Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Ngidam


__ADS_3

"Besuk kamu bisa mulai bekerja.. aku akan tunjukkan tugasmu" tambah Fais kemudian.


"Ok.. makasih mas..aku ke belakang dulu"


Rissa permisi masuk kedalam meninggalkan mereka bertiga yang masih di teras. dia masuk ke kamar yang akan ditempati nanti. Dibukanya koper lalu merapikan bajunya di dalam almari kecil di kamar itu.


Diluar pesanan Fais sudah datang. Wati masuk untuk menyiapkan di meja makan. Setelah siap dia memanggil semua untuk makan.


"RIS ayo makan dulu" ajak Wati di depan pintu kamar.


"Iya mbak.. aku selesaikan dulu beres-beres"


Setelah semua berkumpul di meja makan mereka mulai makan siang bersama. Dengan menu yang dipesan Fais tadi.. saat mencium bau seafood Rissa langsung bereaksi..


"Hemm.. sepertinya enak sekali" seru Rissa sambil memasukkan makanan seafood dalam mulutnya.


Wati menjadi bengong melihat sahabatnya itu.. karena selama ini dia paling anti dengan yang namanya masakan seafood.. bikin mual mau muntah katanya.. tapi kali ini dia heran melihat Rissa begitu lahap memakannya.


"Sejak kapan kamu suka seafood RIS?" Wati jadi penasaran.


"Nggak tahu mbak.. enak kok" sahut Rissa dengan senyum.


"Dah biarin aja yank.. mungkin bawaan bayinya" kata Herman yang membuat Wati paham.


"Orang hamil memang aneh.. tapi aku besuk kalau hamil nggak mau ribet" ujar Wati yang membuat Herman tertawa kecil.


"Biar besuk aku yang ngidam aja yank.. kamu tugasnya cuma jaga kesehatan" Herman mencubit hidung sang kekasih gemas.


"Sakit yank..!" seru Wati menepis tangan Herman dari hidungnya.


"Ehmm..ehm.. bikin ngiri aja kalian.. makanya cepat-cepat dihalalkan!" ujar Fais membuat kemesraan Herman dan Wati terhenti.


"Pasti secepatnya broo!" seru Herman.. Wati hanya tersenyum malu.


Rissa tak peduli dengan ketiga makhluk didepannya.. dia asyik menikmati makanan di piringnya.


💖💖💖💖


Di tempat lain Thomas merasakan tidak enak ditubuhnya.. terutama perutnya.. setiap kali mencium bau yang menyengat rasanya mual dan ingin muntah saja.. membuat dia tidak konsentrasi dalam pekerjaan.


"Erik.. kamu pakai parfum apa sih.. kok baunya bikin aku mual.. cepet ganti dan bersihkan tubuhmu dari bau itu!" suruh Thomas keras.


Erik yang merasa hanya memakai parfum seperti biasanya jadi heran.

__ADS_1


"Maaf bos.. saya cuma pakai seperti biasanya.. saya akan segera ganti" sahut Erik sopan.


"Ya sudah sana.. ingat nggak usah pakai parfum lagi!"


"Baik bos.. saya permisi dulu"


"Perasaan aku cuma pake seperti biasanya dan bos tidak pernah protes.. kenapa hari ini aneh sekali.." batin Erik.


Sang asisten pamit undur diri dan segera mengganti pakaiannya.. untung dia selalu menyiapkan ganti di ruang kerjanya. karena biasanya kalau lembur dia akan bersih-bersih di kantor dan juga tanpa parfum apapun. Dan setelah ganti kembali dia ke ruangan bosnya.


"Hari ini kita ada rapat dengan perusahaan X bos.. di restoran B sekalian makan siang bersama" ujar sang asisten hormat.


"Baiklah kita berangkat.. " Thomas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan melewati Erik.


"Begini lebih baik.. tidak bikin perutku mual!" katanya seraya menepuk bahu Erik.


Erik hanya mengangguk.. dan mengikuti langkah Thomas. begitu sampai di depan lift mereka berpapasan dengan beberapa karyawan wanita yang terpesona dengan ketampanan kedua pria itu.. dengan gaya yang cool.. tapi melihat pandangan genit dan juga bau parfum yang menyengat dari para wanita itu malah bikin alergi Thomas kumat.. perutnya langsung mual-mual dan mau muntah.. segera Thomas berlari ke toilet dan muntah disana.


"Huekk.. huuekk..."


Erik yang melihatnya jadi panik dan menusul bosnya.


"Bos.. apa alerginya kambuh?" tanya Erik panik.


Setelah agak mendingan Thomas membasuh mukanya..


"Wajah anda pucat bos.. apa perlu saya panggilkan dokter Torik bos?" tanya Erik.


"Tidak usah.. kita berangkat saja aku sudah baikan."


