Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
2. Kepergian Rissa


__ADS_3

Tekad Rissa yang begitu kuat tetap membawanya pergi untuk merantau ke ibukota yang begitu keras.. tak ada yang bisa menahan gadis itu untuk pergi.. termasuk Yoga kekasih yang begitu dia cintai.. justru karena Yoga ia bertekad untuk pergi dan berjuang mengumpulkan rupiah agar


hidupnya berubah dan bisa di terima oleh keluarga kekasihnya itu.


Jam 13.12 Rissa sampai diterminal dan janjian akan bertemu dengan Wati disana. Rissa diantar oleh bapak dan maknya.. sedang Yoga karena masih marah sejak kemarin sama sekali tidak menemuinya.


Ada rasa sedih yang dirasakan di hati Rissa.. kekasih yang begitu dicintai tidak mendukung keputusannya.. padahal tekad kepergiannya itu demi hubungan mereka berdua.


"Rissa..!!!" teriak Wati dari kejauhan sambil melambaikan tangan.. dan melangkah mendekatinya.


"Mbak Wati.. sendiri?" Rissa celingukan melihat Wati yang berjalan sendiri..


"Iya.. kan sudah biasa.. pak ..Mak?" Wati menyalami orang tua Rissa.


"Nitip Rissa ya nak Wati.. tolong jaga dia.. dia anak baru pertama pergi jauh" pesan bapaknya Rissa.. Wati tersenyum


"Pasti pak.. saya akan jaga Rissa.. bis nya dah mau berangkat.. kita permisi dulu ya pak.. Mak" Wati pamit pada orang tua Rissa..


"Bapak.. emak Rissa berangkat dulu ya.. doain Rissa ya.." Rissa memeluk kedua orangtuanya tak terasa butiran bening keluar dari matanya.. maklum Rissa belum pernah pergi jauh dari rumah.


"Jaga diri baik baik ya nak disana.. sering kabari kami.. hu.. hu.." emaknya juga nangis melepaskan putri kesayangannya itu..


"Iya Mak.. pasti.. kalian juga jaga kesehatan ya.. hiks.. hiks.."


Dengan berat Rissa melangkah naik ke bis meninggalkan kedua orangtuanya.. dan melambaikan tangannya sambil tersenyum meski air matanya terus mengalir di pipinya..


"Sudah jangan nangis lagi.." ujar Wati sambil menyodorkan tissue.. Rissa mengambil dan menghapus air matanya.


"Aku kan belum pernah jauh dari mereka mbak!" Rissa masih bersedih..


"dulu aku juga seperti kamu saat pertama pergi.. tapi sekarang dah nggak lagi.. eh.. ngomong-ngomong kok Yoga nggak ngantar kamu RIS?" Wati merasa heran Rissa tidak diantar Yoga kan Wati tau mereka sudah lama pacaran karena yoga itu teman sekelas Wati dulunya.


"Yoga marah mbak sama aku"


"lho kok .." Wati penasaran..


"Dia nggak mau aku pergi ke ibukota dan mengajak nikah.. tapi mbak kan tau sendiri kalau orang tuanya tidak merestui kita karena aku miskin." kembali air mata Rissa mengalir ke pipinya.


"Sudahlah.. buktikan kalau kamu bisa berdiri sendiri.. kalau Yoga marah dan mutusin kamu biarin aja dari pada kamu dihina terus sama ibunya.. mending cari yang lain"

__ADS_1


"Tapi mbak.. aku sayang sama Yoga.. dia itu cinta dan pacar pertamaku"


"Aku tau itu ris.. tapi dari pada makan ati . mending pisah.. kamu tahu nggak di sana banyak cowok-cowok keren dan lebih tampan dari Yoga.. tapi juga harus hati-hati.. banyak yang playboy..


"Berarti lebih bahaya itu mbak.. hhhee"


Mereka berdua asyik ngobrol sekitar ibukota sampai tak terasa malam tiba dan merasa ngantuk menerpa.. dan tertidur..


Setelah hampir 12 jam perjalanan mereka sudah sampai di terminal ibukota. Bis berhenti ditengah terminal.. para penumpang mulai turun dan membawa barang-barang mereka.. hari memang masih gelap saat mereka sampai..


"Kita nunggu jemputan dulu RIS.. pacarku mau jemput.. kita duduk dulu di warung sambil minum" ajak Wati melangkah kearah warung terdekat dan memesan minuman panas dan makanan..


Rissa hanya mengikuti langkah Wati tanpa banyak bertanya.


Sampai beberapa jam mereka menunggu jemputan belum juga datang.. Wati terlihat mulai kesal.. mengambil hp dan menelfon seseorang..


