
Sudah sebulan Rissa berada di ibukota.. hari ini dia gajian untuk pertama kalinya.. sebagai upah kerja kerasnya selama ini..
Malam tiba.. restoran sudah tutup.. setelah membereskan semua meja dalam restauran para karyawan berkumpul di depan ruang manager.. untuk menerima gaji..
Herman di bantu Wati sebagai wakil manager mulai memanggil nama karyawan satu persatu.. sampai giliran Rissa terakhir karena dia karyawan baru..
"Rissa..!" Wati memanggil namanya dan gadis itu segera masuk keruang manager..
"Saya mbak.."
"Ini Rissa gaji pertama kamu.. dan sedikit bonus karena kerjamu bagus.." Herman menyerahkan amplop pada Rissa.. dan gadis itu menerima dengan senyum mengembang..
"Makasih mas.. "
"Sebagian ditabung RIS.. jangan boros-boros!" seru Wati memperingati Rissa..
"Iya mbak.. pasti.. sebagiannya mau aku kirim buat emak mbak" kata Rissa antusias..
"Boleh.. oh iya besuk Jum'at aku dapat jatah libur.. kita jalan-jalan yuk?" ajak Wati.. " Rissa boleh libur kan sayang?" pinta Wati pada Herman sambil bergelayut manja di lengan pacarnya itu yang membuat Herman tidak bisa menolak..
"Kamu itu mesranya kalau ada maunya.." Herman mencubit kecil hidung Wati "Boleh.. apa sih yang tidak buat gadis kesayanganku"
"Berarti boleh dong mendua?" goda Wati yang membuat wajah Herman jadi terlihat marah..
"Awas saja kalau berani!!" ancam Herman yang membuat tawa Wati pecah seketika.. dan langsung mencubit pipinya mesra..
"Aduh.. sepertinya aku disini dianggap nyamuk deh.." gerutu Rissa yang menyadarkan kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu menoleh padanya sambil tersenyum..
Rissa memang sering melihat kedua orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu bermesraan tanpa malu di depannya.. dan kadang membuat dirinya iri dan teringat dengan Yoga yang dia tinggalkan di desa..
"Udah ah.. aku balik kamar dulu.. kalian teruskan.. tapi ingat kalau aku pergi yang ketiga itu setan" Rissa tertawa sambil meninggalkan kedua orang itu..
💖💖💖💖
Pagi tiba.. hari ini Rissa dan Wati libur.. mereka merencanakan mau jalan-jalan melihat kota seharian.. sekalian mengirimkan uang pada emaknya di kampung lewat rekening sang adik..
"Dah siap RIS?" Wati melihat Rissa yang sudah terlihat rapi..
"Sudah dong mbak.. kita naik apa nih?"
"aku sudah pesen taksi online kita tunggu didepan.. bentar aku pamit mas Herman dulu!"
"mau pamit apa minta saku mbak?" goda Rissa sambil tertawa kecil.. sambil menunjuk pipinya dengan jemari yang disatukan seperti sedang mencium..
__ADS_1
"Kamu tu ya.. sukanya ngeledek aja" Wati tersenyum malu..
"Ya udah sana pergi.. aku tunggu di depan ya mbak?"
Wati hanya mengangguk.. Rissa mengunci kamar lalu berjalan menuju depan restoran lewat samping gedung.. saat di pojok dia bertemu Ilham teman kerjanya..
"Mau kemana RIS?" tanya Ilham yang melihat Rissa tidak berseragam tapi memakai jeans yg dipadu dengan t-shirt putih dan jaket jeans diluarnya..
"Mau keluar sama mbak Wati.. mas" jawab Rissa ramah..
"Andai saja libur pasti aku ikut sama kamu RIS" kata Ilham pelan bernada kecewa..
"Ini urusan cewek mas.. jadi nggak boleh ada cowoknya.." hindar Rissa sambil tersenyum agar Ilham tidak tersinggung..
Rissa tahu dan sadar kalau Ilham tertarik padanya.. tak di pungkiri kalau Ilham cowok yang gagah dan ganteng.. pekerja keras.. baik.. sabar.. berbeda dengan Yoga yang emosional.. tapi Rissa sudah terlanjur cinta sama pacarnya itu jadi berusaha untuk menjaga agar tidak tertarik dengan cowok lain..
Meskipun saat dia pergi Yoga marah sama dia.. tapi tetep saja dia tidak bisa mendua.. bahkan sampai sekarang tiap kali Rissa telfon selalu di rijek dan wa pun tidak pernah di balas.. dia pikir mungkin karena Yoga masih marah padanya..
"Ya udah mas.. aku pergi duluan" pamit Rissa meninggalkan Ilham yang masih memandanginya..
"Rissa andai kamu tahu aku naksir kamu.." gumam Ilham sendiri dan terus memandangi punggung Rissa yang mulai menjauh..
Rissa menunggu Wati di tepi jalan raya yang lumayan ramai kendaraan lalu lalang.. namanya juga ibukota tak pernah sepi sekalipun tengah malam..
