KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )

KEKASIH HALAL ( Sudah Terbit )
Bagian 2


__ADS_3

Esok harinya, Azizah tidak pergi ke kampus karena tidak ada jam kuliah. Azizah pergi ke dapur untuk mengambil air minum, sementara Umy Fatimah sedang duduk diruang tengah sambil menyulam dan melihat kehadiran Azizah di dapur.


"Kamu tidak kuliah nak?" tanya Umy Fatimah masih sambil menyulam.


Azizah menoleh, lalu berkata, " tidak Umy, hari ini Azizah masuk siang," ucapnya sambil menuangkan air ke sebuah gelas, lalu langsung meneguknya.


"Azizah," panggil Umy Fatimah


"Iya, Umy."


"Kemari sayang, ada yang ingin umy bicarakan sama kamu."


Azizah segera menghampiri Umynya dan duduk disamping sang umy.


"Apa yang ingin umy bicarakan sama Zizah?" tanya Azizah penasaran.


"sayang, kamu masih ingat dengan Pak Haryo?"


"Iya Umy, Zizah masih ingat. Kalau tidak salah Pak Haryo itu adalah sahabatnya Aby bukan My. Memangnya kenapa My?"


"Begini sayang, umy sama almarhum Aby juga Pak Haryo dulu telah sepakat, apabila anak kami beda jenis kelamin akan kami jodohkan,"


"Maksud Umy?" Azizah menatap Uminya dengan penuh penasaran.


"Maksud umy, kamukan sudah besar dan umy rasa sudah waktunya kamu untuk membina sebuah rumah tangga. Dan lagipula umy dan Almarhum Abymu sudah menjodohkan kamu dengan anak Pak Haryo."


Azizah terkejut mendengarnya,lalu berkata, "tapi Umy, Zizahkan gak tau sama anak Pak Haryo dan Zizah juga tidak mencintainya. Apa bisa membina sebuah rumah tangga tanpa adanya cinta?"


"Rasa cinta lambat laun akan datang dengan sendirinya. Umy dan Aby juga dulu tidak saling mencintai tapi, kamu lihatkan sekarang kami berdua sangat saling mencintai. Lagi pula ini adalah wasiat terakhir dari Aby kamu sayang." Umy Fatimah menatap Azizah lamat.


"Tapi My, Zizah...." ucapan Azizah terhenti karena umy Fatimah memotong ucapan Azizah.


"Sayang, anggap saja ini adalah tanda bakti kamu ke umy dan Aby." Umy Fatimah memegang pipi Azizah dengan kedua tangannya.


"Baiklah Umy, Zizah bersedia," ucapnya lirih lalu Azizah tersenyum, dan Umy Fatimah memeluk Azizah.


"Kalau saja, Aby kamu masih ada. Beliau pasti akan merasa sangat senang dengan ini semua," tutur Umy Fatimah bahagia, sembari masih memeluk Azizah.


Azizah hanya diam saja dalam pelukan Umynya itu, batinnya berbicara.


Ya Allah, jika ini akan membuat Umy bahagia, aku ikhlas ya Allah.


Siangnya, sekitar pukul 13:30 Azizah pergi ke kampus. Sebelum ia pergi tak lupa Azizah berpamitan kepada Umynya.


Azizah duduk diluar mushola sambil merenung memikirkan hal tadi. Aisyah datang menghampiri Azizah yang tengah termenung sendiri.


"Zah, kamu kenapa? aku perhatikan dari tadi, kamu kelihatan murung ada apa? cerita sama aku." Aisyah memandangi Azizah yang masih termenung.


"Syah, aku mau tanya sama kamu. Apakah bisa, kita membina sebuah rumah tangga dengan orang yang sama sekali tidak kita kenali dan sama sekali tidak kita cintai?" Azizah menoleh, lalu kembali menatap lurus ke depan.


Aisyah merasa heran atas pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu, kenapa tiba-tiba Azizah menanyakan perihal itu padanya.


"Jika Allah, sudah menghendaki apa pun bisa terjadi sekalipun kita tidak mencintai orang itu. Yang terpenting kita harus ikhlas dan yakin itu adalah jodoh terbaik yang Allah berikan untuk kita. Eh, tapi kok tiba-tiba kamu nanya soal itu, kenapa? apa ada hubungannya sama kamu yang murung saat ini?"


Azizah bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju bawah tangga. Ia berdiri sambil merenung, menatap lurus ke depan. Aisyah yang melihatnya semakin merasa heran atas sikap Azizah yang tak biasanya bersikap seperti sore itu. Aisyah menghampiri Azizah dan berdiri tepat disamping Azizah.


"Yasudah, kalau kamu tidak mau cerita sama aku tidak apa-apa. Tapi, kalau nanti kamu mau cerita aku siap kok untuk mendengarkannya."


