Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Masih di rumah sakit.


__ADS_3

Thomas mengambil handphone dan menelfon Erik untuk mencarikan makanan dan minuman untuk dirinya dan Rissa..


"Erik kamu dimana?" tanya Thomas singkat.


"Saya di luar kamar bos!" jawab erik dari luar kamar.


"Carikan makanan dan minuman.. seefood juga!" pesan Thomas.


"Siap bos!"


Thomas menutup pembicaraan dengan Erik.. sekarang dia ganti menelfon sang mama.


"Assalamualaikum Thomas ada apa?"


"Waallaikum salam Ma.. aku dah ketemu Rissa.. tapi sekarang aku di rumah sakit."


"Di rumah sakit! kamu kenapa sayang?" tanya mamanya cemas.


"Rissa ma yang dirawat bukan Thomas." jawab Thomas datar.


"Rissa kenapa Thom? apa terjadi sesuatu pada kandungannya.. cucu mama?" makin cemas nyonya Betty di buatnya.


"Alhamdulillah sudah membaik ma.. tadi sempat kontraksi karena kecapean dan banyak pikiran.. sekarang Thomas disini menemani Rissa." jelas Thomas.


"Alhamdulillah.. jaga mantu dan cucu mama.. besuk mama akan ke sana!"


"Siap ma.. Thomas tidak akan pernah ninggalin Rissa.. udah dulu ma.. salam buat papa dan kakek.. assalamualaikum.."


"Waallaikum salam.."


Thomas menutup telfonnya.. dia perhatikan Rissa yang tidur membelakangi dirinya. Thomas bangkit dan menghampiri cewek itu.. ditengoknya Rissa tertidur.. mungkin lelah nangis tadi. Di selimuti tubuhnya dengan pelan agar tidak membangunkannya.


"Maafkan aku sayang.. aku sudah membuat kamu begitu menderita." bisik Thomas di dekat telinga Rissa yang terpejam.


Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar dan Erik masuk dengan menenteng plastik berisi pesanan Thomas.


"Ini bos pesanannya." kata Erik datar.


"Taruh di sana saja.. aku makan nanti bareng Rissa dia sedang tidur.. kamu makanlah dulu!"


ujar Thomas tanpa berpaling dari Rissa.


"Baik bos.. saya pamit cari makan dulu!" Erik pamit.


"Sekalian kamu ambilkan aku ganti.. dan Carikan Rissa baju buat ganti yang nyaman buat ibu hamil!"


"Siap bos!"


Erik berjalan keluar kamar. Kini tinggal mereka berdua lagi. Thomas membalikkan tubuh Rissa yang masih terlelap agar lebih nyaman. Di usapnya sisa air mata yang masih membasahi pipi Rissa. Diusapnya lembut perut Rissa dimana ada anaknya di dalam.


"Sayang jangan nakal ya.. kasian mamamu.. cukup sudah penderitaannya karena papa.. sekarang kita harus berusaha buat mamamu bahagia.. baik-baik kamu di situ sayang.. papa akan selalu menjagamu." gumam Thomas di perut Rissa lalu menciumnya.


Tiba-tiba dirasakannya ada gerakan pelan dari dalam perut Rissa. Lalu Thomas memastikan lagi.. tapi tidak ada lagi.


"Apa kamu sudah bisa merespon papa sayang?" gumam Thomas lembut dengan rasa haru.. ada senyum di bibirnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Rissa terbangun dan terkejut saat di lihatnya wajah Thomas ada di dekat perutnya.. segera dia bangkit dan mendorong Thomas agar menjauh darinya.


"Jangan pernah sentuh aku!" seru Rissa marah.


Untung Thomas sigap jadi tidak sampai terjatuh.


"Aku hanya bicara dengan anakku.. karena mamanya masih marah sama papa." ujar Thomas santai sambil melirik Rissa yang melotot mendengar ucapannya.


"ih.. papa..?" sahut Rissa sinis.


"Udah.. jangan marah terus, makan dulu ya sayang kasian anak kita laper!" kata Thomas dengan sabar sambil mengambil makanan.


"Papa suapin ya sayang?" Thomas menyodorkan makanan ke mulut Rissa.. tapi Rissa memalingkan mukanya.


"Ayolah makan dulu.. kasihan anak kita.. kamu mau buat anak kita kurang gizi?" ujar Thomas dengan lembut.


"Ini anakku.. anda mengerti? dan saya peringatkan pada anda jangan pernah menyentuh saya!" kata Rissa ketus.


"Iya itu anakmu tapi juga anakku.. mana bisa dia ada tanpa aku.. iya kan?" Thomas mencoba bercanda sambil mengedipkan sebelah matanya untuk mencairkan suasana.


"Kamu nggak usah sok imut gitu.. jijik aku!" Rissa makin kesal.


Tapi Thomas malah tersenyum.. dia tetap berusaha menggoda Rissa agar marahnya sedikit hilang.


"Jangan galak terus dong.. bikin papa makin gemes nih.. ayo makan dulu!" kembali Thomas menyodorkan tangannya ingin menyuapi Rissa.


"Nggak Sudi aku makan darimu.. jangan sok mesra!" sahut Rissa jengah dengan tingkah Thomas yang sok mesra dan sok akrab.


