
"Terus kamu mau kemana RIS?.. disini kamu tidak punya saudara dan teman selain kami! sebaiknya kamu tetap disini saja!" Herman berkata dengan tegas.
"Mas kehamilanku tidak bisa terus disembunyikan.. lambat laun semua akan tahu.. aku malu mas karena mereka tahu aku belum menikah dan juga aku tidak mau kalian kena imbasnya juga." Rissa menjelaskan keinginannya.
"Kita tidak masalah dengan semua itu.. kita akan membantu menjaga anak itu.. jadi kamu tidak perlu pergi dari sini" Wati mencoba membujuk Rissa.
"Kalian berdua memang terlalu baik padaku.. tapi keputusan aku sudah bulat.. aku ingin melamar kerja di daerah L di sebuah supermarket..aku akan ngekost di dekat tempat aku kerja.. disana aku tidak kenal siapapun jadi mereka tidak tahu kalau aku belum menikah.. dan aku bisa sedikit berbohong pada mereka.. jadi aku mohon ijinkan aku pergi dari sini mbak.. mas.." pinta Rissa begitu melas.
Herman dan Wati sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Rissa.. mereka juga tidak tega melihat wajah Rissa yang terlihat sendu..
"Kamu memang keras kepala! Di mana kamu akan melamar pekerjaan?" tanya Herman kemudian.
"Di supermarket A di daerah L.. mas"
"Sepertinya itu juga tempat temanku kerja.. biar nanti aku hubungi dia.. dan juga aku bantu cari tempat tinggal didekat sana.. biar aku dan Wati tahu di mana kamu tinggal." kata Herman membuat hati Rissa sedikit tenang..
"Makasih banyak mas.." Rissa merasa terharu mempunyai kedua orang yang begitu menyayangi dirinya.
"Kamu siapkan surat lamaran biar aku yang berikan pada temanku sekaligus aku bicara tentang keadaanmu.. "
"Sudah saya buat mas.. saya ambil dulu di kamar.. " Rissa beranjak meninggalkan Herman dan Wati yang masih merasa keberatan dengan keputusan Rissa.
"Mas.. apa disana akan aman buat Rissa? aku tak bisa menjaga dia mas.. aku khawatir sama dia mas?" wajah Wati penuh dengan kekhawatiran.
Herman paham akan kekhawatiran Wati yang berlebihan.. karena Wati yang membawa Rissa ke kota ini dan berjanji pada orangtuanya akan menjaga Rissa.. tapi dia merasa gagal.. Herman menarik kepala Wati ke bahunya..
"Kita berdua yang gagal menjaganya yank.. bukan kamu sendiri.. dia seperti adik bagiku.. tapi semua sudah terjadi.. mau bagaimana lagi.. mungkin disana dia bisa menyembunyikan kebenaran dirinya.. aku janji akan membantunya sebisa mungkin.. kamu jangan bersedih lagi yank.. ku pastikan dia aman di tempat temanku."
Herman menenangkan Wati dan menghapus air matanya..
__ADS_1
"Mas gimana kalau kita jodohkan Rissa dengan Ilham saja biar ada yang menjaganya? Ilham sudah lama naksir Rissa."
tiba-tiba Wati punya ide.
"Sayang.. ide kamu bagus juga.. apa salahnya kita coba menjodohkan Rissa dengan Ilham.. jadi anak itu saat lahir punya ayah." sahut Herman menyetujui saran Wati.
"Aku tidak mau...!" suara dari arah pintu mengejutkan sepasang kekasih yang sedang berunding yang sontak langsung menoleh kearah suara..
"Rissa.. tapi itu demi anakmu!" jelas Herman.
"Tidak mas.. aku tidak mau membuat orang lain masuk dalam penderitaanku.. aku tidak pantas bersama Ilham.. dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.. aku ingin hidup sendiri.. jadi jangan menambah masalahku" rintih Rissa dengan pilu.
"Ok.. tapi pikirkan semua dengan baik RIS.. jangan terburu buru mengambil keputusan" Wati dengan sabar menasehati Rissa.
"Aku sudah mantap mbak.. mas.. aku tetap mau pergi dari sini.. aku cuma butuh dukungan kalian.. kumohon."
💖💖💖💖
Di kediaman tuan Heru.. terlihat keluarga sedang kumpul diruang makan.. berbagai menu tersaji kan di atas meja makan.. sunyi.. tak ada pembicaraan selain suara sendok dan piring yang berdenting..
