
Sepulang dari rumah Surti, Kang Ahmad tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mampir dulu di warung bi Ifah yang tepat berada di seberang rumah Surti.
Kang Ahmad bermaksud minta bantuan sama Mang Jana. Karena tidak diragukan lagi kesetiaan Mang Jana kepada mantan majikannya itu, kalau ada apa-apa mang Jana yang turun tangan, kalau Mas Diman ke rumah sakit Mang Jana lah yang membopongnya atau menggandengnya. Sampai sekarang Mang Jana lah yang sering mengontrol Mas Diman selama Surti berjualan di Pasar.
Tak berselang lama Kang Ahmad sudah berada di warung bi ifah, ia langsung pesan kopi.
"Bikinin kopi bi! " Pesannya ke bi Ifah.
"Baik Kang, silahkan duduk, bibi sudah bikin goreng pisang tuh masih panas, " sahut bi Ifah.
"Wah enak bi, masih ngebul begini, wanas sekali... " Kang Ahmad mencicipi goreng pisang yang baru diangkat dari katel.
"Mang Jana Kemana Bi? " Tanya Kang Ahmad.
"Biasa, di belakang lagi ngasih makan ayam, sebentar lagi juga ke sini, " Jawab bi Ifah sambil mengaduk kopi pesanan Kang Ahmad.
"Wah, rajin sekali mang Jana, udah pada gede belum ayamnya bi? "
"Lumayan lah, mungkin sekitar satu bulan lagi bisa di panen, " sahut bi Ifah.
"Nanti saya pesen satu ekor bi! " Ucap kang Ahmad
"Kok cuma satu ekor, emangnya cukup, kan keluarga Kang Ahmad banyak. " ujar bi Ifah.
"Ah, dicukup-cukupin aja bi, yang penting bisa makan ayam, biasanya cuma sama telor dadar, goreng tahu, tempe, tapi Alhamdulillah masih diberi kenikmatan makan, coba lihat Mas Diman, uangnya banyak tapi makannya tiap hari bubur, kalau makan yang lain perutnya langsung sakit, mual, perih, kembung katanya. " tutur Kang Ahmad.
"Ini kopi nya Kang, "
"Hmmmm....., enak nih, harum... Baunya. " seru Kang Ahmad.
"Eh ada kang Ahmad, udah lama Kang, " tiba-tiba Mang Jana datang dari belakang.
"Baru aja Mang, belum 10 menit, ayo Mang ngopi, " tawar Kang Ahmad.
"Ya, silahkan Kang, saya mah udah tadi" sahut Mang Jana.
"Mang Jana, pas kejadian tadi malam enggak dengar apa-apa Mang, kan dekat dari sini, " tanya Kang ahmad menatap Mang jana minta kejelasan.
*Sama sekali Mang Jana mah enggak dengar apa-apa, soalnya hujan besar, mungkin kalah sama suara hujan. " jelas Mang Jana.
"Surti enggak nelpon Mang Jana? " Kang Ahmad penasaran.
"Katanya nelpon, tapi enggak ada sinyal, kalo ada sinyal mungkin lain ceritanya, mungkin udah babak belur tuh bangsat, mengganggu pisan! " seru Mang Jana kesal.
"Udah lapor ke Pak Rt Mang? " tanya Kang Ahmad lagi.
"Udah Kang, malah udah mengundang warga untuk berembug malam ini, mau menghidupkan lagi ronda malam Kang, " jawab Mang Jana.
"Oh begitu, baguslah saya dukung mang, mudah-mudahan tidak ada kejadian lagi, kasihan Surti. " ujar Kang Ahmad.
__ADS_1
"Iya Kang mudah-mudahan, sok Kang lanjutkan ngopinya, saya mah mau ke belakang lagi, mau ngasih makan ikan lele," Mang Jana pun beranjak dari tempat duduknya.
"Sekalian atuh saya juga mau pulang Mang, " ujar Kang Ahmad.
"Ini bi, bayar kopi sama goreng pisang, " Setelah membayar kopi Kang Ahmad langsung tancap gas menuju rumahanya.
Setelah kang Ahmad pulang, Bi Ifah dan Mang Jana terlibat obrolan sengit, mereka beradu argumentasi, Bi Ifah yang lulusan S2 sangat pintar bermain kata, sedang Mang Jana yang cuma lulusan S1 harus mengakui kehebatan mantan pacarnya itu.
