Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Dendam Thomas.


__ADS_3

Disisi lain dari mall tersebut..


Seorang pemuda berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cafe di dalam mall itu. Dia terlihat begitu kesal dan marah..


"Lo kenapa sih Thom? mula di tekuk kayak cucian aja" seloroh Beni sahabatnya.


"Ben.. kalau Thomas lagi seperti itu jelas lagi bahagia dia ha.. ha..!" tambah Indra yang mengundang tawa lainnya kecuali Thomas yang makin kesel diledek sahabatnya..


"Bisa diam nggak Lo pada!" sentak Thomas..


"Santai broo... kita cuma mau menghiburmu!" Yuda mencoba menenangkan Thomas yang bertambah naik darah..


"Lo kenapa sih bro.. marah-marah aja" tanya Vito datar "di kejar-kejar Yolan lagi?"


"Bukan.. ini lebih parah dari Yolan!" ucapnya kesal..


"Emang Lo itu kan alergi ma cewek.." sahut Beni seenaknya..


"Tapi cewek ini tidak bikin gue alergi.. tapi bikin gue kesal banget!!!" tangan Thomas mengepal dan memukuli meja.. " pokoknya ni cewek mesti gue kasih pelajaran yang tidak dapat dilupakan seumur hidupnya"


"Emang Lo tahu dimana tu cewek?" tanya Vito tenang.. soalnya anak ini tahu kriteria Thomas yang kurang teliti, tempramen, dan juga alergi dengan yang namanya cewek sejak remaja.. jadi sampai saat ini dia tidak pernah punya pacar dan kalau ngumpul sahabat-sahabatnya yang sudah pacaran di larang bawa ceweknya.. kalau ada yang nekat bawa ceweknya dia bakal marah..


"Nggak.. tapi begitu gue liat dia lagi bakal langsung gue kasih pelajaran saat itu juga!" mata Thomas menyala api dendam yang membara.. benerkan kata Vito kalau anak ini nggak tahu..


💖💖💖


"Wah.. kamu cantik sekali RIS.. cocok buat kamu" Wati memuji Rissa begitu keluar dari kamar ganti..


"Tapi mbak ini mahal buanget" gumam Rissa pelan


"Udah.. ambil aja nanti aku yang bayarin.. pakai ini.." Wati memamerkan kartu kredit yang diberikan Herman padanya.. ya tadi Wati pergi ke kantor Herman dan minta jatah belanja bulanan.. kayak dah nikah aja ya..


"Keren mbak punya kartu kredit!" Rissa terkagum-kagum pada Wati


"Bukan punyaku.. tapi punya mas Herman" Wati tersenyum lebar..


"Enak ya jadi pacar manager.. di kasih uang belanja" goda Rissa sambil tersenyum..


"Udah nggak usah di ganti lagi.. ayo aku bayar.. bajumu tadi di bungkus aja!"


"Iya mbak.. makasih ya dah beliin aku baku semahal ini.. " wajah Rissa memelas terharu tapi bahagia.. seumur hidup baru kali ini beli baju mahal.


"Iya.. sama sama.." Wati merangkul Rissa yang terharu "Kita makan dulu yuk aku lapar.. sekalian nunggu mas Herman katanya mau nusul ke sini"

__ADS_1


"Ayo mbak.. aku juga capek.."


Mereka menuju kasir.. Wati menyerahkan kartu kreditnya membayar baju Rissa.. karena bajunya sudah dibayar tadi.


"Nggak usah mbak.. baju ini sudah dibayar" kata penjaga kasir itu dengan ramah..


Wati dan Rissa terkejut dan heran.. kan baru mau di bayar..


"Lho mbak kan kita baru mau bayar sekarang.. apa baju ini sudah di beli orang?" tanya Wati heran dan bingung.


"Belum mbak.. tapi memang baju itu buat mbaknya.. ada lagi titipan.. ini" kasir itu menyerahkan beberapa paper bag lagi pada Rissa yang membuat mereka tambah bingung..


"Mbak maaf.. saya tidak bisa menerimanya..!" Rissa menolak paper bag itu " Juga baju ini akan saya kembalikan" Rissa akan melangkah pergi tapi di tahan kasir itu..


"Jangan mbak.. saya mohon jangan persulit saya" Kasir itu mengiba pada Rissa


"Tapi mbak saya tidak tahu siapa orang memberikan semua ini.. jadi saya tidak bisa menerimanya!" Rissa berkata tegas..


"Saya mohon mbak harus terima ini semua.. karena saya bisa dipecat .. mbak saya mohon.. please" penjaga kasir itu sampai hampir menangis..


Rissa jadi serba salah.. bingung sendiri..


"Aduh mbak ini gimana dong?" Rissa menatap Wati minta saran..


