
Sudah lama mereka bertengkar akhirnya Rio menyadari
" eh Tia mana" tanya Rio kaget
mereka melotot dan menatap Rio, benar saja Tia hilang lagi
Bendi yang menyadari Tia hilang lagi dia pergi meninggalkan Kevin, Rio, Danu, dan Gilang,
tidak ada kata pamit bagi Bendi
begitupun dengan Kevin dia langsung masuk mobil dan ingin mencari keberadaan Tia
"kalian bertiga mau ikut gue, apa mau pulang sendiri" pekik Kevin pada ke tiga temannya
"tidak mungkin lah, mau pulang juga motor gue di sekolah, kalo mau naik taksi, kan sayang duitnya mending beli sesuatu yang bermanfaat" ucap Rio
"tumben otak lo lancar" timpal Gilang
"anjir" balas Danu ketawa
Rio menatap sinis kedua temannya
"woy, mau naik apa nggk" pekik Kevin sekali lagi
"sabar goblok" umpat Danu pada Kevin
hari ini Kevin benar-benar hilang kendali, dia hanya marah-marah, hilang sudah gelar predikat ketua OSIS yang bijaksana, dan tidak mudah emosi, serta mampu menyelesaikan masalah dengan baik, sekarang dia seperti sayton yang gagal menggoda manusia, (kebakaran jenggot)
mereka bertiga masuk mobil, dan mobilpun berjalan ke arah rumah Tia, untuk memastikan Tia sudah pulang kerumahnya atau belum
di sisi lain bendi juga khawatir, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia mulai peduli dan takut terjadi apa-apa kepada Tia, padahal sebelumnya dia kesal dan ingin sekali membunuh gadis itu
"dasar wanita gila, bukannya bilang makasih atau ikut malah hilang lagi, udah tau dia sendiri Belum tau jalan, pake sok-sok an mau pulang sendiri" oceh Bendi
"sekarang gue harus nyari kemana lagi, tapi kayaknya gue cek ke rumahnya bentar" batin Bendi
ntah sejak kapan dia care (peduli) dengan musuh bebuyutan nya itu
...............
"ah yang benar saja, kenapa mereka bersikap seperti anak kecil yang memperebutkan mainan" grutuk Tia sambil berjalan, kakinya berjalan tapi dia tidak tau arah jalan pulang,
__ADS_1
gadis udik bukan, padahal anak orang kaya tapi jalan pulang pun tidak tau, bagaimana tidak, aturan dari keluarganya membuat dirinya kurang pergaulan bersama teman-teman, atau kumpul kecuali kerja kelompok, itupun harus di rumah Tia, keluarga nya tidak memperbolehkan Tia keluar rumah, bahkan sekarang Tia tidak di perbolehkan punya hanphone,
mudah saja baginya membeli handphone tapi dia takut ketauan ayahnya bisa-bisa Tia habis di marahi ayahnya
kini dirinya benar-benar nyasar ntah dimana dia sekarang
"oh tuhan, sekarang aku dimana, disini tidak ada taksi yang lewat, disini nggk ada telpon umum lagi" gumam Tia
" ehe ehem" suara batuk seseorang yang di buat-buat dari arah belakang
Tia kaget, suara siapa itu ( batin, ketakutan)
Tia menolah berbalik lalu memeluk seseorang itu dengan tiba-tiba
"Reno kau menyelamatkan ku" ucap Tia,
seketika tubuh Reno kaku, lagi-lagi dia terdiam saat di perlakukan Tia seperti ini, tadi di cafe mall Tia hampir membuat jantungnya copot dan sekarang Reno merasa malaikat maut sudah mencabut nyawanya
"Reno ucapan aku tadi di caffe itu becanda, jangan di ambil serius ya tapi kamu harus janji jangan kasih tau siapa-siapa tentang semuanya, suatu saat nanti bakal aku sendiri yang mengatakannya kepada keluarga ku
tidak ada jawaban dari Reno, Reno benar-benar seperti mayat hidup, tidak bergerak sedikitpun atau membalas ucapan Tia,
"maaf ren, aku nggk sengaja, aku refleks seketika, itu biasa gue lakuin meluk ibu atau keluarga gue kalo tiba-tiba bahagia kayak gini" lirihnya menyesal
Reno diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia tidak menyangka seorang Mutiara Lasina Muhtar memeluknya, wanita yang di puja-puja pria di sekolah nya, bisa di bilang primadona sekolah
"Ren, Reno, kamu nggk maafin aku" tanya Tia,
sadar dari lamunannya Reno langsung menarik tangan Tia dan menggandengnya
"saya anterin kamu pulang" ucap Reno memalingkan wajahnya dari tatapan Tia
"benarkah, berarti kamu nggk marah kn" tanya Tia lagi
" hmm, masih" jawabnya singkat
"baiklah, tidak perlu juga aku meminta maaf," ucap Tia kesal, melepaskan tangannya dari genggaman dan berlalu pergi
"hei, kamu mau kemana," pekik Reno
tidak ada jawaban dari Tia, dia melanjutkan perjalanan yang entah kemana
__ADS_1
"apa kamu tidak takut kalo ada preman menggangu mu" ucap Reno yang mengikuti Tia dari belakang
Tia membulatkan matanya dia berhenti seketika, Tia menoleh Reno,
"anterin aku pulang" gumamnya dengan wajah yang sangat menyedihkan
"baiklah, tapi ada satu syarat" jawab Reno
tanpa pikir panjang Tia menjawabnya dan menerima syarat dari Reno
"iya-iya, apapun syaratnya bakalan aku turuti, ayok antarin aku pulang sebelum ayah ku membuat laporan dan menyewa pengacara handal untuk menuntut orang yang sedang bersama ku sekarang, jadi tolong antar kan aku pulang" gumam Tia panjang lebar
"iya naiklah, tapi janji lo harus nurutin syarat dari saya" ucap Reno lagi
" iya aku janji tapi asal jangan aneh-aneh apa lagi meminta yang macam-macam" ucap Tia
" saya masih waras" timpal Reno yang sudah mengenakan helm begitu juga Tia yang memakai helm yang sudah di sediakan Reno untuk pembonceng nya
"pegangan" ucap Reno melepaskan jaket dan memberikannya pada Tia untuk menutupi rok yang di atas lututnya
"iya, udah" jawab Tia
"mana" tanya Reno melihat tangan Tia yang berpegangan di jok motor miliknya, dia kira Tia akan memeluk nya seperti orang-orang yang lagi pacaran
"ini udah, jangan modus, cepat jalan," ucap Tia
Reno hanya membuang nafas panjang, ide jahil terlintas di otaknya, motor yang berjalan dengan normal sekarang Reno malah menaikkan kecepatan yang sedikit membuat jantung Tia copot
"bisa pelan-pelan gk" pekik Tia agar terdengar suaranya
Reno mengerem tiba-tiba membuat tangan Tia refleks memeluk pinggang Reno, Reno menyunggingkan senyumannya di balik helm miliknya
pletak
kepala Reno di pukul oleh tangan mungil milik Tia
sakit tapi tidak sebanding dengan rasa bahagianya hari ini karna bisa mendapatkan kesempatan bersama Tia bahkan sejak tadi Reno senyum-senyum sendiri tapi tidak ia tunjukkan, bisa hilang harga dirinya sebagai ketua Genk motor
"dasar laki-laki modus" umpat Tia,
Tia yang ingin melepaskan pelukannya lagi-lagi Reno mengerem dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, mau tidak mau Tia memeluk Reno dengan erat sampai di tiba rumah
__ADS_1