
"Mas ada pesan masuk dari kang Ahmad, silahkan baca Mas, " ucap Surti seraya memberikan ponselnya ke Mas Diman.
"Mana Dik coba aku baca," Mas Diman meraih ponsel dari Surti, " innalillahi wa inna ilaihi rojiun, teh Maya meninggal dunia Dik. "
"Apa! teh Maya meninggal dunia? " Surti pun tersentak kaget.
"Iya Dik, tadi malam di rumah sakit, " tutur Mas Diman dengan suara parau, raut mukanya tampak muram.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, aku tak menyangka bakal secepat itu teh Maya dipanggil Mas" tampak kesedihan di raut muka Surti, kemarin ia sempat menggenggam tangan teh Maya dan mencium kening istri sahabat suaminya itu, sekarang ia telah tiada.
"Kita harus melayat Dik, kamu libur dulu jualannya, kita sarapan dulu, nanti tolong mang Jana cari sopir, sekalian Mang Jana dan bi Ifah juga ajak melayat".
" Emangnya Mas udah sehat, udah kuat, aku khawatir Mas sakit lagi, biar aku aja yang melayat ke sana, " ucap Surti.
"Enggak Dik, insya Allah aku kuat, aku harus ke sana, aku banyak berhutang budi sama Kang Ahmad, " ujar Mas Diman kukuh.
" Baik Mas aku siapin sarapan dulu ya, " Surti langsung menuju ke dapur.
Setelah sarapan pagi, Surti bergegas menuju rumah Mang Jana, kebetulan Mang Jana lagi ada di rumah.
"Mang Jana, Mang, tolong cariin sopir Mang, siapa aja yang lagi nganggur, tolong antar ke rumah Kang Ahmad, teh Maya meninggal, sekalian Mang Jana dan bi Ifah juga ikut. " ujar Surti nyerocos.
"Baik Neng, saya mau nyari sopir sekarang juga, " Dengan cepat Mang Jana mengendarai sepeda motor bututnya menuju seseorang yang dia ingat bisa nyetir mobil.
Surti kembali lagi ke rumahnya, ia langsung membuka pintu garasi, ternyata masih ada satu mobil yang belum ia jual, mobil itulah yang kerap ia gunakan untuk mengantar Mas Diman ke rumah sakit. Biasanya kang sodik suaminya Nyi Eha yang suka nyetir mobil itu, sekarang ia sudah almarhum.
Mobil dengan nomor polisi D134NSR itu tampak masih bagus terawat, Mang Jana lah yang rajin memanaskan mobil itu tiap hari, ia juga yang mengelapnya seminggu sekali.
Tak lama kemudian mang Jana datang dengan seseorang, ternyata kang Sobir yang kemarin ikut ronda malam.
__ADS_1
"Ini Mang kuncinya, panasin dulu aja mobilnya, bi Ifah jangan lupa diajak. "
"Baik Neng, saya ke rumah dulu, mau mandi dulu sebentar. "
Setelah semuanya siap, akhirnya mereka berangkat menuju rumah kang Ahmad, yang jaraknya lumayan jauh karena beda kecamatan.
"Surti mengenakan gamis berwarna hitam dipadu dengan jilbab warna abu tua tampak anggun mempesona, dengan riasan sederhana ia terlihat cantik.
Sesampainya di rumah Kang Ahmad, tampak sudah banyak pelayat, duduk di kursi plastik berjajar, dinaungi tenda berwarna hitam.
Surti langsung masuk ke dalam rumah. tampak jenazah teh Maya ditutupi kain dikelilingi oleh anak-anak asuhnya dan beberapa saudara-saudara Kang Ahmad dan teh Maya, tampak suasana begitu hening, mulut mereka komat-kamit mengucapkan do'a.
Dengan perlahan Mas Diman berjalan mengikuti Surti, diikuti Mang Jana dan bi Ifah.
Melihat sahabatnya datang melayat, kang Ahmad menyambut penuh haru, dipeluknya dengan erat sahabatnya itu.
"Aku sahabatmu Kang turut berdukacita atas meninggalnya teh Maya, semoga almarhumah diterima amal ibadahnya di sisi Allah, diampuni segala dosanya, ditempatkan di tempat yang mulia bersama orang-orang yang sholeh, Amiinn. "
"Amiin, terimakasih Man do'a nya, silahkan duduk dulu, sebentar lagi istriku akan dimakamkan."
Mas Diman dan Surti kemudian mencari tempat duduk yang masih kosong. Disaat mencari tempat duduk itulah tiba-tiba tangan Surti ditarik seseorang, siapa Dia.
"Di sini Sur, dekat aku, " ujarnya
Surti menoleh ke arah suara, tak di nyana ia tak asing lagi dengan pemilik suara itu dialah teman sekelas surti waktu SMA, Mirna.
"Hai, Mirna, kamu ada di sini? tanya Surti seolah tak percaya bisa ketemu teman lama.
" Aku di sini, tuh rumahku kelihatan, " sahut Mirna sambil menunjuk ke arah rumah gedung bercat abu-abu.
__ADS_1
"Ohhhh, di sini kamu Mir, " ucap Surti.
Akhirnya mereka pun asyik ngobrol, sambil menunggu teh Maya dikebumikan.
"Sur, kamu udah lama kenal sama almarhumah? " tanya Mirna pada Surti.
"Ya lumayan lama, Suamiku sama Kang Ahmad sahabat dekat, Kang Ahmad sering ke rumah, pernah beberapa kali teh Maya diajak ke rumahku, aku juga pernah sekali ke sini, " jawab Surti.
"Oh, ya kamu pernah ke sini sebelum nya, kok enggak ketemu ya, " ujar Mirna.
"Kamu lagi enggak ke luar rumah sih, jadi enggak melihat kalo aku ke sini, " Sahut Surti.
"Eh Mirna, kamu berteman dekat dong dengan teh Maya? " tanya Surti.
"Ya iyalah, tiap hari minggu sore, ibu-ibu berkumpul di sini ikut pengajian, " kata Mirna.
"Kamu jadi rajin ngaji sekarang?" tanya Surti.
"Iya dong, aku diajak sama teh Maya belajar baca quran, sudah bisa membaca aku sama ibu-ibu mulai menghafal Al-Qur'an, " Ujar Mirna.
"Wah seneng dong, aku juga pengen belajar Mir, sudah banyak dong hafalannya? " tanya Surti.
"Ya lumayan, teh Maya yang banyak hafalan nya, sudah hampir tujuh juz, "
Tak terasa mereka asyik ngobrol, akhirnya tiba saatnya teh Maya dikebumikan.
Upacara pemakaman telah usai, Surti dan Mas Diman pun sudah pulang ke rumah nya.
Bersambung
__ADS_1