"Tapi mbak.. aku kan nggak tahu ini semua dari siapa?" Rissa masih aja ragu menerima semua itu.


"Anggap saja itu dari Alloh buat kamu" ucap Wati meyakinkan Rissa "kalau kamu nggak nerima semua itu kami secara tidak langsung sudah menutup pintu rejeki mbaknya.. kalau sampai dia di pecat.."


Dengan ragu Rissa menerima tiga paper bag itu..


"Mbak tolong bilang ke pemberinya terima kasih banyak.. saya terima ini hanya untuk mbaknya biar nggak dipecat!"


"Baik mbak.. saya juga berterima kasih karena mbak tidak membuat saya dipecat" wajah penjaga kasir terlihat gembira tidak jadi dipecat..


💖💖💖


Sebenarnya pemberi baju-baju itu adalah Nyonya Betty yang kebetulan tadi lewat di distro itu saat mau pergi ke kantornya yang berada di lantai teratas gedung mall itu..


Dia menyuruh tangan kanannya untuk memperhatikan Rissa di sana dan memberikan apapun yang disukai Rissa tanpa terkecuali.. menyuruh pelayanan untuk memberikan pada Rissa.. kalau Rissa menolak para pelayan itu akan di pecat.


💖💖💖


"Makan dulu yuk.. RIS!" Wati mengajak Rissa

__ADS_1


"Ayo mbak.. aku juga dah laper banget.."


Kedua gadis itu melangkah masuk ke sebuah cafe dalam mall.. mereka memesan makanan sambil melepaskan lelah karena seharian berjalan-jalan..


Di meja pojok dekat jendela segerombol cowok yang ngumpul tadi belum juga bubar.. mereka masih asyik ngumpul dan ngobrol makin seru.. ada aja topik yang memberikan mereka tergelak tawa dari olahraga, kuliah, sampai cewek juga..


Sedang asyik mereka ngobrol.. tiba-tiba mata Thomas terkejut menatap seseorang yang dia kenal.. sorot matanya menatap tajamq menyimpan dendam tangannya mengepal..


"Lo kenapa broo?" Vito heran melihat Thomas yang terlihat marah..


"Gue sudah ketemu cewek sialan itu.. gue pasti kasih dia pelajaran!!" Thomas hendak berdiri tapi ditahan Beni


"Jangan disini broo.. banyak orang.. mending Lo ntar tunggu waktu yang tepat.."


"Bener kata Beni broo.. tahan sebentar ngapa?" lanjut Indra.. " ngomong-ngomong mana cewek itu?" mata Indra celingukan mengikuti arah pandang Thomas yang tertuju pada dua gadis yang lagi makan di meja tengah..


"Yang pakai baju biru dan rambutnya di kulit kuda itu.." Thomas makin kesel melihat cewek itu yang tidak menyadari ada bahaya yang sedang memperhatikannya.


"Perlu kita bantu broo?" tawar Beni sambil senyum kuda..


"Nggak perlu.. gadis seperti dia gampang gue beresin.." Thomas tersenyum menyeringai menatap tajam kearah dimana Rissa dan Wati sedang melahap makanannya..


Ditempat Rissa dan Wati sedang makan..


"RIS ntar kamu kalau balik sendiri gimana? soalnya mas Herman ngajak aku kerumah dan aku mungkin nginap.." tanya Wati


"Nggak apa-apa mbak.. tapi aku nggak hafal jalannya.." Rissa merasa khawatir.. entah kenapa perasaannya mendadak tak enak..


"Gampang.. nanti naik taksi online aja.. aku pesankan" Wati mencoba menenangkan Rissa.. dan gadis itu hanya mengangguk.


Tak berapa lama Herman datang..


"Hai sayang.. "sapa Herman sambil mencium kepala sang kekasih.. "hai RIS.."


"Hai juga sayang.." balas Wati sambil menggenggam tangan Herman.. Rissa hanya tersenyum membalas sapaan Herman.


"Mau makan apa sayang?"


"Apa saja yang penting enak" cowok itu menatap wajah Wati dengan penuh kasih.


Wati memesan makanan buat sang kekasih.. Rissa masih asyik makan.. sambil kadang mencuri pandang memperhatikan pasangan kekasih yang begitu mesra di depannya itu.. yang selalu membuatnya iri.. jadi teringat pada Yoga yang dia tinggalkan di desa.. jadi ada rasa bersalah pada pacarnya itu yang tidak mengijinkan dia pergi.


"Mbak.. pesankan taksi sekarang saja.. ini juga sudah sore" Rissa merasa tidak nyaman melihat kemesraan keduanya dan ingin meninggalkan mereka..

__ADS_1


"Kok buru-buru Ris.. masih sore" Herman mencoba mencegah Rissa.


__ADS_2