Kesucian Cinta Rissa

Kesucian Cinta Rissa
Calon suami.


__ADS_3

"Biar tahu rasa.. bakal abis banyak Lo!" gumam Tari sinis.


"Cuma ini saja?" tanya Erik datar.


"Bentar!"


Tari berlari dan segera mengambil beberapa kaos, jaket dan celana panjang lalu di letakkan di meja kasir sampai penuh.


"Udah itu aja..!"


"Ok.. " Erik menyerahkan kartu kredit tanpa batas ke kasir.


Tari yang melihat totalan dari belanjaan itu hanya terbengong.. lebih dari 10 juta hanya untuk pakaian saja.. sampai melongo.


"Tutup tu bibir.. ntar ada nyamuk masuk!" bisik Erik di dekat telinga Tari.


Tari langsung menutup mulutnya dan kelimpungan di buatnya.


"Huh cowok es ini bikin tengsin aja!"


"Kamu bawa semua ini ke mobil!" perintah Erik.


"Heh.. kok gue.. kan ini Lo yang disuruh sama bos.. enak aja!" kata Tari geram sambil melangkah meninggalkan Erik yang hanya menatapnya.


"Ok.. besuk jangan lagi kerja di sini!" seru Erik.


Dengan kesal Tari membalikkan badan dan mengambil paper bag di kasir..


"Tangan gue cuma dua.. lainya bawa sendiri.. Lo kan cowok.. masak mau meres cewek!" kata Tari kesal sambil menatap sinis Erik.


"Gadis ini seru juga.. ternyata dia nggak ganjen seperti yang lainnya.. boleh juga!" batin Erik tersenyum tipis.


Tari dan Erik memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil.


"Kamu ikut aku ke rumah sakit!"


"Ogah.. pergi aja sendiri!" seru Tari.. dan berjalan masuk kembali ke tempat kerjanya.


"Dasar cowok es.. bikin mood gue ilang aja! dia pikir dia bisa seenaknya ngancem gue apa?" gerutunya sambil terus berjalan.


💖💖💖💖


Di rumah sakit Rissa sama sekali tidak nyaman karena yang menunggunya orang yang begitu dia benci..


"Sudah sore gini kok Tari belum datang.. kan seharusnya dia sudah ganti sif.." gumam Rissa tapi di dengar Thomas.


"Kamu pengen temanmu kesini yank?" tanya Thomas.


Rissa menoleh ke arah Thomas dengan pandangan sinis.

__ADS_1


"Bukan urusan anda.. dan tolong jangan sok manis.. apa tidak sebaiknya anda pulang tuan!"


"Kenapa kamu ingin aku pulang?" tanya Thomas datar.


"Buat apa juga anda disini..?" Rissa ganti bertanya.


"Sayang.. aku disini untuk menjagamu dan anak kita!" sahut Thomas dengan senyum.


Rissa merasa jengah dengan kata-kata Thomas. Dan merasa risih dengan ucapan Thomas yang sok manis saat memanggilnya.


Tapi mau gimana lagi cowok itu tak nyerah begitu saja.. dan juga tidak marah dengan kata-kata Rissa yang tajam.. malah sebaliknya dengan begitu sabar menghadapi Rissa.


Tak berapa lama Erik masuk dengan beberapa paper bag ditangannya. Thomas melongo melihat Erik belanja begitu banyak.. apalagi Rissa..


" Ini bos pesanannya!" ucap Erik sambil menaruh paper bag itu di meja depan sofa.


"Rik kamu mau jualan bawa begitu banyak?" tanya Thomas heran.


"Gadis bar-bar tadi yang ngambil bos!" ucap Erik datar membuat Thomas heran dengan penuh tanya.


"Siapa gadis bar-bar?" seru seseorang dari arah pintu yang tidak ditutup.


Tari masuk kedalam memasang pandangan sinis ke arah Erik.. tapi si cowok es itu seperti tidak peduli.. dan Thomas sadar siapa yang di maksud Erik.. Tari terus berjalan mendekati Rissa yang masih berbaring di ranjang pasien.


"Hai bebeb.. gimana sekarang?" tanya Tari sambil mencium pipi sahabatnya.


"Gimana baby.. sehat kan?" Tari mengelus perut Rissa yang tertutup selimut.


"Baik tante.." jawab Rissa menirukan suara anak kecil dan mereka berdua tertawa.


Thomas dan Erik hanya melihat tingkah mereka yang seakan tidak dianggap ada dikamar itu.


"Aku mau mandi tar.. rasanya gerah.. kamu kok nggak bawain aku baju sih!" kata Rissa sedikit merajuk.


"lho.. tadi si cowok es kan dah bawain Lo banyak baju!" sahut Tari sambil melirik Erik dengan nada menekan.


Tapi Erik hanya diam dan melihat keduanya.. begitu juga Thomas.