Perdebatan pun dimulai, diawali dari pertanyaan bi Ifah.
"Kang Jana...... Kira-kira siapa yah yang berani mengganggu Neng Surti " tanya bi Ifah menatap sang Superstar dengan mantap.
"Enggak tahu lah, kita harus tahu dulu kemungkinannya, yang diincar tuh Harta Mas Diman atau Neng Surti. Kalau mengincar harta berarti ada orang yang tahu kalau Mas Diman masih punya simpenan uang dan Emas yang disimpan di bawah lantai. Kalau mau mengincar Neng Surti juga bisa, mengingat selama ini neng Surti banyak yang mengganggu. " jawab Mang Jana panjang lebar.
"Kalau yang mengganggu Neng Surti mungkin Mas Toni, karena ia pernah ditolak cintanya sama Surti, sekarang juga masih suka datang ke kiosnya. " ujar Mang Jana lagi.
"Ah enggak mungkin Kang, Mas Toni enggak mungkin melakukan hal senekat itu, kalau ketahuan kan bisa babak belur, bisa malu sama warga," Sanggah bi Ifah.
"Iya enggak mungkin juga, kan Mas Toni juga udah punya si Nenden yang sama cantik dan bahenolnya sama Neng Surti, aku juga naksir dulu sama dia teh, cuman malu hanya lulusan S1 alias SD he he he....... " ujar Mang Jana sambil terkekeh.
"Heuuuhhhh..... Ya jelas jauh atuh, anak petani sama anak pejabat, anak kampung sama anak kota, anak pelajar sama anak putus sekolah, si Nenden bukan tandingan akang dia mah orang kaya. "
"Untung ada kamu Ifah yang mau sama aku, badannya gendut jadi terasa empuk seperti kasur yang baru di jemur heu heu.... " goda Mang Jana.
"Heu...... dasar, awas kalau ngatain aku gendut lagi, bukan gendut ini tapi langsing yang tertunda, " ujar bi Ifah sambil mencubit pipi Mang Jana sekerasnya.
"Aduuuuhhhh.....!" Mang meringis kesakitan.
"Iya enggak, udah.... udah.... udah.... ampun tuan putri, ampun lepaskan, " ringis Mang Jana.
Bi Ifah pun melepaskan cubitannya, sementara Mang Jana terus mengusap-usap pipinya yang tampak memerah.
Setelah suasana kondusif perdebatan pun dimulai lagi memasuki babak kedua.
"Mas Toni itu dulu waktu akang kerja di Toko Mas Diman, kalah bersaing, Sama-sama grosir sembako, toko Mas Diman ramai pembeli, sampai antri sementara toko Mas Toni biasa-biasa aja, mungkin ia masih sakit hati sampai sekarang, mungkin aja nyuruh orang buat mengganggu Mas Diman" tutur Mang Jana.
"Enggak mungkin juga kang, soalnya Mas Diman sekarang udah dibilang bangkrut, jadi Mas Toni udah enggak ada saingan, ngapain lagi ganggu-ganggu orang, " bantah bi Ifah.
"Hey Ifah, dari tadi kamu ngabelain Mas Toni terus, apa kamu pernah jadi pacarnya, ketahuan ya sekarang mah kamu teh pernah pacaran sama si Toni borokokok, si playboy, jadi kamu teh mantan playboy Ifah.... " gantian Mang Jana yang kesal sebagai balasan tadi Mang Jana pun langsung mencubit pipi Bi Ifah sekeras-kerasnya.
"Aduuuhhh...... enggak mungkin atuh kang Mas Toni suka sama aku yang gendut, dia mah sukanya sama Neng Surti doang sampai sekarang. " teriak bi Ifah kesakitan.
"Tuh kamu sendiri juga bilang gendut, awas jangan ngabelain si Toni lagi, udah jelas dia teh tipe pendendam, " ujar Mang jana sambil terus mencubit pipi tembem bi Ifah.
"Iya Kang enggak, udah atuh lepasin Kang, mending dicium daripada dicubit mah, " ujar bi Ifah memelas.
"Ya, udah, ehmmmm kamu teh pengen dicium, nih aku cium, aku juga udah lama rnggak nyium kamu, hmmmm bau asem ah, kamu belum mandi yah... " gerutu Mang Jana.
