Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Kontraksi


__ADS_3

Dengan keadaan panik Thomas berlari sambil membopong Rissa yang kesakitan. Hampir semua pasang mata di mall itu melihat mereka. Erik berlari terlebih dahulu mengambil mobil. Sedangkan Fais mengikuti dari belakang. Tari yang melihat sahabatnya di bopong sang direktur baru dengan tangis kesakitan pun ikut lari di belakangnya.


Thomas masuk kedalam mobil dengan Rissa di pelukannya.


"Cepat Rik!" seru Thomas panik.


"Siap bos!" dengan cepat Erik melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Fais juga masuk ke mobilnya sendiri.. Tari mengejarnya dan ikut masuk.


"Saya ikut pak!" ucapnya begitu sampai dalam mobil.. Fais mengikuti mobil Thomas dari belakang.


"Sakiiit.. hiks.. hiks.. " Rissa terus saja merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Sebentar lagi kita sampai .. !" Thomas makin panik.. dielus lembut perut Rissa bermaksud mengurangi rasa sakitnya.


"Sayang.. papa disini.. jangan bikin Mama kamu kesakitan.. papa janji nggak akan meninggalkan kalian lagi.. papa sayang kalian.." bisik Thomas di perut Rissa sambil mengelus dan menciumnya..


Entah ajaib atau dasarnya anak dalam perut Rissa tahu kalau Thomas bicara tulus.. rasa sakit yang di rasakan Rissa berangsur berkurang.. Thomas masih terus mengelus perut Rissa.. dia tahu Rissa hamil anaknya.. karena dia ikut merasakan ngidam juga.


Karena capek menangis dan rasa sakit yang sudah mereda.. Rissa tertidur di pelukan Thomas. Dengan penuh rasa sayang dan rindu.. Thomas membelai lembut wajah Rissa sambil tersenyum memandangnya.


"Kamu makin cantik sayang.. meskipun kamu sedang hamil." dia bergumam sendiri.


Dikecupnya kening Rissa dengan rasa bahagia yang luar biasa.. untung saja dia tidak menentang papanya kemarin yang memaksanya untuk pindah ke kota ini.. padahal tadinya dia menolak tegas karena mengira Rissa masih ada di kota yang dia tinggali.


Akhirnya sampai di rumah sakit.. dengan sigap Thomas membopong Rissa yang masih terlelap. Lalu dia masuk ke UGD agar segera ditangani.


"Dokter lakukan yang terbaik.. saya mau dia dan anakku selamat!" seru Thomas begitu tim medis mendekat.


"Pasti tuan.. saya harap tuan keluar dulu.. biar kami fokus dalam menanganinya!" ujar sang dokter mempersilahkan Thomas untuk keluar dari ruangan.

__ADS_1


Thomas keluar dari ruangan itu.. diluar ada Erik, Tari, dan Fais yang menunggu. Thomas tidak bisa duduk dengan tenang.. dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Hatinya begitu khawatir dengan keadaan Rissa dan anaknya.


Beberapa saat dokter keluar dari ruang UGD. Thomas langsung menghampirinya.


"Dok.. gimana keadaannya dan juga kandungnya?" tanya Thomas tidak sabar.


"Tuan tidak usah khawatir.. mereka baik-baik saja.. mungkin itu cuma kontraksi yang diakibatkan karena kecapean dan stres yang berlebihan."


"Berarti tidak membahayakan janin dan ibunya dok?" tanya Thomas lagi.


"Tidak tuan.. saya sarankan agar ibunya beristirahat untuk beberapa hari agar memulihkan kondisi tubuhnya" ujar dokter memberi saran.


" Baiklah dok.. lakukan yang terbaik dan juga pelayanan yang terbaik untuknya!"


"Pasti tuan.. sebentar lagi pasien akan dipindahkan keruang perawatan.. tolong dijaga jangan sampai kelelahan dan banyak pikiran." pesan dokter.


"Baik dok.. pasti saya akan lebih memperhatikan keadaan mereka.. karena mereka sangat berarti bagi saya."


"Baiklah tuan saya permisi dulu." dokter pergi memeriksa pasien lainnya.


"Sa.. gue balik dulu ke tempat kerja ya.. nanti sore gue datang lagi setelah pulang kerja.." Tari berpamitan pada Rissa.


"Tar.. kamu disini saja temani aku.. aku nggak mau bersama dia!" Rissa mencoba mencegah Tari.


Tari melihat pada direktur barunya seperti meminta pendapat.. Thomas hanya menggeleng pelan. Tari tau maksudnya kalau dia tidak mau di ganggu.


"Rissa sayang.. gue belum minta ijin sama Bu Tania.. nanti gaji gue dipotong.. terus gue mau makan apa dong sebulan besuk? gue janji.. ntar sore kesini lagi deh.. ok!" alasan Tari agar bisa meninggalkan Rissa dengan sang direktur.


