
Mas Diman semakin hari semakin tampak bugar, rambutnya yang gondrong sudah di cukur, kumisnya juga sudah dirapikan sehingga tampak jadi lebih muda. Ketampanannya belum hilang walau didera sakit yang cukup lama.
Dengan pulihnya kembali kesehatan Mas Diman, maka ini menjadi harapan besar bagi Surti dan kedua anaknya untuk merengkuh kembali kebahagiaan yang dulu pernah mereka rasakan bersama.
Mas Diman bersiap membuka lembaran baru, memulai bisnis lagi menapaki bisnis yang dulu pernah maju, semoga tidak ada lagi gangguan dan rintangan.
Surti juga tampak bahagia, wajahnya kembali berseri-seri ketika bertemu teman sejawatnya, Rena yang selalu memprovokasi dirinya agar meminta cerai kepada Mas Diman, dengan sembuhnya Mas Diman Rena tidak akan lagi mempropokasi dirinya.
Do'a-do'a yang selalu ia panjatkan untuk kesembuhan suami tercinta terkabul sudah, kesabarannya tidak sia-sia, gairah yang selama ini seolah padam sekarang mulai menyala lagi dan semakin berkobar.
"Waw, kamarnya jadi keren Mas, jadi wangi, hmmm.... kamu bikin suprise nih. " ujar Surti yang baru pulang menengok Rizka dan Rizki sepulang dari pasar.
"Pantesan kamu nyuruh aku ke rumah mamah, rupanya ini yang terjadi! " seru Surti sambil terus memeluk Suaminya.
"Iya sayang, kan aku sudah sembuh, jadi sekarang kamu harus tidur di sini, di kamar ini, kamar yang dulu pernah kita bersama bercanda tua dan bersuka ria, " Surti dipeluknya dengan erat.
"Sabar Mas, aku baru datang, belum mandi, bau keringat nih, " Surti mencoba melepaskan pelukan Mas Diman.
__ADS_1
"Ya udah mandi dulu deh, biar segar, wangi dan tambah cantik, he he." Mas Diman mencium pipi Surti yang kemerahan sebelum melepaskan pelukannya.
"Hmmmm.... masih wangi kok, cepetan ya mandinya udah enggak tahan nih,"
"Ok sayang, sabar ya, aku bersih-bersih dulu, " ucap Surti sambil bergegas ke kamar Mandi.
Suasana kamar sekarang memang sudah berubah, Mas Diman menyulapnya tanpa sepengetahuan Surti, semuanya serba baru, dipan tempat tidur dan kasurnya sudah diganti, bantal dan guling juga sudah diganti, tembok yang kemarin tampak kusam sudah di cat kembali menjadi lebih cerah.
Sehabis shalat isya, mereka berdua sudah berada di peraduannya, sudah lama mereka tidak memadu kasih, sudah lama mereka tidak bercumbu. Malam ini betul-betul spesial, di kamar yang serasa baru, bagai malam pengantin baru.
"Sekarang malam jum'at Mas," ucap Surti memecah kesunyian.
"Semoga aku terus sehat, terimakasih ya Allah, sekarang aku merasa benar-benar sehat, tinggal memulihkan tenaga yang masih lemas, " ujar Mas Diman sambil menatap dengan penuh kehangatan pada sang istri tercinta.
Surti balas menatap Sang Suami, "Kamu begitu sabar Mas mendapatkan cobaan ini, sakit yang begitu lama, sudah banyak kehilangan harta benda pula, kamu juga tidak menaruh dendam sama orang yang sudah membuat kamu sakit, kesabaran itulah yang membuat aku sayang padamu Mas, "
Kedua insan ini benar-benar sedang di mabuk asmara, mereka terhanyut dengan debaran jantung mengiringi alunan melodi cinta.
__ADS_1
Surti membuka inner Jilbabnya, tampak rambut panjang hitam tergerai begitu indah, tak membiarkan orang lain melihatnya apalagi menjamahnya, kecuali kepada suami tercinta.
Wajahnya yang putih bersih terawat, membuat ia tampak begitu cantik, senyuman nya menampakkan gigi yang berbaris rapi menambah daya pesona yang tiada tara.
Alangkah bahagianya Mas Diman, dianugrahi istri yang cantik bak bidadari, perangainya yang menawan, benar-benar istri yang solehah bisa menjaga diri, membuat iri semua laki-laki kepadanya.
Malam makin larut, lampu yang tadi bersinar terang sudah berubah menjadi temaram, tak terdengar lagi suara obrolan, yang tinggal hanyalah ******* dan helaan nafas.
Dibelainya rambut indah Surti, diciumnya kening kekasihnya itu, kini kemesraan itu mereka rasakan kembali benar-benar serasa pengantin baru. Sungguh nikmat rasanya.
"Mas, ternyata kamu masih seperti dulu Mas, " dengan nafas terengah-engah Surti merasakan sensasi yang luar biasa.
"Kamu juga masih seperti dulu sayang," balas Mas Diman.
Selanjutnya entah apa yang terjadi, hanya terdengar suara lenguhan dari keduanya sampai tak terdengar lagi suara.
Waktu subuh pun tiba, kedua insan yang sudah lama pisah kamar ini, malam tadi bersama lagi, mereka tidur begitu pulas, setelah semalaman menumpahkan segalanya.
__ADS_1
Bersambung.