
Akhirnya dengan bantuan Herman.. Rissa dengan mudah bisa masuk ke supermarket MT di kota sebelah karena kepala personalia adalah teman Herman waktu kuliah.
Hari ini Rissa pergi ke tempatnya bekerja pertama kali dengan diantar Herman dan Wati sekalian mereka mencari tempat tinggal yang dekat dengan tempat dia bekerja..
Perjalanan dari restoran sampai ke kota L membutuhkan waktu 2 jam itupun karena berangkat pagi-pagi sekali jadi belum terjebak macet. Sesampainya di tempat tujuan mereka mencari sarapan dulu disebelah supermarket itu ada kedai bubur ayam. Herman memarkirkan mobilnya didepan kedai yang lumayan ramai.
"Kita sarapan dulu!" ujar Herman.
Ketiganya turun dari mobil dan masuk dalam kedai itu.. mencari kursi yang kosong. Pelayan datang menerima pesanan ketiganya.
Sambil menunggu pesanan mereka berbincang.
"Kata Fais di belakang supermarket ini ada kontrakan kosong.. gimana kalau kamu tinggal disana RIS?" tanya Herman.
"Fais siapa yank?" tanya Wati balik.
"Temenku yang jadi kepala personalia di sini.. sebentar lagi dia akan kemari menemui kita.. barusan dia chat aku" jelas Herman.
"Nggak apa-apa mas.. semoga terjangkau harganya.." sahut Rissa pelan.
"Untuk biaya kontrak kamu nggak usah mikirin dulu.. itu urusanku.. yang penting kamu tenteram disini" ujar Herman.
"Makasih mas.. kalian berdua terlalu baik padaku.. gimana aku membalas semua ini" Rissa berkata dengan mata berkaca-kaca.
Wati menggenggam tangan Rissa lembut.
"Kamu tidak perlu memikirkan semua itu ris.. yang penting kamu jaga baik-baik kandunganmu.. kita akan sering kesini mengunjungi kamu.. "
Tak berapa lama pesanan datang dan mereka menikmati sarapan bubur dengan lahap. Saat sedang asyik makan datang seorang pria mendekati meja mereka.. pria itu terlihat berwibawa, tampan dan ramah.
"Selamat pagi semua!" sapanya ramah.
"Fais!" Herman berseru dan berdiri memeluk pria itu yang membalas pelukannya.
Mereka tampak bahagia karena senyum tak lepas dari bibir mereka berdua.
"Apa kabar Lo Is?" tanya Herman sambil melepaskan pelukannya.
"Seperti yang kamu lihat.. gue baik-baik saja.. Lo sendiri gimana?" tanya pria itu balik.
"Gue juga baik bro.."
"Mereka..?" mata pria itu menatap Rissa dan Wati penuh tanya.
"O ya gue lupa ngenalin.. ini Wati pacar gue dan dia Rissa adiknya.. sudah seperti adik gue sendiri." Herman memperkenalkan kedua cewek dihadapannya.
__ADS_1
"Jadi cewek itu yang mau kerja ikut gue?" tanya pria itu dengan masih memandang Rissa.. gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk.
"Senyumnya manis sekali" batin Fais.
"Ayo sarapan sekalian.. buburnya lezat" ajak Herman pada Fais.
"Boleh kebetulan gue juga belum sarapan.. disini memang lezat.. langganan gue ini bro" seloroh Fais sambil sesekali mencuri pandang kearah Rissa yang asyik melahap sarapannya.
"Makasih bro Lo dah mau nerima Rissa di tempat kerja Lo.. nitip adik gue ya?" kata Herman sambil nepuk bahu Fais.
"Santai aja bro.. lagian Rissa juga memenuhi kriteria kok.. jadi bukan cuma karena Lo saja."
"Bagus deh.. tapi ada sesuatu yang mau gue omongin agak serius dikit.. kita bicara diluar" kata Herman sambil beranjak.
"Ngomong aja.. gue dengerin" jawab Fais dengan masih menyantap bubur di depannya.. tapi melihat Herman pergi dia akhirnya ikut beranjak juga.
Mereka bicara di parkiran mobil.
"Gini bro.. sebenarnya adik gue sedang hamil makanya gue nganterin langsung kesini ketemu Lo.. sebenarnya kita nggak tega dia jauh dari kita.. tapi karena keinginannya dah mantap dan nggak bisa lagi di rubah terpaksa kita ijinkan dia pindah ke sini." jelas Herman.
Terasa ada kecewa di hati Fais mendengar cerita Herman.. dipikir Rissa masih gadis tapi ternyata sudah ada yang punya. Sebenarnya Fais tertarik dengan Rissa saat pandangan pertama tadi.. tapi sekarang..
"Ooh.. terus lakinya gimana?" tanya Fais menutupi kekecewaannya.
"Nggak perlu ngomongin lakinya yang bre****k dan nggak bertanggung jawab itu... sengaja kesini buat ngelupain semuanya." jawab Herman geram.
"Ya gitu deh.. gue bisa minta tolong Lo nggak?" tanya Herman.
"Apa bro?" tanya balik Fais.
