
Fais menengok Rissa yang masih terbaring di ruang kesehatan. Tapi ragu untuk mendekatinya.. dia hanya memastikan kalau Rissa baik-baik saja.
"Tari.. kesini!" panggil Fais begitu melihat Tari lewat di depannya.
"Iya pak.. ada yang bisa saya bantu?" sapa Tari hormat.
"Carikan makanan dan berikan pada Rissa di ruang kesehatan!" ucap Fais sambil memberikan selembar uang merah. "sekalian beli buat kamu..!"
"Jadi Rissa di sana pak.. baik pak.. saya permisi.." Tari undur diri dan berjalan keluar dari mall..
Tari membuka pintu ruang kesehatan.. disana dilihatnya Rissa sedang berbaring membelakanginya. Sadar ada yang datang Rissa segera menoleh. Didapati sahabatnya datang menenteng plastik.
"Tar kok kamu tahu aku ada disini?" tanya Rissa pelan.
"Pak Fais yang ngasih tau.. ini makan dulu?" Tari menyodorkan sebungkus makanan pada Rissa.
"Aku nggak laper Tar!" tolak Rissa pelan.
"Sa Lo emang nggak laper.. tapi anak Lo butuh gizi cukup.. kasian dia didalam kelaparan karena ibunya kurang ngasih makan.. Lo mau anak Lo kurus kering?" gurau Tari.
Dengan terpaksa Rissa menerima bungkusan itu dan mulai memakannya. Tari juga membuka bagiannya. Mereka makan bersama di ruang kesehatan tanpa pembicaraan. Tari tahu sahabatnya itu sedang sedih karena terlihat matanya yang sembab.. tapi dia juga nggak mau merusak selera makan Rissa.. dia biarkan Rissa menghabiskan makanannya.
💖💖💖💖
Dua hari berlalu Rissa merasa aman karena wanita itu tidak lagi mencarinya. Mungkin dia merasa bersalah karena itu membiarkan Rissa tenteram di tempat itu.
Rissa berangkat kerja dengan setengah hati. Tak ada semangat terlihat dari wajah cantiknya. Dilihatnya di ruang loker sahabatnya juga baru datang.
"Pagi bebeb Rissa.." sapa Tari genit sambil tersenyum.
"Pagi juga Tari sayang." balas Rissa datar.
"Lho kok pagi-pagi melempem gitu .. yang semangat dong!" seru Tari.
"Lagi males aku tar.. bawaan orok kali.." kata Rissa lemes.
"Hari ini kita kedatangan direktur baru lho Sa.. katanya masih muda dan ganteng..!" seru Tari bersemangat.
"Kamu seneng banget kayaknya..?"
"Siapa tahu jodoh.. ha..ha..hhaaa.." Tari tertawa dan membuat Rissa jadi tersenyum.
"Amin.. semoga kalau jodoh didekatkan.." doa Rissa.
Mereka mulai bekerja merapikan dan membersihkan tak dan produk-produk dalam supermarket. Lalu terdengar pengumuman kalau seluruh karyawan disuruh berbaris di lobi mall untuk menyambut direktur yang baru karena sebentar lagi akan sampai.
__ADS_1
"Ayo Sa.. kita keluar.. gue penasaran sama direktur baru itu!" ajak Tari.
"Kamu aja deh tar.. aku lagi males!" tolak Rissa.
"Ya udah.. Lo disini aja.. gue keluar dulu!" ujar Tari sambil berjalan keluar area supermarket bersama karyawan lainnya.
Rissa melanjutkan kesibukannya tanpa memperdulikan karyawan yang lain yang begitu antusias menyambut direktur yang baru. Mereka pada penasaran dengan wajah direktur baru itu yang katanya ganteng.
Diluar para karyawan dari mall itu berjajar rapi untuk menyambut direktur mereka yang baru. Sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu masuk mall itu.. lalu keluarlah seorang pria dengan pakaian yang rapi dan elegan dengan tampilan berwibawa dan cool pasti. Pria itu berjalan dengan gagahnya memasuki mall itu. Dibelakangnya sang asisten dengan setia mengikuti setiap langkahnya.
"Selamat datang tuan Thomas dan tuan Erik!." sapa Fais menyambut kedatangan atasannya yang baru.
Thomas menyambut uluran tangan Fais.
"Terimakasih pak Fais.. semoga kita bisa bekerjasama mengelola mall ini." ucap Thomas datar.
Bisik-bisik para karyawan wanita mengagumi tampilan direkturnya yang baru.. sang asisten juga tidak kalah coolnya. Tapi sayang tidak ada senyum di wajah mereka.
"Mari saya antar keliling melihat suasana tempat ini tuan!" kata Fais hormat.
Mereka berjalan keliling dan melihat setiap sudut dari mall itu. Para karyawan kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Tari mencari keberadaan Rissa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Sa.. ternyata direktur dan asistennya itu ganteng banget.. gue juga mau dapet salah satu dari mereka.." ujar Tari berangan.
"Biarin! gue rela jatuh asal bisa bersama dengan salah satu diantara mereka!" sahut Tari antusias.
