Kenapa Memilihku?

Kenapa Memilihku?
(KM)3


__ADS_3


Ditempat lain seorang gadis sedang merenungkan dirinya dan tanpa sadar seseorang masuk kedalam kamarnya.


"Lareina" panggil seseorang dengan lembut.


"Nenek" gadis itu memeluk sang nenek dengan penuh kelembutan sambil berlari seperti anak kecil.


"Kau ini tetap sama seperti cucuku yang dulu berlari pada nenek,kakek dan meminta dibelikan permen." goda sang nenek.


"Nenek,itu bukan aku,kini aku adalah gadis yang pintar dan dewasa." ucapnya dengan nada tidak terima.


"Apa kau bertengkar lagi hm cucuku yang dewas?" tanya sang nenek sambil mencubit pipi halus cucunya itu.


"Ya nek,Lareina bertengkar lagi dengan kak Poppy." ucap Lareina menghela nafas kasar,walau kini dia sudah dewasa tapi nyatanya tak ada yang berubah.


Sang nenek membawanya duduk ditepi ranjang dan membaringkan sang cucu dipangkuannya kemudian mengelus lembut surai rambut cucunya yang indah.


"Rein nenek sudah tua kakek mu juga bagaimana jika kau meneruskan perusahaan kakek?" tanya sang nenek.


Lareina pun terbangun dan menatap sang nenek.


"Bukannya Ayah sudah mengambil alih perusahaan kakek?"tanya lareina,karna setaunya ayahnya sudah dari lama menjabat sebagai direktur perusahaan kakeknya.


"Tidak,Kakekmu tidak memberikannya, namanya masih milik kakek mu.Ayahmu hanya membantu mengola seperempat sahamnya." ucap sang nenek.


"Ta-pi umm,kakak yang menginginkan perusahaan kakek bagaimana mungkin Lareina merampasnya." ucap Lareina dengan nada penuh bimbang ia kembali terduduk,ia tidak ingin kakaknya semakin membenvinya walau kini ia tak selemah yang dulu,tapi tetap ia tidak mengharapkan permusuhan dalam keluarganya.


"Dengar cucuku,dia hanya kakak tirimu dan semuanya hanya akan diwariskan pada penerus kandung dan cucu satu-satunya nenek hanya kamu sayang." nenek pun memeluk Lareina dengan sayang sambil mencium kepala Lareina.


"hm,Lareina akan berusaha nek.Tapi sebentar lagi kelulusan Lareina apa tidak apa-apa jika menunggu Lareina lulus dulu?" Lareina sangat ragu karna kini usianya belum cocok untuk mengambil alih perusahaan masih banyak yang perlu ia pelajari.


"Tak apa sayang,lagian sebentar lagi bukan, jadi kau tak perlu khawatir tapi bukannya usiamu baru 22 tahun?"tanya sang nenek bingung.


" Lareina sudah dipercaya lulus lebih awal nek jadi bisa langsung terjun didunia kerja."Tersenyum senang karna memang dia memiliki otak jenius sehingga semua materi mudah masuk di otaknya.


"Wah cucu nenek sangat pintar" mengelus kepala cucunya dengan senyum bangga.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tanya seseorang dari pintu membuat atensi cucu dan nenek itu teralihkan.


"Ibu??"Lareina segera berdiri dan memeluk sang ibu dengan rindu.


"Ada apa hmm?"sang ibu hanya menanyakan itu membuat lareina merajuk.


"Nek lihatlah ibu,dia begitu saja bertanya pada anaknya,apakah dia tidak tau aku merindukannya?" mempoutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Mireya kau dari mana saja kau tau jika cucuku sangat merindukan ibunya?" menatap sang cucu sedih.


"Maafkan aku bu,sejak aku sudah tidak serumah dengan Deon aku sibuk dengan urusan kantor semalam aku merundingkan dengannya agar perusahaan ayah dialihkan padaku saja." ucap Mireya mencoba menjelaskan.


"Tapi untuk selanjutnya kau disini saja jaga diriku dan Gibran yang sudah tua!"ucapan sang ibu membuat Mireya bingung tidak mungkin perusahaan yang akan pindah alih padanya seketika terbengkalai begitu saja.


