya.
"Beberapa bulan yang lalu nak," jelas Aminah memberitahu. "Umi dan abi telah menjodohkanmu dengan anak sahabat abi. Yah, ini, wanita didepanmu ini adalah istrimu," sambung Aminah menjelaskan.
"Dijodohkan? Istri, tapi kenapa saya tidak mengingatnya sedikitpun mi? Argh," Ghibran memegang kepalanya yang mulai terasa sakit karena memaksa untuk mengingat akan hal itu.
Semua yang disana terlihat khawatir dan takut, begitu juga dengan Azizah. Wanita itu mengangkat wajahnya dan langsung melihat pada Ghibran yang terus meringis kesakitan.
"Kenapa nak, kamu kenapa?" tanya Aminah merasa khawatir.
"Kepala Ghibran sakit mi, arh." Ghibran semakin meringis kesakitan.
"Istirahatlah nak, jangan banyak berfikir dulu," titah Haryo seraya membantu Ghibran untuk berbaring.
Azizah hanya menatap pilu pada Ghibran. Sakit, khawatir, kasihan semua perasaan itu menjadi satu. Dulu, saat pertama menikah wanita itu merasa biasa saja bahkan belum merasa jika dirinya sudah menikah. Tapi, setelah kejadian hari itu ternyata sangat menyakitkan. Suaminya sendiri tak bisa mengenali dirinya. Sampai kapan, itu semua akan terjadi?
๐๐๐........
__ADS_1