
Kembali Thomas memainkan tubuh Rissa yang berada di bawahnya sampai puas..
Mereka akhirnya kelelahan dan terlelap hingga pagi tiba..
Rissa terbangun saat sinar matahari menerpa wajahnya dari balik jendela.. perlahan matanya terbuka.. dirasakan tubuhnya begitu sakit dan terasa perih diarea intimnya.. dan baru sadar saat dilihat tubuhnya begitu polos tanpa tertutup apapun dan terasa berat di perutnya yang ternyata ada tangan yang sedang memeluk tubuh polosnya..
Segera dia bangkit dan melempar tangan Thomas dari tubuhnya dan segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.. lalu bergegas ke kamar mandi.. mengguyur sekujur tubuhnya di bawah aliran shower berharap ikut luntur juga noda yang di perbuat pria itu.. sambil menggosok kasar kulit tubuhnya.. tapi tetap saja tidak bisa sesuci dulu.. karena kesuciannya sudah dirampas paksa.. terasa dunia sudah hancur.. hanya tangis dan ratapan yang bisa keluar dari bibir mungilnya..
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.. Rissa terkejut dan menatap cowok yang masih polos itu diambang pintu sambil menatapnya penuh nafsu.. Rissa begitu ketakutan dan menutup payudara dengan telapak tangan.. yang membuat Thomas tertawa..
"Buat apa Lo tutupi.. gue dah lihat semua bagian tubuh Lo.. hhhaaahhha.."
Thomas mendekati Rissa dan menariknya paksa dan mengulang kembali perbuatan biadabnya pada gadis yang sudah tidak berdaya itu sampai merasa puas...
Rissa terkulai lemas di lantai.. tubuhnya terasa ngilu semua lemah tak berdaya..
Thomas segera berdiri dan membersihkan tubuhnya.. tak peduli dengan Rissa dia keluar dengan balutan handuk..
Rissa berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil menangis sejadi jadinya meratapi nasibnya yang malang.. hancur sudah masa depannya..
"Mak.. bapak.. tolong Rissa" tangisnya.. "Yoga.. maafin aku.. yang seharusnya kuberikan padamu sudah di rampas pria ba****n... hu.. huu.. hu..aaahhhh!"
"Heh.. Lo.. cepetan keluar.. apa Lo masih pengen gue paksa lagi!" teriak Thomas diambang pintu kamar mandi..
Rissa menatap tajam dengan mata yang basah..
"Belum puaskah kamu menyiksa aku seperti ini..?" tanya Rissa pelan tanpa expresi..
"Lo bilang puas.. heh denger ya gue belum puas bales loo... gue bakalan bikin Lo jadi pemuas nafsu gue seumur hidup!" Thomas mengancam sambil nyengir kuda..
"Ba****n kamu... aku benci kamu.. kamu iblis!" teriak Rissa geram..
Rissa bangkit dan segera keluar dengan balutan handuk.. di kasur sudah ada peper bag miliknya yang dibeli kemarin.. segera gadis itu memakai bajunya.. dan ingin segera berlari dari tempat itu..
Baru saja akan membuka pintu kamar.. dia terkejut saat pintu terbuka dari luar.. Thomas masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman..
"Mau kemana lo!" sentak Thomas keras..
"Aku mau pergi dari sini!" Rissa tak kalah bersuara dengan nada tinggi..
Thomas mengunci pintu kamar dan menarik paksa tangan Rissa membawanya masuk kembali menuju sofa.
"Makanlah dulu!" Thomas berkata lebih lembut.. "Disini jauh dari jalan raya.. tidak ada angkutan"
__ADS_1
"Aku tidak mau!" jawab Rissa ketus...
"Kalau lo tidak mau makan.. berarti lo ingin gue paksa lagi..!"
Thomas sudah memegang tengkuk Rissa dan mendekatkan wajahnya.. Rissa bergetar ketakutan.. takut kisah itu terulang lagi..
"Ok.. aku makan!" Rissa mendorong tubuh Thomas lalu mengambil makanannya dan melahapnya meskipun dengan terpaksa..
Thomas tersenyum tipis melihat gadis disampingnya itu.. terlihat begitu menggemaskan dan ingin lagi melahapnya..
"Bagaimana caranya aku kabur dari sini? aku harus lepas dari ba****n ini.. tasku dimana.. aku harus cari bantuan!" pikir Rissa
Rissa mencoba mengingat tasnya.. "mungkin masih ada di mobil.. bagaimana aku mengambilnya?" pikiran Rissa terus berkecamuk..
Tiba-tiba hp Thomas berdering.. Thomas keluar kamar untuk mengangkatnya.. tak berapa lama dia masuk lagi kedalam kamar..
"Ayo kita pergi!" ujar Thomas kemudian..
Ada rasa senang dalam hati Rissa akhirnya bisa keluar dari tempat itu juga..
