Kenapa Memilihku?

Kenapa Memilihku?
(KM)4


__ADS_3


Hari ini Lareina akan berangkat ke kampusnya karna hari ini adalah hari wishudanya.Tapi ia memakai pakaian casual dengan topi dikepalanya entah akan pergi kemana.


"Kau akan pergi hari ini?bukannya dimulai pukul 10?" tanya sang ibu yang sibuk memasak didapur namun masih menyempatkan untuk melihat kegiatan anaknya itu.


"Tidak bu,Rein akan pergi sebentar setelah jam 9,Rein akan pulang kerumah lagi." sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru.


"Kemana,awas saja jika kau lupa pulang!" memegang spatulanya dan menunjuk anaknya seperti ibu yang siap memarahi siapa yang menggangunya.


"Aishh ia ibu hanya jalan-jalan,Rein takkan lupa pulang kok." mendengus kesal karna ibunya tak pernah berhenti mencerewetinya,kemarin ibunya yang menganggap neneknya cerewet kini ibunya,semoga saat dia sudah menjadi seorang ibu dia tidak cerewet karna itu sangat memusingkan.


"Jangan terlalu cerewet pada cucuku ini,jika benar kau akan tau akibatnya Mireya." mendekati cucunya.


"Ayah lihatlah ibu,dia sangat tidak adil padaku." merajuk,walau kini dia seorang ibu tapi sikap kekanakannya masih ada dalam dirinya.Ia masih tidak terima jika ibunya sendiri selalu mengejeknya.


"Sonja,kau terlalu berlebihan cucuku memang sangat disiplin waktu tapi kau pun jangan selalu menyalahkan ibunya." menggeleng dan membaca korannya lagi,diusianya kini Gibran ingin mengisi harinya dengan keluarga bahagia.


"Tidak suamiku,dulu aku tak pernah begitu padanya entah dari siapa sifat itu menurun padanya sangat cerewet" ucap Sonja,dan dibalas gelengan Gibran.


"Baiklah Rein berangkat dulu." Lareina berjalan mendekat pada keluarganya dan mengecup mereka satu persatu.


"Dah bu,dah nek dah kek" sambil melambaikan tangannya.


"Aku berharap dia tidak akan kemana-mana,aku tak ingin si Deon rubah itu mengambil cucuku suatu saat."Dengan nada yang tidak suka.


"Aku pun berharap begitu bu,aku tidak rela jika anakku diambilnya sudah banyak penderitaan yang aku dan Rein alami karnanya."ucap Mireya sambil menatap kepergian anak tercintanya.


"Bercerailah dengan lelaki rubah itu ibu tidak ingin melihatmu selalu bersedih!" mengelus kepala putrinya sayang.


"Ibumu benar,Ayah akan membantumu jika kau mau."meyakinkan,walau status anaknya masih istri dari Deon sehingga dia tidak ingin terlalu ikut campur dan bersikap biasa saja.


"Akan Mireya usahakan untuk itu bu,yah."melenggang pergi dan sonja Gibran hanya saling menatap putrinya yang dulu selalu cerita,tapi saat pernikahan kedua dari suami anaknya putrinya menjadi sering melamun dan kurang bersemangat.


"Maafkan aku dulu tidak mendengarkan ucapanmu sehingga aku menjerumuskan anakku sendiri ke lembah hitam " memeluk sang istri dan sonja memeluk kembali suaminya,diusia mereka yang tua mereka tetap merasa jiwa mereka muda.


"Nasi telah menjadi bubur tidak ada yang perlu kita sesali sekalinya pecah tidak bisa berubah menjadi berlian." menyenderkan tubuhnya masing-masing sambil menikmati paginya sebelum Lareina kembali.

__ADS_1


.


.


.


.


Lareina Bersepeda dengan santai ia berharap suatu saat hidupnya akan penuh dengan kebebasan.


kring kring


Ia membunyikan lonceng itu beberapa kali namun kucing didepannya tidak pergi juga ia pun berhenti dan mengambil kucing itu saat dilihat kucing itu sangat lucu.


