Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Godaan Itu Datang Lagi


__ADS_3

Tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya Rena teman Surti di pasar membujuk Surti untuk meminta cerai kepada Mas Diman, suami yang sangat ia cintai itu. Entah apa maksud dan tujuannya, padahal jelas-jelas Surti mau tetap setia pada Mas Diman, senang maupun susah.


Entah yang ke berapa kali ia terus merayu Surti untuk menerima cinta dari seorang laki-laki.


Seperti halnya kali ini Rena datang lagi ke kios nya dengan wajah sangat serius dan kelihatan penting.


"Sur, bagaimana kabar Mas Diman, suamimu apa udah mendingan sekarang? " tanya Rena memulai pembicaraan.


"Alhamdulilah... udah lumayan lah sekarang udah mulai makan nasi tim, jadi mudah-mudahan terus tambah sehat, tambah kuat. Jadi biarlah kamu enggak usah pusing mikirin Mas Diman, biar aku aja yang ngurusin." ujar Surti.


" Bukan begitu Sur, aku kan temanmu ya wajarlah ikut merasakan penderitaanmu." ucap Rena.


"Sur, ada kabar baik buatmu? " Kata Rena


"Kabar baik atau kabar buruk? " Surti balik bertanya.


"Kabar baik lah, kemarin aku kedatangan Pak Baskoro, ia titip salam buatmu, " tutur Rena setengah berbisik.


"Pak Baskoro tuh siapa Rena, aku enggak kenal Dia, " tanya Surti.

__ADS_1


"Masa sih kamu enggak kenal sama Pak Baskoro, kan sering lewat sini, " ujar Rena.


"Yang badannya gendut, kepalanya botak suka pake baju kotak-kotak, yang itu bukan sih? " tanya Surti masih belum jelas.


"Bukan Surti, itu namanya Pak Basuki tokonya paling ujung, jualan sepatu, Pak Baskoro itu masih muda, dua tahun lebih muda dari Mas Diman, ia yang punya toko perhiasan, tokonya paling depan, duda, istrinya meninggal empat bulan yang lalu, ia bilang kalau kamu mau jadi istrinya, kamu bakal dikasih toko yang besar, itu milik kamu sertifikat balik nama atas namamu, terus nanti bakal dikasih modal, ini untuk membiayai hidup kamu dan kedua anakmu, enak kan.


"Hmmmmm..... tawaran yang cukup menggiurkan Rena, " ucap Surti.


"Kamu tertarik, Sur? "


"Rena, Rena, apa enggak kamu jelasin bahwa yang bernama SURTI HARTINI WONGSO DIBJOYO adalah masih berstatus sebagai istri dari NGADIMAN WONGSO ATMOJO!" jelas Rena dengan nada tinggi.


"Iya, ya aku tahu itu, aku belum jelasin sama Pak Baskoro, tapi begini Sur, aku dengar kemarin rumahmu kebobolan maling kan, berarti ada orang yang akan mengancam keselamatanmu keselamatan Mas Diman, nih menurut aku mending kamu gugat cerai mas Diman, dengan alasan keselamatan, coba pikir kalau kamu terus sama Mas Diman, kapan kamu menikmati masa mudamu, berharap Mas Diman sembuh, kapan? mending kamu minta cerai sama Mas diman, toh banyak lelaki yang mau sama kamu diantaranya Pak Baskoro gimana? " rayu Rena.


"Kamu belum pernah lihat Pak Baskoro? kalau kamu ketemu pasti kamu bakal jatuh cinta, kapan kamu punya waktu nanti aku pertemukan kamu. " ucap Rena.


"Sudahlan aku enggak punya waktu, nanti aku pikir dulu, sekarang jangan paksa aku Rena! " ujar Surti.


"Susah kamu itu Sur, dari kemarin nanti dipikir dulu, nanti dipikir dulu kapan beraksinya? " sahut Rena

__ADS_1


"Ya udah sekarang giliran kamu Rena coba kamu minta cerai sama Mas Dedi, mau enggak, terus kamu rayu pak Baskoro supaya menikah denganmu, mau enggak? bisa enggak? " ujar Surti balik ke Rena.


"Ya enggak mungkin lah aku minta cerai sama Mas Dedi, karna aku enggak ada masalah, Mas Dedi sehat, bisa menafkahi lahir batin, lah kamu Mas Diman, enggak bisa kan menafkahi lahir batin, malah bikin kamu susah, cape, menderita, sedih terus tiap hari, "


"Udah Rena, stop jangan bahas itu lagi, aku sudah bahagia sama Mas Diman, aku sudah muak dengan omonganmu, " kali ini Surti benar-benar terpancing emosinya, dia benar-benar marah dan tak bisa mengendalikan dirinya. belum pernah Surti selesai itu pada Rena.


"Udah, tolong kamu jangan ke sini lagi Rena, mengganggu saja, omonganmu itu selalu menyakitkanku, " ucap Surti dengan nada tinggi, mukanya memerah, jantungnya berdegup kencang, air matanya tampak menetes, hidupnya benar-benar terasa berat, tertekan, entah harus bagaimana lagi.


Melihat reaksi sahabatnya itu Rena pun kaget, belum pernah Surti seperti ini. buru-buru ia memeluk Surti.


"Maafkan aku Surti, aku tidak Bermaksud menyinggung perasaanmu, aku temanmu, aku hanya ingin melihat kamu bahagia, aku tidak ingin melihat kamu sedih terus. " sesal Rena.


"Kamu salah Rena, bahagia tidak ditentukan oleh materi semata, memang materi atau harta benda bisa membuat orang bahagia, tapi bahagia itu kalau kita ikhlas menerima taqdir dari Allah, ini sudah taqdir ilahi, harus punya suami sakit. Dunia ini hanya sementara Rena, nanti kebahagiaan yang abadi tuh di akherat, sekarang banyak harta di dunia tapi tidak jadi amal soleh buat apa? nanti dihisab di akherat, biarlah aku sekarang menderita toh hanya sebentar saja, sekarang bisa saja aku selingkuh dari Mas Diman, mengumbar nafsu birahi, menikmati kesenangan duniawi tapi nanti disiksa di neraka, aku enggak mau, menggadaikan imanku dengan kenikmatan sesaat Rena, " jelas Surti.


"Iya Surti, maafkan aku, aku sudah salah menilaimu, kamu wanita yang hebat, teguh pendirian, " sesal Rena.


Begitulah Surti, ini tak lain berkat wejangan dan nasihat-nasihat dari kang Ahmad yang selalu ia pegang teguh dan terpatri di hatinya.


Akhirnya Rena menyerah kalah, tidak bisa meruntuhkan cinta Surti terhadap Mas Diman, Rena tidak bisa merobohkan pilar-pilar kesetiaan kepada Mas Diman.

__ADS_1


Padahal sebelumnya Surti pernah hampir menerima tawaran Rena untuk menggugat cerai Mas Diman, tapi kebaikan hati Mas Diman, kesabaran Mas Diman menerima cobaan meluluhkan hatinya, dan tetap ia setia kepada Mas Diman walau ia harus bekerja keras, membanting tulang untuk menghidupi keluarga.


Bersambung


__ADS_2