Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Tanda kehamilan


__ADS_3

"Maafkan aku RIS.. aku yang salah menyuruh dirimu pulang sendiri.." Wati masih terus merasa bersalah.. tangisnya pun tak terbendung lagi.. mereka makin erat berpelukan dalam tangis.


💖💖💖💖


Hari berlalu.. Wati masih merawat Rissa yang masih depresi.. mereka masih tinggal di rumah Herman..


"RIS.. ayo makan dulu"


Wati mengajak Rissa yang sedang melamun di dalam kamar.. sudah lebih dari 5 hari Rissa hanya mengurung diri di dalam kamar sambil melamun.. menatap dompet dari orang yang sudah merenggut kesuciannya.. ada sinar kebencian dari matanya setiap menatap dompet itu..


"Ini dompet pria.. punya siapa Ris?"


Wati meraih dompet dari tangan Rissa lalu membukanya.. terlihat didalam ada KTP SIM credits cards dan ATM juga sejumlah uang tunai yang tidak sedikit.. diambilnya KTP itu lalu di bacanya..


"Ini kan cowok yang.. ?"


"Sudahlah mbak.. nggak perlu di bahas lagi!" kata Rissa datar sambil mengambil KTP dari tangan Wati lalu di masukan dalam dompet itu..


"Tapi RIS.. disitu ada alamatnya.. kita bisa kesana dan minta tanggung jawabnya!" Wati mencoba membujuk Rissa.


"Nggak perlu mbak.. aku sudah tidak mau melihatnya lagi..!" kata Rissa pelan tapi tegas.


"Tapi RIS.."


"Jangan paksa aku mbak.. aku nggak mau ketemu cowok b******k itu lagi.."


"Kenapa RIS.. bagaimanapun dia harus bertanggung jawab.." Wati masih saja ngotot.


"Tolong mbak jangan paksa aku kesana.. aku sudah melarikan diri darinya.. biarkan begini saja.." Rissa kembali menangis..


"Tapi bagaimana kalau kamu hamil?" Wati begitu khawatir akan masa depan sahabatnya.


"Aku akan merawat bayi itu sendiri.. dari pada aku dijadikan budak nafsu cowok bejat itu.." ada kemarahan dari nada bicara Rissa..


"Maksud kamu apa?" Wati makin nggak mengerti..


"Mbak aku lari darinya.. karena dia tidak akan melepaskanku dan aku akan dijadikan pemuas nafsu bejatnya.. aku nggak mau mbak.." Rissa berkata hampir menangis mengingat kejadian tragis itu.


"Kalau begitu kita sekarang makan dulu.. dan kamu harus bangkit lagi.."

__ADS_1


Rissa mengangguk dan mengikuti Wati ke ruang makan.. meskipun tak nafsu tapi Rissa tetap memaksa untuk tetap makan.


💖💖💖💖


Perubahan Thomas sudah terlihat.. beberapa minggu ini dia sudah mulai belajar agama.. dan juga mempelajari masalah perusahaan.. niat mamanya untuk mengirimnya ke pesantren di urungkan.. sambil terus mencari keberadaan Rissa yang masih belum ketemu..


Thomas masih menyimpan pakaian Rissa yang tertinggal di mobilnya waktu itu.. yang setiap hari di pandangnya.. dan sengaja dia juga tidak memblokir ATM maupun kartu kredit yang ada di dompetnya yang diambil Rissa... tapi sampai saat ini belum ada laporan kartu itu terpakai..


Itu membuat dia yakin kalau gadis itu bukanlah gadis matre yang memanfaatkan kekayaan orang.. meskipun itu orang yang sudah menyakitinya.. entah sadar atau tidak di hatinya ada suatu rasa yang aneh setiap kali mengingat gadis itu..


"Aku kangen kamu.." gumamnya tanpa sadar sambil tersenyum sendiri..


Thomas mengambil baju Rissa lalu memeluknya.. dibawa baju itu tidur bersamanya hingga terlelap.


💖💖💖💖


Rissa sudah bangkit dari keterpurukannya.. dia sudah kembali bekerja meskipun tak seceria dulu..


Teman-temannya merasakan perubahan pada sikap Rissa yang jadi dingin tak seceria dulu.. termasuk Ilham yang merasakan Rissa semakin menghindar dari dirinya.. sekarang Rissa menutup diri dari siapapun selain Wati dan Herman yang selalu mengerti dirinya..


Rissa merasakan ada perubahan pada dirinya.. akhir-akhir ini dia selalu merasa menginginkan sesuatu dan harus ada.. Wati mulai curiga dengan tingkah Rissa yang tidak biasa..


"Mbak aku mau makan getuk hari ini.. kayak bikinan emak" kata Rissa sambil membayangkan makanan yang diinginkan..


