
"Makasih ma sudah mau terima Rissa apa adanya, tapi apa boleh saya minta sesuatu?" ujar Rissa lirih.
"Tentu boleh sayang.. apa permintaanmu? katakan saja!" nyonya Betty menatap lembut Rissa.
"Saya mau menikah di KUA saja dengan wali hakim dan tidak ada pesta karena keadaanku seperti ini." Rissa menatap perutnya yang sudah mulai buncit.
"Kamu malu hamil anakku?" seru Thomas sambil mendekati Rissa dengan suara dingin.
"Iya.. aku malu karena hamil duluan.. aku nggak mau anakku di cap sebagai anak haram.." lagi-lagi sebutir bening meluncur di pipi Rissa.. membuat Thomas yang semula kesal jadi luluh juga.
"Sudah jangan nangis lagi.. iya kita nikah di KUA saja dan tidak ada tamu.. yang penting kamu sekarang jangan banyak pikiran.. kamu tidak boleh stress kasian anak kita." ujar Thomas lembut.
Tuan Heru yang melihat anaknya bersikap dewasa hanya tersenyum bangga. Tidak pernah nyangka anaknya akan berubah begitu bertanggung jawab. Tidak terlihat lagi si Thomas yang urakan dan berandalan dan maunya menang sendiri. Kini hanya ada Thomas yang dewasa dan penuh dengan tanggung jawab. Tuan Heru dan nyonya Betty semakin sayang sama Rissa karena mampu merubah Thomas ke jalan yang benar.
Waktu terus berputar, matahari berjalan dengan perlahan ke arah barat. Hari sudah mulai sore Tuan Heru dan nyonya Betty pamit pulang. Thomas masih setia menemani Rissa di rumah sakit. Terlihat pria tampan itu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Rissa menatap pria yang sudah membuatnya hamil itu, biarpun hatinya begitu membencinya tapi ada suatu rasa simpatik dengan sikapnya sekarang yang begitu sabar menghadapi dirinya dan begitu telaten merawat dirinya dalam keadaan sakit.
Tapi teringat Yoga yang akan segera menikahi gadis lain teriris rasa hatinya. Tak pernah menyangka cowok yang selama ini di cintai tega mengkhianati cinta mereka.
"Aku harus kuat.. aku bisa ngelupain kamu Yog. Sekarang aku hanya akan fokus pada anakku saja.. tidak yang lainnya." gumam Ida menguatkan hatinya.
💖💖💖💖
Setelah dirawat sekitar lima hari Rissa diperbolehkan pulang. Keadaan Rissa dan bayinya sehat hanya harus istirahat saja dan tidak boleh banyak pikiran. Thomas mengemas semua barang dan pakaian tidak membiarkan Rissa bekerja dan menyuruh wanita itu duduk dengan santai sambil menunggu Erik menjemput. Rissa hanya diam memperhatikan cowok itu. Meskipun sudah membuktikan kesungguhannya tapi hati Rissa masih belum bisa menerima dan memaafkan Thomas. Tak berapa lama Erik muncul untuk menjemput mereka.
"Ayo sayang kita pulang!" ajak Thomas mengambil tangan Rissa ingin menggandengnya tapi dengan cepat Rissa menepisnya.
"Aku bisa jalan sendiri!" kata Rissa ketus.
__ADS_1
"Ok baiklah.. Rik bawa semua barang-barang.. kita pulang ke apartemen." Thomas mengalah.
"Tidak! aku mau pulang ke rumahku sendiri!" lagi-lagi Rissa membantah.
"Tidak boleh.. kamu harus ikut denganku agar aku bisa memantau kesehatanmu dan setelah pekerjaanku selesai kita pulang ke rumah mama dan menikah!" kali ini Thomas tidak mau mengalah.
"Kalau kamu mau ke apartemenmu silahkan saja.. aku bisa pulang sendiri!" Rissa tetep kekeh dengan keinginannya sambil menatap tidak suka pada Thomas.
"Ok.. ok.. kita pulang kerumahmu.. tapi aku tinggal denganmu titik!" Thomas juga masih berkeras hati.
" Mana boleh? kita bukan muhrim!" kata Rissa tak kalah ketus.
"Tapi aku ayah dari anakmu dan aku juga calon suamimu.. jadi jangan membantah lagi!" ucap Thomas kesal.
"Huuhh.. terserah!" kata Rissa melengos dan keluar kamar dengan kesal.
