
"Dompet mana?"
Sentak papanya lagi..
"Dompet Thomas di bawa gadis itu pa"
"Sekarang bersiap-siaplah besuk kamu berangkat dengan mamamu!" ucap papa Heru lagi..
"Tapi pa.. Thomas mau cari gadis itu dulu.. dompet Thomas ada sama dia!" Thomas mau menghindar..
"Tidak perlu.. biar mama itu yang urus setelah kamu ke pesantren.. lagian mama yakin gadis itu baik dan tidak mungkin memakai kartu kredit kamu sembarangan.. seandainya itu dia pakai juga tidak pernah akan bisa membayar apa yang sudah kamu lakukan sama dia! kalau gadis itu ketemu kamu harus langsung menikahinya.. mama bawa dia ke pesantren biar pak kyai yang menikahkan kalian!"
Thomas hanya bisa pasrah sekarang.. tidak bisa lagi membantah perintah orang tuanya..
💖💖💖
Rissa dan Wati sudah sampai di mes.. Wati begitu tak tega melihat Rissa yang hanya tiduran sambil terus menangis meskipun tanpa suara.. dia belum berani meminta penjelasan pada Rissa.. dia tahu sahabatnya itu sedang sangat terpukul..
Wati pergi masuk ke restoran dan menuju kantor Herman.. disana dia menangis sedih..
"Kamu kenapa sayang? kok nangis sih?" Herman mencoba menenangkan kekasihnya.
"Aku sedih melihat Rissa Yank.. dari tadi dia hanya menangis dan mengurung diri di kamar dia seperti depresi.. kalau saja kemarin kita antar dia pulang dulu pasti tidak akan seperti ini" Wati menyesali kejadian itu.
"Sudahlah sayang tidak ada gunanya kita menyalahkan diri.. sebaiknya kita tanya dulu apa yang terjadi pada Rissa!.. jangan menangis lagi.. sebaiknya kamu bawakan dia makan.. nanti ajak dia kerumah ku saja.. disana kamu bisa menanyakan yang terjadi!"
Wati mengangguk dan mengusap pipinya yang basah.. dia beranjak untuk mengambil makanan buat Rissa..
"RIS.. ayo bangun dan makan dulu!" Wati berkata dengan lembut membangunkan Rissa yang tidur karena lelah menangis.
"Aku tidak lapar mbak.." jawabannya begitu lesu membuat Wati makin bersalah..
"Maafin aku RIS.. kalau saja kemarin aku tidak menyuruhmu pulang sendiri semua ini tidak akan pernah terjadi.."
"Sudahlah mbak.. semua bukan salahmu.. ini mungkin sudah takdir aku mengalami semua ini.." kata Rissa menenangkan Wati yang menyalahkan diri dengan apa yang terjadi padanya.
Wati memeluk erat Rissa.. masih tetap ada rasa bersalah dihatinya.. meskipun Rissa belum cerita tapi Wati tahu Rissa mengalami sesuatu yang berat hingga membuatnya depresi..
Rissa hanya mampu menangis dalam pelukan Wati.. dia belum siap untuk menceritakan kejadian yang menimpanya..
dia masih merasa malu dan takut.. karena baginya itu sebuah aib...
"Kita nanti nginep di rumah mas Herman ya RIS.. disana kamu bisa lebih tenang" kata Wati..
"Disini aja sama mbak.." tolak Rissa.
__ADS_1
"Nanti sama aku.. aku siapkan ganti dulu ya"
Wati mengambil beberapa bajunya dan baju Rissa lalu memasukkan ke dalam tas.. Rissa hanya bisa pasrah.. pikirannya sedang kacau dengan semua yang terjadi padanya..
💖💖💖
Malam ini Thomas di kurung orang tuanya di rumah.. semua fasilitas sudah di cabut oleh papanya.. ada rasa kesal dan juga bersalah yang membuat dia tidak bisa melawan kehendak kedua orangtuanya.. Dia harus menyiapkan mental untuk dapat gemblengan di pesantren.
Di ruang keluarga.
Terlihat tuan Heru dan nyonya Betty masih berdiskusi masalah Thomas yang sudah merusak masa depan seorang gadis..
"Pa.. demi menolongku gadis itu harus hancur masa depannya oleh anakku sendiri.. mama juga bersalah dalam hal ini pa"
tuan Heru merangkul bahu sang istri menenangkannya.
"Ma.. tenanglah.. kita berusaha mencari keberadaan gadis itu.. papa sudah menyuruh Kadir mengerahkan orang untuk menemukan gadis itu.. kita sebagai orang tua harus bertanggung jawab karena perbuatan anak kita.. Sebaiknya kita saat ini konsentrasi untuk memasukkan Thomas ke pesantren.. agar anak itu akhlaknya membaik.."
