
Visual Reno Allbarak Alex Sanders
Tia hanya manusia biasa, tidak menutup kemungkinan dia bisa jatuh cinta pada Reno, Tia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak bisa membuka hatinya untuk siapapun, kecuali memang sudah waktunya, laki-laki yang Tia cintai dan sayangi hanya ayahnya saja tidak ada yang lain, Tia sangat mengagumi ayahnya Tia hanya berharap mendapatkan calon pendamping seperti ayah, sabar, bertanggung jawab, sayang keluarganya, tidak bermain dengan wanita lain selain ibunya Tia, dan ayahnya tidak pernah memukul Tia kecuali Tia masih SD, penyebabnya Tia sering pulang magrib bersama sahabat laki-laki Tia,
Tia kebanyakan bergaul dengan banyak laki-laki di masa SD dan SMP, di banding teman perempuan Tia lebih memilih berteman dengan laki-laki meski terkadang Tia juga takut namun sampai saat ini syukurnya Tidak ada yang berani menyentuh tia hanya berpegangan tangan itu saja, Tia sangat menjaga dirinya untuk hal yang lebih sensitif
"sudahlah mungkin hanya rasa kagum, aku harus benar-benar melawan rasa kagum ini, udh cukup nggk mau lagi harus melibatkan perasaan" batin Tia
Tia kembali ke kelas lagi, Tia bahkan merasa tidak lapar lagi padahal dia belum sempat makan karna mencari Loli,
sampai Tia di kelas, Tia melihat loli sedang asik membaca buku di mejanya,
"loli, kamu dari mana saja, dari tadi aku mencarimu," tanya Tia
" aku dari kantin, tadi aku mau mengajakmu tapi pas aku menoleh ke bangkumu kamu tidak ada" jawab loli
" kantin, Astaga aku sampai lupa, Kenapa aku tidak mencari mu di kantin satunya, maaf ya Tadi aku juga bingung kenapa aku lupa sama kamu" gumam Tia
" gpp kali Tia, aku kira kamu ada urusan mendadak jadi aku biarin aja hehehe"ucap loli
" ya udh deh kita ngobrol aja, sambil nunggu pulang, lagi pula kita kan belum aktif belajarnya" gumam Tia
"oke deh, " jawab loli
Tia dan loli bercerita tentang bagaimana mereka sekolah di SMP tunas bangsa dulu, banyak cerita seru, sedih, bahagia, kecewa dan lain-lain, juga ada kerinduan di hati mereka akan bahagianya saat masa SMP, ingin rasanya jika bisa di ulang mungkin Loli dan Tia akan berteman dari SMP
mereka berdua masing-masing bercerita ntah itu soal guru, teman-teman sekolah atau pun lingkungan sekolah SMP, tawa lepas dari wajah mereka berdua seakan menjadi kebahagiaan bagi Tia, pasalnya Tia yang jarang bercerita pada orang lain, Tia lebih memendam semuanya sendiri bisa, Tia lebih memilih diam,
Tia sendiri tidak pernah percaya pada siapapun termasuk pada dirinya sendiri, ntah apa yang Tia pikirkan hingga Tia tidak pernah berdamai pada dirinya sendiri,Tia memiliki trauma atau semacamnya nya yang membuat Tia tidak mudah percaya
setelah mereka berdua bercerita akan indahnya masa SMP mereka saling bertanya, Loli ragu soal pertanyaan kepada Tia tapi dia harus bertanya, loli juga termasuk kepo orangnya
" Mmm, Tia aku beleh bertanya sesuatu?" tanya loli ragu
" iya boleh lah Li," jawab Tia
"apa bener yang di bilang sama teman sekelas aku dulu kalo kamu nggk PR alias nggk perawan lagi" tanya loli tertunduk
"hahahahahahaha" Tia langsung tertawa keras hingga air matanya keluar, orang-orang yang ada di kelas kaget dan bingung melihat tawa Tia, banyak yang bertanya-tanya Tia kenapa,
namun setelah Tia tertawa Tia langsung tersenyum sinis kepada loli, loli ketakutan sampai dia tidak berani menatap tia,
"maaf Tia ak, aku tidak bermaksud bertanya ini, maafin aku" ucap loli meminta maaf memohon agar Tia memaafkannya
__ADS_1
"kamu percaya, kamu punya bukti dari mereka, pernah melihat aku melakukannya, apa karna dulu teman ku banyak yang laki-laki atau karna kamu melihat pertumbuhan pada badanku yang kamu kira mudah di sentuh laki-laki gitu, dan kamu percaya pada semua perkataan orang-orang" tanya Tia berturut-turut pada loli
loli hanya menggeleng pelan kepalanya, dan tertunduk lesu ke arah Tia
"sudah Ku duga, aku akan menjawabnya tapi bukan sekarang, tunggulah aku akan membawa kamu ke suatu tempat" gumam Tia yang langsung berdiri mengambil tasnya keluar kelas,
Tia berniat pulang seketika itu tangan Tia di cegat oleh seseorang yang tak lain adalah Bendi, bendi tidak sengaja menguping pembicaraan Tia dan loli, ntah sejak kapan bendi duduk di tempatnya mendengarkan semua cerita dan pertanyaan-pertanyaan dari Tia ataupun loli