Tiba-tiba ada mobil berhenti mendadak tak begitu jauh dari Rissa berdiri menunggu Wati.. karena kaget Rissa menoleh kearah suara tersebut.. dilihatnya mobil berhenti mendadak dan didepannya ada seorang nenek-nenek yang berdiri dengan ketakutan..
kemudian terlihat sopir dari mobil tersebut keluar sambil marah-marah pada nenek itu..
"Dasar nenek tua.. mau mati kamu!!" bentak pemuda yang terlihat seperti orang kaya tapi raut wajahnya begitu sombong dan angkuh dengan baju kayak preman pasar dengan celana jeans robek-robek..
"Maaf nak.. nenek nggak lihat" suara nenek itu bergetar ketakutan tapi pemuda itu terus saja marah yang mengundang kerumunan.. termasuk Rissa yang mendekat juga.
"Kamu buta ya!.. atau sengaja buat minta ganti rugi begitu haahh" pemuda itu masih memaki nenek yang ketakutan itu..
"Tidak nak.. bukan begitu" nenek itu menangis diperlakukan kasar oleh orang yang lebih muda..
"Alah.. orang miskin pasti punya modus buat meras kami orang-orang kaya.. berapa yang nenek minta haaahhh?!"
"Tidak nak.. nenek tidak mau uang.. nenek tidak sengaja.." nenek itu masih menangis
"OOO.. tidak mau uang.. kalau begitu nenek bisa dong ganti rugi mobil aku yang lecet.. dan ini tidak murah.. mobilku mobil mahal.. satu goresan 5juta.. " pemuda itu sombongnya makin tak ketulungan..
sang nenek tersentak mendengar jumlah nominal uang yang disebut pemuda preman itu..
__ADS_1
"Nenek nggak punya uang sebanyak itu nak.. nenek cuma pemungut botol bekas.." nenek itu meminta belas kasih pemuda sombong itu..
"Kalau begitu kita kekantor polisi saja!"
mendengar kata polisi nenek itu gemetaran dan tangisnya makin menjadi sambil bersimpuh memegang kaki pemuda itu memohon ampun.. tapi pemuda sombong itu malah menendangnya hingga tersungkur..
"Jangan pegang.. tanganmu kotor dan menjijikkan" katanya berteriak..
sedangkan orang-orang di sekitar hanya bisa menonton tanpa berani membela nenek itu.. mereka tidak mau terlibat urusan dengan orang kaya.. tangan Rissa mengepal menahan marah ada perlakuan kasar didepan matanya.. gerahamnya megerutuk dan matanya melotot melihat cowok itu.. saat dia mau melangkah maju tangannya di tahan seseorang.. dia berbalik dan Wati sudah ada di belakangnya..
"Jangan ikut campur ini kota bukan di desa!" Wati mengingatkan..
"Aku nggak tahan melihat ini semua mbak.." Rissa bersikeras..
"Jangan RIS akibatnya fatal berurusan dengan orang kaya!"
"Aku tak peduli mbak.. nenek itu tidak salah.. aku melihat sendiri tadi.. cowok itu yang ngebut.. lepasin mbak.." Rissa melepaskan tangannya dari genggaman Wati dan segera berlari mendekati cowok preman itu..
"PLAAAAAKKKK"
Rissa menampar keras wajah pemuda sombong itu.. bahkan sampai tangannya perih.. pemuda itu memegang pipinya yang merah..
"Dasar sombong.. kurang ajar.. tidak punya hati.. !!" Rissa memaki keras pemuda yang melotot padanya itu
"Kamu..!" pemuda itu menunjuk wajah Rissa.. tapi Rissa malah menantangnya..
"Apa!" Rissa melawan tatapan tajam pemuda sombong itu..
"Beraninya kamu menamparku.. dasar gadis miskin" bentak pemuda itu..
"Kamu tidak tahu malu.. sudah salah malah menyalahkan nenek itu.. kamu itu yang ngebut.. bukan nenek yang salah!"
"Oh.. jadi kamu sekongkol dengan nenek tua itu buat dapat uang gitu.. dasar miskin" pemuda itu menuduh Rissa dengan hina.. lalu mengambil uang dari sakunya lalu memasukkannya kedalam kaos tepat di dada Rissa yang membuat darah Rissa mendidih..
dan menepis tangan pemuda itu dengan kasar..
"Kurang ajar sekali kamu..." Rissa mengambil uang yang dimasukkan pemuda itu.. " Kami memang miskin.. tapi kami juga tak butuh uang dari orang sombong seperti anda..ambil uangmu kembali.." kata Rissa berang sambil melemparkan uang itu di wajah pemuda itu..
lalu mendekati nenek yang masih duduk terbengong melihat pertengkaran keduanya..
"Ayo nek.. kita pergi.." Rissa memapah tubuh nenek itu berjalan kepinggir..
"Asal Anda tahu tuan.. tidak semua orang miskin haus akan uang.. tidak semua bisa diselesaikan dengan uang.. ambil dan simpan uang anda.. karena sepertinya anda yang lebih butuh uang.." Rissa berkata dengan nada dingin dengan tatapan mata yang tajam memandang pemuda sombong itu
__ADS_1