
"Ayo makan dulu!" tawar nyonya Betty "Oh iya.. nama kamu siapa nak?"
"Terimakasih nyonya.. saya Rissa..." sahut Rissa sambil meraih minuman di hadapannya.
"Maaf boleh saya tahu nyonya ini siapa?"
"Begini nak.. tiga bulan yang lalu kamu pernah menolong seorang nenek tua yang hampir ketabrak dan dimaki-maki pemilik mobil.. masih ingatkan?" tanya wanita itu pasti.
Rissa mengingat kejadian itu lagi dan membuat dia jadi marah dalam hati.. karena gara-gara kejadian itu masa depannya hancur dan sekarang harus menanggung beban kehamilannya seorang diri..
"Ya tapi maaf saya tidak ingin mengingat kejadian itu.. tapi bagaimana anda bisa tahu?" Rissa merasa penasaran.
"Nak sebelumnya saya minta maaf dan tolong jangan marah.. sebenarnya nenek itu saya sendiri."
Rissa menatap wajah wanita itu makin tidak mengerti.
"Begini nak.. sebenarnya waktu itu saya mau menyelidiki sifat putraku di luar rumah yang saya dengar jadi urakan lalu saya menyamar jadi nenek-nenek dan benar dia bersikap kasar dan kurang ajar.." jelas wanita itu.
Sontak Rissa terkejut dan tangannya mengepal menahan marah.
"Jadi cowok itu anak anda?" suara Rissa bergetar dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Benar nak.. dia anakku." wanita itu mengakui.
"Berarti anda tahu apa yang anak anda telah lakukan pada saya?" tanya Rissa pelan dan bergetar menahan tangis.
"Ya nak.. mama tahu semua.. Thomas memang salah sudah.."
"Cukup nyonya anda tidak perlu menjelaskan.." Rissa beranjak dan melangkah..
"Tunggu dulu nak.. kita belum selesai bicara!" seru nyonya Betty.
Rissa berhenti dan membalikkan badannya.
"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan!" sahut Rissa dengan dingin.
"Semua harus dibicarakan dengan baik nak!" ucap suara bariton dari arah belakang Rissa. Ternyata nyonya Betty mengabari suaminya kalau dia bertemu Rissa dan menunggu di kafe.
Rissa berbalik arah dan melihat seorang pria separuh baya dengan pakaian rapi dan wajah itu mirip dengan cowok ba***an yang sudah merampas kehormatannya.
"Kita duduk dulu nak" pria itu merangkul Rissa lembut dan mendudukkan kembali di kursi semula.
Wanita yang mengaku ibunya cowok itu pindah di samping Rissa.. dan pria itu duduk di depannya. Dengan lembut wanita itu meraih tangan Rissa dan menggenggamnya erat. Rissa hanya diam bibirnya bergetar menahan tangis amarahnya.. matanya sudah basah.
"Nak dengarkan penjelasan kami dulu.. mama tahu kamu pasti marah dan sakit.. tapi begitu juga dengan anak kami.. setelah dia berbuat salah padamu dia langsung bercerita dengan kami sekeluarga.. dia benar-benar menyesal melakukan hal keji itu padamu nak.. dia putus asa mencari-cari kamu setiap hari.. tiap malam dia tidur dengan memeluk baju kamu dan kadang terlihat dia menangis.. kami semua mencari kamu sayang.. dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu." Nyonya Betty bercerita juga dengan meneteskan air mata.
__ADS_1
Tapi Rissa yang masih merasakan sakit yang amat sangat belum bisa menerima alasan apapun. Dia masih diam dalam marahnya.. tak bisa ditahan lagi disudut matanya terasa hangat meluncur air bening.
"Tolong maafkan anak kami nak dan biarkan dia bertanggung jawab dengan anaknya." lanjut wanita itu.
Rissa menarik tangannya dari genggaman wanita itu.
"Maaf nyonya.. ini anak saya dan tidak mudah untuk melupakan perbuatan keji anak anda yang sudah menghancurkan kebahagiaan saya.. apa bisa dia mengembalikan apa yang sudah dia rampas dari saya..? apa bisa dia mengembalikan saya pada kekasih saya? karena dia saya jadi terpisah dengan orang yang saya cintai.. dan hancur sudah mimpi pernikahan kami!! jadi maaf.. saya permisi!" Rissa bangun dan berlari meninggalkan kedua orang yang mencoba menahannya.
"Sudahlah ma.. biarkan dia tenang dulu.. yang penting kita tahu dia ada disini.. biar papa menyuruh orang untuk mengawasi gadis itu."
Tuan Heru menahan istrinya yang akan menyusul Rissa dan merangkul istrinya yang sudah menangis.
"Tapi pa.. siapa yang menjaganya disini.. mama ingin membawanya pulang."
"Biar Thomas yang membawa pulang gadis itu.. besuk papa akan memindahkan Thomas ke sini."
"Iya pa.."
