
........
Di lain tempat Kevin bersama teman-teman nya bingung harus mencari Tia kemana karna dari tadi dia belum menemukan keberadaan gadis itu,
tidak ada suara di dalam mobil hanya ada kekhawatiran saja
"biasanya kalo cewek lagi ngambek itu pergi ke pantai Vin" celetuk Danu
tidak ada Jawaban Kevin, ia langsung membanting setir ke kanan, melaju ke arah yang di ucapkan danu tidak peduli dengan orang-orang yang mengumpat di jalan karna ulahnya
"sejak kapan Lo bawa mobil ugal-ugalan gini Kevin" tegur Rio
"nggk usah banyak bacot" jawab Kevin kasar
"yang khawatir di sini bukan hanya elu Kevin" timpal Gilang
Kevin hanya diam saja dia menghiraukan ucapan teman-temannya namun tidak di pungkiri dirinya pun sedikit merasa bersalah karna sifat kasarnya yang jarang ia keluar kan
belum sampai di pantai Kevin dan yang lain seperti melihat bendi yang sedang bersama dengan seseorang
" itu bukan nya bendi dan dengan siapa dia bicara, seperti nya gue kenal" ucap Danu yang duduk di samping kemudi
" ah benar, itu Tia" timpal Gilang lagi melihat ke arah yang di tuju danu
Kevin mengerem dengan mendadak dia memastikan benarkah itu Tia atau bukan, benar saja
"kepala gue anj*ng" umpat Danu
"kalo ngerem itu ngomong Vin, kan kepala kami kebentur gini, karna ulah lo" ucap Gilang yang ada di belakang bersama Rio
"nggk usah lebay" jawab Kevin
Kevin menyandarkan kepalanya di jok belakang mobil, dia bersyukur bisa menemukan Tia sebelum jam pulang sekolah kalo tidak dia akan sangat prustasi mendapatkan ocehan dari Om Abdi, Tante Shahni kedua orang tua Tia, dan kedua orangtuanya karna tidak becus menjaga calon menantunya
.......
keluar dari mall Tia langsung bergegas untuk pulang beruntung dia tau jalan pulang, dia sedikit bertanya kepada sopir taksi
saat Tia ingin melangkah ke jalan raya memberhentikan taksi suara klakson motor dari arah kiri membuat langkah Tia berhenti,
Tia melotot kan matanya ternyata orang yang mengendarai motor itu seseorang yang sangat iya kenal dan sangat ia benci siapa lagi kalo bukan bendi
bendi berhenti tepat di depan Tia,
"naik" ajak bendi
"siapa kamu ngajak-ngajak naik" tolak tia
"ini bukan saatnya debat, cepat naik atau akan gue paksa" ucapnya lagi penuh penekanan
"bisa nggk kalo ngomong itu yang sopan," jawab Tia lagi
"kita tidak se akrab itu" ucap Bendi
__ADS_1
"ayok, banyak orang yang nyariin lo jadi tolong naiklah, gue antar pulang" ajaknya lagi
"nggk akan, aku bisa pulang naik taksi, lagi pula kenapa kamu peduli dengan saya" ucap Tia menatap sinis Bendi
"naik atau gue gendong" ucapnya lagi
"silahkan, aku nggk bakal takut sama ancaman kamu, lagi pula sejak kapan kita akrab, sok-sok an mau nganterin aku" jawab Tia menirukan ucapan bendi tadi
bendi hanya membuang nafas kasar
"dasar keras kepala" ucap bendi, dia hendak ingin turun dari motor mendengar klakson mobil yang tak lain adalah kakak nya sendiri Kevin, dia cepat-cepat turun dari motor
"ayok naik" ajak Bendi pada Tia
"nggk" tolak Tia lagi
bendi memegang pergelangan tangan Tia namun Tia menepisnya dengan kasar
"bisa nggk, nggk usah megang-megang, nggk sopan tau nggk" jawab Tia sinis
namun tidak di pedulikan Bendi dia memegang tangan Tia kembali menyuruh Tia naik ke atas motor
