Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Warung Janda Muda


__ADS_3

Tidak jauh dari warung bi Ifah, tampak ada warung yang cukup ramai, itulah warung Nyi Eha, si janda muda satu anak, yang hampir empat bulan ditinggal oleh suaminya bang sodik almarhum yang meninggal karena kecelakaan.


Baru satu bulan ini Nyi Eha buka warung, atas dorongan dari mamah mertuanya haji solihat,


Suasana warung terlihat begitu ramai sore itu, ada yang duduk melingkar lesehan sambil ngobrol ngalor ngidul, ada juga yang lebih suka duduk sendiri di bangku-bangku terbuat dari kayu yang terlihat masih baru.


Mungkin ada empat kelompok pengunjung yang duduk lesehan, masing-masing terdiri dari tiga orang, ada juga yang empat orang.


Di samping Warung Nyi Eha terdapat blandongan yang lumayan luas, di situlah tempat pengunjung menikmati makanannya.


Mereka tampak asyik mengobrol sambil minum kopi, ada juga yang minum teh manis hangat, sambil makan goreng-gorengan kayak goreng pisang, goreng ubi, goreng singkong dan lain-lain.


Di sudut blandongan tampak tiga orang sedang asyik ngobrol, kadang sambil ketawa, kadang berbisik-bisik.


"Hei Din, kamu sekarang banyak nongkrong di sini, daripada di warung bi Ifah? tanya Eman sambil menepuk pundak Udin.


" Kamu juga jadi pindah ke sini, kenapa?" udin balik menepuk pundak Eman.


"Din, di sini mah lebih enak Suasananya, lebih luas, lebih asyik dan itu tuh bisa melihat pemandangan indah, " jawab Eman.


"Pemandangan indah apaan tuh! " seru Roni.


"Gunung Janda " bisik Eman.


"Gunung Janda?! ha ha ha..... udin tertawa.


" Ha ha ha........ " Ketiganya pun ketawa.


Suasana jadi tambah ramai, ngobrol sambil ketawa-ketawa. Disambung dengan grup sebelah yang tak kalah seru.


"Jang rumah mba Surti ada yang mau membobol semalam, apa betul, " tanya Kosim pada Ujang.

__ADS_1


"Bener Kos, emang kamu belum tahu? " jawab Ujang.


"Belum, aku baru pulang kerja, katanya malingnya bawa samurai, apa betul, " tanya Kosim penasaran.


"Katanya sih begitu, malingnya sadis kalau pintunya jebol mungkin Mba Surti sudah jadi mayat tuh." jelas Ujang.


"Untung pintunya enggak bisa dijebol, jadi selamat Mas Diman dan Mba Surti, " Kang Akim menimpali.


"Eh kira-kira orang itu mau apa ya, mau maling atau apa, kan Mas Diman udah enggak usaha, udah bangkrut, mobilnya udah dijual, tokonya juga udah dijual untuk biaya berobat, " tutur Kosim.


"Eh jangan salah Kos, Mang Diman itu diperkirakan masih menyimpan harta berupa uang dan emas dia simpan di bawah tanah di dalam kamarnya, " tutur Ujang sambil berbisik.


"Darimana kamu tahu itu Jang," tanya Kang Akim penasaran.


"Ini info dari tukang bangunan, yang ngebangun rumah Mas Diman, katanya dibuat ruang bawah tanah di bawah kamar Mas Diman. " jelas Ujang meyakinkan.


"Buat apa coba Mas Diman bikin ruangan itu, kalau bukan untuk menyimpan harta bendanya, Mas Diman itu keuntungan toko perharinya bisa puluhan juta, ini kata Mang Jana sewaktu jadi Karyawan Mas Diman dikali sepuluh tahun aja wah berapa kekayaannya. " ujar Ujang lagi


"Kalau begitu bisa jadi mereka mengincar harta kekayaan Mas Diman, " tutur Akim.


"Kayaknya enggak tahu, kalau tahu ia enggak akan bersusah ayah jualan di pasar, betul enggak, " jawab Akim.


"Tapi mungkin aja itu mah untuk menutupi, soalnya Mas Diman lagi sakit, lemah, jadi seolah-olah hartanya habis, biar enggak ada yang menggasak, " kata Ujang.


"Bisa jadi begitu, " kata Kosim.


Begitu asyiknya mereka ngobrol dengan serius sambil setengah berbisik takut kedengaran orang lain.


Kembali ke sudut blandongan tadi, tampak udin, Eman dan Roni masih asyik ngobrol.


"Hei Din, rumah Mba Surti semalam mau dibobol maling, apa kamu udah tahu? " tanya Eman sambil mulutnya terus mengunyah pisah goreng.

__ADS_1


"Udah, tadi saya ngobrol di rumah Mang Jana, malah saya sempat lihat pintu yang mau dibobol, banyak bekas-bekas senjata tajam, " jawab udin.


"Nanti malam katanya mau ada Ronda malam Din? " tanya Eman lagi.


"Iya, tadi pagi Mang Jana lapor ke pak Rt, langsung tembus ke pak Rw, pak Rw katanya mau lapor ke pak Lurah langsung ke polsek. Jadi warga nanti malam diundang untuk jadwal ronda malam atas instruksi pak Rw, " jawab Udin.


"Kalau kamu mau datang nanti Din? " tanya Eman.


"Pasti lah saya hadir soalnya malu sama pak Rt kalau enggak hadir," jawab Udin.


"Kalau kamu Ron, datang enggak nanti malam, " tanya Eman sama Roni, yang dari tadi cuma jadi pendengar setia.


"Ya datang lah, masa enggak datang, kamu Man gimana bakal datang? " tanya Roni.


"Saya mah enggak Ron, kayaknya enggak bakalan datang lagi tuh bangsat, pasti takut, apalagi sudah rame begini, enggak akan berani. " jawab Eman santai.


"Iya juga yah, pasti takut tuh orang" ucap Roni.


"Jadi buat apalah datang, mending juga tidur, sok aja kamu mah, nanti kalau pak Rt nanyain mah bilang aja kerja lembur," sambung Eman.


"Wah mau maghrib Din, hayu ah saya mah mau pulang, " ucap Eman sambil bangkit dari duduknya.


"Hayu ah saya juga mau pulang, " Roni ikutan bangkit.


"Heeee...... Saya juga mau pulang atuh, udah sore begini, hayu kita bayar ke Nyi Eha, " ajak Udin.


Akhirnya satu persatu mereka meninggalkan warung Nyi Eha untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Alhamdulillah, hari ini dagangan kita habis, " kata Nyi Eha.


"Iya Nyi saya sampai pegal begini, dari pagi ngebantuin menggoreng," sahut Oneng yang sehari-hari membantu Nyi Eha.

__ADS_1


Hari pun sudah semakin senja, matahari perlahan menyelusup ke dalam bumi, cahaya kemerahan menghiasi langit, perlahan kegelapan menyelimuti, malam pun tiba. Adzan maghrib berkumandang memanggil hamba beriman.


Bersambunh


__ADS_2