"Gue minta tolong jagain adik gue.. apapun yang terjadi pada dia tolong kabarin gue.. gue dan pacar gue sayang sama Rissa.. dia orangnya agak tertutup.. disini dia tidak punya kenalan gue harap Lo biarpun atasannya tetap mau jadi temannya.. gue yakin Lo bisa gue percaya" pinta Herman.
"Tenang aja bro.. gue bakal jagain adik Lo dan juga calon anaknya.. Lo bisa ngandelin gue.. " jawab Fais antusias..
"Syukurlah kalau Rissa sudah sendiri.. biarpun hamil aku mau nerima dia" batin Fais senang.
"Ya udah kita balik sarapan lagi." ajak Herman.
"Ayo!"
Mereka berdua kembali lagi ke tempat semula bergabung dengan Rissa dan Wati yang sudah selesai sarapan.
"Oh ya mas fais.. dah nikah belum?" tanya Wati sambil tersenyum.
"Dulu dah nikah tapi karena tidak ada kecocokan kita berpisah.." jawab Fais tenang sambil memandang Rissa.
__ADS_1
Yang dipandang hanya cuek aja tidak begitu memperhatikan dan asyik memainkan hpnya.
"Oh.. duren" seloroh Wati disambut tawa kecil Fais. "Dah punya anak?"
"Kebetulan belum.. karena kita dulu sengaja menunda kehamilan karena terlalu sibuk.. kalian sendiri kapan mau diresmikan?"
"Sebentar lagi.. tenang aja gue pasti kirim undangan buat Lo" Herman berkata dengan nada pasti disambut senyum Wati.
"Harus itu bro!" seru Fais..
"O ya dimana kontrakan yang Lo bilang kemarin?" tanya Herman lagi.
"Dibelakang gedung ini.. tidak besar sih tapi kalau cuma buat tinggal sendiri juga terlalu besar.. gue anter kesana.. kebetulan itu dulu rumah teman gue yang sekarang dah pindah ke rumah yang lebih besar.. jadi itu di kontrakan.. gue dah hubungi temen gue dan kuncinya dah gue pegang." Fais menjelaskan panjang lebar.
"Berapa bayarnya sebulan?" tanya Rissa kemudian sambil menatap Fais dan pria itu membalas tatapan Rissa.. tapi yang ditatap balik cuek banget.. bikin Fais makin penasaran.
"Kamu tidak usah mikirin masalah biaya rumah RIS.. itu sudah jadi urusan aku.. kamu tinggal baik-baik saja dan jaga calon ponakan aku" ujar Herman.
"Tapi mas.."
"Rissa sayang.. dengerin aja kata mas Herman.. kali ini kamu harus nurut sama kita dan jangan keras kepala!" potong Wati gemes.
"Makasih ya mas.. mbak.. Rissa sayang kalian" Rissa memeluk Wati dengan haru.
Fais masih memperhatikan Rissa yang ternyata bisa semanis itu.. tidak hanya cuek. Entah kenapa hatinya makin tertarik untuk mengenal Rissa lebih deket. Apa lagi Herman sudah memberikan peluang untuk dirinya bisa dekat dengan Rissa pasti akan di pergunakan dengan sebaik-baiknya.. dan akan berusaha menerima anak yang dikandung Rissa sebagai anaknya sendiri.
"Baiklah ayo gue anter kalian kesana" ajak Fais.
Mereka berangkat ketempat tujuan dengan jalan kaki memasuki sebuah gang di samping gedung supermarket itu karena mobil tidak bisa masuk kesana.
Setelah berjalan sekitar 10 menit mereka sampai di depan rumah yang tidak begitu besar, didepannya terdapat pagar dari tanaman dengan halaman kecilnya yang kurang terawat penuh dengan rumput. Fais membuka pintu yang terkunci. Terlihat di dalam perabotan sederhana masih ada mungkin sengaja di tinggal oleh pemiliknya.
"Kalian tinggal membersihkan saja.. semua masih lengkap" ujar Fais.
"Terimakasih mas Fais atas bantuannya" kata Rissa sambil tersenyum.
Fais jadi terpesona melihat senyum Rissa yang baginya begitu manis. Fais membalas Rissa dengan anggukan dan juga senyum. Tapi Rissa tetap biasa saja.
Mereka mulai membersihkan rumah itu agar nanti malam bisa digunakan untuk istirahat. Fais menyuruh bawahannya membawa perlengkapan kebersihan baru dari supermarket dan juga menyuruh orang untuk memangkas rumput di halaman.
Tengah hari pekerjaan sudah selesai.. Rissa dan Wati menyiapkan minuman dan cemilan. mereka istirahat di teras sambil menikmati minuman yang disajikan. Fais memesan gofood untuk mereka maka siang.
"Makasih ya mas Fais jadi ikutan repot.. gimana dengan kerjaan mas Fais di kantor?"
Rissa menyodorkan teh manis buat Fais.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir semua sudah di hendel kemarin jadi hari ini sengaja aku free." jawab Fais
"Jangankan buat bantu kamu bersih-bersih.. buat nemenin kamu terus aku juga mau" batin Fais.