
Dipagi hari yang cerah sudah seperti biasanya bagi semua pekerja terutama diperusahaan sedang sibuk dengan komputernya mereka masing-masing.
Semua karyawan kini sedang fokus dengan layar monitor yang setiap saat menemani mereka dalam beraktivitas.
Brakk
"APA KAU SUDAH BOSAN BEKERJA DISINI,HARI INI KELUAR DARI KANTORKU!!"teriak pria itu membuat seseorang didepannya bergetar hebat karna kaget sekaligus khawatir akan pekerjaannya.
" Maaf pak tapi saya..."ucap wanita itu gemetar.
"security!!cepat usir dia saya tidak mau melihat dia menginjakkan kakinya disini lagi!!" dengan segera security itu menyeret wanita itu.
"Ayo keluar nona!!"memegang kedua lengan wanita itu
"Tidak,Pak tolong... saya janji tidak akan berbuat kesalahan lagi"ucap wanita itu penuh permohonan
"cepat bawa dia" pria itu memijit pangkal hidungnya karna merasa sangat pusing dikepala.
Setelah wanita itu pergi seseorang masuk dengan santai keruangan itu ia menyakukan kedua lengannya kesaku celana.
"Kau baru memecat secertaris mu lagi Penrod,sungguh kau ini gila dan menakutkan." ucap seorang pria dengan wajah tampan mempesona.
"Kakak,ada apa kau kemari?"tanya Penrod yang masih sibuk mengetik laptopnya kini suasananya tidak seburuk sebelumnya.
"Jangan sok sibuk,aku tau apa yang terjadi."ucap pria diseberang itu dengan santai dan mulai mendekat.
"Ya jika kau tau, tak usah mengurusiku" nada dingin itu membuat sang kakak merasa geli.
"Jika kau selalu seperti ini,ini akan berdampak tidak baik bagi pegawaimu."ucap pria itu menghampiri Penrod dan menghela nafas tak terpikir olehnya bahwa sang adik tidak berubah sama sekali walau usianya semakin bertambah.
"lalu aku harus bagaimana kak?seperti kakak begitu,kurasa tidak jika aku seperti kakak pasti nanti semua pegawaiku semena mena dengan tugasnya walau aku terinspirasi dari kakak yang selalu bekerja keras siang malam."ucap Penrod dan menatap kakak yang selalu ia banggakan.
"Dengar rod,jika kau tak mengubah sikapmu,semua pegawaimu akan tertekan."ucap sang kakak dan hanya dibalas helaan nafas Penrod.
__ADS_1
"Apa kakak lupa yang diajarkan oleh papah?"tanya Penrod sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya,itulah kesalahamu menuruti papah yang memiliki sifat kejam."ucap kakak Penrod dengan penuh nada kesal karna papahnya itu bisa membuat adiknya menjadi orang kejam dan dingin.
Walau Penrod sayang keluarga tapi kekejamannya yang merugikan orang lain membuatnya hanya bisa berdoa semoga kedepannya adiknya bisa berubah.
"Tidak kak nasihat papah untuk kita juga."Penrod mencoba meyakinkan kakaknya yang berbeda jalur pemikirannya.
"kau tak tau,papah adalah orang yang tak punya perasaan.Yang harusnya kau dengar itu mamah dia..."sebelum mengucapkan hingga selesai suara lantang membuatnya terhenti untuk melanjutkan kalimatnya.
"KAKAK!!!"teriak Penrod sambil berdiri dari posisinya.
"sudah kuduga kau terpengaruh oleh papah."kakak Penrod pun tersenyum miring,ia sudah tau apa reaksi yang akan ditunjukkan adiknya itu.
"kak,bagaimana bisa kakak begitu menilai papah,dia yang membesarkan kita!"Penrod mencoba meyakinkan kakaknya lagi dengan nada yang lebih lembut.
"Oh begitukah?kurasa mamah yang membesarkan kita,pekerjaan papah hanya keluyuran tidak jelas."ucap dengan penuh penekanan diakhir kata membuat Penrod terduduk lagi.
"Papah bekerja kak."balasnya dengan nada penuh keyakinan dan mengusap wajahnya menahan amarah.
