Kenapa Memilihku?

Kenapa Memilihku?
(KM)5


__ADS_3


"Tante apa kau bisa menjadi teman Fann yang paling dekat?!" tanya anak itu dengan suara manja karna ia sudah menyukai Lareina,sedari tadi Lareina hanya mengatakan teman jadi mungkin saja pertemanannya hanya sampai sini.


"kenapa tidak,sepertinya kau orang yang setia." ucap Lareina dengan tersenyum ia sangat senang berbicara pada Fann dia orang yang asik walau masih kecil.


"Nama tante siapa?" tanya Fann yang sedari tadi penasaran.


"Nama tante," belum sempat berkata ucapan Lareina terhenti karna panggilan seseorang.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya seseorang dengan badan gagah dan tegap wajah berwibawa namun suaranya itu sungguh mengintimidasi.


"Om,Fann sedang berbicara dengan tante cantik.Dia yang membantu menemukan kucing Fann."ucap anak itu dan kembali menatap lareina yang menutup wajahnya dengan topi semakin membuat wajahnya tidak terlihat jelas.


" Fann,tante permisi maaf tidak bisa berbincang terlalu lama."setelah mengatakan itu Lareina pergi begitu saja dan tak sengaja menyenggol tubuh pria tampan didepannya.


"Jalanlah lebih berhati-hati!"ucap Penrod dengan wajah kesal dengan raut wajah tidak bisa ditebak dan kini ia menatap Fann.


"Om,kenapa wajahmu menakutkan sekali bagaimana jika semua gadis tidak ada yang mau padamu?"tanya Fann membuat Penrod menghela nafas dan duduk dipinggir anak itu.


"kau masih bocah jangan berpendapat buruk tentangku!" dengan penuh penegasan dan menyeruput coffe didepannya.


"Om,itu milik tante cantik!" ucap Fann.


Penrod terkejut akan hal bodohnya itu ia melihat bekas liptin masih membekas dicangkir gelas itu,ia menjadi malu sendiri akan kelakuannya itu.


"Kukira ini milikmu." ucap Penrod dengan gugup dihadapan keponakannya itu.


"Om itu gak malu ya,untung aja gak ada tante cantik kalo ia pasti dia marah." ucap Fann.


"Hmm." Balas Penrod walau fikirannya masih memikirkan hal bodoh tadi.


"Om,wajahmu selalu saja begitu,lama-lama Fann tidak percaya bahwa kau adalah Om ku." ucap Fann karna ia melihat papahnya yang berwajah dingin tapi papahnya selalu tersenyum senang.



"Kau bocah beraninya menghina Om mu sendiri?" ucap Penrod dengan wajah dinginnya membuat Fann terdiam.


"Hanya bercanda Om,papah benar kau orang yang temprammmamamama...." Fann tidak berani jika berkata lebih jauh ia tau om nya sangat menakutkan.


"mamama...mau ngomong apa Fann,jika tidak dilanjutkan Om akan bawa kamu ke rumah hantu!" Fann menggeleng ia sangat takut jika sudah mendengar rumah hantu walau ia tau itu hanya hantu bohongan.


"Om Fann minta maaf,lain kali akan menjaga lisan kok,lagian Om juga udah buat tante cantik pergi dan meminum coffenya."ucapan Fann membuat Penrod merasa tersindir walau dia keponakannya tapi tidak terima jika dirinya yang harus disalahkan.

__ADS_1


"Apa dia baik,apa dia secantik itu sampai kau menyalahkan om yang tampan ini?" tanya Penrod dan diangguki Fann.


"Om kalah jauh dari tante cantik,Fann saja menyukainya." ucap Fann dengan percaya diri seperti papahnya itu,memang sifat anak tidak akan jauh dari papahnya.


"Awas saja, Om tidak akan membelikanmu mainan lagi karna berani mengejek om." Penrod memalingkan wajah dari keponakannya kelewat menggemaskan.


Penrod sangat menyayangi Fann walau sifatnya membuatnya kesal tapi bagaimana pun dia anak dari kakaknya membuat dia tidak bisa matah padanya.


Fann mendekat dan memberikan jurus andalannya dengan mata lucunya membuat Penrod kalah,jujur dia sangat tidak bisa menolak kelucuan anak ini,matanya bulat pipi cubby bibir tipis dan hidung mancung dengan dagu sedikit lancip seperti kakaknya.


