Kesetiaan Surti

Kesetiaan Surti
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Malam hari sehabis sholat Isya, di warung bi Ifah ramai dikunjungi warga, semua warga Rt diundang untuk membuat jadwal Ronda, namun yang hadir tidak sampai setengahnya.


Tampak Pak Rt sedang berbincang-bincang dengan Mang Jana, selaku tuan rumah.


"Pak Rt, terimakasih ya atas kehadirannya, silahkan langsung aja dimulai,"ucap Mang Jana.


Pak Rt pun memulai berbicara, seluruh yang hadir antusias mendengarkan.


" Saudara-saudara wilayah kita sedang menghadapi masalah keamanan, setelah kejadian malam kemarin di rumah Pak Ngadiman, alias Pak Diman, semua warga tentu sudah tahu kejadiannya, kita sebagai warga merasa prihatin atas kejadian tersebut. Oleh karena itu, saya sebagai pimpinan di Rt sini, merasa bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun saya juga tidak bisa mengamankan wilayah sendirian, untuk itu dimohon kesadaran dari bapak-bapak untuk melakukan ronda malam, mulai malam ini juga. Apakah bapak-bapak setuju? " Tutur Pak Rt dengan panjang lebar.


" Setuju...... . . " jawab semua warga yang hadir.


"Oleh karena itu dimohon kesediaannya, meluangkan waktunya untuk mengamankan wilayah kita dimulai pukul 10 malam sampai jam 4.30 pagi, apakah Bapak-bapak bersedia!" tanya pak Rt


"Bersedia....... " hanya beberapa orang yang menjawab.


"Kok cuma beberapa orang aja yang bersedia, saya tanya lagi, apakah Bapak-bapak bersedia! " Pak Rt dengan nada agak tinggi dan mata agak melotot.


"Bersedia....... " akhirnya semua warga menjawab dengan terpaksa.


"Karena semua sudah setuju dan bersedia, coba saya minta tiga orang yang bersedia jaga ronda malam ini. " pinta Pak Rt.


Semua terdiam, tak ada satupun yang bersedia,


Pak Rt yang tadi ramah berubah jadi sangat marah melihat warganya tidak ada satupun yang bersedia untuk jaga malam. Dengan mata melotot, ia bentak warganya.


"Jadi buat apa datang ke sini kalau malam ini enggak siap, " Ujar pak Rt kesal.


"Di undi aja pak Rt, " celetuk salah seorang warga.


"Setuju......, diundi aja, " ujar warga yang lain.


Akhirnya Pak Rt memberi keputusan untuk mengundi siapa yang jaga pada malam itu,


"Saudara-saudara sekalian, karena tidak ada yang sanggup untuk jaga ronda malam ini, maka akan kita undi, bagaimana setuju? "


"Setujuuuuu...... " jawab semua warga yang hadir.


Akhirnya keluar nama tiga orang hasil undian malam ini, yaitu Rokim, Iran dan Sobir.


"Kepada Pak Rokim, Pak Iran dan Pak Sobir selamat bertugas, warga yang lain silahkan bubar, terimakasih atas kesediaanya, selamat malam, "ujar pak Rt sambil langsung menyalami warga satu persatu dan pulang.


" Hayu, ah kita pulang, "ujar seorang warga.


Akhirnya semuanya bubar, kecuali tiga orang yang bertugas jaga malam.

__ADS_1


Di rumah Mas Diman tampak, Surti dan Mas Diman sedang ngobrol.


" Mas, malam ini warga Rt kita lagi ngumpul di rumah Mang Jana. " ucap Surti.


"Iya Dik, tadi pagi sewaktu kamu di pasar, Mang Jana ke sini memberi tahu, kalau warga mau rempugan soal ronda malam." sahut Mas Diman.


"Mudah-mudahan malam ini aman Mas, malam kemarin aku takut sekali Mas, " Ujar Surti.


"Tenang aja Dik, kan udah ada yang jaga malam ini, mudah-mudahan tidak ada yang berani lagi mengganggu kita, kamu kasih makanan ya sama kopi, sama yang jaga malam ini. " pinta Mas Diman.


"Baik Mas, pesen aja ke bi Ifah sekalian tolong bikin pisang goreng, " ujar Surti.


"Ya udah nggak apa-apa, kamu telepon aja Mang Jana, jadi enggak usah keluar rumah, aku khawatir. " Saran Mas Diman.


Malam semakin larut, suasana hening, semua warga sudah tertidur pulas, tak terkecuali Surti dan Mas Diman, yang tidur satu kamar, biasanya Surti tidur di kamar Rizka.


Adapun Rokim, Iran dan Sobir sedang ngobrol di bangku warung bi Ifah, sengaja biar bisa memantau keadaan rumah Surti.