"Rapikan dulu kamar ini..!" perintah Thomas..
"Cepetan!"
Saat menata sprei.. dilihatnya noda merah disana.. terasa sakit hatinya melihat mahkota yang harusnya diberikan pada suaminya kelak.. sudah direnggut paksa oleh pria tak bermoral dihadapannya.. setetes air mata kembali mengalir di pipinya yang putih..
Setelah selesai.. gadis itu membawa nampan.
"Buka pintunya aku mau bersihin ini!" Rissa berkata tanpa expresi..
Mau tidak mau Thomas membuka pintu kamar yang dikuncinya.. gadis itu keluar dan Thomas mengikutinya dari belakang.. takut gadis itu kabur..
Rissa berjalan ke dapur.. mencuci alat makannya dan juga peralatan dapur yang kotor.. Thomas tersenyum tipis melihat kecekatan gadis itu meskipun hatinya sedang hancur karena perbuatannya.. membuat ada suatu rasa dihatinya meskipun dia belum tahu itu apa.
"Sudah beres!" ujar Rissa menatap Thomas dengan pandangan dingin.
"Ok.. kita pergi! gue ambil barang dulu di atas.. lo tunggu di sini.. awas kabur!!"
Thomas melangkah ke dalam kamar lagi.. tak berapa lama Thomas sudah kembali membawa paper bag milik Rissa..
"Kita pulang!"
Thomas berjalan ke arah pintu depan.. lalu membuka kuncinya.. Rissa mengikuti dari belakang.. mereka masuk dalam mobil.. Rissa celingukan mencari tasnya.. bersyukur tas itu jatuh di bawah jok.. hatinya lega.. lalu diambilnya tas itu.. lalu dibukanya masih komplit..
__ADS_1
"Tenang aja isinya masih komplit.. karena gue bukan maling!" ujar Thomas
"Apa bukan maling? tapi kamu perampok.. !" Rissa berkata ketus
"Tapi yang gue rampok juga menikmati kan?" Thomas tersenyum sinis kearah Rissa..
"Nikmat katamu!! Kamu sudah merampas yang paling berharga dari ku.. kamu pikir aku menikmatinya.. najis!" kembali Rissa menangis mengingat kejadian semalam..
Thomas tidak peduli dengan gadis disampingnya yang masih menangis tanpa suara.. terus saja dia melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ibukota...
Saat hampir sampai di tengah kota.. Thomas masuk ke area SPBU mengisi bahan bakar..
disaat Thomas keluar dari mobil buat membuka tangki.. Rissa melihat peluang buat kabur.. diambilnya tas dan juga sengaja dia ambil dompet Thomas yang ditinggal di depan setiran.. bukan untuk di curi.. tapi mau buat barang bukti kartu pengenalnya kelak kalau dia ingin melaporkan kasus pemerkosaan terhadap dirinya...segera membuka pintu mobil pelan.. lalu mengendap-endap sembunyi di balik mobil yang antri.. dan dilihatnya situasi aman dia segera berlari ke pinggir jalan dan terus berlari tak henti mencari tempat sembunyi yang aman.
Supaya tidak terkejar gadis itu masuk kedalam gang kampung yang tidak mungkin bisa di lewati mobil.. dan Rissa terus berlari.
Di SPBU..
Thomas masuk kedalam mobil.. dan begitu terkejut saat tidak dilihatnya gadis itu di dalam mobil.. dan tasnya juga tidak ada..
"Kurang ajar.. dia berani kabur dari gue!"
Thomas memukul setir mobil dengan amarah yang meluap..lalu melajukan mobilnya kencang mau mencari Rissa yang melarikan diri..
"Pokoknya gue harus dapetin tu cewek...!" teriak Thomas kesal..
💖💖💖
Rissa terus berlari mencari tempat yang aman..
"Alhamdulillah.. ini sudah cukup jauh.. semoga cowok b******k itu tidak bisa menemukan aku.. ya Alloh tolonglah hambamu ini" Rissa meneteskan air mata lagi.." aku harus minta bantuan mbak Wati..!"
Rissa mengambil hpnya lalu menelfon Wati.. ternyata Wati sudah beberapa kali menghubungi dirinya.. segera dia telfon balik
"Hallo mbak.." Rissa berkata dengan suara bergetar..
"Rissa.. kamu dimana? kenapa nggak pulang! kamu pergi dengan siapa!" suara Wati nerocos di seberang sana.
"Mbak tolongin Rissa mbak.. huu.. hu.." Rissa sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya..
"Kamu kenapa RIS.. sekarang kamu dimana?" Wati begitu cemas mendengar tangis Rissa.
"Aku nggak tahu ini dimana mbak.. hiks.. hiks.."
__ADS_1
"Serlok aja.. aku jemput sama mas Herman.. jangan kemana-mana!"