Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Penyakit yang tidak kunjung sembuh


__ADS_3

"Mas...! " Suara Surti terdengar pelan. "Iya dik, ada apa? " Mas Diman yang tengah tergolek lemas menatap wajah Surti. "Bagaimana keadaanmu Mas? Sudah hampir dua tahun kamu seperti ini Mas, aku tak tega melihatnya, badanmu kurus kering, makan tiap hari cuman bubur. " Ujar Surti pada suaminya. "Iya Dik, tubuhku tambah lemah, bahkan untuk sekedar berjalan ke toilet, aku harus merangkak, kalau berdiri kepalaku pusing seakan mau jatuh". Timpal mas Diman. " Iya Mas... Aku kasihan melihat kamu Mas. " Balas Surti sambil memijit-mijit kepala suami yang sudah ia temani selama 14 tahun. "Iya Dik, padahal sudah berobat kemana-mana, segala macam ramuan herbal sudah aku coba, penyakitku tak sembuh-sembuh. " Tutur Mas Diman menelas. "Sabar ya Mas..... Mudah-mudahan Allah masih memberi Mas umur panjang, dan sembuh seperti sedia kala, bisa beraktifitas, kita juga bisa jalan-jalan ke pantai seperti dulu lagi Mas. " Ujar Surti sambil mengusap-usap rambut suaminya yang sudah mulai tumbuh uban beberapa helai,

__ADS_1


Setelah beres-beres rumah, Surti pun duduk di ruang tamu, setiap kali ia duduk di situ selalu terkenang saat-saat Mas Diman masih sehat. Setiap hari ada saja tamu yang datang untuk berbagai urusan, ada yang pesan barang untuk warungnya, ada yang meminjam uang, ada yang sekedar silaturahmi dan lain-lain.

__ADS_1


Namun yang tidak pernah ia lupa, adalah tamu yang selalu datang untuk memberi nasihat sama Mas Diman. Masih terngiang ketika ia memberi nasihat. "Man, kalo kita berjualan atau berdagang janganlah berbuat curang dengan mengurangi timbangan dan takaran. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Muthaffifin ayat 1 sampai 3, Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi. Begitu man.. . " Itulah diantara nasihat-nasihatnya. Terkadang ia menasihati agar hidup rukun dalam berumah tangga, sabar dalam menghadapi musibah dan banyak lagi nasihat-nasihatnya.

__ADS_1


Begitulah keseharian Surti dengan Mas Diman, dengan sabar dan telaten Surti mengurus suaminya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya Surti berjualan di pasar. Lumayan untuk biaya makan dan biaya sekolah Rizka dan Rizki. Saat ini memang penghasilan Surti memang boleh dibilang pas-pasan. Semenjak Mas Diman sakit penghasilannya turun drastis, bahkan untuk mengobati Mas Diman, banyak harta benda yang sudah ia jual. Sebelumnya Mas Diman punya toko grosir Sembako di pasar, sekarang sudah dijual. Untuk tetap bisa berjualan Surti mengontrak kios kecil tak jauh dari toko yang dulu, terhalang beberapa toko.

__ADS_1


__ADS_2