"oke baiklah," ucap Tia pasrah
kini Tia pasrah, belum saja dia naik tangan sebelah kanannya di tahan tangan Kevin yang baru saja turun dari mobil
Tia melirik tangannya lalu langsung ke arah wajah orang yang menarik tangan sebelah kanannya, di sebelah kiri tangan Tia juga di pegang Bendi
"kamu ikut kakak" ucap Kevin namun matanya menatap tajam ke arah bendi
Tia menghembuskan nafas kasar, dia mencoba melepaskan tangan keduanya namun tidak mudah baginya,
"kalian kenapa, lepaskan tangan ku" ucap Tia memberontak
namun tidak ada balasan dari keduanya atau melepaskan tangan Tia, mereka saling bertatapan, penuh dengan amarah dan tidak ada yang mengalah
"lepaskan lebih dulu, dan gue akan melepaskan juga," ucap Kevin
"tidak akan pernah terjadi, kau yang seharusnya melepaskan nya bukan gue" jawab Bendi tersenyum miring
mereka berdebat hebat di pinggir jalan sementara orang yang berlalu lalang hanya bisa menyaksikan begitu juga dengan 3 cecurut itu
Rio, Gilang dan Danu hanya menatap mereka
"seperti akan ada perang antar Saudara" celetuk Gilang
rio mengangguk mengiyakan ucapan Gilang
" tapi sebelum itu terjadi gue pastiin Tia akan menjadi milik gue" batin danu
"kak" panggil Tia pada mereka bertiga
"eh iya, kenapa" jawab Rio
__ADS_1
"bantu aku, tangan aku sakit kak" ucapnya penuh permohonan pada ketiga teman Kevin
Danu mendekat ke arah Tia dan kedua adik kakak itu yang tak pernah akur dalam segi apapun
"Bendi Kevin, apa kalian tidak melihat tangan Tia merah karna Cengkraman kalian berdua" ucap Danu
bendi dan Kevin sontak kaget melihat Tia sudah kesakitan menahan tangannya yang di cengkram kuat oleh keduanya
mereka melepaskan tangan Tia sedangkan Tia duduk tiba-tiba karna merasa sakit di pergelangan tangan nya
Rio dan Gilang menghampiri Tia
"Tia kamu gpp," tanah Rio
"gpp kak, cuma agak sedikit panas tangan aku" jawab Tia
" maaf" lirih Kevin
tapi tidak dengan Bendi dia tidak menampilkan rasa bersalah tapi dia juga memperhatikan Tia menahan sakit di tangannya
Tia hanya bisa diam, dia tidak percaya kenapa kedua orang itu seperti ingin membunuhnya, tangannya yang merah kini membiru
"aku mau pulang" ucap Tia
"ya udah sekarang naik mobil" ucap Kevin
"nggk usah, lu naik motor sama gue" jawab Bendi
"gini aja deh, Tia baliknya pulang sama gue, kita nanti mesan taksi" ucap Danu tidak mau kalah
"nggk, Tia harus pulang sama gue, kita berdua jalan kaki, itung-itung kan olahraga, romantis gitu kayak di film-film pasti Tia juga suka" timpal Gilang
"palak lu, siang-siang gini lu suruh anak orang jalan kaki, ya udah gini aja Tia pulang sama gue, gue gendong akan lebih romantis kan" jawab Rio membayangkan
pletak
pletak
Gilang memukul tangan Rio sedangkan yang lain menatap sinis Rio
Tia hanya membuang nafas kasar
" kalo gini kapan gue bisa pulangnya" batin Tia
mereka berlima bertengkar ingin mengantar kan Tia pulang, tidak ada satupun yang mengalah, akhirnya diam-diam Tia pergi tanpa di sadari dari kelimanya
sudah lama mereka bertengkar akhirnya Rio menyadari
" eh Tia mana" tanya Rio kaget
mereka melotot dan menatap Rio, benar saja Tia hilang lagi
Mutiara Lasina Muhtar
__ADS_1