"Ya udah kalau kamu nggak mau makan.. aku juga nggak makan! masa iya anakku kelaparan aku enak-enak makan.. kasian bener anakku punya mama yang tega begitu nggak ngasih makan.. sayang besuk kalau sudah lahir ikut papa aja ya.. ikut mamamu ntar kelaparan!" bisik Thomas didekat perut Rissa.


"Enak aja.. dia anakku.. kamu nggak punya hak bawa dia dariku!"


"Siapa bilang aku nggak punya hak.. aku papanya.. mamanya akan buat dia laper terus!" Thomas sengaja mancing Rissa agar mau makan.


"Nggak bakalan! aku akan penuhi gizinya dengan baik!" ujar Rissa dengan nada menekan.


"Halah.. belum lahir aja sudah dibuat kelaparan apa lagi nanti.." cibir Thomas.


Emang Rissa sudah merasa lapar karena ini sudah lebih dari jam makan siang.


"Aku mau makan!" serunya.


Thomas tersenyum penuh kemenangan didalam hati. Lalu tangannya kembali menyodorkan makanan ke mulut Rissa.. kesekian kalinya Rissa menolak.


"Aku nggak Sudi kamu sentuh.. aku mau makan sendiri dan makanan yang belum kamu sentuh!" kata Rissa dengan ketus.


Thomas mengalah asalkan Rissa mau makan.. diambilnya plastik yang berisi makanan dan menyodorkan ke Rissa. Dan Rissa menerima itu dan segera membukanya..


"seefood.. aih... enaknya.." batin Rissa dan segera melahapnya.


Thomas yang memperhatikan Rissa makan dengan lahap tersenyum tipis.. dan dia pun ikut menyantap makanannya. Ada rasa bahagia yang merasuk di relung hatinya bisa makan bersama orang yang begitu berarti di hidupnya meskipun orang itu belum bisa menerima dia.. tapi Thomas tetap akan berjuang mendapatkan hati Rissa.


Di tempat lain.. Tari masih menyimpan ras penasaran dengan hubungan Rissa dan dan direktur.. karena dilihatnya Rissa begitu membenci sang direktur tapi sebaliknya sang direktur begitu bahagia ada di dekat Rissa..


"apa dia itu mantan suami Rissa ya?" batin Tari.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suara mengagetkan di belakangnya dan membuyarkan lamunannya.


"Maaf.. anda temannya nona Rissa?"


Sontak Tari menoleh dan di dapati ada sang asisten direktur didepannya..


"Gantengnya.. "gumam Tari melihat pemandangan indah di depan matanya.. Tari terpesona melihat wajah Erik sampai tak berkedip.


"Hallo.... !" seru Erik sambil melambaikan tangannya di depan mata Tari.


Tari tersadar dan gugup di buatnya..


"Eh.. ya.. ada apa?"


"Kamu temannya nona Rissa?" Erik mengulang pertanyaannya.


"Iya.. ada apa dengan Rissa?" tanya Tari khawatir.


"Ikut aku!" ujar Erik datar.


"Ih.. dingin banget sih ni cowok!" gerutu Tari tapi tetap mengikuti langkah Erik.


Tak dipungkiri banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan sirik.


"Lusi.. kok mereka berdua bisa dekat dengan para bos sih..?" tanya meta yang teman dekatnya Lusi.


"Pakai pelet kali.." jawab Lusi sinis.. dan di dengar oleh Tari yang kebetulan lewat didepannya.


Tapi karena sedang mengikuti Erik Tari urung untuk melabrak nenek lampir itu menurut dirinya. Dia hanya menoleh dan menatap tajam Lusi.


"Sirik Lo!" sentak Tari sambil berlalu.


Dikira akan diajak ke rumah sakit tapi ternyata diajak masuk ke butik.


"Tolong kamu carikan baju yang nyaman buat nona sekalian dalamannya!" perintah Erik datar.


"Kenapa mesti aku tuan.. kan anda juga bisa!" sahut Tari males dengan nada bicara Erik yang dingin.


"Ini perintah bos.. kalau kamu tidak mau bersiaplah mencari pekerjaan baru!" ujar Erik enteng.


Tari kesel dengan ucapan Erik.


"Anda mengancamku tuan!"


"Terserah kamu artikan.. tapi itu yang akan terjadi!" kata Erik dengan enteng.


"Ok.. gue carikan!" sahut Tari kesal.


"Bagus.. pesan bos carikan yang nyaman buat ibu hamil karena bos tidak mau anaknya kenapa-napa!"


"Iya.. iya.. cerewet amat sih Lo!" sentak Tari makin kesel sampai tak peduli dia bicara dengan atasannya.


Meskipun kesal dengan Erik tapi Tari tetap mencarikan baju yang nyaman buat sahabatnya tersayang. Setelah mendapatkan beberapa helai ada piyama ada daster dan lainnya gadis itu menaruhnya di meja kasir dan terlihat Erik sudah siap disana.. dan sengaja Tari mengambil banyak mumpung ada yang bayarin.


"Biar tahu rasa.. bakal habis banyak Lo!" gumam Tari sinis.

__ADS_1


__ADS_2