
"Lebih baik kau hapus ingusmu itu!." Penrod segera memalingkan wajah dan dengan malu Lareina mengusap ingusnya.
"Haha...apa aku seperti idiot sampai aku lupa didepanku adalah bosku mungkin aku cari mati." Batin lareina
"Jantungku kenapa seakan selalu seperti tak terkontrol." Batin Penrod sambil memegang dadanya.
Tanpa berlama-lama Penrod segera memajukan Mobilnya entah rasanya ingin segera sampai dikantor dan berdiam diri diruangannya merasa perasaannya sangat aneh.
Tibanya dikantor ia langsung menuju ruangannya dan menutup pintu begitupun Lareina.
Brakk
"Yaampun malunya,mana bisa aku bertingkah konyol dihadapan lelaki macam dia." Lareina memegang kedua pipinya yang memerah.
ia pun menyembunyikan kepalanya didepan meja.
.
.
"Ya tuhan perasaan apa ini rasanya campur aduk kenapa serasa tertarik pada gadis kuno itu padahal niatku aku tertarik pada gadis keluarga Goldie,Lareina." ucap Penrod.
ia pun memopang dagu sambil menatap ruang kerja Lareina yang tidak jauh dari tempatnya.
"Apa yang sedang dia fikirkan,tidak!!kau hanya memilih Lareina Rika Goldie bukan gadis kuno itu." ucap Penrod menatap Lareina saat ia sadar segera ia turunkan pandangan.
"Jangan bertingkah konyol Rod dia..." sebelum berdialog sendiri seseorang mengetuk pintu.
Tok
Tok
"Masuk!!." ucapnya merapihkan diri.
Cklek
"Bos ini salinan yang anda minta." ucap Four.
"Ouh ya terimakasih." ucap Penrod.
"Hah?Apa bos?" tanya Four yang bingung dengan ucapan Penrod yang alangkah langkanya.
"Tidak ada." ucap Penrod.
"Bukan maksud saya ucapan bos sangan aneh tidak biasanya." ucap Four menyelidik.
"Tidak!!cepat keluar!!." teriak Penrod membuat Four kembali sadar bahwa dia salah besar.
"Ya,Maaf bos." angguk Four.
Sebelum benar menghilang Penrod menghentikan langkah Four.
"Tunggu!!" panggil Penrod membuat Four berbalik.
"Ya?ada yang bisa dibantu?" tanya Four.
"Apa kau tau sekertaris saya?" tanya Penrod.
"Amona?" tanya Four.
"Bukan." geleng Penrod.
"Berarti saya bos." ucapnya nyengir ia ingin sekali membuat Penrod kesal memang sekertaris tak tau diuntung.
Penrod menatapnya datar membuat Four tidak main-main lagi.
"Kamu fikir itu lucu??" ucap Penrod
"Baiklah berarti Reina,memang ada apa dengan dia?" tanya Four
"Umm....saya ingin menanyakan hal pribadi tentangnya." ucap Penrod.
"Ouh boleh jika saya tau." ucap Four.
__ADS_1
"Kita hanya berdua disini tidak usah formal!" ucap Penrod diangguki Four.
"It's oke."ucap Four sambil memberikan jempol
"Menurut kau Reina bagaimana,umm maksudnya apa yang kau fikirkan tentangnya ah bukan-bukan maksudku apa tanggapanmu tetang dia.bukan maksudku...."Penrod bingung ia takut perkataannya menimbulkan masalah.
Four hanya menatap dengan aneh dan mengangkat sebelah alisnya.
" Maksudmu Reina wanita seperti apa bukan?"tanya Four.
"Ya tentu." angguknya.
"Menurutku dia gadis yang asyik dan dia pekerja keras gadis yang pintar dan punya hati yang baik,pemberani dan juga sukses eh maksudku wanita berkarir yang baik." ucap Four yang hampir keceplosan.
"Sebegitu taunya kau tentangnya,apakah kau sudah lama mengenalnya?" tanya Penrod.
Jelas dia kan CEO Golden siapa yang tak mengenalnya_Batin Four
"Hm...bukannya saat dia datang kesini kepribadiannya sudah kau ketahui ya?" tanya Four.
"Tapi tidak semua dia hanya menuliskan IQ tinggi,tapi itu tidak diragukan." ucap Penrod membuat Four ingin tertawa.
Jelas dia mengatakan seperlunya jika tidak maka sia-sia dia menyamar disini_batin Four
"ouh haha...mungkin saya sering bersamanya jadi kepribadiannya terlihat." ucap Four.