"He he he, rasain tah tukang selingkuh, " cetus bi Ifah.
__ADS_1
"Selingkuh sama siapa, enak aja ngomong teh, " sahut Mang Jana kesal.
"Sama ayam he he he.... " bi Ifah terkekeh lagi.
"Heuu dasar kamu ya, awas nanti dicubit lagi nih, " kata Mang Jana berusaha mencubit pipi bi Ifah.
"Enggat mau dicubit, pengennya dicium, " rengek bi Ifah sambil menangkis tangan Mang Jana.
"Enggak mau nyium, bau acemmmm...... !" teriak Mang Jana kesal.
Begitulah keseharian Bi Ifah dan Mang Jana yang selalu bercanda, mereka tampak bahagia walau tidak memiliki banyak harta.
Setelah suasana kondusif mereka pun terlibat obrolan lagi.
"Jadi siapa Kang kira-kira yang mau berbuat jahat sama neng Surti? " tanya bi Ifah.
"Enggak tahu lah, mungkin aja Mas Diman punya musuh atau mungkin itu orang iseng aja, tapi tetap orang iseng juga kudu diwaspadai, harus diamankan, karena sudah meresahkan warga, " Mang Jana menjawab dengan semangat.
"Repot atuh kalau punya musuh mah, hidup jadi tidak aman, " Seru bi Ifah.
"Alhamdulillah kita mah enggak punya musuh, enggak ada pesaing jadi amanaman saja, " kata Mang Jana mantap.
"Ari eta bi Eha naon, emangnya bukan pesaing, sama jualan kopi, pisang goreng, bala-bala, gehu, cireng, indomie rebus, nasi uduk, " cetus bi Ifah agak kesal.
"Oh iya ya, tapi kita mah enggak boleh dengki, biarlah bi Eha mau cari usaha, masing-masing ada rezekinya. " jawab Mang Jana santai.
"Iya enggak dengki, tapi dongkol bin mangkel, si Eman biasa nongkrong di sini sekarang pindah nongkrong di sana, " Bi Ifah kelihatan jengkel.
"Ya udah atuh biarin, masa kita larang si Eman nongkrong di sana, konsumen mah bebas memilih, mungkin saja suatu saat dia bosen di bi Eha, mungkin pindah nongkrongnya di warung bi enah, " Mang Jana lagi-lagi menjawab dengan santai.
"Heuhhh... . . Sugan teh pindah ke sini lagi, " Bi Ifah tambah jengkel.
"Ya udah ah, tenang masih ada Kang Ahmad pelanggan setia kita, walau cuma ngopi doang, tapi dia hampir tiap hari ke sini, kadang sehari bisa dua kali" ujar Mang Jana menghibur.
"Tapi Kang di sini jadi sepi, biasanya pagi-pagi udah rame yang beli, sekarang paling tinggal yang deket-deket aja, kayak neng Surti, Bu Aminah, Bu Dian, Bu Sofie, perempuan semua, laki-lakinya pada nongkrong di warung Janda muda." ujar bi Ifah.
"Enya Ifah di sini teh kalo rame mah jadi pusat informasi, jadi kalau ada apa-apa teh tahu, dari obrolan mereka. Mereka saling bertukar informasi di sini, kecuali informasi Mang Jana kawin lagi, mereka tidak akan tahu. " kata Mang Jana santai.
"Apa Kang, apa aku enggak salah dengar, jadi Akang teh udah kawin lagi!! " kata bi Ifah langsung menjewer telinga Mang Jana.
"Aduh sakit atuh Ifah, " Jerit Mang Jana.
"Jadi bener Akang teh sudah kawin lagi, " Bentak bi Eha, sambil terus menjewer telinga Mang Jana.
"Iya udah sama Nyi EHa," Jawab Mang Jana sambil meringis.
"Eneng Hayam.. . . he he he, " Mang terkekeh.
"Ih... . kirain teh beneran kawin sama si Eha, dasar. . .. . . " Bi Ifah dengan kesal melepaskan telinga Mang Jana.
__ADS_1
Begitulah keseharian Mang Jana dan bi Ifah, penuh canda dan tawa, walau bukan keluarga berada, mereka jalani hidup apa adanya, tapi tampak hidup bahagia.
Bersambung