Setelah mengecup pipi Rissa Tari keluar dari kamar itu.. meskipun merasa tidak tega tapi dia juga risih dengan sang direktur. Didalam otaknya berbagai pertanyaan mengarah dengan apa hubungan antara Rissa dan sang direktur baru. Kenapa mereka seperti kenal tapi kok juga marahan.. jadi penasaran plus bingung si Tari.


"Sa.. aku juga balik dulu sama Tari.. tuan Thomas saya permisi dulu.." pamit Fais.

__ADS_1


"Terimakasih pak Fais." ucap Thomas.


"Mas Fais.. tolong jangan beritahu mbak Wati dan mas Herman!" kata Rissa lirih sambil menggenggam tangan Fais.


Thomas yang melihatnya jadi tidak suka. Fais hanya mengangguk dan melihat expresi bosnya seperti tidak suka diapun melepaskan tangan Rissa dan melangkah keluar bersama Tari.


Sepeninggal Tari dan Fais ruangan itu seperti tidak berpenghuni.. hening. Rissa kembali membelakangi Thomas dan diam saja berusaha memejamkan matanya. Rissa merasa sesak berada di satu ruangan dengan pria yang sudah merenggut kesuciannya.


"Rissa.. nama kamu Rissa nama yang cantik secantik orangnya.." kata Thomas memecahkan kesunyian diantara mereka.


Rissa hanya diam membisu tanpa menoleh sedikitpun. Thomas tahu kalau Rissa masih begitu marah padanya.


"Aku tahu kamu marah dan benci padaku RIS.. aku ingin membayar semua kesalahanku.. aku akan menikahimu.. aku akan menjaga kamu dan anak kita." kata-kata Thomas menyesal.


"Anak kita?" Rissa menoleh menatap Thomas tajam "Apa anda yakin ini anak anda?" tanya Rissa dengan sorot mata kebencian.


"Aku yakin sekali RIS.. meskipun kamu akan bilang kalau itu bukan anakku.. kalau kamu tidak mau memaafkan aku.. tapi paling tidak biarkan anak itu lahir dan ada papa disampingnya yang akan mengadzaninya kelak." pinta Thomas dengan wajah sendu.


"Mengadzani! seorang baj****n seperti anda ingin mengadzani anak saya..? Jangan mimpi!" ucap Rissa sinis.


"Aku tahu.. aku memang pria ba****an, kurang ajar, aku berandalan, aku bre****k.. tapi itu dulu RIS.. aku sudah berubah, tolong maafkan aku.." Thomas berkata dengan suara parau dan air mata menetes atas penyesalannya.


"Apa penyesalan anda akan mengembalikan semua yang sudah anda rampas dari saya? Apa kalau anda ku maafkan.. orang tua dan pacar saya akan menerima saya lagi? anda tidak pernah merasakan bagaimana penderitaan saya karena kelakuan anda..! saya menanggung semua seorang diri!" Rissa sudah tidak bisa menahan sesak di dadanya.. tangisnya pun pecah seketika.


Begitu juga dengan Thomas.. meskipun cowok tapi dia juga menangis menyesali perbuatannya.


"Tapi.. kalau kamu tidak mau aku nikahi.. kamu membuat anak kita jadi anak haram yang akan di ledek orang seumur hidupnya.. apa kamu tega membuat anak kita menderita seumur hidupnya.. di pertanyakan siapa papanya.. apa kamu Setega itu dengan anakmu sendiri?" Thomas menatap lekat Rissa yang masih menangis.


Rissa hanya menangis tidak menjawab.. pikirannya masih kalut.. tapi kemarahan dihati pada Thomas yang selama ini dipendam sudah keluar semua. Dan kembali membalikkan badannya membelakangi Thomas.


Thomas tidak menyangka cewek di hadapannya itu begitu keras kepala.. dia beda dari cewek lainnya yang selalu ingin mendekatinya.. kalau saja dia tidak alergi dengan cewek pasti hidupnya sudah dikelilingi cewek seksi dan cantik.. tapi karena keanehan itu membuat dia selamat dari cewek-cewek matre. Tapi dengan Rissa dia tidak alergi sama sekali.. makanya begitu pertama menyentuhnya dia langsung jatuh cinta meskipun dengan cara yang salah dan menorehkan luka yang amat sangat di dalam wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Sudahlah.. jangan menangis lagi.. kasihan anak kita akan terganggu.. kamu sebaiknya makan dulu ya? kamu mau makan apa?" dengan sabar Thomas menghadapi Rissa yang begitu keras kepala.


Tidak ada sahutan dari Rissa.. hanya suara nafasnya dan sesegukan sisa tangisnya. Nafsu makannya sudah hilang karena hanya kemarahan dan kekecewaan yang dirasakannya.


__ADS_2