Kekasih Manusia Harimau

Kekasih Manusia Harimau
Desa harimau


__ADS_3

Kini Arya,Tiara,maringgih dan Alang sudah berada di rumah Datuk Alang, Arya dan Tiara menceritakan semua yang mereka lalui di hutan ilusi. Tampak Datuk maringgih dan Datuk Alang


Yang begitu semangat mendengarkan cerita dari cucu mereka berdua.


" Arya, Tiara kini kita harus kembali kedesa harimau, kita harus berpamitan dengan ayah ibumu Tiara untuk pergi ketempat raja kegelapan untuk membebaskan ibu Arya dan harimau lainya." Jelas Datuk maringgih.


" Dan saat kita sudah membebaskan ibumu Arya, baru kita akan membuat perayan untuk pernikahan kamu dan Tiara," ucap Datuk Alang yang membuat pipi Tiara memerah dan malu.


"Iya Datuk" sahut Arya dan Tiara serentak.


Tampa berlama-lama, mereka berempat langsung melesat melakukan perjalanan dengan wujud harimau, tidak butuh waktu lama. Kini mereka berempat sudah melewati hutan kegelapan dan sudah berada di tepi danau.


Karena tidak mau membuang waktu, mereka tidak ada yang istirahat, lompatan demi lompatan mereka lakukan dan kini mereka semua sudah ada di depan rumah Datuk maringgih dalam wujud manusia.


" Assalamualaikum" ucap mereka serentak dan membuyarkan lamunan Gibran yang sedang berada diruang tengah.


" Waalaikum salam" sahut Gibran dan di susul sarla dari belakang untuk membukakan pintu.


Kreeeeek suara pintu terbuka.

__ADS_1


" Datuk, ayah , ucap sarla sembari turun dari tangga dan langsung memeluk Datuk Alang, wajar saja sudah dua puluh tahun mereka berpisah tidak pernah bertemu.


" Ayok kita masuk dulu, nanti didalam rumah kalian lanjut melepas rindu nya, " ucap Datuk maringgih mencaikan suasana yang haru saat itu sembari sedikit tertawa has orang tua.


Kini mereka semua sudah berada diruang tengah, dengan raut wajah yang sangat hawatir dan Tiara yang sedang menangis.


" Kenapa bisa ini terjadi Gibran?" Tanya Datuk maringgih.


" Aku juga tidak tau Datuk, kalau bencana ini akan terjadi, awal nya aku dan sarla sangat senang mendapat kabar kalau Arya dan Tiara sudah menikah." Cerita Gibran terhenti saat ada orang yang mengetuk pintu rumah mereka.


"Assalamualaikum" teriak seorang dari luar.


" Eh pak Yanto, mari masuk pak" ucap sarla.


" Iya buk, saya ke sini cuman mau bertemu dengan Datuk maringgih, apa Datuk ada buk?" Tanya pak Yanto pada sarla yang berdiri di samping tangga.


" Ada pak, Datuk di dalam sama yang lainya" sahut sarla, sembari masuk kedalam rumah dan disusul oleh pak Yanto dari belakang.


" Siapa sar?" Tanya Gibran pada sarla.

__ADS_1


" Pak Yanto, mas" sahut sarla.


" Ada apa Yanto? Mari duduk dulu " ucap Datuk maringgih mempersilahkan pak Yanto untuk duduk di sampingnya.


" Tidak usah Datuk, saya ke sini hanya ingin beri tahu Datuk , bahwa tadi pagi ada warga yang menemukan orang meninggal di dekat hutan desa ini" jelas pak Yanto membuat semua orang yang di situ terkejut mendengar nya.


" Sekarang dimana jasad itu Yanto?" tanya Datuk maringgih.


" Jasad orang itu ada di surau Datuk, sedang di mandikan oleh warga. Tapi kami perlu Datuk untuk menfkapani dan mensholata kah jenajah itu Datuk" jelas Yanto, karena Datuk maringgih adalah imam dalam desa tersebut.


" Baikalah saya akan segera kesana " ucap Datuk maringgih sembari bangkit dari posisi duduk nya.


" Kalo begitu saya duluan datuk" ucap Yanto sembari pergi meniggalkan mereka semua.


" Mang aku juga ikut kesana melihat jenajah itu" ucap Datuk Alang menghentikan langkah Datuk maringgih.


" Kami juga ikut kakek " ucap Arya dan Tiara serentak.


" Ya sudah ayok kita kesana " sahut Datuk maringgih dan mereka bergegas pergi menuju tempat yang di sebut pak Yanto.

__ADS_1


__ADS_2