"kenapa?" tanya Rissa menatap Thomas tidak suka.. tanpa menjawab Thomas langsung mengangkat tubuh Rissa.
"Lepaskan! aku bisa jalan sendiri!" teriak Rissa sambil memukul-mukul dada bidang Thomas.
"Diam dan jangan banyak gerak atau kita akan jatuh dan mencelakai anak kita!" sentak Thomas dan mampu membuat Rissa diam karena Rissa juga tidak mau terjadi apa-apa dengan anaknya.
Sesampainya di samping mobil, Erik membukakan pintu mobil lalu Thomas mendudukkan Rissa di bangku belakang. setelah itu dia masuk dan duduk disampingnya. Mobil melaju menuju ke rumah Rissa.
Tak berapa lama mereka sampai dan berhenti di depan super market karena rumah Rissa ada di belakangnya dan hanya ada jalan gang kecil yang tidak bisa di lewati mobil. Segera Rissa turun dan berjalan lebih dulu tanpa menghiraukan dua pria di belakangnya.
Dengan perlahan dibukanya pintu rumah kontrakan yang tidak begitu besar dan sangat sederhana hanya ada dua kamar tidur didalamnya dengan luas 3x3, ruang tamu dan ruang makan yang nyambung lalu dapur dan satu kamar mandi. Tapi bagi Rissa tempat itu sudah begitu luas untuk dirinya sendiri dan nyaman meski dengan perabotan seadanya. Tanpa ada sofa dan perabotan mewah lainnya. Tapi Rissa bersyukur karena sewa rumah itu pas buat kantongnya.
__ADS_1
Thomas masuk kedalam kontrakan Rissa dan menatap tiap sudut dari kontrakan itu. Dia merasa miris dengan keadaan di dalamnya. Hanya ada kursi kayu dan meja makan biasa dapur yang apa adanya.. lalu masuk melihat ke kamar tidur yang hanya ada dipan dengan kasur busa tipis.. sangat memprihatikan. Rissa yang langsung tiduran di dipan dalam kamarnya bisa menebak pikiran Thomas dengan cara pandangnya.
"Sebaiknya anda kembali ke tempat mewah anda.. disini tidak cocok untuk anda." kata Rissa pelan tapi bagai pisau tajam menyindir Thomas.
"Tidak.. aku akan tetap di sini bersamamu!" sahut Thomas pasti "Erik!" panggilnya dan segera sang asisten mendekat dengan hormat.
"Ya bos!" sahut Erik dari luar.
"Cari tahu pemilik kontrakan ini dan beli rumah ini berapapun harganya! dan belikan perabotan lengkap yang layak! nanti sore harus sudah ada!" perintah Thomas membuat Rissa kaget dan duduk dari tidurnya.
"Siap bos!" Erik segera beranjak dan pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Anda gila ya? anda tidak perlu repot-repot!" kata Rissa tidak suka.
"Sayang.. aku sedih melihatmu tinggal dengan keadaan seperti ini." kata Thomas pelan sambil duduk di tepi dipan.
"Saya sudah terbiasa tuan Thomas yang terhormat.. jadi batalkan perintahku tadi!" Rissa berkata dengan ketus.. tapi Thomas tidak mungkin membiarkan orang yang dia cintai tinggal di rumah seperti kandang baginya itu.
"Kali ini kamu tidak bisa melarang ku sayang.. aku nggak mau anakku tinggal dengan keadaan seperti ini jadi kamu tidak bisa menolak!" kata Thomas tak kalah ketus.
"Ok baiklah terserah anda!" Rissa hanya bisa mengalah karena pesti biarpun bersikeras tak bisa melawan keinginan Thomas.
Thomas merebahkan tubuhnya di samping Rissa yang membuat Rissa kaget dan mendorong tubuh Thomas ke samping.
" Siapa suruh anda tidur di sini! pergi!"
Tapi Thomas tak bergeming dan malah memejamkan matanya tak pedulikan teriakan Rissa yang mengusirnya. Akhirnya Rissa pun nyerah tak mampu mengusir pria itu dari dipannya. Dan membiarkan Thomas tidur karena Rissa sadar selama di rumah sakit Thomas kurang istirahat karena mengurusnya.
__ADS_1
Karena merasa bosan Rissa pergi keluar dan menuju super market. Hanya butuh berjalan 5 menit sudah sampai di tujuan. Ya memang karena gedung super market cuma ada di depan kontrakannya.