
Erik hanya memandang bosnya makan dengan lahap.. meskipun pikirannya mengatakan kalau bosnya akhir-akhir ini sangat aneh.. sering mual-mual dan kadang emosinya tidak stabil.. kadang baik, kadang ramah dan juga sering marah-marah.. Erik kadang bingung sendiri menghadapi bosnya akhir-akhir ini.. padahal biasanya bosnya itu orangnya ramah dan bijaksana meskipun terlihat dingin. Dia merasa emosi bosnya seperti orang lagi ngidam aja.
"Maaf bos.. kok saya lihat bos akhir-akhir ini kayak orang lagi ngidam ya?" kata Erik pelan yang membuat Thomas berhenti makan dan menatapnya.
"Apa kamu bilang barusan?" tanya Thomas menatap erik.
"Maaf bos.. tadi saya hanya asal bicara.." Erik merasa gugup di tatap seperti itu.
"Nggak.. coba ulangi lagi.. kalau tidak gajimu ku potong!" ancam Thomas.
"Ee itu.. tingkah bos akhir-akhir ini seperti orang ngidam.." jawab Erik pelan dengan was-was takut Thomas marah.
Tapi ternyata tidak.. pria di depannya itu malah diam dan terlihat berpikir.. ya pikiran Thomas jadi mengarah ke gadis yang pernah di perkosa dua bulan lalu..
"Apa gadis itu hamil dan aku lagi ngidam karena itu anakku?" pikiran Thomas jadi tak karuan.
"Kita balik!" kata Thomas sambil beranjak dari kursinya.
Erik makin merasa aneh melihat perubahan sikap bosnya itu yang berubah jadi diam dan dingin.. tapi tetap saja mengikutinya dengan setia.
💖💖💖💖
Rissa sudah beberapa hari mulai bekerja di supermarket itu. Ditempat baru dan suasana baru dengan identitas baru juga.. di situ dia mendapat teman yang ramah tapi ada juga yang dirimu karena kedekatannya dengan Fais.. ditempat itu setahu teman-temanya Rissa seorang janda muda.. tapi itu lebih baik dari pada diketahui hamil diluar nikah.
Kehamilan Rissa yang sudah menginjak usia 9 Minggu sudah sedikit terlihat. Perutnya sudah mulai membuncit. Fais yang sejak pertama menaruh hati padanya pun melihatkan perhatiannya.
"Sa.. nanti siang mau makan apa.. kamu temani aku makan?" kata Fais saat berkeliling dan nyamperin Rissa yang lagi menata minuman kaleng di rak.
"Makasih mas.. tapi kayaknya aku mau makan sama Tari saja" tolak Rissa halus agar Fais tidak tersinggung.
"Sekalian saja ajak Tari!" Fais masih saja mencoba membujuk Rissa.
"Tari.. nanti kamu ikut makan dengan kita!" seru Fais saat melihat Tari lewat.
Tari yang terkejut hanya menoleh dan mengangguk.. lalu menatap Rissa yang ingin menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Tari menolak.. tapi malah mengangguk.
"Tu kan Tari mau.. dah nggak usah ngebantah lagi.. aku tunggu di depan saat makan siang!" kata Fais tersenyum dan meninggalkan Rissa yang masih melihat Tari yang hanya mengedikan bahu.
__ADS_1
"Gimana sih Tar.. kok kamu malah mau?" Rissa seperti kecewa.
"La gue juga bingung lah Sa.. masa diajak makan sama duren kok nolak.. ya mau lah.. emang kenapa.. Lo takut gue ganggu?" tanya Tari menyelidik.
"Bukan takut kamu ganggu.. tapi aku mau menghindar dari mas Fais.. aku nggak enak sering ngrepoti dia" jelas Rissa yang sebenarnya ingin menghindari Fais yang selalu mendekati dirinya.
"Sa.. hampir semua jomblo di sini mengharap bisa deket sama tuh duren.. nah Lo di deketin malah menghindar.. aneh Lo?" ujar Tari heran.
"Tar.. kamu kan tahu statusku, apalagi aku lagi hamil.. aku nggak mau jadi beban mas Fais."
Tari merangkul bahu Rissa.
"Sa.. kalau Lo dan pak Fais berjodoh kenapa tidak di coba?"
"Aku masih mencintainya Tar.. aku belum bisa pindah ke lain hati" ucap Rissa sedih.
Tapi cinta itu masih untuk Yoga bukan untuk ayah anak yang dikandungnya.. meskipun Yoga marah dan mungkin sekarang sudah memutuskannya karena sejak dia pergi ke ibukota 4 bulan yang lalu sampai saat ini pacarnya itu tidak pernah menghubungi dia sama sekali.. apa lagi kalau tahu saat ini dia hamil oleh pria lain.. pasti makin benci Yoga pada dirinya. Tak terasa setetes bening mengalir di pipinya mengenang masa lalu bersama Yoga.
