Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Kegiatan Surti


__ADS_3

Kehidupan ini memang tidak selalu berjalan dengan mulus, ada saja gangguan, godaan, rintangan, hambatan dan lain-lain.


Seperti yang dialami oleh Surti saat ini.


Dengan penuh kesabaran Surti terus menjalani kehidupannya, kejenuhan kadang menghampirinya, untung ada Teman-teman yang selalu memberinya semangat. Namun ada juga yang selalu terus merongrong kehidupannya. Namun selalu ia hadapi dengan kepala dingin.


Kesibukannya berjualan di pasar membuat Surti terhibur, hiruk pikuk pasar membuat kesedihannya terobati. Terkadang ia membeli makanan-makanan enak saat menunggu pembeli berbelanja.


Surti juga suka ngobrol dengan sesama pedagang di pasar, diantaranya Rena pedagang alat-alat kosmetik yang bersebelahan dengan kiosnya, obrolannya kadang menghibur, kadang suka bikin ga enak.


"Sur..., kamu masih sayang sama Mas Diman? " Tanya rena pada Surti yang tengah membereskan dagangannya.


"Iya lah, aku masih sayang sama Mas Diman, emangnya kenapa Ren, apa aku terlihat tidak sayang sama Mas Diman? "

__ADS_1


"Ya engga sih, cuma aku heran aja, kamu begitu setia sama Mas Diman, padahal dia sudah hampir dua tahun tergolek sakit, yang tentunya dia tidak bisa memberi nafkah lahir dan bathin sama kamu. " Tutur Rena.


" Iya hampir dua tahun Mas Diman sakitnya tak kunjung sembuh, aku sebenarnya sudah merasa cape mengurusnya. " Keluh Surti.


"Malah kamu sekarang yang banting tulang untuk mencari nafkah, kenapa kamu engga minta cerai aja, kamu kan masih muda, masih cantik, masih banyak tuh laki-laki yang mau sama kamu," Sambung Rena.


"Ah udahlah Ren, aku enggak berfikir sampai ke sana, aku hanya ingin jadi istri yang baik, yang berbakti sama suami, toh dia sudah banyak memberi nafkah saat dia masih sehat, bisa membangun rumah, membeli tanah, kendaraan yang sekarang aku nikmati, walaupun sebagian sudah dijual untuk mengobati Mas Diman, Alhamdulilah tidak sampai habis. " Sergah Surti.


"Ah itukan pandanganmu saja, kalo aku sih biasa-biasa aja, wajarlah kalo aku sedih, enggak pantaslah aku ketawa-ketawa sementara suamiku sedang merasakan kesakitan. " Surti mencoba membela diri.


"Jadi kamu tetap akan setia sama Mas Diman, sampai penyakitnya sembuh yang entah kapan sembuhnya mungkin sampai tua, dan kamu menghabiskan waktumu hanya untuk mengurus orang sakit, sementara kebahagiaanmu hilang, engga bisa bersenang-senang, bercumbu mesra, ah sayang sekali, Surti.... Surti..... "


"Engga apa-apa Ren, aku masih punya harapan Mas Diman bisa sembuh, agar aku bisa bersenang-senang lagi sama Dia." Jawab Surti dengan penuh harap.

__ADS_1


"Hmmmm..... ternyata kamu istri yang hebat, kuat, setia, mudah-mudahan terus seperti itu, tapi kalau ada laki-laki ganteng, masih muda, lajang, kaya terus suka sama kamu yang cantik dan bahenol, kamu mau engga? " Kata Rena menggoda.


"Ah Rena, ada-ada saja kamu ini, mana ada yang suka sama aku, aku sudah punya anak dua, sudah tidak muda lagi, aku akan berusaha tetap mencintai Mas Diman, walau sekarang terlihat kurus, Dia itu dulu laki-laki yang gagah, ganteng, romantis, kumisnya itu yang bikin aku kesengsem. " Kenangan Surti.


"Jadi beneran nih, kamu enggak ada pikiran untuk meminta cerai sama Mas Diman? " Tanya Rena lagi.


"Untuk saat ini ngga Ren, aku masih bisa bersabar, aku masih kuat, aku masih sayang sama Mas Diman, aku masih mencintainya, aku akan berusaha mencari obat, agar Mas Diman cepat sembuh. " Jawab Surti tegas.


"Iya semoga saja kamu berhasil mengobati Mas Diman, sehingga kamu bisa bahagia seperti dulu lagi.... Hmmm"


"Aku harus segera pulang Ren, Mas Diman pasti sudah menunggu di rumah, aku duluan ya, "


"Oke, aku sebentar lagi, masih harus beres-beres"

__ADS_1


__ADS_2