Azizah menoleh, Aisyah tersenyum Azizah pun ikut tersenyum.


Sekitar pukul 14:00 kegiatan remaja kampus dimulai. Azizah masih memikirkan hal itu dan dia tidak begitu memperhatikan materi yang tengah narasumber sampaikan. sedangkan Aisyah, tersenyum-senyum manggut-manggut sambil menyimak yang sedang disampaikan oleh narasumber.


Sekitar pukul 16:30 kegiatan pun telah selesai, seluruh mahasiswa/i keluar termasuk Azizah. Azizah masih murung, Azizah beranjak pergi namun Fahmi menghampiri Azizah yang tengah melangkah keluar Mushola.


"Azizah."


Azizah berhenti dari langkahnya, lalu menoleh. Dan Fahmi menghampirinya.


"Alhamdulilah, kamu sekarang sudah bergabung di sini. Selamat bergabung yah." Fahmi melempar senyum dan Azizah juga tersenyum.


"Saya perhatikan, dari tadi kamu diam saja. Kenapa, apa kamu sedang ada masalah?" tanya Fahmi, memandang Azizah yang tertunduk. Azizah tidak langsung menjawab pertanyaan Fahmi, ia menghela nafasnya sejenak.


"Aku tidak apa-apa kok, udah sore aku duluan yah."


Azizah tersenyum dan pergi meninggalkan Fahmi sendiri. Fahmi hanya terdiam bingung melihat kepergian Azizah. Aisyah keluar dari Mushola dan diluar bertemu dengan Fahmi. Mereka berdua saling melempar senyum.

__ADS_1


"Aisyah," panggil Fahmi.


"Iya." Aisyah berhenti lalu menoleh.


"Azizah kenapa yah? Apa dia sedang ada masalah?"


"Aku juga tidak tahu Mi. Tapi sepertinya memang Azizah sedang ada masalah, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, saya hanya heran saja melihat sikap Azizah hari ini."


"Mmm, iya. Aku juga heran atas sikapnya, tidak biasanya Azizah bersikap seperti itu. Yasudah, aku duluan yah Mi."


Aisyah tersenyum lalu pergi meninggalkan Fahmi. Sementara Fahmi masih diliputi rasa penasarannya di pikirannya terhadap Azizah.


Malamnya, di rumah Ghibran. Ghibran telah selesai shalat, Pak Haryo dan Umy Aminah menghampiri Ghibran anaknya yang sudah selesai shalat tengah melipat sajadah.


"Aby, Umy." Ghibran menoleh dan melihat kehadiran kedua orang tuanya.


Pak Haryo dan Umy Aminah duduk dipinggir tempat tidur Ghibran, Ghibran pun ikut duduk tepat berada ditengah Aby dan Umynya.


"Sudah waktunya, aby mengatakan ini sama kamu nak," ucap Pak Haryo memulai percakapan antara mereka. pak Haryo tersenyum begitu juga Umy Aminah, Ghibran masih belum mengerti dengan ucapan Abynya itu.


"Mengatakan apa By, My??" Menatap Aby dan Umynya bergantian.


"Kamu masih ingat sama Pak Yusuf? sahabat aby dari kecil."


"Iyah, Ghibran ingat By. Kenapa?" tanya Ghibran semakin penasaran.


"Kamu tahu nak, aby sama Pak Yusuf dulu sangat dekat sekali dan tanpa bantuan beliau aby tidak akan menjadi seperti saat ini. Kamu tahu? bahkan kita menikah dihari yang sama, dan dulu kami telah sepakat jikalau kami mempunyai anak dan berbeda jenis kelamin kami akan menjodohkannya," tutur pak Haryo menjelaskan.


Ghibran terkejut saat mendengarnya dan dia bangkit dari duduknya, lalu berdiri beberapa langkah maju ke depan menjauhi Aby dan Umynya. Sementara Pak Haryo masih duduk.


"Kamu, pahamkan nak? maksud perkataan Abymu?" Umy Aminah menghampiri Ghibran, dan menepuk pelan pundak Ghibran.


"Jadi, maksud Aby dan Umy Ghibran sudah dijodohkan dengan anaknya sahabat Aby?"


"Aby rasa, sudah waktunya untuk kamu menikah. Lagipula sebentar lagi kuliah kamu akan selesaikan? dan lagipun aby belum pernah melihat kamu memperkenalkan seorang wanita yang sedang dekat dengan kamu, jadi apa salahnya?"


"Tapi Aby, Ghibran laki-laki. Ghibran bisa mencari pendamping Ghibran sendiri. Aby tidak usah repot-repot menjodohkanku."


"Ghibran, Abymu hanya ingin yang terbaik buat kamu nak. Percayalah, setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya," ucap Umy Aminah.