"Aku nggak mau tar.. aku mau bajuku sendiri!" ujar Rissa keras hati.


"Sayang.. ini kan dah di Carikan buat kamu.. ngapain mesti ngambil baju lagi?" seru Thomas lembut.


"Sayang?" Tari memandang Rissa penuh tanya.


"Nggak usah di dengerin!" ucap Rissa datar.


Tari hanya mengangkat kedua alisnya tak puas dengan jawaban Rissa.


"Sebentar.. gue jadi kepo ya.. apa hubungan Lo sama si bos?" tanya Tari terang-terangan.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa!" jawab Rissa datar.


Sontak Thomas berdiri sambil mengepalkan tangan menahan marah karena kata-kata Rissa.


"Siapa bilang kita tidak ada hubungan.. aku ayah dari anak yang kamu kandung!" sentak Thomas dengan sorot mata tajam menatap Rissa.


"Ya hubungan mu kan cuma sama anak ini.. bukan dengan ku!" suara Rissa tak kalah tinggi dan berbalik menatap Thomas.


"Oh.. begitu.. tapi gue calon suami Lo" kata Thomas penuh penekanan


Thomas sudah habis kesabaran menghadapi Rissa.. dengan gemas diraihnya tengkuk Rissa dan tak peduli orang lain di tempat itu Thomas langsung melu**t bibir tipis Rissa yang membuat Rissa membulatkan matanya kaget.. begitu juga Erik dan Tari yang hanya melongo melihat adegan di depannya itu.


Sekuat tenaga Rissa mendorong tubuh Thomas.. sampai Thomas jatuh terduduk di kursinya kembali. Rissa mengusap bibirnya dengan selimut agar bekas ciuman Thomas berharap hilang.


"Kamu.. menyebalkan.. aku benci kamu hiks.. hiks...!!" seru Rissa sambil memukul mukul Thomas dengan bantal secara membabi buta dengan menangis.


Thomas sadar jika emosi Rissa tidak stabil akan mempengaruhi janinnya.. lalu Thomas bangkit dan merebut bantal itu lalu menenangkan Rissa yang sedang kalang kabut.. dipeluknya gadis itu yang sekarang memukul mukul dada bidangnya.


"Tenanglah sayang.. maafkan aku.. aku salah.. tenanglah.. kasihan anak kita... maaf!" kata Thomas lembut sambil mengusap rambut Rissa.


Rissa berangsur-angsur mulai tenang dan berhenti memukul Thomas.. dia masih menangis di dekapan cowok itu.


Erik segera mendekati Tari dan menarik tangannya keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Dengan kasar Tari mengibaskan tangan Erik yang masih menariknya.


"Apaan sih Lo!!" sentak Tari kesal.


"Apa kamu nggak bisa lihat.. semua karena kamu mereka jadi berantem !" ujar Erik dengan nada tinggi dan menatap tajam Tari.


"Kok gue sih.. gue kan cuma pengin tahu hubungan mereka!" Tari membela diri.


"Kamu nggak perlu ikut campur urusan mereka.. ada baiknya kamu malah bantu agar nona tidak marah lagi sama si bos!" kata Erik datar penuh dengan tekanan.


"Lo bilang gue nggak perlu ikut campur.. kenapa lo nyuruh gue bantuin.. dasar Lo gila!"


"Heh.. cewek bar-bar jaga tu bibir.. berani menghujat aku lagi.. jangan harap bibir kamu masih utuh!" ancam Erik sambil tersenyum menyeringai.


Tari segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.. dan menuju bangku di depan kamar. Erik tersenyum penuh kemenangan melihat kegugupan gadis didepannya.. lalu dia pun ikut duduk di samping Tari yang masih menutup bibirnya.


Didalam kamar.. Rissa sudah tenang dan masih ada di dekapan Thomas.. tidak bisa di pungkiri ada rasa tenang di dalam hatinya berada dalam pelukan cowok itu.. meskipun amarahnya belum sirna. Thomas tersenyum melihat Rissa sudah tenang.. lalu di ciumnya rambut Rissa dengan rasa sayang.


"Maaf.." kata itu keluar tulus dari bibir Thomas.


"Lepaskan aku..!" kata Rissa pelan.


Thomas melepaskan Rissa yang sudah tenang.. lalu mengusap air mata Rissa dengan jari tangannya.


"Jangan marah lagi sayang kasihan anak kita.. dia akan sedih kalau kamu marah-marah terus..!" Thomas menunduk beralih di depan perut Rissa "maaf ya sayang.. papa bikin mamamu marah.. kamu yang kuat ya anak papa!"


Rissa hanya diam melihat tingkah Thomas.. entah kenapa hatinya seperti ada suatu rasa yang sulit di artikan melihatnya..

__ADS_1


__ADS_2