Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
BURON


__ADS_3

B u r o n


Salah seorang pelaku pembobolan rumah Mas Diman, Kemarin rumahnya digeledah dua orang anggota polisi, siapakah orang itu, dia adalah kang Eman, sudah tiga hari dia tidak pulang ke rumah dan sekarang jadi buronan Polisi.


Istrinya Kang Eman, Nyai Nenti, kaget sekali saat kedatangan dua orang anggota Polisi.


"Maaf Bu, saya dari kepolisian membawa surat perintah penangkapan untuk saudara Eman, dia terlibat sebuah kejahatan, apa betul di sini rumahnya? " tanya salah seorang anggota Polisi.


"Be betul Pak, Kang Eman, aduh gusti, aya-aya wae Kang Eman terlibat kejahatan, Kang Eman mah orang baik atuh Pak, enggak pernah berbuat jahat, " Nyai Nenti menangis menyesali perbuatan suaminya.


"Di mana sekarang saudara Eman? " tanya Polisi tegas.


"Maaf Pak Kang Eman sudah tiga hari belum pulang, katanya pergi ke rumah orang tuanya, " Jawab Nyai Nenti ketakutan.


"Jadi saudara Eman tidak ada di rumah, maaf Bu saya geledah rumahnya, " dua orang anggota Polisi itu pun masuk ke dalam rumah, menggeledah rumah kang Eman.


Kedua anggota Polisi itu mencari sesuatu, semua lemari di buka, setelah yang dicarinya tidak ada kedua orang polisi itupun pergi begitu saja.


Tinggalah Nyai Nenti yang belum hilang kagetnya, harus menyaksikan rumahnya berantakan, sambil tersedu-sedu terpaksa ia membereskan lagi rumahnya yang berantakan.


"Aduh Kang, keur mah hirup susah, atuh tong nyusahkeun sarerea, make terlibat kejahatan sagala, atuh neangan rizki mah nu halal we, tong cukat-cokot, tong puak-paok barang batur, geus kieu mah kan riweuh ka sarerea, * sesal Nyai Nenti sambil terus menangis.


Di saat itu, datanglah Kang Ujang salah seorang sahabat Kang Eman.

__ADS_1


Melihat istrinya Kang Eman menangis, Kang Ujang pun kaget. "Aya naon Nyi, ada apa, asa rareuwas? "


"Kang Ujang, Kang Ujang, tadi ada Bapak Polisi ke sini, mau nangkep Kang Eman, katanya Kang Eman terlibat kejahatan, rumah juga digeledah, entah mencari apa? " ujar Nyai Nenti sambil sesenggukan.


"Wah gawat, celaka kalau begitu mah, jadi Kang Eman sudah ditangkap Polisi? " tanya Kang Ujang.


"Belum, sekarang Kang Eman teh sekarang lagi buron, sudah tiga hari belum pulang ke rumah, "


"Ya udah kalau begitu saya permisi, " Kang Ujang cepat-cepat pergi dari rumah Kang Eman seperti ketakutan.


Nyai Nenti tambah kaget melihat tingkah polah sahabat suaminya itu.


"Hei Kang Ujang, kenapa buru-buru, enggak minum kopi dulu!" teriak Nyai Nenti masih saja nawarin minum kopi, padahal lagi dalam keadaan susah.


"Aku harus cepat-cepat laporan ke Mas Darman, " gumamnya.


Kang Ujang dan Kang Eman berprofesi sebagai tukang parkir di depan toko Mas Toni, di mana Mas Darman bekerja di toko Mas Toni sebagai Sopir.


Saat ini Toko Mas Toni semakin hari semakin sepi, otomatis pendapatan Mang Ujang dan Kang Eman juga menurun.


Kang Ujang dengan cepat memacu sepeda motornya menuju rumah Mas Darman yang lumayan cukup jauh.


Sesampainya di rumah Mas Darman, Mang Ujang langsung menceritakan apa yang telah dialaminya.

__ADS_1


"Wah gawat, Mas, Kang Eman jadi buronan Polisi, saya takut Mas, jangan-jangan kita juga kena nih, soalnya pernah ngobrol dengan Kang Eman di sini, " kata Mang Ujang merasa khawatir.


"Mungkin saja, kalau Kang Eman buka suara, kita juga terlibat, soalnya aku yang memberi informasi keberadaan harta itu, tapi mudah-mudahan kang Eman tutup mulut, karna saya sudah wanti-wanti, kalau di tanya Polisi darimana kamu tahu barang yang dijubur di rumah Mas Diman? jawab aja dari Pak Sueb, "


Sebelum menjalankan aksinya Kang Eman memang ngobrol di rumah Mas Darman untuk menyusun strategi, Mas Darman lah yang tahu persis di mana letak benda berharga itu ditanam, dan yang jadi eksekutor adalah Kang Eman, karena Kang Eman lebih kuat dan lebih berotot ketimbang Kang Ujang, maklumlah ia pernah jadi kuli panggil di pasar sebelum jadi tukang parkir.


Mas Darman sudah wanti-wanti kalau ketahuan dan ketangkap, itu resiko sendiri.


Tadinya barang hasil curian itu dibawa ke rumah Kang Eman, tapi Kang Eman merasa risih dan merasa tidak aman karena rumahnya kecil dan tidak ada tempat untuk menyembunyikannya. Kemudian peti itu dibawa ke rumah Mas Darman, untuk dibuka, namun gemboknya kuat sekali, jadi belum bisa dibuka. Karena alasan keamanan akhirnya Kang Eman pergi dari rumahnya entah kemana. Mas Darman berjanji kalau peti berhasil dibuka akan dibagi tiga yaitu Mas Darman, Kang Eman dan Kang Ujang.


"Jadi sekarang bagaimana? " tanya Kang Ujang.


"Sekarang diam dulu aja, pura-pura tidak tahu, bekerja seperti biasa, jangan mencurigakan, " ujar Mas Darman.


"Oke Bos kalau begitu, mudah-mudahan Kang Emang tidak tertangkap, saya permisi dulu ya, mau pulang dulu," ujar Kang Ujang.


"Oke nanti kita ketemu di toko, hati-hati Kang, kalau ada informasi cepat beritahu, "


"Siap, Bos, permisi Bos, " Kang Ujang langsung tancap gas dengan motor bututnya.


Kang Ujang pulang ke rumah dengan perasaan was-was.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2