Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Upaya Perampokan


__ADS_3

Hari terasa berjalan lambat. Begitulah yang dirasakan oleh Surti dan Mas Diman.


Derita sakit yang dialami Mas Diman membuat Surti hampir putus asa, karena suaminya tak kunjung sembuh.


Tetapi untung ada Kang Ahmad yang selalu datang menjenguk dan selalu memberi nasehat, agar selalu bersabar dan tabah atas segala cobaan.


"Man sakit kamu itu belum seberat sakit yang di derita nabi Ayub AS, beliau menderita sakit selama 18 tahun.


" Iya kang, tapi kan aku manusia biasa, bukan nabi yang terkandang ada rasa putus asaasa, " sahut Mas Diman sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Memang kita bukan nabi, tapi kan kita memiliki iman, maka kuatkanlan iman kita, bahwa ini adalah ketentuan dari Allah, tapi juga harus tetap ikhtiar tidak boleh menyerah, terus mohon sama Allah, Dialah yang Maha Menyembuhkan segala penyakit, rutinkan baca doa ini, Laa syaafiya illā anta syifaa'an lā yughaadiru saqaman. Mudah-mudahan cepat sembuh.


"Iya kang, saya akan coba rutin membacanya, " Ucap Mas Diman.


Kang Ahmad sudah pulang saat hujan mau turun, terdengar suara Guntur menggelegar.


Hujan pun turun dengan derasnya, angin berhembus kencang, suaranya terdengar keras, sementara kilat terus menyambar -nyambar. Suasana menjadi sangat mencekam.


Surti yang baru selesai shalat isya di mushola ruang belakang, langsung menuju kamar Mas Diman.


"Mas, hujan besar udara dingin sekali," ujar Surti saat tiba di kamar.


"Iya Dik, tolong selimuti aku. " Pinta mas Diman pada Surti.


"Baik, Mas... " Surti pun menyelimuti suaminya dengan selimut tebal.


Untuk menghangatkan tubuhnya Surti membuat wedang jahe instan,


Diminum bersama kue-kue kering yang ia beli di pasar tadi pagi,


"Dik, apa kamu mendengar suara motor ke halaman rumah kita? " Tanya mas Diman pada Surti.


"Oh, enggak Mas, tadi aku di belakang lagi masak air buat wedang jahe, jadi aku enggak mendengar suara motor. " Jawab Surti.


"Biar aku lihat ke depan, " Lantas Surti pergi ke ruang tamu, disingkapkannya gorden untuk melihat ke luar rumah.

__ADS_1


Di luar gelap gulita, hujan masih lebat, warung bi Ifah tempat kang Ahmad minum kopi tampak remang-remang. Tak terlihat ada motor terparkir di halaman rumah.


"Ah, enggak ada apa-apa. " Gumamnya dalam hati.


Surti pun kembali ke kamar Mas Diman. "Engga ada siapa-siapa Mas di luar, engga ada motor terparkir." Seru Surti.


"Huaaah....., ngantuk sekali ini, " Mas Diman menguap dan mulai merasakan kantuk yang amat sangat.


"Kalo udah ngantuk, tidur aja Mas. " Ucap Surti.


"Iya Dik, tapi biasanya jam segini belum ngantuk, bahkan setiap malam aku susah tidur. " Sahut Mas Diman.


"Jam segini biasanya kita ngobrol dulu sama kang Ahmad, sehabis pulang dari mesjid dia langsung ke sini. " Tutur Mas Diman lagi.


"Huaaaah.......benar-benar ngantuk nih." Ujar Mas Diman.


"Ya udah, tidur aja Mas," pinta Surti pada suaminya.


Mas Diman akhirnya tertidur pulas, sementara Surti keluar dari kamar Mas Diman, karena belum merasa ngantuk.


Surti memilih menonton televisi, sambil ngemil menunggu kantuk tiba.


Surti bangkit dari duduknya, berjalan cepat menuju dapur, dan melihat ke arah suara pintu yang mau dibuka paksa.


Melihat sesuatu yang membahayakan dirinya, dengan terengah-engah dan jantung berdegup, surti lari menuju ke ruang tengah, dengan tangan bergetar ia kunci pintu menuju dapur.


Surti sangat ketakutan, badannya menggigil, tapi ia berusaha tidak panik, diambilnya telepon genggam di ruang tengah, dengan cepat ia masuk ke kamar Mas Diman. Lantas dengan cepat ia kunci pintunya.


"Mas... . ., Mas.... . . Bangun Mas.. . . Ada orang di belakang mau masuk. " Seru Surti, sambil mengoyang-goyangkan suaminya.


"Ada apa.. . . ? Tanya Mas Diman kaget.


" Ada orang Mas, di belakang mau masuk dengan paksa! " Suara surti bergetar.


"Coba telfon mang Jana Dik, minta bantuannya takut keburu masuk." Pinta Mas Diman.

__ADS_1


"Iya Mas saya coba telfon Mang Jana. " Ujar surti sambil langsung mengambil telepon genggam nya, mencoba menghubungi Mang Jana.


"Enggak ada sinyal Mas, gimana ini, bisa mati kita," Sahut Surti ketakutan.


Sementara di belakang rumah masih terdengar suara pintu digedor-gedor. Suasana semakin mencekam.


"Tenang Dik, kamu udah kunci pintu ruang tengah yang mau ke dapur? "


"Udah Mas, kenapa emang Mas?" Tanya Surti.


" Dik, aku yang mendesain rumah ini agar aman dari Penjahat ataupun penjarah, semua pintu rumah kita terbuat dari kayu jati, engselnya juga yang bagus, kuncinya juga yang bagus, jadi kuat tidak akan bisa dijebol.


Jadi tenang Dik, Mudah-mudahan kita selamat, kita mohon sama Allah agar dilindungi dari orang yang bermaksud jahat. "


"Iya Mas, semoga kita mendapat pertolongan dari Allah dan bisa selamat. "


Surti dan Mas Diman pun khusyuk berdoa, sementara di belakang ada orang yang mencoba masuk, namun belum juga berhasil. Entah apa yang diinginkannya. Mungkin mereka bermaksud merampok harta kekayaan Surti dan Mas Diman.


Akhirnya sekitar pukul 3 pagi, tak terdengar lagi suara pintu digedor-gedor. Mungkin mereka udah cape dan menyerah. Hujan pun sudah berhenti.


Benar kata Mas Diman, bahwa rumahnya di desain agar aman dari penjahat, penjarah maupun perampok.


Surti dan Mas Diman pun saking khusuknya berdoa sampai ketiduran. Saking lelapnya tidur mereka akhirnya kesiangan bangun subuh.


Begitu Surti bangun.


"Alhamdulillah, kita Selamat Mas, hari sudah siang, apakah Penjahatnya sudah pergi? Ah aku masih takut Mas.... "


"Coba telfon Mang Jana Dik, barangkali sinyalnya udah bagus sekarang." Pinta Mas Diman pada Surti.


"Baik Mas, saya coba lagi, " Sahut Surti.


Akhirnya Mang Jana bisa dihubungi, Mang Jana pun datang ke rumah Surti untuk mengamankan keadaan dan memeriksa pintu belakang yang semalam mau dijebol penjahat.


Tampak oleh Mang Jana goresan-goresan di pintu, terutama bagian kunci tampak bekas mencongkel pakai senjata tajam, namun saking kuatnya pintu tidak berhasil di jebol penjahat.

__ADS_1


Surti pun bersyukur terhindar dari marabahaya.


"Alhamdulillah, ya Allah Engkau selamatkan hambamu dari marabahaya" Ucap Surti.


__ADS_2