"Lalu untuk apa aku meminta perusahaan ayah jika ujung-ujungnya ibu memintaku tinggal dirumah?"melipat kedua tangannya didepan dada dengan nada tidak percaya.


"Jadi rencananya setelah Lareina lulus kuliah, perusahaan akan dipegang olehnya aku percaya pada cucuku."mengelus pundak Lareina menatapnya dengan senyum penuh.


"Tapi bu,kau tau Lareina masih terlalu muda, dia akan sulit memahami masalah bisnis perusahaan."mencoba meyakinkan agar ibunya itu berhenti menyulitkan anak semata wayangnya.


"Kau meragukan cucuku,dia begitu pintar berbeda denganmu,jika kau meremehkannya lagi kau akan berurusan denganku!" Nenek pun menghampiri Lareina dan mengecup kepala sang cucu dengan lembut Mireya hanya memutar bola matanya malas.


"Lihat Rein ibumu cemburu,sudah nenek katakan ibumu takkan pernah menang darimu sayang."mengecup Lareina dengan sayang entahlah sudah berapa kali neneknya itu mengecupnya.


"Nenek kau membuat ibu marah,apa kau tidak takut pada ibu?"bertanya dengan nada bingung.


"Takut pada Koala itu,yang ada dia yang harus takut"menatap Mireya sambil mendelik.


"Sudahlah bu,kau sudah tua kenapa selalu menyindirku dengan perkataanmu itu."kesal Mireya pada ibunya yang cerewet.


"kau memang seperti koala kau tau saat usiamu 4 tahun kau suka meminta digendong olehku,padahal tubuhmu gemuk saat itu."mengejek dengan nada mengoda Lareina hanya bisa menahan tawanya.


"Oh yaampun kenapa aku terlahir darinya yang selalu mengejek anaknya sendiri."menatap dengan memelas merasa jika dirinya selalu menjadi orang yang tersindir.


"kau sendiri yang tak pernah menganggapku,sehingga kau sendiri yang tau akibatnya."mulai serius.


"Apa maksud ibu?"Mireya bingung dengan perkataan Ibunya itu.

__ADS_1


"Kau ingat dulu kau menikah diam-diam dengan si Deon Rubah itu dan sekarang kau dicampakan bukan?"perkataan ibunya membuat Mireya menghela nafas ia hanya bisa bersabar jika menyangkut masalah ini lagi.


Mireya menghela nafas.


"Aku sudah mengatakan jika aku salah bu,kau selalu membawa Deon dalam percakapan kita."mulai jengah dengan percakapan sang ibu yang menjerumus pada suaminya itu.


"Itu masalahmu."dingin


"Sudah nek jangan selalu memojokkan ibu,mungkin itu adalah kesalahan dimasalalu ibu yang terpenting sekarang ibu sudah sadar."tenang Lareina mengelus punggung sang nenek.


"Lihat anakmu sungguh pengertian dia seperti terlahir dari berlian."mengusap pipi cucunya yang sedikit tembam.


"Yang kau sebut berlian itu aku,akulah yang melahirkannya."menunjuk pada diri sendiri dengan nada kesal.


"Ck,kau bukan berlian hanya kerdus dirumahku."dingin,walau begitu tapi Mireya tau cinta ibunya melebihi apapun.


"Ibu ..."rengek Mireya.


"sudahlah aku mau masak kalian bersiaplah turun!"mulai meninggalkan ibu dan anak itu dikamar.


.


.


.


.


"Kau yakin akan bekerja diperusahaan kakekmu?"tanya Mireya penuh harapan dan rasa ragu pada anak semata wayangnya ini.


"Itu saran nenek,Lareina tidak bisa menolak keinginannya"santai dan jelas.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu,tanyakan sesuatu pada ibu jika ada kesulitan!"menepuk pundak sang anak dan memeluknya dengan rasa penuh bangga.


"iya bu makasih."memeluk sang ibu.


Ibu berharap setelah semua ini berakhir kau bisa menemukan cinta dan kasih sayang,ibu mengharapkan saat kedatangan wanita itu kau menjadi gadis kuat_batin Mireya.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2