
Rissa melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall yang begitu ramai pengunjung. Dari arah lawan terlihat Fais dan sekertarisnya berjalan menuju pintu keluar. Fais memanggil Rissa begitu melihatnya.
"Sa!"
Rissa menoleh kearah suara, dilihatnya Fais berjalan kearahnya.
"Mas Fais.. maaf aku dah bolos beberapa hari." itu kata pertama begitu Fais ada di depannya Fais hanya tersenyum.
"Jangan pikirkan itu.. sekarang bagaimana kesehatan mu?" Fais terlihat sedikit khawatir karena bagaimanapun Rissa masih ada di hatinya meskipun sekarang ayah dari anaknya sudah ada di sampingnya dan itu adalah atasannya sendiri.
"Alhamdulillah.. saya sudah baikan. Mas Fais mau kemana?" tanya Rissa penasaran karena Fais bersama sekertarisnya.
"Mau bertemu klien.. kemarin tuan Thomas sudah menyerahkan semua padaku. Oh ya sekarang dia di mana?"
"Thomas tidur dan saya tinggal kesini!" kata Rissa datar.
"Oh.. kalau gitu aku jalan dulu Sa?" pamit Fais sambil menelan kekecewaan mengetahui begitu dekatnya Rissa dengan Thomas.
Rissa hanya tersenyum mengangguk sambil memandangi punggung Fais yang semakin menjauh. Rissa kembali melangkahkan kakinya ke area supermarket. Matanya menyapu semua sudut mencari Tari. Dia juga merasakan pandangan semua rekan kerjanya berbeda dari biasanya. Rissa jadi merasa canggung dengan sikap dan tatapan mereka yang aneh. Tapi pandangan Rissa terus menyapu area supermarket mencari keberadaan Tari sahabatnya, tapi tak kunjung ketemu.
"Mbak Lusi.. maaf tahu di mana Tari?" Rissa bertanya begitu melihat Lusi.
"Maaf nggak tahu!" jawab Lusi singkat tapi tidak seketus biasanya meskipun masih dengan tatapan tidak suka.
Rissa nggak mau berlama-lama bersama Lusi takut akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Padahal Lusi sebenarnya merasa sedikit canggung dan takut setelah tahu kalau Rissa adalah kekasih dari pemilik mall itu. Karena sebelumnya Lusi selalu bersikap kasar dan juga sering menindas Rissa.
Rissa masih terus mencari sahabatnya, tapi tak kunjung ketemu sampai dia merasa kelelahan dan sedikit nyeri di perutnya. Rasanya tubuhnya terasa letih dan keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya. Lututnya mulai terasa lemas dan tak mampu lagi menahan berat tubuhnya. Dan akhirnya tumbang.. untung saja ada tangan kekar yang menangkapnya dengan sigap. Ya.. Thomas sudah ada di belakangnya. Saat matanya terbuka Thomas mencari keberadaan Rissa dan tidak menemukannya di rumah dan benar dugaannya kalau Rissa pasti berada di mall.
"Kamu itu keras kepala.. di suruh istirahat malah keluar.. lihat akibatnya!" geram Thomas dengan wajah kesalnya dan langsung mengangkat tubuh Rissa dalam gendongannya.
"Aku bosan di rumah!" kata Rissa yang pasrah dalam gendongan karena merasa tubuhnya begitu lemas dan nyeri di perutnya. Thomas yang terlihat begitu marah tapi karena melihat wajah Rissa yang pucat jadi tak tega mau marah terus.
"Kalau sudah begini baru nurut.. hufff" gerutu Thomas membawa pulang Rissa dalam gendongannya yang tak peduli dengan pandangan orang yang melihat mereka.
Tiba di rumah ternyata pesanan Thomas sudah tiba. Erik sang asisten sudah mengisi rumah Rissa dengan perabotan mewah dan ternyata Tari ikut dengannya.
"Rissa kenapa tuan?" tanya Tari khawatir begitu melihat sahabatnya digendong Thomas.
"Tanya sendiri sama orangnya! dasar keras kepala!" Thomas masih menggerutu sambil membawa Rissa ke kamar yang di ikuti Tari di belakangnya.
__ADS_1
"Ndak usah sok perhatian gitu deh!" Rissa kesal di marahi Thomas terus.
"Aku cuma nggak mau terjadi apa-apa dengan kalian berdua.. anak dan calon istriku, apa itu salah!" seru Thomas ketus membuat Rissa langsung terdiam. Dan Thomas langsung keluar kamar dengan kesalnya.
"Duh sa.. wajah Lo pucet banget!" kata Tari begitu Rissa sudah berbaring di tempat tidurnya yang baru.
"Aku tadi nyari kamu Tar. kamu kemana?" tanya Rissa lemah.
"Gue di culik sama si kulkas itu! nih nyari perabotan sama nyari pemilik rumah ini. udah istirahatlah.. Lo harus memikirkan anak lo jangan ego Lo! beruntung banget Lo di perhatikan tuan Thomas segitunya.. seharusnya Lo bersyukur dan belajarlah menghargai dia!"
"Iya iya aku akan berusaha!" jawab Rissa datar.