Itulah peraturan di keluarga itu.. saat makan tidak boleh ada pembicaraan.. karena jika arah pembicaraan membawa emosi akan merusak nafsu makan semuanya.
Setelah selesai mereka berpindah ke ruang keluarga.. bersantai sambil ngobrol tentang pengalaman hari itu.. Thomas yang dulunya cuman bisa keluyuran.. sekarang sudah lebih bisa diam dirumah bersama keluarga.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Thom?" kakek mulai bertanya pada Thomas.
"Alhamdulillah lancar kek?" jawab Thomas datar..
"Bagus.. sekarang kamu sudah bisa bertanggung jawab.. kakek bangga padamu!" senyum kakek merekah seraya menepuk bahu Thomas pelan.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. kami juga bangga kek." sahut papanya Thomas.. sang mama hanya tersenyum.
Thomas ikut tersenyum menanggapi kakeknya.
"Tapi aku masih bertanggung jawab dengan kelakuan burukku pada gadis itu kek.. aku belum bisa menemukannya.. tadi siang aku sempat melihatnya tapi aku terlambat mengejarnya." suara Thomas pelan mengisyaratkan ada penyesalan.
"Mungkin belum waktunya Tuhan mempertemukan kalian.. kita juga masih terus mencarinya.. gimana dengan surat2 di dompetmu?" kakek kembali menepuk bahu Thomas untuk menguatkan hati pria itu yang sudah berubah 180 derajat dari sebelumnya.
"Semua sudah diurus kek.. cuma kartu kreditnya aku biarkan saja.. biar jika dia punya kebutuhan bisa dipakai.. meskipun sampai sekarang belum ada laporan pengeluaran."kata Thomas datar.
"Gadis yang baik.. kakek tidak ragu lagi.." kata kakeknya dengan penuh kepastian.
"Kakek begitu yakin..? padahal belum pernah bertemu?" Thomas menatap kakeknya.
"Dari cerita ibumu waktu itu dan juga dilihat dari situasi saat ini.. jika dia gadis matre melihat kartu kreditmu pasti dah abis buat belanja.. lihat ktpmu pasti dia langsung menuntut kesini.. berusahalah dan berdoa agar segera kamu temukan gadis itu!" kakek memberikan semangat buat Thomas agar tidak putus asa.
"Mama setuju dengan kakek.. semangat nak.. kita juga bantu nyari kok." kata mama Betty lembut.
"Insyaallah kek.. kalau aku dan dia masih berjodoh pasti akan bertemu lagi.. makasih atas dukungan semuanya.." ujar Thomas bahagia.
Terasa ada bahagia di hati Thomas berada di tengah keluarga yang selalu mendukungnya.. ada penyesalan kenapa tidak dari dulu dia seperti itu.. kenapa harus menunggu dengan kedatangan gadis yang harus hancur hidupnya karena perbuatannya.. seandainya dari dulu dia mendengarkan orang tuanya pasti dia tidak salah jalan jadi anak berandalan.. salah dalam bergaul.
Sebenarnya Thomas anak yang baik .. tapi karena bergaul dengan teman-teman yang suka hura-hura akhirnya dia jadi anak pembangkang, semaunya sendiri, sering main di club malam.. meskipun Thomas tidak suka dekat dengan wanita karena 'alergi wanita'.. beda dengan teman-temannya yang suka berkencan dengan wanita-wanita penghibur.. bahkan kadang dia dianggap punya kelainan karena tidak suka wanita..
Para gadis yang semula tergila-gila dan mengejarnya karena kegantengan dan juga ke tajiranya harus rela mundur dan menjauh darinya.. ada juga yang ilfil dengan gosip kalau Thomas itu gay dan tidak suka wanita..
Tapi meskipun sekarang sudah berubah Thomas kadang masih juga ketemu dengan teman-temannya.. walau pun tidak seperti dulu lagi.. ada batasan saat bersama teman-temannya.. dan juga sudah berusaha menjauh dari minuman keras.
Sekarang Thomas lebih fokus dengan bisnis dan pencarian gadis yang sudah dirusak masa depannya.. dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.. yang membuat hatinya terasa damai. Terkadang saat waktu luang disempatkan berkunjung ke panti asuhan dan menjadi donatur disana.. ada rasa bahagia dan haru melihat anak-anak itu bahagia hanya dengan sedikit makanan dan mainan yang dibawanya. Berharap agar jika gadis itu hamil Tuhan selalu melindungi anaknya.
__ADS_1