
Ketika terjadi ada ribut-ribut di warung Nyi Eha, Surti pun terbangun mendengar lamat-lamat suara orang ramai, waktu menunjukan pukul 4 pagi sebentar lagi adzan subuh. Surti bertanya pada dirinya sendiri.
"Ada apa ini rame-rame di luar, ada suara orang berlari sambil bersungut-sungut, "gumamnya.
Ia pun penasaran, dibukanya gorden ruangan depan untuk melihat keluar.
" Tak tampak apa-apa, tak ada siapapun, padahal semalam ada tiga orang petugas ronda di warung bi Ifah, " ucap Surti dalam hati.
"Nanti ah ditanyain ke Mang Jana, sehabis sholat subuh, " gumamnya lagi.
Ia pun segera menuju kamar mandi yang ada di ruang tengah, mau berwudhu untuk sholat tahajjud. Masih ada beberapa menit lagi menjelang subuh.
Seperti biasa, sehabis sholat subuh Surti beranjak menuju dapur untuk memasak.
Ketika membuka pintu dapur, betapa kagetnya Surti, matanya terbelalak melihat kondisi dapur yang sudah berantakan, tampak dinding di samping pintu sudah bobol. Rupanya ada orang yang berhasil membobol dinding dapur.
Melihat kondisi dapur seperti, Surti lantas setengah berlari menuju kamar Mas Diman.
"Mas, Mas, Mas, rumah kita dibobol maling Mas, bangun Mas....... 'Surti sambil terengah-engah membangunkan suaminya yang masih tidur pulas.
Mas Diman pun terbangun dan kaget sekali
" Ada apa Dik, jam berapa ini, aku belum sholat subuh" Ujar Mas Diman sambil menggosok-gosokan matanya.
"Mas, rumah kita, rumah kita kebobolan Mas, dapurnya dijebol maling Mas, " Jelas Surti.
"Apa, rumah kita dijebol maling? " ucap Mas Diman masih belum percaya.
"Iya Mas, ayo kita lihat ke belakang, " ajak Surti sambil meraih tangan suaminya.
Akhirnya dengan merangkak Mas Diman menuju ke dapur untuk melihat kondisinya
Benar saja apa kata Surti, dapurnya sudah diacak-acak maling. Ada beberapa lantai keramik yang di cungkil, bahkan dipojok dapur sudah tampak ada lubang menganga.
__ADS_1
Mas Diman pun terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Siapa yang tahu aku menyimpan sesuatu di sana, padahal itu hanya peti yang berisi rongsokan besi, mungkin disangkanya aku menyimpan emas di sana " bisiknya dalam hati.
"Mas, kok kamu diam aja Mas, apa yang kamu pikirkan Mas, " tanya Surti heran, mengapa suaminya tak tampak reaksi apapun melihat kondisi dapur acak-acakan.
"Oh iya Dik, nanti kamu ke rumah Mang Jana, minta tolong lapor pak Rt, rumah kita kebobolan, aku mau sholat subuh," ujar Mas Diman tenang.
"Iya Mas, aku segera ke rumah Mang Jana." Surti pun segera berganti pakaian.
"Jangan lupa kunci pintu dari luar ya, " seru Mas Diman.
"Iya Mas, " jawab Surti
Surti pun akhirnya tidak jadi memasak. Setelah mengunci pintu menuju dapur, ia pun setengah berlari menuju rumah Mang Jana.
Sesampainya di rumah Mang Jana, ternyata Mang Jana tidak ada di rumah, kata bi Ifah Mang Jana tadi pergi ke rumah Nyi Eha.
Surti pun segera menuju rumah Nyi Eha, dengan berjalan cepat.
"Mang Udin, lihat Mang Jana Enggak?" tanya Surti pada Mang Udin yang duduk-duduk di bangku sambil ngobrol dengan warga yang lain.
"Mang Jana ada di dalam rumah Neng, " jawab Mang Udin sambil menunjuk ke arah pintu rumah Nyi Eha.
Surti pun masuk ke dalam rumah, tampak Nyi Eha sedang terisak seperti habis menangis, matanya sembab, rambut acak-acakan, bajunya tampak robek di bagian depan, kancingnya pada lepas, kelihatannya ia syok seperti habis terjadi sesuatu. Disekelilingnya terlihat ibu-ibu seperti sedang menghibur, di belakangnya ada Bapak-bapak diantaranya ada Mang Jana dan Pak Rt.