"Iya pa.. tapi Kadir harus bisa nemukan gadis itu.. bagaimana kalau dia nanti hamil.. kasihan pa.. bagaimanapun itu cucu kita"
"Papa paham ma.. sudahlah jangan terlalu khawatir.. Kadir pasti bisa menemukan gadis itu.."
Di dalam kamar Thomas belum juga bisa tidur.. pikirannya hanya terbayang wajah sendu Rissa.. gadis yang tidak membuat dia alergi.. gadis yang sudah dia renggut paksa kehormatannya..
"Gue harus mencarinya sampai ketemu.. tapi besuk gue harus pergi ke pesantren.. apa gue kabur saja mencari gadis itu ya?"
Thomas mengacak kasar rambutnya..
"Gue bicara saja sama papa dan mama.. gue akan mencari gadis itu dan bertanggung jawab.. biar gue tidak perlu ke pesantren.. " gumamnya dengan senyum..
Thomas beranjak dari ranjang dan bergegas ke kamar orang tuanya.
"tok.. tok.. "
"Pa.. ma.. Thomas mau bicara.." kata Thomas di depan pintu kamar orang tuanya.
"Masuk !" suara papanya dari dalam.
Thomas masuk kedalam kamar dan duduk di ranjang dimana kedua orang tuanya beristirahat..
"Ada apa! "tanya papanya tegas..
"Pa.. ma.. Thomas mau bicara masalah pesantren.. "
"Besuk pagi kita berangkat!" jawab mamanya singkat..
__ADS_1
"Ma.. Thomas nggak mau ke pesantren.. Thomas mau belajar dirumah saja sambil mencari gadis itu.. Thomas mau bertanggung jawab.. Thomas berjanji akan merubah sikap Thomas.. dan belajar mengurus bisnis papa.. Thomas janji.. tapi jangan kirim Thomas ke pesantren.. ya ma?" Thomas memohon pada orangtuanya..
"Apa kata katamu bisa dipercaya?" tanya mamanya sangsi.
"Untuk kali ini tolong percaya ma.. Thomas menyesal telah berbuat semua ini.."
Tuan Heru dan nyonya Betty menatap putra sulung mereka.. dilihat dari sinar matanya ada kesungguhan dan kejujuran..
"Biar mama pikirkan dulu..!" nyonya Betty dengan datar menanggapi putranya.
"Makasih ma..pa.. Thomas ke kamar dulu"
Dengan wajah lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya Thomas kembali ke kamarnya..
"Mungkin selama ini aku selalu berbuat kesalahan.. gue ingin benar-benar bertaubat.. tapi bagaimana caranya.. yang penting gue harus bertemu dengan cewek itu dulu.." gumam Thomas pada diri sendiri.
💖💖💖💖
Rissa dan Wati sudah berada di rumah Herman.. Wati sudah biasa berada di rumah itu.. Rissa hanya berdiam di ruang tamu menunggu Wati yang sedang di dapur membuat minuman... sedangkan Herman masih ada di restoran.. tak berapa lama Wati datang dengan membawa nampan.
"Minumlah dulu RIS..!"
"Makasih mbak.." jawab Rissa datar dan masih dengan wajah muram.
"RIS.. kamu boleh cerita apa sebenarnya yang terjadi kemarin malam?" Wati menggenggam lembut tangan Rissa..
Rissa hanya diam tapi air matanya jatuh mengalir tanpa henti.. Wati jadi serba salah..
"Maaf RIS kalau bukan karena aku menyuruh kamu pulang sendiri semua ini tak mungkin akan terjadi.. maafkan aku.." Wati ikut menangis melihat sahabatnya menangis meskipun tanpa suara..
"Semua sudah terjadi mbak.. tak ada yang perlu disalahkan.. ini sudah takdir aku mengalami semua ini.." wajah Rissa tak punya expresi apapun..
"Jujurlah padaku RIS.. agar aku tahu yang sebenarnya..!" Wati terus mendesak Rissa tapi malah membuat Rissa makin kencang menangisnya.
Wati memeluk erat tubuh Rissa yang bergetar karena tangisannya..
"Aku diperkosa.. hhu.. huu.." kata Rissa pelan di sela tangisnya.
Wati begitu terkejut di lepaskan pelukannya lalu di tatap wajah gadis didepannya yang penuh dengan air mata..
"Apa..! RIS.. siapa ******** yang melakukan hal bejat itu!"
"Dia orang yang bertengkar denganku waktu itu mbak.. dia menculikku dan memperkosaku.. aku sudah kotor mbak.. aku sudah tidak suci lagi.. huu.. huuu..."
Rissa menangis sambil mengusap kasar kulit tubuhnya seakan mau menghilangkan bau badan Thomas yang terasa selalu melekat di kulitnya meskipun sudah mandi.. Wati memeluk Rissa untuk menenangkannya.. juga karena dia merasa bersalah..
__ADS_1