"Bapak-bapak ini lumayan ada goreng pisang sama kopi, silahkan di cicipi, pisangnya juga masih panas." Kata Mang Jana,


*Terimakasih Mang Jana, " Serempak mereka.


"Mang Jana, Mang Jana tahu enggak, kenapa ya tidak semua warga datang? "


"Enggak tahu Kang Rokim, mungkin cape habis kerja, kalau menurut kamu gimana?" kata Mang Jana balik bertanya.


"Mungkin ini dari perkataan Mang Jana tadi pagi, kalau bekas-bekas yang ada di pintu bisa jadi berupa golok atau samurai untuk mendongkrak pintu," Kata Kang Rokim.


"Perkataan itu yang mungkin jadi liar sehingga banyak warga yang ketakutan, " ungkap Iran.


"Tetangga saya juga bilang begitu, entah dari mana mulanya tuh desas-desus," cetus Sobir.


Malam makin larut, angin berhembus kencang, udara semakin dingin, dari jauh terdengar lolongan anjing, rasa takut pun mulai menghinggapi Rokim, Iran dan Sobir.


"Kang Rokim, jam berapa sekarang? " tanya Sobir ke Kang Rokim yang dari tadi mondar-mandir.


"Jam 2 Kang Sobir, kenapa Kang? " Rokim balik nanya.


"Saya jadi takut kang mendengar suara anjing, jangan-jangan Penjahatnya mulai beraksi." jawab Sobir.


"Ya, kita harus waspada kang, tahan kantuk, jangan sampai ketiduran." ujar Rokim.


Menjelang pagi sekitarnya jam 3, kantuk mulai menggelayuti mereka, Rokim yang tadi mondar-mandir sekarang sudah berada di dipan Selonjoran, sambil menyender ke warung bi Ifah.Sedangkan Sobir dan Iran berdempetan di bangku tak jauh dari Rokim.


Mereka semua terlihat begitu mengantuk.

__ADS_1


Disaat itulah tiba-tiba terdengar suara seseorang minta tolong dari kejauhan...


"Tolong............ Tolong.................... "


Untung Rokim masih terjaga, jadi masih bisa mendengar suara minta tolong, sedangkan kedua temannya sudah tertidur lelap.


Dengan cepat Rokim membangunkan Sobir dan Iran.


"Kang bangun, bangun, gawat nih, ada yang minta tolong, ayo cepat ke sana!" teriak Rokim sambil mengguncangkan tubuh Sobir dan Iran.


Sobir dan Iran kaget bukan kepalang, langsung mereka pun bangun.


"Ada apa, ada apa Kang Rokim? " tanya Sobir kaget.


"Ada suara minta tolong, dari arah sana, ayo cepat kita ke sana, " jawab Rokim sambil meraih pentungan yang dibawanya dari rumah.


"Aduh Kang, saya takut, bagaimana kalau penjahatnya bawa samurai,"


"Halah...tenang ada saya, sudah lama saya enggak berantem, aya cepat lari" ujar Rokim yang mantan preman pasar itu bersemangat.


Akhirnya mereka bertiga pun berlari ke arah datangnya suara, ternyata berasal dari warung Nyi Eha, janda muda satu anak.


"Tolong.... Tolong...... !"Suara Nyi Eha terdengar samar-samar.


" Ayo cepat...., Sobir, Iran, ke warung Nyi Eha , " teriak Rokim.


Mereka pun mempercepat larinya.


Sesampainya di warung Nyi Eha, tampak seorang laki-laki berpakaian serba hitam dan berperawakan sedang tengah menindih Nyi Eha, ia berusaha melucuti pakaian Nyi Eha, Namun dengan sekuat tenaga Nyi Eha melawan.


mendengar suara orang berlari ke arahnya, lelaki yang tampak menggunakan tutup kepala itu pun menghentikan aksinya.


Dengan secepat kilat ia sudah lari dan hilang tengah kegelapan, namun Rokim dengan cepat mengejar penjahat itu, namun tidak berhasil, karena kehilangan jejak. Ia pun kembali ke warung Nyi Eha.


"Bagaimana Kang Rokim, mana penjahatnya? " tanya Iran da Sobir.


"Heuuuu lain bantu ngejar atuh," ujar Rokim kesal.


"Kurang ajar sekali tuh bangsat, cepat sekali larinya, udah hampir kena tadi, " ujar Rokim kesal sambil memukulkan pentungan ke tanah.


"Maaf Kang Rokim saya tadi nolongin Nyi Eha. " ujar Iran dan Sobir.


Akhirnya ramai warga berdatangan ke rumah Nyi Eha. Mendengar ada keributan.


Rokim dan kedua temannya gagal menangkap penjahat, namun sudah berhasil menggagalkan aksi percobaan perkosaan yang dilakukan orang tak dikenal.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2