"Tidurlah, gue keluar dulu!"
Diluar Thomas duduk dengan Erik memeriksa laporan di laptop.
"Bagaimana laporan hari ini Rik.. apa ada peningkatan?" tanya Thomas datar.
"Untuk pemasukan sudah ada peningkatan, sedangkan kerjasama dengan perusahaan Perindo sekarang sedang ditangani oleh tuan Fais bos." kata Erik tak kalah dingin.
"Baiklah tapi tetap harus kamu pantau terus!" perintah Thomas.
Terlihat Tari keluar dari dalam bermaksud akan kembali ke tempat kerjanya. Masih menatap sebel sama Erik yang memaksanya pergi ikut dia tadi. Sedangkan Erik hanya mbalas dengan pandangan dingin tanpa expresi.
"Maaf tuan saya permisi dulu saya mau kembali kerja." pamit Tari hormat.
"Nama kamu siapa?" tanya Thomas tanpa menoleh dari layar laptop.
"Tari tuan."
"Baiklah Tari mulai hari ini kami aku pindahkan tugas jadi asisten pribadi Rissa dan gajimu aku naikkan 3x lipat!" kata Thomas datar.
"Apa.. !" Tari kaget dengan tawaran gaji yang begitu besar bagi dirinya.
"Tugas kamu menemani dan mengurus keperluan Rissa sepanjang hari sebelum aku pulang kerja karena kulihat dia cocok sama kamu.. nanti Erik yang akan mengurus semuanya jadi kamu tidak perlu kembali ke mall lagi!"
"Baik tuan.. terimakasih atas kepercayaan anda." Tari merasa senang bisa mendapatkan gaji yang lumayan besar.
"Kuharap kamu bisa menjaga anak dan istriku! dan 2 hari lagi kamu juga ikut kembali ke rumahku kami akan segera menikah." tambah Thomas.
__ADS_1
"Siap tuan!" seru Tari bersemangat sambil mengangkat tangannya ke dahi.
Malam pun tiba.. setelah makan malam Rissa segera masuk ke kamarnya, dia masih merasa canggung berdua dengan Thomas dalam satu ruangan. Setelah menyelesaikan ritual malam di kamar mandi.. segera direbahkan tubuhnya di ranjang.
Saat hendak memejamkan mata di rasa ranjang bergerak dan segera membuka matanya.
"Anda mau apa di sini!" seru Rissa melihat Thomas berbaring di sebelahnya.
"Ya aku mau tidurlah.." jawab Thomas santai.
"Tidak boleh tidur di sini.. kita belum menikah. sebaiknya anda keluar dari kamar ini dan tidur di kamar sebelah!" kata Rissa sedikit kesal.
"Nggak mau.. aku mau tidur dengan anakku, kamu tak perlu khawatir aku tidak akan menyentuhmu.." Thomas terus saja ber baring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Tetap nggak boleh.. keluar tidak!" Rissa makin kesal melihat Thomas yang memejamkan matanya.
"Tidurlah sudah malam jangan berisik.." kata Thomas santai dan terus memejamkan matanya.
Rissa akhirnya menyerah tak mau berdebat dengan cowok disampingnya dan dengan kesal Rissa memilih keluar kamar dan tidur di ruang tamu. Dia belum bisa untuk seranjang dengan pria yang paling di bencinya dan juga bukan muhrimnya. Meskipun susah karena sofa yang sempit tapi akhirnya bisa juga dia memejamkan matanya.
Suara ayam berkokok menandakan hari mulai beranjak pagi, terdengar sayup-sayup suara adzan berkumandang di kejauhan. Perlahan Rissa mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, dirasakan ada kehangatan pada bantalnya dan terasa sedikit keras. Saat di rasa tangannya meraba raba seperti tubuh seseorang dan mata Rissa membulat sempurna mendapatkan kepalanya di dada pria dan tangan kekar itu memeluk bahunya.
"Aaaaarghh...!" teriak Rissa langsung bangun dari tidurnya.
"Masih pagi jangan berisik!" kata Thomas pelan tanpa membuka matanya.. tapi dalam hatinya dia tersenyum melihat tingkah Rissa.
"Kok aku bisa tidur di sini.. aku kan semalam tidur di sofa, pasti kamu mindah aku ya!" tanya Rissa kesal.
"Bukannya kamu semalam tidur sambil berjalan dan langsung memelukku." kata Thomas berdalih dengan santainya.
"Tidak mungkin.. aku nggak pernah tidur berjalan! Anda pasti mencari kesempatan kan?" kata Rissa kesal.
Thomas hanya cuek dengan Omelan Rissa dan langsung bangun menuju kamar mandi.. Rissa yang merasa kesal kembali membaringkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut.
"Lho kok balik tidur lagi.. ayo bangun sholat lalu olahraga.. biar anak kita sehat!" kata Thomas yang sudah kembali dalam kamar.
"Ogaaah!" Rissa berkata dengan ketus.
"Sholat itu wajib lho!!"
__ADS_1
"Iya.. iya..!" mau tak mau meski dengan sedikit kesal Rissa bangun dan masuk kamar mandi.