Ghibran hanya bisa terdiam mendengar penuturan Abynya itu, Ghibran berbalik melangkah menghampiri Abynya yang masih duduk di tepi ranjang. Lalu ia duduk bersujud dihadapan Abynya.


"Baiklah, jika ini adalah termasuk tanda bakti aku kepada Aby dan Umy Ghibran bersedia,"


"Benarkah nak?"


Ghibran mengangguk pelan, Pak Haryo langsung memeluk Ghibran dengan bahagia dan umy Aminah juga tersenyum bahagia melihatnya.


* * *


Ditengah heningnya malam, Azizah memanjatkan do'a dengan penuh kekhusyuan dan rasa pasrah diatas sajadah setelah selesai melaksanakan shalat malam didalam kamarnya.


"Wahai dzat yang maha agung dan maha segalanya, jika ini adalah takdir dari-Mu hamba ikhlas ya Allah menerima ini semua. Dan jika ini akan membuat Umy bahagia, hamba ikhlas, jika ini adalah cara-Mu memberikan jodoh untuk hamba maka berikanlah hati ini untuk bisa menerimanya dengan ikhlas. Berikanlah keyakinan pada hati ini, pada diri ini, bahwa dia adalah jodoh yang terbaik untu hamba. Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu ya Allah.. Rabbana atina fiddunya hasanah wakinah adza bannar Aamiin aamiin yarabalalamin." Azizah mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya kemudian ia bersujud.


\*\*\*


Azizah melangkahkan kakinya menuju mushola dengan penuh lamunan, terdengar suara seseorang bershalawatan dan membuyarkan lamunan Azizah. Azizah mendekati sumber suara itu dan dia berdiri melihat sesosok lelaki yang membelakanginya itu sedang bershalawat. Azizah tertegun mendengarkan shalawatan itu, membuat hatinya menjadi lebih terasa tenang. dalam hatinya ia memuji suara merdu itu suara yang begitu lembut dan siapa saja yang mendengarnya akan merasakan ketenangan didalam jiwanya. Subhanallah sungguh merdunya, Azizah terus memuji suara merdu itu didalam hatinya hingga ia dikejutkan oleh suara Aisyah yang menyapanya.


"Zah, kamu kenapa?"


Azizah tidak menjawab dia hanya tersenyum sambil terus melihat lelaki itu, Aisyah merasa heran dan ikut melihat kearah yang sama dan Aisyah pun tersenyum.


"Mmmm, aku tau, kamu pasti sedang terkagum-kagumkan dengan suara Ghibran? akukan sudah pernah bilang sama kamu, kalau suara dia memang sangat merdu."


Aisyah tersenyum simpul, Azizah menoleh kearahnya lalu kembali melihat kearah Ghibran. Apa! jadi pemilik suara merdu itu adalah Ghibran, orang yang membuat dia selalu merasa kesal. Sontak wajah yang tadi terlihat seperti bunga yang sedang mekar berubah menjadi geram seperti harimau yang tidak diberi makan.


"Merdu darimana? suara kayak kaleng rombeng gitu dibilang merdu," elak Azizah.


Aisyah hanya tersenyum, lalu Azizah pergi dan duduk diteras mushola disusul Aisyah yang kemudian duduk disamping Azizah.


"Buktinya, tadi kamu sampe terkesima mendengarkannya. Iya kan?" Menatap Azizah disamping.


"Kata siapa? orang aku kaget! Kok bisa yah, Fahmi menyuruh dia. Memangnya tidak ada yang bagusan dikit apa, selain suara orang aneh itu."

__ADS_1


"Bisa lah, karena suara orang aneh itu bagus dan merdu." Aisyah tersenyum lalu terus menggoda Azizah hingga pipi Azizah memerah dan hingga akhirnya mereka tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawakan.


Disisi lain Ghibran sedang memikirkan percakapan antara dirinya dengan orang tuanya. Dalam hatinya, ia tak mau menerima perjodohan itu tapi disisi lain dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa dan sebagai anak yang selalu patuh mau tidak mau dia harus bisa dan dia harus menuruti permintaan orang tuanya. Kini ia pun harus bisa membuang jauh-jauh perasaannya terhadap Aisyah yang sejak dulu dia kagumi. Dari kejauhan, tanpa sepengetahuan Aisyah Ghibran terus memperhatikannya yang sedang tawa canda bersama Azizah.


Saya harus mengubur dalam-dalam perasaan ini, meskipun itu sangat sulit.


Azizah yang menyadari bahwa dirinya dan Aisyah sedang ada yang memperhatikan. Ia merasa heran dan memberi tahu sahabatnya, Aisyah.


"Syah, ini cuma perasaan aku doang atau emang beneran yah. Kamu ngerasa gak, sih kalau si cowok aneh itu sedang memperhatikan kita?" Azizah melirik ke arah Ghibran. Aisyah menoleh kearah Ghibran, Ghibran yang menyadarinya berpura-pura dan menjadi salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya.