"Pokoknya aku mau itu mbak.. siapa nanti yang belanja nitip singkong ya.." rengek Rissa membuat Wati makin penasaran dan heran..


Wati menyeret Rissa ke kamar mandi dekat dapur restoran..


"Mbak.. kenapa sih?"


"RIS.. bulan ini kamu sudah datang bulan belum?" tanya Wati pelan penuh rasa khawatir..


Rissa hanya menggeleng saja.. Wati terlihat makin cemas..


"Emang kenapa mbak.. ? apa aku.. hamil?" Rissa jadi ikut khawatir..


Melihat Wati tak berekspresi melihatnya Rissa sudah tahu jawabannya.. gadis itu terduduk lemas di lantai.. air mata kembali mengalir.. bagaimana kalau orang tahu dia hamil di luar nikah.. padahal di tempat ini teman-temannya tahu kalau dia belum menikah..


"Nanti sore kita periksa ya RIS?" Wati mencoba menenangkan Rissa yang terlihat shock.

__ADS_1


Rissa hanya mengangguk tak bersuara.. dihapusnya air mata di pipinya.. lalu dengan lunglai dia bangkit dan berjalan keluar kamar mandi.. Wati mengikuti langkah Rissa yang keluar restoran menuju kamarnya..


"mbak ijinkan aku ke mas Herman" katanya lirih tanpa menoleh Wati..


"Iya.. istirahatlah" Wati paham akan perasaan Rissa saat ini.


Rissa kembali menangis lagi di dalam kamar.. ada rasa kecewa, takut, dan malu didalam pikirannya.. dia harus hamil di luar nikah.. bagaimana kalau orang tuanya tahu.. bagaimana dia harus berbicara dengan Yoga masalah ini.. apa Yoga masih mencintainya dengan keadaan dirinya seperti ini.. apa Yoga mau menerima anaknya dari pria lain...


"Apa yang harus aku lakukan..? aku gugurkan saja anak ini!" gumam Rissa ditengah tangisnya..


Gadis itu mengambil tas dan jaket lalu pergi keluar.. dia mencari taksi.. dia mau cari klinik persalinan yang buka..


Rissa berhenti di depan klinik persalinan.. disana sudah ada banyak pasien yang antri.. kebanyakan datang dengan pasangan.. sedangkan dia hanya sendiri.. makin sakit dan pilu di hatinya.. makin mantap juga dia mau menggugurkan kandungannya..


Rissa duduk di tempat tunggu dengan terdiam.. pikirannya kacau. Disampingnya terlihat sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi..


" Mau periksa kehamilan dik?" tanya sang istri pada Rissa..


Rissa hanya mengangguk pelan tanpa senyuman.


"Cuma sendirian dik? suaminya mana?" tanya wanita itu lagi.. makin terasa sakit dihatinya.


Rissa hanya mampu mengangguk tak bisa mengeluarkan suara..


"Pasti suaminya sibuk banget.. nggak apa-apa nggak usah sedih.. berbahagialah dik kalian bisa punya anak.. lihat kami.. kami sudah menikah lebih dari 10 tahun tapi Tuhan belum memberikan kami anak.. kami merindukan kehadiran seorang anak sampai harus cek up terus.. " terlihat kesedihan di mata wanita itu..


Rissa hanya menatapnya prihatin.. tapi apakah dia harus merasa bahagia?


"Seandainya anak ini buah cintaku dengan suamiku pasti aku bahagia.. tapi anak ini adalah aib.. apa aku harus bahagia.. bahkan ayahnya dimana akupun tidak tahu" batin Rissa menangis pilu.


"Sabar Bu.. mungkin ibu harus lebih berusaha lebih keras lagi.. semoga sebentar lagi segera dikabulkan keinginan ibu" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Rissa.


"Makasih doanya dik.. jaga anaknya baik-baik.. dia titipan Tuhan, harta kita yang paling berharga sebagai seorang ibu" kata wanita itu dengan senyum


Kata-kata wanita itu sontak membuat hati Ida merasa ragu akan keputusan untuk menggugurkan bayi di rahimnya.. tapi jika dipertahankan bayi itu akan lahir tanpa ayah yang akan membuat dia malu.. Rissa jadi bingung sendiri.


Lama Rissa menunggu antrian hampir satu jam.. dan akhirnya namanya dipanggil juga.. dengan ragu Rissa masuk ke dalam ruang pemeriksaan.. disana terlihat dokter cantik dan juga asistennya.. Rissa di suruh berbaring di ranjang pasien.


"Dah periksa berapa kali" tanya dokter itu.

__ADS_1


"Baru kali ini dok.. karena saya sudah telat menstruasi dua minggu" jawab Rissa pelan dan ragu.


"Baiklah kita periksa dulu.. silahkan naik keranjang!" perintah dokter itu.


__ADS_2