
Selepas sholat zuhur, Mas Diman kedatangan tiga orang anggota polisi, tampak Mang Jana dan Pak Rt turut serta.
Tiga orang anggota polisi inilah yang kemarin melakukan investigasi dan meminta keterangan dari saksi-saksi.
"Selamat siang, Pak Diman, saya mohon untuk menyempatkan waktunya sebentar," Ujar salah seorang anggota polisi.
"Oh iya Pak silahkan duduk, Pak Rt, Mang Jana sebelah sini, " ujar Mas Diman.
Setelah semuanya duduk, mulailah salah seorang anggota polisi angkat bicara.
Pak Diman saya dari kepolisian, bersama dua anggota kami ke sini mau melanjutkan penyelidikan dan minta keterangan dari bapak terkait kejadian kemarin. " kata salah seorang anggota polisi.
"Baik Pak, saya siap memberikan keterangan yang saya tahu." sahut Mas Diman.
" Begini Pak, kemarin dari hasil penyelidikan kami, kami menemukan ada sidik jari, dan sudah Kami telusuri siapa pelakunya, namun sayang pelakunya sudah lebih dulu kabur sebelum anggota kami menciduknya, Kami juga sudah menggeledah rumahnya, namun tidak ditemukan benda yang diduga hilang dicuri, kemungkinan bendanya ada di tempat lain, " ujar Pak polisi yang tidak berseragam.
"Jadi, pelakunya sudah ketahuan Pak, siapa Pak, boleh saya tahu? " tanya pak Rt.
"Iya Pak, Siapa Pak? Mas Diman juga penasaran.
"Sekarang tidak akan saya kasih tahu dulu, sebelum semua penyelidikan selesai, kami masih mencari keterangan dari saksi-saksi, " tutur Pak Polisi yang bernama Yuda itu.
"Pak Diman, saya masih minta keterangan dari Bapak, tolong jawab dengan jujur, benda apa yang bapak simpan di dalam peti itu? " tanya Pak Polisi tegas.
"Setahu saya, itu emh... bukan barang berharga Pak, itu hanya barang rongsokan Pak, itu hanya besi tua Pak, seperti kopling mobil, baud-baud, lampu mobil, no plat mobil, dan banyak lagi Pak, tapi saya lupa yang lainnya, kemudian saya gembok dan saya kubur di pojok dapur, mungkin suatu saat berguna, saya tidak bermaksud apapun, hanya supaya tidak berantakan aja Pak, tapi kemudian orang yang melihat saya menguburkan peti itu dikiranya mungkin barang berharga Pak, " tutur Mas Diman menjelaskan.
"Padahal barang yang mereka cari sesungguhnya bukan di situ, hmmmm aku harus tetap merahasiakan ini, termasuk istriku sendiri belum saatnya ia tahu, " bisik Mas Diman dalam hati.
"Oh jadi bukan emas batangan sebagaimana dirumorkan banyak orang, kata orang-orang
__ADS_1
Pak Diman kecurian emas batangan dalam peti, " tutur Pak Polisi.
"Bukan Pak, sama sekali bukan, " sahut Mas Diman.
"Sekarang saya tanya lagi Pak Diman, kira-kira siapa saja orang yang mengetahui, Pak Diman menguburkan ini? "
"Setahu saya hanya tukang bangunan saja Pak, itu pun saya perlihatkan isinya. " jawab Mas Diman.
"Mungkinkah si Darman tahu pas Pak Kardi menguburkan benda itu, setahu saya dia sudah pulang saat itu, " bisik Mas Diman dalam hati.
"Siapa tukang bangunan itu? "
"Kalau enggak salah namanya Pak Kardi Pak, tapi dia sudah meninggal setahun yang lalu Pak, " jawab Mas Diman.
"Oh begitu, betul tidak ada orang lain yang mengetahui, selain tukang bangunan? "
"Baiklah kalau begitu, saya dan teman-teman permisi dulu, tolong di ingat-ingat lagi Pak Diman barangkali Pak Diman lupa, mungkin ada orang lain selain tukang bangunan yang mengetahui ini, terimakasih atas waktunya, " Ketiga polisi ini pun menyalami Mas Diman.
"Iya Pak, nanti saya ingat-ingat lagi, saya mengucapkan terimakasih atas pengungkapan kasus ini." tutur Mas Diman.
"Pak Rt, terimakasih telah membantu kami, tolong warga juga ikut bantu pengamanan, teruskan ronda malam, saya pamit ya, insya Allah kasus ini akan saya ungkap sampai tuntas," Sambil menyalami Pak Rt ketiga orang anggota polisi ini bergegas menuju sepeda motor yang diparkir di halaman.
Pak Rt, Mang Jana dan Mas Diman masih tetap duduk, mereka meneruskan obrolan.
" Kasihan ya, kalau isi petinya rongsokan, berarti pencurinya enggak dapat apa-apa, padahal sudah susah payah, sudah terencana, diuber polisi iya, ketiban sial tuh orang, " gerutu Mang Jana.
"Mudah-mudahan secepatnya terungkap, kasihan banyak warga yang mengeluh, karena harus ronda malam, padahal besoknya mereka harus kerja, " ucap Pak Rt.
"Itu kan sudah kewajiban bersama Pak Rt, biarlah kami ikut menjaga keamanan wilayah kami, toh jaga rondanya enggak tiap malam, sebulan paling tiga kali. " timpal Mang Jana.
__ADS_1
"Betul Mang Jana, seharusnya setiap warga berpikiran seperti itu, tapi kan ada aja orang yang merasa keberatan. " sahut Pak Rt.
"Pak Rt, ini jadi pelajaran buat saya, untuk tidak melakukan hal yang bisa mengundang kejahatan, seharusnya rongsokan itu dikuburnya enggak usah pakai peti, mohon maaf Pak Rt, ini gara-gara saya semuanya jadi ikut repot, " kata Mas Diman seolah-olah menyesal.
"Padahal itu sengaja aku lakukan, aku mengubur dua peti yang satu berisi rongsokan dan diperlihatkan ke Pak Kardi, yang satu lagi dikuburkan di kamarku dan tidak diperlihatkan, dengan harapan Pak Kardi mengira barang yang dikuburkan isinya sama besi rongsokan. " gumam Mas Diman.
"Enggak apa-apa Pak Diman, ini sudah terjadi, mudah-mudahan ada hikmah dibalik semuanya ini, " ujar Pak Rt.
"Iya Pak Rt, terimakasih, mudah-mudahan ini cepat tuntas.
"Baik, Pak Diman saya permisi, pamit mau pulang, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. " ujar Pak Rt seraya menyalami Mas Diman.
"Mang Jana juga mau pulang, hayu atuh.... " seru Pak Rt.
"Iya Pak Rt, saya juga mau pulang, kasihan ayam-ayam saya kelaparan," sahut Mang Jana.
Setelah semua tamu pulang, Surti dan Mas Diman masih tetap ngobrol membahas siapa pelaku yang membobol rumahnya.
"Mas, siapa ya kira-kira yang membobol rumah kita, kok Pak Polisi enggak ngasih tahu sih? " tanya Surti.
"Enggak tahu Dik, kita tunggu aja sampai penyelidikan selesai, sekarang aku mau istirahat dulu ya, mudah-mudahan besok ada perkembangan baru. "
"Iya silahkan Mas istirahat , aku mau ke kamar mandi dulu, belum mandi, belum sholat."
Surti pun beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi, tadi sepulang dari pasar belum sempat keburu datang tamu.
Bersambung
,
__ADS_1