"Sudahlah Sa.. nggak usah mikirin dia lagi.. mending Lo mikirin masa depan dan anak diperut Lo itu." hibur Tari agar Rissa tidak sedih lagi.
"Kalau gitu nanti kita tetap pergi saja.. karena kamu tadi juga sudah mau.. nggak enak aku sama mas Fais!" ujar Rissa datar.. membuat Tari tersenyum.
Tari di tempat itu jadi teman dekat Rissa yang selalu mengerti keadaannya. Umur mereka juga imbang meskipun Tari terlihat agak tomboi tapi anaknya asyik.
Saat makan siang tiba.. sesuai janji Rissa dan Tari berjalan keluar dari supermarket di mall itu. Di depan pintu terlihat Fais sudah menunggu mereka.
"Kamu mau makan apa Sa?" kata Fais menyambut kedatangan dua wanita itu dengan tersenyum.
"Terserah mas Fais saja.. aku ngikut" jawab Rissa.
"Kalau gitu kita makan di restoran depan saja ya? ayo!" ajak Fais mulai melangkah diikuti kedua wanita itu.
Mereka duduk di kursi dekat jendela lalu memesan makanan dan minuman.. Rissa sebenarnya merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Fais.
"Sa besuk minggu kamu jatah libur kita jalan yuk?" ajak Fais sambil menatap Rissa.
"em.. kayaknya aku mau istirahat mas.. aku merasa capek." Rissa mencari alasan untuk menghindari Fais.
__ADS_1
"Aku temani kamu dirumah saja kalau gitu!" ujar Fais santai.
"Duh jangan mas.. kalau mas dirumah aku seharian ntar apa kata tetangga.. kita bukan muhrim mas nggak boleh.. apalagi statusku belum jelas.. jadi mohon pengertiannya."
Fais sudah tidak bisa membujuk Rissa lagi karena kata-kata Rissa memang benar. Tari hanya diam memperhatikan dua manusia didepannya serasa bagai obat nyamuk.. kalau bukan karena ingin menemani Rissa dia nggak mau ikut diantar dua manusia itu.
akhirnya pesanan datang dan mereka menikmati makanan masing-masing. setelah selesai mereka langsung kembali ke tempat kerjanya.
"Wah asyik banget yang di traktir sama bos!" sindir Lusi sinis begitu Rissa dan Tari masuk area supermarket.
"Terus napa.. Lo ngiri?" cerocos Tari kesel.
"Modus Lo! dasar ganjen!" tuding Lusi bikin Tari makin emosi.
"Heh.. siapa yang ganjen.. Lo ngiri karena nggak pernah dilirik sama pak Fais kan? makanya jadi cewek nggak usah sok genit bikin ilfil cowok tahu!" sentak Tari..
"Lo.. !" Lusi juga tambah marah dan menunjuk hidung Tari.. tapi Tari justru terlihat menantang.
"Sudahlah tar.. kita nggak usah ribut.!" lerai Rissa sambil menyeret tangan Tari ke dalam meninggalkan Lusi yang sirik melihat mereka dekat dengan Fais.. karena Lusi juga naksir sama Fais.
"Lo itu terlalu baik sama orang Sa.." ujar Tari masih kesal.
"Tar.. aku orang baru disini.. aku nggak mau cari musuh." jelas Rissa lembut dengan senyum untuk meluluhkan kemarahan Tari.
"Tapi kalau di hina ya jangan mau dong!" timpal Tari masih belum terima.
"Udah.. nggak usah marah lagi ntar cantiknya ilang.. mending kita lanjut kerja lagi" rayu Rissa berusaha membuat sahabatnya tersenyum.
"Iya.. iya..!" sahut Tari dengan bibir sedikit manyun bikin Rissa tertawa.
"Jangan manyun gitu dong bibirnya.. tapi senyum." goda Rissa sambil mencubit pipi Tari.
"Ih sakit Sa.. eh kok pak Fais perhatian banget sih sama Lo Sa?" tanya Tari penasaran lagi.
"Tar kan udah aku bilang.. dia itu temenya mas Herman.. pacarnya mbak Wati yang udah aku anggap kakak sendiri dan mas Herman nitipin aku sama mas Fais.. udah itu aja kok" jelas Rissa tegas.
"Tapi sepertinya dia itu naksir Lo deh.. dia mungkin mau jadi laki Lo.. hhaa..ha.." Tari gantian goda Rissa.
__ADS_1
Rissa hanya ikut tertawa kecil.. tapi dalam hatinya dia sudah tidak mau membuka hati lagi buat pria lagi.. sekarang yang terpenting fokus menjaga kesehatan dan anak dalam kandungannya.