"Kak inilah kesalahan kakak,papah melakukan ini karna dunia bisnis memang sangat kejam."ucap Penrod mulai melemah karna ia tau bahwa kakaknya bertolak belakang dengan pemikirannya dan papahnya.
"Dengar rod kau memang pandai dalam bisnis tapi jalanmu salah,apa kau tak melihat banyak usaha gelapmu di perusahaan ini,dan menyebabkan orang lain mengalami penyusutan setiap tahunnya,aku salut dengan kinerjamu tapi apa kau tidak memikirkan nasib mereka?"mencoba menjelaskan lebih dalam agar adiknya itu bisa mengerti.
"Aku tidak peduli kak Stev,yang penting papah bahagia dengan usahaku."mulai berdiri dan menatap jendela yang diluarnya disuguhkan pemandangan kota karna kantor ini memiliki tinggi sampai 100 meter diatas permukaan bumi.
"kau salah melangkah"ucap Stev dengan masih santai karna kini ia mulai menyerah dengan semua penjelasannya.
"Kak Stev cukup,jika kakak hanya ingin berdebat denganku maaf, tapi aku tak ingin menanggapimu lagi."menutup laptopnya dengan kasar dan mulai pergi dari sana.
"Kau akan tau rasanya jika kau sudah jatuh cinta pada seorang wanita,perlahan sikap angkuhmu akan memudar seiring berjalannya waktu."perlahan menjauh membuat Penrod terdiam kembali.
"aku takkan pernah jatuh cinta"sanggahnya membuat Stev tersenyum tipis.
Tidak akan lama lagi seseorang yang tepat membuatmu sadar rod_batin Stev
__ADS_1
"Apa kau tidak normal?"berbicara dengan nada dingin sekaligus ingin menggoda adiknya itu.
"Aku bukan gay atau pun tak menyukai lawan jenis hanya saja wanita yang ingin aku bahagiakan saat ini hanya mamah dan yang lainnya hanya membuatku tidak senang."mencoba menjelaskan agar kakaknya segera mengakhiri perdebatan ini.
"Terserah kau saja rod,aku hanya memperingatimu saja agar kau tidak menyesal."mulai membuka pintu ruangan itu.
"hmm."bergumam samar.
"Terakhir yang ingin aku katakan malam ini ada acara,datanglah di keluarga Alexandra!"kemudian berbalik dan menatap Penrod yang nampak memikirkannya.
"hmm,akan aku usahakan."angguknya,walau dia tidak pernah akur dalam pemikiran tapi dia sangat menyayangi kakaknya yang selalu menyemangati jikalau keluarganya sedang ada masalah.
"kudengar mereka memiliki putri yang cantik semoga ada salah satu yang kau sukai."menghela nafas berharap adiknya itu bisa tertarik pada wanita.
"Takkan ada."penuh penekanan dan mulai kembali merasa jika perdebatannya akan terjadi lagi.
"Kau yakin?"menautkan sebelah halisnya karna ia rasa Penrod hanya ingin menjauh dari kekejaman papah nya yang selalu memintanya untuk fokus pada pekerjaan saja.
"kak Stev"mulai kesal dan kini wajahnya mulai memiliki aura menusuk.
"okok aku pergi babay adikku..."Stev berjalan keluar menuju pintu yang ada didepannya itu.
"hmm,cepat pergi sebelum aku melempar laptop ini!"menunjuk laptopnya karna kakaknya itu sangat sulit untum dihindari.
"uchhh menakutkan."membuka pintu lagi saat dia sudah keluar dari ruangan Penrod.
Dengan cepat Stev keluar sebelum iblis yang sudah menahan emosi itu tak terkontrol sungguh itulah hal paling menakutkan dalam hidupnya.
" Untung kau kakakku jika tidak aku akan memukulmu sampai sekarat."ucap Penrod dan kembali berkonsentrasi dengan berkas yang menumpuk setiap saat.
"Aku yakin suatu saat dia akan sadar saat menemukan gadis yang membuatnya tidak bisa berkutit karna aku sudah pernah merasakan perbedaan itu,semoga semua ini cepat berakhir." batin Stev.
.
.
__ADS_1
Bersambung......