"Terserah deh!" Rissa hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah sahabatnya jadi bucin.
Sementara Thomas dan Erik masih berkeliling di kawal oleh Fais yang menjelaskan setiap sudut tempat itu. Dan akhirnya mereka sampai di area supermarket. Para pegawai terutama ceweknya pada antusias mencari perhatian dari direktur dan asistennya yang ganteng. Tak terkecuali Tari yang langsung bersiap menyambut kedatangan mereka. Tapi dilihatnya Rissa cuek dan masih aja sibuk dengan pekerjaannya.
"Sa.. mereka datang kesini!" ujar Tari.
"Ya biarin aja.. ini tempat mereka!" sahut Rissa cuek.. sambil berdiri menuju gudang memasukkan kardus yang sudah kosong.
Fais masih dengan setia menerangkan setiap sudut di bagian supermarket itu. Thomas hanya mengikuti saja.. aslinya dengan risih yang ditahannya melihat gerak-gerik para wanita yang terlihat genit dengan bau parfumnya.. yang membuatnya menahan mual.
"Sebelah sana gudang tuan.. mari kita ke sana!" ajak Fais.
Thomas dan Erik hanya mengikuti langkah Fais masuk ke dalam gudang.
"Disini stok produk yang dijual di supermarket tuan."
Saat didalam Fais melihat Rissa sedang menata kardus yang sudah kosong.. sejak tadi dia tidak melihat Rissa ikut menyambut kedatangan direktur barunya.
"Rissa kemari sebentar!" panggil Fais bermaksud mengenalkan bos barunya.
__ADS_1
Rissa menoleh dan mengangguk.. dilihatnya Fais bersama dua orang pria yang berpakaian rapi.. tapi tidak melihat wajahnya. Rissa berjalan mendekati mereka.
"Sa.. ini direktur kita yang baru, kamu tadi kemana?" kata Fais.
"Saya...!" belum sempat bicara mata Rissa terbelalak begitu sang direktur menoleh kearahnya.. terkejut sampai dia melangkah mundur.. bibirnya bergetar.
Begitu juga Thomas betapa terkejutnya melihat gadis yang selama ini di carinya ada di depan matanya.. tanpa sadar dia langsung menghampiri dan memeluk Rissa didepan Fais dan Erik hingga mereka berdua pun kaget dibuatnya.Dan Fais merasa cemburu melihat semua itu.. tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Lepaskan!" teriak Rissa menangis..memberontak berusaha melepaskan pelukan Thomas.. tapi sia-sia..
"Aku mencari kamu kemana-mana selama ini.. akhirnya ketemu juga.. Alhamdulillah."
Thomas makin mempererat pelukannya.. tak terasa air mata bahagia menetes dari seorang Thomas yang dulu angkuh, kasar, dan sok preman..
"Lepaskan aku!!" Rissa masih saja menangis dan memberontak..
"Biarkan aku memelukmu.. aku kangen sama kamu!" ucap Thomas lembut.
Tapi tidak dengan Rissa.. kemarahan yang selama ini tersimpan dihati.. masih tetap ada. Rissa merasa jijik dipeluk cowok bre***ek yang sudah merampas semua kebahagiaannya.
"Dasar ba****an!! lepaskan!!" kata Rissa hampir tidak terdengar tertutup suara tangisnya.
"Aku tahu kamu marah dan sangat benci padaku.. tapi tolong.. ijinkan aku mempertanggung jawabkan perbuatanku.. ijinkan aku menebus semua kesalahanku." pinta Thomas tulus.
Tapi Rissa yang masih dikuasai kemarahan tidak menanggapi ucapan Thomas.. yang dipikirkan hanya ingin terlepas dari pelukan pria itu dan segera berlari jauh dari tempat itu. Karena Thomas tidak segera melepaskan Rissa akhirnya nekat menggigit bahu Thomas.. tapi pria itu tetap tidak bergeming meskipun menahan sakit dari gigitan Rissa.
"Gigitlah sepuasmu.. sakiti aku jika itu bisa meredakan amarahmu.. aku ikhlas menerimanya.. tapi aku tidak akan pernah lagi melepaskan mu sayang..!" ucap Thomas dengan pelan.
Kedua orang yang menyaksikan adegan itu hanya terpaku penuh dengan pertanyaan di fikiran mereka masing-masing.
"Sayang! jangan pernah kamu panggil aku dengan mulut kotormu itu.. aku nggak Sudi!" ujar Rissa tegas.
Tiba-tiba perut Rissa terasa melilit dan sakit sekali..
"Aduuhh.. ah.. sakit!" seru Rissa memegangi perutnya.. sontak Thomas melepaskan pelukannya.. dan cemas melihat Rissa yang kesakitan.
"Mana yang sakit sayang.. !" Thomas ikut meraba perut Rissa yang sudah buncit..
"Sakit.. hiks.. hiks.." Rissa sudah tidak kuat menahan sakitnya.
Segera Thomas membopong Rissa keluar gudang.
"Erik siapkan mobil kita ke rumah sakit!" seru Thomas.
"Siap bos!"
__ADS_1