"Pak Rt, Mang Jana ada apa ini? " tanya Surti heran.
Mang Jana pun menceritakan kejadian yang menimpa Nyi Eha dengan panjang lebar.
Mendengar penuturan Mang Jana Surti pun merasa prihatin atas kejadian tersebut.
"Nyi Eha sabar ya, saya ikut prihatin atas musibah ini, mudah-mudahan tidak terulang lagi. Pak Rt, Mang Jana, Bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya saya juga lagi kena musibah, rumah saya kebobolan maling, tolong Pak Rt lihat rumah saya, " pinta Surti ke Pak Rt.
__ADS_1
Mendengar penuturan Surti, semua yang ada di rumah Nyi Eha kaget, ternyata ada dua kejadian malam tadi.
"Sepertinya ini sudah direncanakan, pelakunya lebih dari dua orang, yang satu memancing keributan di sini, sehingga petugas ronda pada berlari ke sini, mengejar pelaku, dua atau tiga orang lebih dengan leluasa membobol rumah Surti," tutur Pak Rt menduga-duga.
"Ayo, Mang Jana kita ke sana, bapak-bapak sebagian tetap di dini" ajak Pak Rt.
Dengan segera Pak Rt dan Mang Jana menuju rumah Surti diikuti oleh beberapa warga lainnya.
Sesampainya di rumah Surti, Pak Rt yang merupakan mantan anggota polisi, mengemukakan pendapatnya.
"Kesimpulan saya dari dua kejadian ini adalah bahwa kejadian di rumah Nyi Eha adalah untuk mengalihkan perhatian para petugas ronda malam di rumah bi Ifah, supaya mereka dengan leluasa membobol rumah Mas Diman. Tujuan utamanya adalah rumah Mas Diman. Ini harus kita usut tuntas siapa pelakunya, sepertinya bukan orang jauh, apalagi sasaran utama mereka adalah harta yang terpendam di sini, berarti orang itu tahu sesuatu yang ada di rumah Mas Diman." tutur Pak Rt memberi simpulan.
"Nanti saya akan minta keterangan dari Mas Diman, juga Mba Surti, " kata Pak Rt sambil melirik ke arah Mas Diman.
"Iya Pak Rt, " sahut Mas Diman dan Surti serempak.
Setelah selesai menginvestigasi, akhirnya Pak Rt, dan Bapak-bapak pulang dari rumah Surti, tinggal Mang Jana yang belum pulang atas permintaan Mas Diman.
"Mang Jana, nanti tolong panggil tukang bangunan, siapa aja yang lagi nganggur, bisa Mang Ato atau Mang Sueb, nanti mang Jana juga ikut bantu-bantu ya, nanti perbaiki dinding yang jebol kalau bisa secepatnya pagi ini, biar nanti malam udah kering, " pesan Mas Diman.
"Iya sekarang juga saya mau nyari tukang bangunan Mas, " sahut Mang Jana sambil terus berpamitan.
"Dik nanti uang dari pasar jangan dibelanjain dulu ya, kasihkan ke mang Jana buat beli bahan bangunan, ya secukupnya aja, sama uang buat upahnya." pinta Mas Diman pada Surti.
"Baik Mas, " jawab Surti singkat.
"Kira-kira siapa Dik yang melakukan ini semua, siapa yang tahu ada sesuatu di situ, aku benar-benar lupa, padahal itu bukan barang berharga, atau mungkin itu barang berharga, aku lupa Dik, apa kamu ingat Dik, " tanya Mas Diman pada Surti.
"Aku tidak tahu Mas, aku kan saat itu sibuk ngurus anak kita Mas, mereka saat itu masih kecil-kecil, kita juga masih tinggal di rumah mamah, aku sekali-kali aja ke sini, saat itu masih baru di bangun, " jawab Surti.
"Nanti, aku ingat-ingat lagi Dik, siapa kira-kira ya, ngomong-ngomong aku lapar Dik, kamu enggak jadi masak tadi, " ucap Mas Diman, sambil mengusap-usap perutnya yang keroncongan.
"Oh, iya Mas, aku juga lapar, aku cari sarapan dulu ya, kita beli bubur ayam aja di Mang Amo, " tutur Surti.
__ADS_1
Bersambung