Akhirnya nyonya Betty bisa tenang juga mendengar keputusan sang suami. Dan segera tuan Heru menyuruh orang mengawasi dan menjaga Rissa sampai Thomas pindah ke tempat itu.
Rissa yang marah dan kecewa berlari sambil menahan tangis.. dia masuk ke kamar mandi.. disana dia tumpahkan tangisnya yang dia tahan dari tadi.. mengingat kejadian itu masih memilukan hatinya.
"Sayang kamu hanya punya mama.. " katanya dalam tangis sambil meraba perutnya.
Sejam sudah Rissa meninggalkan kafe dan menangis di kamar mandi.
"Tok.. tok..tok..!"
"Masuk..!" kata tuan Heru.
Fais masuk dengan hormat pada atasannya itu.
"Maaf tuan ada apa memanggil saya?"
"Begini pak Fais.. besuk kantor ini ada yang akan menempati.. anak saya akan mengelola tempat ini.. jadi tolong dipersiapkan semua! mungkin lusa dia datang ke sini."
"Baik tuan pasti semua akan saya siapkan." jawab Fais hormat.
"Siapkan ruangan satu lagi untuk asistennya.. karena dia akan pindah bersama asistennya!"
"Baik tuan.. kalau sudah tidak ada keperluan lagi saya permisi.."
Fais mohon diri dan keluar dari kantor tuan Heru.
Fais pergi ke area supermarket dan mencari keberadaan Rissa yang seharian tidak dilihatnya. Pria itu berkeliling dalam supermarket tapi tidak menemukannya. Dilihatnya Tari sedang menata produk di rak.. bergegas dia mendekati gadis itu.
__ADS_1
"Tar.. dimana Rissa kok nggak kelihatan?" tanya Fais begitu di dekat Tari.
"Rissa tadi di ajak pergi seorang wanita.. sepertinya itu mamanya deh pak.. soalnya tadi mereka berpelukan lama.. sampai sekarang belum kembali." sahut Tari menjelaskan.
"Ya udah kalau begitu.. makasih."
Fais meninggalkan Tari yang masih meneruskan pekerjaannya.. dia juga jadi penasaran dengan wanita yang pergi bersama Rissa..
"Bos mencari Rissa ya?"
suara itu menghentikan langkah Fais dan menoleh ke sumber suara.. ternyata Lusi yang menyapanya.
"Kamu tahu kemana Rissa?" tanya balik Fais.
"Nggak tahu bos.. yang jelas dia pergi dengan nyonya pemilik mall ini." jawab Lusi datar.
"Maksud kamu dia pergi dengan nyonya Betty?" tanya Fais nggak percaya.
"Ya gitu deh bos." jawab Lusi dengan senyum menyeringai.
Fais berlalu meninggalkan Lusi yang masih ingin lama-lama bicara dengan dirinya. Lusi jadi kesal ditinggal Fais begitu saja. Fais terus berkeliling mencari Rissa.. dia merasa cemas takut cewek itu membuat kesalahan yang bisa membuat marah yang punya tempat itu. Karena baru saja dia melihat nyonya Betty seperti habis menangis. Hpnya di hubungi tidak diangkat menambah kekhawatiran di hatinya.
"Kamu kemana Sa..?" batin Fais sambil terus berjalan.
Saat melewati toilet umum Fais melihat Rissa keluar dari sana.. segera dia berlari menghampiri Rissa.
"Sa.. kemana saja sih kamu.. aku mencari dari tadi?" serunya begitu sampai di dekat Rissa .
"Anu mas.. aku dari toilet" jawab Rissa gugup.
"Kamu habis nangis Sa?" tanya Fais meneliti wajah Rissa yang terlihat sembab.
"oh.. ini tadi cuma kelilipan kok.. terus aku kucek." Rissa berbohong.
"Kamu bohong kan? aku tahu!" Fais masih menyelidik kearahnya.
"Mas aku nggak enak badan.. aku mau ijin ke ruang kesehatan.."
"Aku antar ya?"
"Nggak usah mas.. aku pengin sendiri dulu.. permisi.."
Rissa melangkah meninggalkan Fais yang masih penuh dengan tanda tanya di pikirannya. Tapi Fais tetap memberikan ruang pada Rissa untuk menyendiri.. apa lagi dia tahu saat ini emosi Rissa tidak stabil karena faktor kehamilan yang baru menginjak bulan ketiga.
Rissa membaringkan tubuhnya di ruang kesehatan.. pikirannya kalut dan hatinya bercampur antara marah dan sedih jadi satu.
__ADS_1
"Kenapa aku harus ingat masalah itu lagi? aku sudah bahagia di sini tapi kenapa mereka harus mengusik diriku lagi.. kenapa?" ratap Rissa dalam hatinya.
Tak terasa air matanya kembali mengalir lagi di ujung matanya.. terasa sesak di dalam dadanya. Kalau tidak sadar ada di tempat kerjanya pasti Rissa sudah berteriak agar hatinya lega.