Mereka kembali berjalan menuju tempat parkir. Erik mengambil kemudi dan melajukan mobil dengan cepat karena sudah ditunggu klien. Thomas bersandar dan tak terasa dia memejamkan mata karena memang tubuhnya terasa begitu lemah setelah muntah tadi.


"Maaf bos.. kita sudah sampai." dengan perlahan Erik membangunkan Thomas yang tertidur.


Thomas menggeliat dan membuka matanya perlahan.. merapikan bajunya dan keluar dari mobil.. meskipun sedang tidak enak badan tapi penampilan tetap cool dan keren dan terlihat begitu wibawa.. berbeda dengan Thomas yang berandalan dengan tampilan acak-acakan bergaya preman.


Dengan langkah pasti Thomas masuk kedalam dan menemui kliennya. Erik dengan setia mengikuti bosnya.


"Hallo tuan Thomas.. apa kabar?" sambut kliennya dengan senyum.


"Alhamdulillah baik tuan Albert" jawab Thomas menyambut uluran tangan kliennya.


Untung tidak ada bau yang menyengat di sana jadi Thomas bisa mengendalikan tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kontrak kerjasama kita tuan Thomas? saya yakin kita bisa bekerjasama dengan baik dan bisa mendapatkan keuntungan yang luar biasa!" Albert mencoba mempromosikan perusahaannya agar bisa mendapatkan kontrak dari perusahaan Thomas.


"Tenang saja tuan Albert.. Erik sudah menyiapkan semuanya.. semoga kita bisa bekerjasama dengan baik dan semoga seperti yang anda katakan tadi!" ujar Thomas dengan nada datar tapi berwibawa.


"Tuan Thomas memang pengusaha muda yang luar biasa.. saya bangga bisa bekerjasama dengan anda.. masih muda tapi sudah sukses.. " puji Albert.


"Terimakasih atas pujiannya.."


Tak berapa lama saat mereka berbincang tentang pekerjaan datang seorang wanita mendekat.. dengan pakaian kerja yang lumayan sexi super ketat dan juga parfum yang menyengat.


"Maaf saya kelamaan di toilet.." sapanya sambil duduk di samping Thomas dengan senyum genit yang di buat semanis mungkin.


Thomas yang semula tenang saja sontak alergi wanitanya tiba-tiba kambuh. perutnya terasa mual dan ingin muntah.. apalagi bau parfum yang menyengat hidungnya menambah perutnya terasa di kocok. Erik yang mengetahui bosnya sudah tidak fokus lagi mencoba menenangkan.


"Bos apa anda ingin ke toilet?" bisik Erik dan Thomas hanya mengangguk.


"Maaf saya kebelakang dulu.. Erik yang akan menghandel semua.. saya permisi!"


Bergegas Thomas beranjak meninggalkan mereka dan menuju toilet.. tapi begitu menjauh dari mereka rasa mual itu berangsur menghilang.. saat melewati dapur restoran hidung Thomas mencium aroma masakan seafood dan membuat cacing di perutnya menggeliat ingin memakannya..


"Pelayan !" panggil Thomas pada seorang pelayan pria.


"Iya tuan.. ada yang bisa dibantu?" sapa pelayan itu ramah.


"saya pesan udang asam manis dan kepiting saus tiram.. minumnya jus alpukat."


"Baik tuan.."


"Saya tunggu di meja pojokan sana!" Thomas menunjukkan meja yang jauh dari kliennya tadi dan lumayan sepi tempatnya.


"Siap tuan.." pelayan tadi segera undur diri.


Thomas menunggu di meja pojok dan memberi kabar pada Erik kalau dia ada disana.. dalam pikirannya dia merasa heran sendiri dengan keadaan tubuhnya yang merasa alerginya makin parah.. dulu tidak separah ini.. alerginya hanya kambuh saat dia bersentuhan dengan wanita tapi sekarang melihat saja rasanya sudah mual-mual.


Setelah beberapa saat menunggu makanan yang dipesannya datang.. terasa begitu menggiurkan mencium aromanya.. dengan perlahan di nikmatinya makanan itu dengan lahap.


Saat sedang menyantap makanannya Erik sang asisten datang mendekat dan duduk di depannya.. Erik menatap heran dengan menu pesanan bosnya.. lalu menatap bosnya yang begitu lahap menikmatinya. Erik hanya bengong memperhatikan.. Thomas yang merasa diperhatikan pun mengerti.


"Makanlah jangan menatapku seperti itu.. aku jadi risih!" ujar Thomas datar.


"Terimakasih bos.. tapi tadi saya sudah makan dengan pak Albert dan sekertarisnya.. hanya saja bos yakin makan seafood?" Erik bertanya dengan masih memandang Thomas heran.


"Rasanya enak ternyata Rik.. kamu coba deh."

__ADS_1


Erik menggaruk kepalanya yang tidak gatal..


"Aneh si bos.. biasanya mencium bau seefod aja sudah enek katanya.. kok sekarang malah makan.. ya udah deh biar aja" batin Erik heran.


__ADS_2