"mau kemana" tanya bendi
"bukan urusan anda" jawab Tia menepis kasar tangan Bendi
" ya sudah" bendi pergi dan menuju kursi nya lagi
Tia menatap tajam Bendi, Tia pergi tanpa berkata apapun
" Tia mau kemana, " panggil loli
Tia berhenti sejenak dan balik lagi menghampiri loli, Tia berbisik pada loli
"Li aku masih perawan, aku akan membuktikannya kepada semua orang kalo tuduhan mereka terhadap ku tidak benar" ucap Tia dan pergi meninggalkan loli,
Bendi memasang baik-baik telinganya agar bisa mendengar apa yang di ucapkan Tia kepada loli
"akhirnya" ucap bendi dia tersenyum tipis kala mendengar ucapan Tia,
"tapi kamu mau kemana" belum saja loli bertanya Tia sudah pergi dan menjawab
" aku akan ke suatu tempat" pekik Tia dari kejauhan, orang-orang yang ada disana semakin penasaran dibuatnya, termasuk Bendi, yang membuat bendi penasaran Tia mau pergi kemana,
bendi berencana ingin mengikuti Tia namun di hadang oleh kedua temannya yang baru sampai, ya siapa lagi kalo bukan dua gurcaci, Alfin dan Riki
"my brother" sapa Alfin pada bendi
" kapan Mak gue ngelahirin lu" ucap Bendi
Alfin tertawa begitu juga dengan Riki sedangkan Bendi hanya ingin menyingkirkan mereka berdua dari hadapannya untuk mengikuti Tia
" minggir nggk, gue mau lewat, "ucap bendi pada Alfin dan Riki
"santai bro, mau kemana sih buru-buru bener" tanya riki
" mau keluar" jawab Bendi
" heleh, muka-muka kayak gini mau di percaya, tidak semudah itu Bambang" ucap Alfin
__ADS_1
"jawab dulu yang bener, mau kemana" tanya mereka berdua
saat bendi ingin menjawabnya, Alfin langsung tertuju pada meja Tia yang tidak ada orang dan tas nya, dia hanya melihat loli sedang membaca buku sendirian,
Alfin menghampiri loli, Riki juga mengikuti Alfin karna Riki juga sadar tidak melihat cintanya ada di kelas, sedangkan Bendi hanya di angguri(di cuekin) oleh kedua orang temannya, Bendi hanya menyaksikan kedua temannya bertanya pada loli
Bendi hanya bisa menghela nafas panjang pada kedua temannya itu dan pergi mencari keberadaan Tia
"Loli kan, temannya Tia" tanya Alfin, sedangkan loli kebingungan
" iya, kenapa, apa Tia baik-baik saja" jawab loli ketakutan Karna Tia tadi pergi membawa tasnya dan tidak memberi tau loli mau kemana
"gpp li, tadi gue cuma nanya ke lu, soalnya bidadari gue nggk keliatan" ucap Alfin cengengesan dan bingung kenapa loli bertanya seperti itu
"bidadari oncommu, cari tu di got Bidadari yang ada disana lebih cocok sama lu," ucap Riki pada alfin
"tak," kepala Riki di jitak oleh Alfin
"apaan si lu a*j*ng" umpat Riki, mereka memang sudah biasa menyebutkan isi kebun binatang jadi jangan heran
"maaf, sengaja" gumam Alfin yang menarik turunkan alisnya
Riki tidak mempedulikannya dia hanya menatap sinis Alfin, dan lanjut bertanya pada loli
"Owh iya emangnya kenapa dengan cintaku, eh maksudnya Tia" riki pun ikut bertanya pada loli
"gpp ko," jawab singkat loli
"cinta-cinta alay lu, kaleng sarden" jawab Alfin
"bener-benar lu ya," ucap geram Riki
"apa, mau gelut, sini, di kira lu gue takut sama lu ha" Alfin menantang riki
loli pusing dengan perdebatan 2 gurcaci itu, loli pergi mencari Tia, loli meninggalkan mereka berdua yang asik beradu mulut Loli takut kenapa-kenapa pada Tia karna pertanyaan yang loli tanyakan tadi, sedangkan Alfin dan Riki sekarang melanjutkan pertengkarannya tanpa sadar banyak siswa-siswi yang mendukung dan meyorak gembirakan seperti pertandingan tinju, Alfin dan Riki mulai sadar melihat loli tidak ada begitu pun dengan Bendi, bukannya malah pergi mereka malah melanjutkkan perdebatan dan saling menarik kerah baju seperti benar adanya perkelahian,
❤️❤️❤️❤️
di perjalanan Tia tidak sengaja bertemu Reno
"astaga, pangeran aku, nggak-nggak, nggk mungkin aku seperti ini, inget tujuan awalmu Tia" batin Tia, Tia ingin pergi menghindari tapi Tia tidak berhasil, kaki Tia sendiri rasanya susah untuk di gerakkan
"ini kenapa, ayoklah kaki, kita kan bersahabat masak dalam situasi kayak gini kamu nggk mau bantuin aku" Tia bergumam pada dirinya sendiri mengobrol pada kakinya sendiri
"saya mohon jangan kesini, please" batin Tia karna melihat Reno seperti ingin menghapirinya
__ADS_1
BERSAMBUNG......