
"Alhamdulillah ya Allah, Suamiku sudah benar-benar sembuh, aku dan anak-anakku sudah berkumpul kembali, Rizka dan Rizki sekolahnya di antar sama Mang Jana, Mas Diman sekali-kali sudah mulai ikut ke pasar, Dia lagi melihat dan memantau keadaan, kira-kira usaha apa yang bisa dikembangkan, kalau aku sih tetap berjualan sembako, mudah-mudahan usahaku terus lancar dan maju seperti dulu lagi. Pelanggan-pelanggan yang dulu sedikit demi sedikit sudah kembali lagi berbelanja dikiosku.
Tapi setelah Mas Diman sembuh perasaan ada sesuatu yang hilang, apa coba, ya, tidak ada lagi orang yang menasehati Mas Diman, siapa lagi kalau bukan Kang Ahmad, aku jadi kangen sama Dia, tutur katanya lembut, tidak menggurui, sorot matanya penuh wibawa, membuat orang takluk kalau sudah berhadapan dengan Kang Ahmad, Setelah isterinya meninggal ia sangat terpukul sekali, aku kasihan juga melihatnya, seharusnya aku dan Mas Diman yang gantian datang ke rumahnya, karena orang itu ada suatu saat berada di titik terendah, maka perlu ada orang lain yang memberikan semangat agar Dia bangkit lagi, Kang Ahmad oh Kang Ahmad. Sabar ya Kang, sekarang Kang Ahmad yang ditimpa kesedihan.
__ADS_1
Rena yang biasanya ngajak ngobrol sekarang sudah tidak pernah lagi datang ke kiosku, mungkin Dia malu atau bagaimana, karena selalu meminta aku menggugat cerai Mas Diman, aku juga tidak pernah lewat ke kiosnya, jadi tidak tahu lagi kabarnya.
Cowok yang suka menggodaku di pasar juga sudah tidak tampak batang hidungnya, entah kemana, semenjak Mas Diman ikut ke pasar. Mungkin sekarang mereka tahu, aku tuh masih punya suami, jadi sekarang mereka tidak ada yang berani.
__ADS_1
Rumahku sekarang aman, tidak ada lagi yang berani membobol, karena warga aktif melakukan ronda malam, bahkan pelakunya sudah ketahuan, tapi sekarang ia masih buron, semoga Pak Polisi segera dapat menangkap pelakunya, untuk memberi pelajaran, tapi anehnya Mas Diman malah kasihan ke kang Eman, terutama kepada keluarga yang di rumah, karena tidak diberi nafkah, ya dengan penuh rasa kemanusiaan Mas Diman memintaku untuk memberi bantuan makanan untuk Nyai Nenti, ya aku kemarin kirim sekarung beras, minyak goreng dan uang secukupnya buat biaya hidup seminggu, lumayanlah asal jangan kelaparan. Malah lebih jauh lagi Mas Diman rencananya, kalau Kang Eman ketangkep mau dimaafkan, malah mau diberi pekerjaan, karena Mas Diman berpikiran seandainya Kang Eman punya pekerjaan, Dia tidak akan nekat seperti itu. Mungkin orang lain beda lagi, seandainya Kang Eman ketangkep mungkin sudah babak belur dihajar dengan penuh amarah dan luapan emosi. Warga sudah diwanti-wanti oleh Mas Diman pada saat tugas ronda, tolong kalau Kang Eman ketangkap serahkan langsung ke kantor Polisi, jangan main hakim sendiri. Ke Pak Rt juga sudah diberitahu.
Selama Mas Diman sakit, berarti sudah dua kali lebaran aku enggak mudik, malah ibu dan bapakku yang ke sini menengok anak dan cucunya. Kangen katanya, apalagi dulu pernah tinggal di sini, aku lahir di sini, besar di sini, namun karena nenek di jogja tidak ada yang ngurus, akhirnya mereka pindah ke sana, rumah yang di sini dijual uangnya buat beli rumah di sana, karena tidak mungkin tinggal di rumah nenek yang sudah tidak nyaman untuk ditinggali, sekarang nenek sudah tiada, rumahnya juga sudah di jual.
__ADS_1
Mudah-mudahan Tahun Depan, kalau tidak ada aral melintang aku akan jadi berangkat menunaikan ibadah haji. Berarti aku harus sudah mempersiapkan fisik mental dan material. Untuk persiapan fisik, aku harus mengajak Mas Diman jalan kaki setiap pagi hari atau sore hari, karena ibadah haji itu memerlukan kekuatan fisik, seperti thawaf, Sa'i, wukuf di Arafah dan melempar jumroh di Mina. Untuk persiapan mental, Aku harus mengikuti manasik haji setiap pekan di kantor Kemenag. Ah setahun lagi masih lama, masih bisa ngumpulin uang buat beli oleh-oleh buat dibagikan ke saudara, teman dekat dan tetangga sekitar rumah. Mudah-mudahan ya Allah, semua itu bisa terlaksana dan bukan hanya angan-angan.
Bersambung
__ADS_1