"Kau ini lucu sekali ingin sekali aku mencubit pipi kecilmu ini sangat menggemaskan." Lareina pun mencium kucing berwarna putih orange itu,bulunya sangat lebat.


"Kau mau kemana kucing?"mengelus sambil memeluk digendongannya.


kucing itu hanya terpejam dan merasakan kenyamanan saat lareina mengelus rahang kucing itu.


" Meaww"


.


.


.


Sesampainya di Cafe...


"Ada yang ingin anda pesan nona?" ucap pelayan itu dengan sopan.


"Saya ingin Coffe Cocolate satu." pelayan itu mencatat dan pergi.


"Meaww." suara kucing itu membuat lareina tersenyum saking gemasnya.


Brakkk!!

__ADS_1


"Cepat cari keberadaan kucing Tuan muda Fann!!!" ucap seorang pengawal dengan cepat semuanya berlari seperti ketakutan.


"Paman itu kucing milikku!" ucap anak kecil berjenis kelamin lelaki itu,ia menunjuk pada seorang perempuan bertopi.


"Maaf nona apakah kucing ini milik anda?" tanya seorang pengawal.


"Oh bukan,saya menemukannya dijalan apa ini milik kalian?" dengan suara ramah dan menatap anak kecil yang di kawal beberapa lelaki berbadan tegap.


"Benar Tante ini kucing milik Fann." ucap anak lelaki itu,Lareina memberikannya pada anak itu dengan lembut.


"Jaga dengan baik-baik jangan sampai hilang lagi!" ucap Lareina dengan tegas dan tersenyum tipis.


"Terimakasih Tante,paman pergilah aku ingin disini sebentar jika papa mencari kalian katakan aku di cafe." bocah berusia 6 tahun itu hanya tersenyum saat kembali menatap Lareina.


"Apa kau selalu dibawa pengawal,dulu aku seperti itu pasti rasanya terkekang?" ucap Lareina mengingat betapa mirisnya masa kecilnya tapi setelah ayahnya menikah semua itu hilang seiring berjalannya waktu karna ia selalu bersama ibunya.


"Kau benar sekali tante tapi Fann tau ini adalah untuk kebaikan Fann." ucap anak lelaki itu tanpa rasa beban sama sekali.


Semoga dia tidak bernasib sama denganku_batin lareina.


"Ouh iya dimana ibumu kenapa tidak bersamamu?" tanya Lareina karna ia tau jika papahnya pasti kerja tapi ibunya,ia tidak bisa menebak.


"Mamahku sudah meninggal tante,dan Fann hanya punya papah.Apa tante mau menggantikan mamaku?" dengan antusias.


"Kau bisa menganggapku apapun asal kau senang tapi jika kita menjadi teman itu akan jauh lebih baik,aku yakin kau tidak punya teman sehebat diriku." Ucap Lareina membuat Fann senang memiliki teman berbicara.


"Teman juga tidak masalah tante karna Fann sangat senang bisa punya banyak teman." ucap Fann membuat Lareina teringat dulu dia sangat banyak memiliki teman tapi saat kehadiran kakak tirinya kehiupannya semakin berubah dan temannya kini lebih memilih untuk berteman dengan kakaknya yang selalu mengolok-olok dengan uang.Kini ia tidak memiliki teman dekat siapapun yang ada hanya keluarga yang sangat ia cintai.


"Tante kenapa berdiam begitu,apa Fann salah mengatakan sesuatu?" tanya Fann menatap Lareina dengan penuh kebingungan.


"Kau sangat tampan pastinya papahmu juga tampan,apa dia pintar kau sepertinya sangat pintar." ucap Lareina dengan tersenyum.


"Haha...Fann memang pintar setiap saat Fann mendapatkan juara satu dikelas papa juga pintar sehingga dia menjadi orang sukses dia tampan,jangan sampai tante suka ya..." goda Fann membuat Lareina tersenyum dengan candaan anak kecil ini.


"Awas saja jangan sampai kau yang memintaku menjadi ibu tirimu."goda Lareina.


Mereka terus berbincang terkadang mereka tertawa dengan perkataan yang menurut mereka sangat lucu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2