"Dia sering bersamaku tapi kenapa tidak ada yang aneh malah menyebalkan." ucap Penrod.
"Entahlah,tanyakan saja padanya." ucap Four.
"Tidak,jika aku melakukannya bisa jadi dia geer." ucap Penrod membuat Four mendelik.
"Sepertinya kau menyukai Reina ya bos??" goda Four.
"Beraninya kau berkata begitu,ingin ku masukan pada ikan salmon?" ucap Penrod dengan nada marah.
"Maaf bos kalau ikan salmon malah ikan itu yang masuk perut saya." ucap Four.
"Baiklah,aku masukan pada perut paus." ucap Penrod kembali.
"Kenapa?" tanya Penrod.
"Karna bos saya aneh." ucap Four membuat Penrod murka.
"Kau mengataiku aneh apa kau sendiri tidak gila,beraninya mengatakan hal itu didepanku??" ucap Penrod geram.
"sekertaris anda saja tidak sungkan apalagi saya." Four segera pergi.
"Shit,kenapa semua sekertarisku menggila beraninya mengataiku awas saja." ucap Penrod.
Malam pun tiba....
tik
tik
tik
Lareina masih sibuk dengan monitornya tidak ada tugas lagi selain harus menyelesaikan berkas yang diberi bos gilanya.
"Ekhem." dehem seseorang tapi Lareina menghiraukannya,semua sudah sepi dan lampu mati membuatnya merasa itu hanya angin lalu.
Deheman kembali terdengar membuatnya dengan kesal menengok.
"Apa sih??" ucap Lareina kesal.
"Bisakah etika bicaramu dijaga??" ucap Penrod.
"Ya,asal anda tidak membuat saya kesal." ucap Lareina.
"Ini sudah waktunya pulang dan kita harus menjumpai keluargaku." ucap Penrod.
"Ya baiklah." Lareina segera bergegas.
"Kau mau kerumahku menggunakan pakaian ini,tidak bagus." ucap Penrod.
Penrod menyempatkan pergi ke butik terdekat untuk mengganti pakaian Lareina.
__ADS_1
setelahnya mereka pun menuju kediaman Osric.
.
.
terlihat rumah mewah dengan jamuan yang sudah dihadiri beberapa orang.
Fann yang menatap ada mobil Penrod menjadi senang karna Lareina akan ikut bersama Om nya itu.
"Om!!" teriak Fann.
"Eh,Fann biarkan mereka masuk terlebih dahulu." ucap Azela.
"Ya nek." angguk Fann.
Lareina pun duduk dipinggir Penrod.
"Kenalkan dia..." ucap Azela terhenti.
"Kenalkan saya Maudy Funica." ucapnya menyela Azela karna ia sangat menunggu lelaki bernama Penrod dan benar saja dia begitu tampan.
"Ouh." jawab Penrod.
"Ah maafkan anak saya." ucap Azela yang melihat Maudy sedih.
"Tidak apa kok tante." balas Maudy dengan tatapan tidak suka pada wanita disamping Penrod.
Penrod berbisik dipinggir Lareina
Aku menyuruh sesuatu padamu dan aku rasa kau mengerti bukan??
Lareina hanya menganggukkan kepala.
"Umm tante boleh permisi ketoilet?" ucap Lareina tentu dibalas anggukan oleh Azela.
setelah beberapa lama Maudy mengikuti Lareina yang katanya ke toilet itu.
Maudy seakan ingin sekali mencabik wajah wanita didekat Penrod.
.
.
.
"KAU!!JELEK KELUAR!!" dengan santai Lareina keluar.
"Ya?apa ada..." sebelum berkata Maudy menarik rambut Lareina membuatnya kesakitan.
"Arrgghhh..." rintih Lareina
"Beraninya kau mengambil Penrod milikku!!" teriak Maudy.
"M-maaf t-tapi dia bu-kan milik-mu..." ucap Lareina menahan sakit.
"Kau jangan belagu ya cupu" Maudy pun membenturkan kepala Lareina ke tembok.
Dasar pria iblis pergi kemana dia,dasar idiot kenapa belum juga datang_batin Lareina
bugghhhh
"Ahk...."rintih seorang wanita
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan Jejaknya.
terutama Like dan Coment,Coment membantu menyemangati Author yang lelah mengetik mohon maaf bila banyak kesalahan😊
__ADS_1