"Masa sih, Zah? tapi kelihatannya dia lagi memikirkan sesuatu deh."


"Yaudahlah, tidak usah memperdulikan cowok aneh itu."


Azizah bangkit, lalu pergi masuk kedalam Mushola. Sedangkan Aisyah masih duduk dan mengamati Ghibran, Aisyah melempar senyum Ghibran membalas senyumannya dan kini mereka saling berpandangan. Ternyata Azizah melihatnya dari belakang dan ia merasa heran, Aisyah yang menyadarinya langsung mengalihkan pandangannya.


Astagfirallahaladziim apa yang tadi aku lakukan, ampuni aku ya Allah atas sikapku tadi.


Saat Aisyah bangkit Azizah buru-buru segera masuk kembali kedalam mushola, Aisyah masuk kedalam mushola.


Fahmi menghampiri Ghibran yang sedang melamun, ia duduk disamping Ghibran.


"Kenapa Ran? apa kamu sedang ada masalah?" tanya Fahmi bingung.


Ghibran menoleh kearah fahmi.


"Saya tidak tahu harus menganggap ini sebagai masalah atau bukan, tapi yang pasti ini membuat saya tidak tenang," jelas Ghibran.


"Apa itu?"


"Aby dan umy sudah menjodohkan saya dengan anak sahabatnya. Dan disisi lain saya mencintai wanita lain, saya harus bersikap bagaimana Mi?"


"Aku tahu, pilihan ini sangat berat untuk kamu. TApi, percayalah apapun yang dilakukan oleh orang tua kamu itu adalah yang terbaik untuk kamu. Semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada orang tua dimanapun yang mau menjerumuskan anaknya, dan percayalah ini adalah takdir dari Allah," tutur Fahmi menasihati. Ghibran hanya bisa terdiam.


"Yakinkan hati kamu Ran, aku duluan." Fahmi menepuk pundak Ghibran. "Ayok, sebentar lagi kegiatan akan dimulai," sambung Fami, lalu


Fahmipun pergi.


Ghibran memikirkan perkataan Fahmi tadi.


"Mungkin, benar apa yang dikatakan oleh Fahmi. Aku harus yakin dan menerimanya." Ghibran kembali terdiam..


———


Kegiatanpun dimulai, dan kali ini Fahmi yang memimpin.


"Baik teman-teman, karena sebentar lagi akan memasuki bulan rajab maka kita akan mengadakan sebuah kegiatan yang dimana kita harus mencari tentang isra mi'raj. Dan untuk mempermudah, saya akan membuat kalian berkelompok. Kelompok pertama akan diketuai oleh Ridwan, dan anggotannya adalah Aisyah, Maryam, dan Rijal."


Fahmipun menyebutkan kelompok selanjutnya dan kali ini adalah kelompok terakhir yang akan disebutkan.


"Dan untuk kelompok yang terakhir, yaitu yang akan diketuai oleh Ghibran, dan anggotanya adalah Fajar, Syifa dan Azizah, kalian sudah mengerti? jika belum ada yang dimengerti silahkan saja acungkan tangan."


Azizah terkejut saat mendengar namanya satu kelompok dengan Ghibran dan ia tidak terima begitupun dengan Ghibran, Azizah langsung mengacungkan tangannya


"Iya Azizah, ada apa?" tanya Fahmi.


"Saya keberatan, kalau saya satu kelompok dengan dia." Azizah menunjuk kearah Ghibran, sontak Ghibran angkat bicara.


"Kamu fikir, emang saya mau satu kelompok sama kamu? nanti bukannya ngebantu, kamu malah ngancurin."


"Apa kamu bilang? aku gak salah dengar, kebalik kali. Yang ada kamu yang bakal ngancurin, kamukan cowok aneh."


"Apa kamu bilang?"


"Kamu tuli yah? oh, ternyata selain aneh dan nyebelin, kamu juga tuli yah."


"Berani sekali kamu berkata seperti itu."


"Apa? hah!"


Mereka berduapun saling adu mulut, orang-orang yang ada disana hanya melihat dan tertawa kecil melihat tingkah laku mereka dan Fahmi mencoba melerainya.


"Sudah sudah, kalian apa-apaan sih. Seperti anak kecil saja. Sudah, semuanya sudah disepakati. Lagipula ini hanya kelompok bukan perjodohan. Azizah, Ghibran, kalian duduk."


Azizah dan Ghibran saling melihat satu sama lain dengan wajah geram dan kesal, Fahmipun mengakhiri kegiatan tersebut.

__ADS_1


Dalam hati, Azizah terus menggerutu dan kesal, Ya Allah, kenapa aku harus satu kelompok dengan cowok aneh itu?


Ghibranpun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Azizah.


__ADS_2