Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Kumpul Bersama Keluarga


__ADS_3

Waktu terus berjalan, matahari terus berputar, siang dan malam datang silih berganti, roda kehidupan mengelinding membuka lembaran baru, membuat babak baru, tangis dan tawa menghiasi dinding-dinding kehidupan, setiap manusia memiliki episode kehidupan yang berbeda.


Kita lihat episode kehidupan yang dialami Surti, dua tahun pertama menikah dengan Mas Diman adalah masa perjuangan, pahit dan getir ia rasakan selama membangun pondasi bisnis bersama sang suami, lelah dan letih menerpa setiap saat.


Tahun ketiga, ia mulai merasakan manisnya buah perjuangan, dari semula mengontrak kios kecil, akhirnya bisa kebeli toko yang cukup besar, letaknya strategis di depan pasar di sampingnya ada Mall tempat mereka nongkrong ketika pulang sekolah SMA. Ini tentu saja berkat kegigihan dan keuletan Mas Diman.


Tahun keempat, ia sudah bisa membeli kendaraan untuk operasional toko seperti belanja atau memasok barang ke toko-toko yang lebih kecil.


Tahun kelima, bisa membeli kendaraan pribadi yang cukup untuk keluarga, dengannya mudah berkunjung ke mana-mana, bersilaturahmi dengan orang tua, berwisata dan banyak lagi.


Tahun kelima Mas Diman bisa membangun sebuah rumah yang cukup besar, yang mereka tinggali sampai hari ini, semula mereka masih tinggal di rumah orang tua Mas Diman.


Tahun keenam adalah masa yang tenang, tentram, bahagia, hidup serba berkecukupan tinggal di rumah besar dan megah berdiri di atas lahan yang cukup luas. Dibelakang rumah ada lahan yang ditanami buah-buahan seperti mangga, jambu air, nangka, rambutan, pisang. Ditengahnya terdapat kolam ikan yang cukup luas, di tengah kolam dibangun sebuah gazebo, biasanya kalau hari libur banyak dikunjungi oleh saudara-saudara Mas Diman yang mau memancing ikan, atau sekedar makan-makan di gazebo. Di halaman depan ditanami tanaman bunga dan tanaman hias menambah asri dan enak dipandang.


Tahun kesembilan pernikahan mulai terasa ada sesuatu yang tidak beres, persaingan bisnis yang tidak sehat, pelanggan mulai berkurang dan beralih ke tempat lain yang lebih murah, entah di toko mana, omset penjualan pun terus menurun, akhirnya karyawan satu persatu dikeluarkan, dari lima orang karyawan tinggal satu orang yang tetap di pertahankan, yaitu Mang Jana.


Sampai akhirnya Mas Diman sakit, akibat terlalu cape fisik dan cape pikiran, yang akhirnya benar-benar tumbang. Selama hampir sebulan Mas Diman terbaring di rumah sakit, itulah akhir kebahagiaan Surti. Akhirnya toko pun tutup dan otomatis Mang Jana keluar.


Dengan sakitnya Mas Diman, maka tanggung jawab mencari nafkah berada di pundak Surti, Surti pun berjuang keras untuk bertahan hidup, memulai usaha baru dari nol lagi.


Hari ini dua tahun sudah ia lalui ujian berat, Alhamdulillah ia masih bertahan, masih setia mendampingi Mas Diman, walaupun awalnya ia berfikir tidak bisa diharapkan sembuh, sakitnya sudah parah sekali, terkadang ia pasrah seandainya Mas Diman diambil oleh yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Tapi mungkin Allah berkehendak lain, Mas Diman masih hidup sampai hari ini, Mudah-mudahan terus ada perkembangan walau hanya sedikit.


Asalnya Mas Diman tidak bisa bangun sama sekali, buang air kecil dan buang air kecil di tempat tdur, ia juga harus diinfus, kemudian bisa makan bubur sedikit-sedikit ditambah jus, namun kadang makanannya ia muntahkan kembali.


Wajahnya tampak pucat pasi, badannya kurus kering, namun ia tatap dengan sabar menyuapi suaminya pagi, siang dan malam hari. Badannya ia bersihkan pagi hari kalau sudah bangun dan sore hari.


Dengan sabar dan telaten Surti mengurus suaminya, sambil terus berdoa meminta kepada Allah agar segera disembuhkan sakitnya.


Seminggu setelah kang Ahmad memberi madu, tampak Mas Diman sudah bisa terlihat lebih segar. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat. Bahkan sudah mulai duduk-duduk di sofa, tidak lagi banyak tidur di kamar.


"Alhamdulillah Mas, kamu sudah tampak lebih baik, tampak lebih segar, " ujar Surti yang baru tiba dari pasar, ia pun terlihat gembira.


"Biasanya kalau mau tidur pikiranku rasanya seperti melayang-layang terus, seperti ada yang membawa muter-muter entah aku dibawa kemana, sekarang sudah enggak lagi, tidur juga terasa pulas, biasanya aku susah tidur, Kadang-kadang semalaman aku enggak bisa tidur Dik, " ujar Mas Diman lagi.


"Iya Mas, mudah-mudahan cepat pulih lagi ya, nanti makannya coba ganti dengan nasi tim, supaya ada tenaga, " ujar Surti.


"Iya Dik, nanti Masmu coba, mudah-mudahan enggak terasa sakit, " ujar Mas Diman.


"Ini Mas aku bawain jus alpukat, coba di minum ya, " tawar Surti seraya menyodorkan jus alpukat yang ia bawa dari Pasar.


"Iya Dik, trimakasih, " ucap Mas Diman

__ADS_1


Tiba-tiba dii luar terdengar suara Rizka dan rizki datang serempak baca salam.


"Assalamualaikum... . .. " Seru Rizka dan Rizki.


*Wa alaikum salam.. . .. eh anakku sayang, sama siapa ke sini? " tanya Surti sumringah


"Sama Mas Budi mah, " jawab Rizka sambil mencium tangan Surti dan memeluknya.


Diciuminya anak-anak dengan penuh kasih sayang,


"Papah sudah sehat pah, " Rizki pun memeluk Mas Diman.


"Iya sayang, Alhamdulillah papah sehat, " Mas Diman pun menciumi Rizki.


Mereka akhirnya bisa berkumpul bersama, hari ini Alhamdulillah mereka bersama lagi bersenda gurau.


Setelah puas mereka melepas kangen, Rizka dan Rizki akhirnya pulang diantar Mas Budi adik bungsu Mas Diman yang sampai saat ini masih lajang alias Jomblo.


Bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2