"Lama banget sichh.." teriaknya kesal..


"dah di jalan nih.. bentar lagi nyampe" sahut suara dari seberang.


Tak berapa lama kemudian Wati melambaikan tangan pada seorang cowok dan dia mendekati kami..


"Lama banget sih.." ujar Wati cemberut.


Rissa yang melihat kemesraan mereka berdua agak risih.. dan..


"Ehemmm.." suara deheman Rissa membuat mereka sadar kalau ada orang lain diantara mereka..


"Oh iya mas..ini Rissa dia adik kelasku yang mau kerja di restoran kita.. dan RIS ini mas Herman.. dia pacarku sekaligus manager restoran.."


Rissa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Herman..


"Ayo pulang.." ajak Herman pada dua gadis itu.


Mereka bertiga berjalan keluar terminal dan menuju tempat mobil Herman di parkiran..


Herman melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.. Rissa yang duduk dibelakang dekat jendela menikmati suasana ibukota dipagi hari yang sudah mulai dipenuhi dengan kesibukan.. dia merasa takjub dan senang bisa merasakan berada di ibukota yang dulu hanya mendengar ceritanya saja..


"waaaaah.. kota yang begitu ramai dan gedung-gedungnya tinggi banget.." gumamnya mengagumi kota itu..

__ADS_1


"Kapan-kapan kalau libur kerja kita jalan-jalan RIS" ujar Wati dari kursi depan..


"Beneran mbak??" Rissa merasa kegirangan.


"Iya bener.. "


"Asyik.." seru Rissa persis anak kecil.. membuat Wati dan Herman tersenyum melihat tingkah lakunya..


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang lumayan megah.. terlihat gedung itu penuh dengan dinding kaca dan didalamnya terlihat banyak sekali kursi dan meja.. dah pasti itu sebuah restoran yang lumayan mewah.. mobil berhenti di belakang gedung itu.. Wati mengajak Rissa turun..


"Dah sampai RIS.. ayo bawa barang-barangmu dan kita ke kamar.."


Rissa mengikuti langkah Wati yang berjalan didepan.. sedang Herman jalan dibelakang gadis itu.. mereka berhenti di bangunan di belakang gedung yang terlihat seperti kamar kost-kostan yang berderet rapi.. lalu Wati membuka pintu kamarnya..


"Kita tidur disini.. " Wati mempersilahkan Rissa masuk dan menaruh barang-barangnya.


"sekarang mandilah dan nanti kita mulai kerja"


" Iya mbak.." Rissa mematuhi perintah Wati dan segera membersihkan diri..


Setelah membersihkan diri tubuh Rissa yang terasa letih karena perjalanan jauh terasa begitu segar dan bersiap untuk melihat pekerjaan yang akan dia lakukan.. sambil menunggu Wati mandi Rissa menata bajunya di lemari yang sudah ditunjuk untuk meletakkan barang-barangnya tadi..


Setelah Wati siap untuk bekerja dia mengajak Rissa masuk ke dalam gedung mengikuti langkah Wati..


"Nah RIS.. sekarang tugas pertama kamu ikut membersihkan restoran terlebih dahulu.. lalu aku ambilkan seragam dulu.."


Wati berjalan meninggalkan Rissa yang terdiam menunggu Wati sambil melihat-lihat dan berkenalan dengan karyawan lainnya..


"Rissa.. ganti dulu bajunya!" seru Wati sambil menyerahkan sepasang seragam waiters.


"iya mbak" Rissa menerima seragam itu dan menelitinya.. "mbak maaf.. ini roknya kok pendek.. " sambil menenteng rok seragam itu.


Wati hanya tersenyum melihat Rissa yang agak risih dengan rok pendek itu..


"nggak terlalu pendek.. itu pas selutut.. nanti juga terbiasa.. udah gih sana cepetan ganti.."


"iya mbak" dengan ragu Rissa berjalan kembali ke kamar dan berganti pakaian.. meskipun risih tapi tetap saja dia memakai seragam itu..


Mulai bekerja di hari pertama pagi itu dengan membantu membersihkan area restoran dari menyapu.. ngepel.. ngelap meja dan kursi serta pintu dan dinding kaca sebelum datang pengunjung..

__ADS_1


Karyawan yang lainnya juga terlihat ramah dan mulai akrab dengan Rissa meskipun baru pertama bertemu..


Hari pertama dilalui Rissa dengan lancar meskipun sangat melelahkan dan ternyata restoran buka dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam.. pantesan saja gajinya lumayan besar.. apalagi para pengunjung yang selalu ramai di jam-jam istirahat dan saat diner.. sampai kewalahan para karyawan.. padahal jumlahnya lebih dari 30 orang.


__ADS_2