
Walau masih ngantuk, karena semalam ada hal yang tidak menyenangkan, Surti tetap beraktivitas seperti biasa, menyiapkan sarapan buat Mas Diman, sedang Surti memilih sarapan nasi uduk, yang ia beli di warung bi Ifah, sambil titip pesan ke Mang Jana agar memantau keadaan rumahnya.
"Mang Jana, titip rumah ya, nanti kalo ada apa-apa telpon saya, " Ujar Surti.
"Baik Neng, nanti saya kontrol terus, kalo ada orang yang mencurigakan, Mang Jana amankan. " Jawab mang Jana.
Setelah sarapan Surti pun berangkat ke pasar untuk berjualan seperti biasa, dengan mengendarai sepeda motor matic kesayangannya.
Setiba di pasar Surti langsung membuka kiosnya, saat ini ia sendiri yang menunggu dagangannya.
Sebelum Mas Diman sakit, ia tidak pernah ikut melayani pembeli, waktu itu ada dua orang yang membantu, termasuk Mang Jana, ia pernah bekerja di toko.
Tokonya dulu besar dan berada di depan, grosir sembako, sayang sekali sekarang sudah dijual karena engga ke urus, lagian butuh uang buat mengobati Mas Diman.
Masih ingat ketika ia harus nunggu Mas Diman di Rumah sakit, kebayang bagaimana cape dan lelah, kurang tidur, kurang makan, pikiran engga tenang, anak di rumah engga ke urus, uang makin menipis, karena tidak ada pemasukan, sementara biaya rumah sakit tidak sedikit. Namun penyakit Mas Diman tak kunjung sembuh.
Akhirnya Mas Diman di rawat di rumah sampai sekarang,
Untuk membiayai keluarga terpaksa ia yang terjun ke pasar, dengan mengontrak kios kecil di belakang. Masih ada uang dasi hasil menjual toko, Lumayan lah ada pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.
Lamunan Surti buyar ketika ada dua orang pembeli yang minta dilayani
"Bu beli terigu 2 kilo, garam dapur 2 bungkus masako satu renteng !" Seru pembeli
"Saya Bu, kacang kedelai 3 kilo, gula merah 5 kilo, gula putih yang sekiloan 2 bungkus!" Pinta pembeli yang kedua.
"Apa aja tadi bu! " seru Surti pada pembeli pertama.
__ADS_1
"Terigu 2 kilo, garam dapur 2 bungkus sama masako satu renteng, "
"Oh iya," Jawab Surti sambil langsung mencari barang yang dimaksud.
"Ini bu barangnya, " Surti menyerahkan barang yang dibeli.
Begitulah keadaan Surti sekarang, ia sibuk berjualan di pasar melayani pembeli, kalau barang habis ia tinggal pesan ke grosir lewat telepon, nanti barangnya di kirim.
"Alhamdulillah hari ini banyak pembeli yang datang, " Gumamnya dalam hati.
Uang hasil jualan ia tabung sebagian, ia juga ingin sekali pergi haji.
Waktu Mas Diman masih sehat dan usahanya maju sama sekali tidak ada kepikiran ke sana.
"Mudah-mudahan ya Allah aku bisa berangkat ke tanah suci" Bisik Surti dalam hati.
"Kalo Mas Diman sehat bisa berangkat berdua, kalo masih Mas Diman masih sakit, biarlah aku yang berangkat sendiri, aku akan bersimpuh di depan Ka'bah dan berdoa, ya Allah sembuhkanlah suamiku, ya Allah sembuhkanlah suamiku, ya Allah sembuhkanlah suamiku" Bisiknya lagi dalam hati.
Untungnya tak ada orang yang melihatnya, karena terhalang etalase.
Tiba-tiba Rena datang, biasanya jam segini dia suka ngajak ngobrol.
"Hey, Sur belum beres-beres! " Seru Rena.
Surti yang tampak masih sedih cepat-cepat menyeka mata dan pipinya yang basah, supaya tak terlihat habis menangis.
"Belum Ren, masih nulis barang yang mau di pesan, " Jawab surti sembari tetap duduk ditempatnya.
__ADS_1
"Kenapa Sur, kok kayak habis nangis," Tanya Rena heran.
"Engga apa-apa Ren, ini sedih biasa, tiap hari emang suka ada rasa sedih."
"Mikirin Mas Diman ya " Tebak Rena.
"Ya iya mikirin siapa lagi Ren," Jawab Surti.
"Wah begitu cintanya dirimu pada Mas Diman, NGADIMAN WONGSO ATMOJO, lelaki yang gagah, ganteng, romantis, klimis, berkumis tipis, wah wah wah sampai-sampai kamu menangis, menangis dan menangis terus." Ucap Rena panjang lebar.
" Nggak ada bosannya kamu menangis, sur sur..... " Sambungnya.
Sementara Surti diam seribu bahasa, lagi males ngobrol sama si Rena. Dibiarkannya si Rena ngoceh nggak karuan.
"Eh Sur, kenapa diam aja, udah bosan ngobrol sama aku ya, eh aku kemaren ketemu sama si Nenden, mantan pacar suamimu, dia tanya ke aku, bagaimana Mas Diman kabarnya." Tutur Rena
"Ngapain sih si Nenden nanya-nanya suami orang," Jawab Rena ketus. Dengan hati kesal terpaksa ia ladeni obrolan Rena.
"Engga tahu tuh, mungkin ia masih memendam rasa sama Mas Diman," Jawab Rena sekenanya.
"Ah engga mungkin Ren, kan ia udah punya Mas Toni, ia juga engga kalah ganteng sama Mas Diman, malah Mas Toni sehat, segar-bugar, masih aktif berusaha, kalo Mas Diman kan sakit engga bisa ke mana-mana, engga bisa cari nafkah. Masa masih mau sama Mas Diman." Sanggah surti.
"Ha ha ha, kamu juga pernah naksir Mas Toni ya, sebelum dilamar Mas Diman, iya kan, iya kan," Ujar Rena sambil ketawa.
"Ah tahu dari mana kamu, aku naksir sama di Toni, ah engga tuh, sama sekali aku engga tertarik sama cowok Playboy kaya si Toni, malah dia yang ngejar-ngejar aku, minta aku jadi pacarnya, ya aku tolak lah, pacarnya udah banyak di mana-mana, termasuk kamu kan Rena, kamu juga pernah pacaran sama si Toni... Ha ha ha" Ujar Surti gantian yang ketawa.
"Iya sebentar aja" Jawab Rena kecut.
__ADS_1
"Iya, berarti kamu mantan si Toni, mantan Playboy, hahahaha... " Surti ketawa lagi dengan puasnya.
"Iya Sur, tapi tetep dia hatinya sama kamu sampai sekarang, " Ucap Rena.