"Baiklah Om kalah denganmu."ucap Penrod dengan menghela nafasnya pelan.


"Om kita pergi yuk,Fann ingin jalan-jalan!"ucap Fann sambil menarik-narik lengan Penrod yang masih diam terduduk dikursi cafe.


"Baiklah kalau begitu,kau ceritakan bagaimana kau bisa bertemu dengan tante cantikmu itu!"ucap Penrod walau gengsi tapi ia juga merasa penasaran dengan wanita yang selalu dibicarakan keponakannya itu.


"Ayay captein."Fann menghormat dijidatnya dengan lengan yang memperlihatkan empat jarinya.


"Eh hormat itu harusnya berapa sih?"ucap Penrod pada keponakannya.


"5 Om,kan pancasila ada 5 tapi karna om bukan pancasila jadi empat aja." ucap Fann membuat Penrod terkekeh,mendengar jawaban dari keponakannya ini.


.


.


.


.


"Rein hampir saja kau akan disusul kakekmu,lihat lah sekarang jam setengah 9,apa kau tidak akan hadir diacara wisudamu?" tanya sang nenek dengan dirinya yang disibukkan dengan berbagai peralatan yang harus dibawa cucunya.


"Tentu saja,setengah jam lagi kita akan sampai,bahkan lebih awal dari yang ditetapkan."ucap Lareina santai membuat keluarganya yang lain menatao dengan bingung,mana bisa waktu yang diucapkannya bisa terjamin karna sekarang saja waktunya sudah mepet.


"bagaimana caranya?"tanya Mireya yang penasaran.


"Ayo berangkat!"ucap Lareina dengan cepat menarik semua keluarganya membuat yang lain bertanya-tanya.


"Kau ini mau pergi begitu saja??" tanya Sonja bingung.


"Rhh ganti bajumu dulu!"ucap Mireya menghentikan langkah putrinya.


"Tidak usah bu,jika aku ganti baju akan terlambat."ucap Lareina segera menarik keluarganya menuju mobil,dan sudah ditunggu oleh kakeknya didalam sana.

__ADS_1


"Lalu kau kesana mau dengan pakaian itu?"tanya Mireya bingung karna masih belum faham dengan pola fikir anaknya ini.


"Makannya ayo kita berangkat!"ucap Lareina tergesa-gesa karna waktunya sudah terpakai disini dengan perdebatan dengan nenek dan ibunya.


setelah dimobil....


Lareina segera kebelakang mobil dan bergantian pakaiannya dengan cepat.


"Yaampun Rein kau tidak tau malu berganti pakaian di dalam mobil."ucap Mireya terkejut melihat putrinya sudah berganti pakaian dengan formal.


"Hehe...kan hanya kalian yang ada disini,Rein tidak akan malu."ucap Lareina terkekeh karna melihat keluarganya yang kaget.


"pantas saja kau tidak membiarkan berganti pakaian dirumah,karna menghambat waktu.cukup pintar cucuku ini."Sonja mengelus kepala Lareina dengan hangat.


"Tidak bu itu namanya tidak punya etika."ucap Mireya dengan marah akan sikap anaknya.


"Maafkan Rein bu,hanya kali ini saja Rein melakukannya,lain kali tidak."membulatkan mata memohon.


"Baiklah permohonan dikabulkan."ucap Mireya dengan nada terpaksa.


"Yeahh makasih bu,nek"mencium pipi ibu dan neneknya.


"kakek tidak?"ucap Gibran yang masih menyetir mobil.


"kakek menyetir saja jangan fokus pada kami!"ucap Lareina ditatap sedih Gibran.


"Aishhh cucu kakek memang mengerikan tapi sangat manis."ucap Gibran dibalas senyum manis cucunya


"Terimakasih kek."ucap Lareina.


"Kau masih bocah walau mau lulus kuliah."ucap sang ibu.


"Itu hanya dengan kalian." ucap Lareina dengan senyum menang.


"Bisa saja."ucap sang Sonja dan Mireya.


**Bersambung..


like.


coment.


dan rate nya ditunggu

__ADS_1


vote juga


terimakasih sudah mampir😘**


__ADS_2