
Rissa mengikuti perintah dokter.. seorang perawat menyuruh Rissa membuka bagian perut lalu mengoleskan lotion sebelum alat USG ditempelkan diperutnya. Terlihat dilayar monitor dalam rahimnya ada butiran sebesar kacang.
"Lihat dik.. itu adalah embrio yang akan berubah menjadi bayi dalam rahim anda.. umurnya sekitar 4 Minggu.. selamat ya!" dokter itu tersenyum..
Rissa hanya terdiam tanpa expresi.. dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan antara haru, senang dan juga sedih.. bagaimana dia harus menghadapi semua ini sendiri.. apa yang akan dia lakukan.. ingin rasanya dia bilang ke dokter itu untuk menggugurkan janinnya.. tapi dalam hatinya dia tidak mau jadi seorang pembunuh anaknya sendiri..
Dengan lunglai Rissa berjalan menyusuri trotoar.. pikirannya tidak karuan.. antara bahagia dan sedih..
"Ya Allah.. kenapa semua ini harus terjadi padaku.. kenapa hidupku jadi seperti ini.. apa kesalahanku??" ratapnya dalam hati.
Gadis itu terus berjalan tanpa tujuan yang jelas.. dia hanya ingin menenangkan diri.. tapi mau kemana? dia belum hafal kota ini.. hanya dengan berjalan kaki dia mampu sedikit menenangkan hatinya..
Sampai di lampu merah dia berhenti.. melihat lurus ke depan sambil menunggu lampu pejalan kaki menyala.. disana dilihatnya beberapa anak kecil sedang mengamen dan menjual koran bahkan ada yang mengemis.. hati Rissa merasa iba dengan nasib anak-anak itu.
Tanpa sadar dia mengelus perutnya yang masih datar..
"Mama akan berjuang demi masa depanmu sayang.. tidak akan mama biarkan kamu menderita meskipun kamu tak ada papa karena kamu hanya punya mama.." gumamnya.
Entah dari mana terasa ada yang mendorongnya untuk memiliki semangat dan harapan untuk buah hatinya dan bertekad akan merawat dan membesarkan anaknya..
💖💖💖💖
Dalam mobil Thomas sibuk dengan laptopnya meneliti laporan hari ini.. saat berhenti di lampu merah dia menatap keluar jendela.. tak sengaja matanya menangkap sosok gadis yang selama ini dia cari sedang menyeberang.. serasa tidak percaya dia masih terpaku menatapnya.
"Dia.. gadis itu.." setengah sadar dia bergumam.. "Ya gadis itu.."
Setelah sadar dia hendak membuka pintu tapi lampu sudah hijau.. dan asistennya sudah mulai menjalankan mobilnya..
"Erik berhenti!" teriaknya.
"Maaf bos.. tidak bisa.. mobil belakang masih banyak.. " kata asistennya dengan sopan.
"Aku bilang berhenti Erik sekarang!" teriaknya lagi..
"Tapi bos..!"
"Minggir!"
Erik sudah tidak bisa membantah lagi.. terpaksa dia meminggirkan mobilnya meskipun disambut suara klakson tanpa henti dari arah belakang..
__ADS_1
"Gila bosku ini kali ya... tadi di lampu merah diam saja begitu hijau minta berhenti?" batin Erik kesal
Begitu mobil berhenti Thomas langsung keluar dan berlari cepat kembali ke lampu merah tadi.. dia mencari gadis itu kearah perginya.. tanpa lelah dia menelusuri arah jalan yang dilewati gadis tadi.. tapi hampir berjalan satu kilometer hasilnya nihil.. bahkan bayangannya saja tidak ketemu.
Diusapnya kasar wajahnya dengan rasa penuh kecewa.. hampir dua bulan dia mencari keberadaannya tidak pernah dia jumpai.. hari ini bisa melihatnya sekilas tapi menghilang lagi.. dengan rasa kecewa dia terduduk di pinggir trotoar..
"Maaf bos.. sebenarnya bos cari apa?" Erik sudah berada di depan atasannya yang tertunduk dengan lesu.
Thomas ingin marah pada Erik tapi diurungkan..
"Sudahlah ayo pulang!" jawab Thomas dengan segera bangkit.
Erik membukakan pintu mobil untuk bosnya. lalu melajukan dengan kecepatan sedang.. di kursi belakang Thomas masih menatap keluar jendela berharap masih bisa bertemu dengan gadis itu.. tapi ada harapan dihatinya pasti bisa menemukannya.
💖💖💖💖
Rissa terus berjalan.. tak terasa kakinya merasa letih.. dia duduk di sebuah halte hampir dekat dengan restoran tempat dia bekerja.. diteguknya air mineral yang dia beli tadi di toko pinggir jalan..
Dengan iseng di bacanya selembar yang ditempel di dinding halte.. sebuah lowongan pekerjaan menjadi pegawai di sebuah swalayan dengan gaji UMR dan lulusan SMA..
" Lumayan juga.. gajinya" gumam Rissa..
"Aku coba lamar kesana saja.. jadi aku tidak mengenal seorangpun.. jadi teman-temanku tidak tahu aku hamil.. disana kalau ditanya kehamilanku aku bilang saja suamiku ninggal setelah kami menikah karena kecelakaan.. jadi aku tidak begitu malu.. ya sebaiknya aku pindah saja.." gumamnya sendiri.
Segera di lepaskan kertas itu dari dinding lalu di bawa pulang.. akhirnya sampai juga di kamarnya.. Rissa memantapkan hati untuk pindah dari tempat itu.. dia menyiapkan segala sesuatu untuk melamar pekerjaan.. dan juga berencana mencari kost yang dekat dengan tempat itu.
Semua sudah dipikirkan secara matang.. Rissa tidak mau membuat Wati dan Herman juga ikut malu meskipun mereka tahu apa yang terjadi padanya.. dia ingin semua jadi rahasia mereka bertiga. Karena diapun tidak mungkin menyembunyikan kehamilannya dari teman-teman di tempat itu dan tidak mau mendengar gunjingan mereka.
Rissa tinggal menunggu persetujuan dari Wati dan Herman.. segera dia pergi masuk ke area restoran dan menuju kantor Herman.. suasana restoran sore itu sedang ramai-ramainya.. dan Wati sebagai kepala pelayan masih sibuk mengawasi lainnya bekerja.. sedang Herman di dalam kantor meneliti laporan.
Tok.. tok..tok..
"masuk.." seru suara dari dalam kantor Herman.
Rissa membuka pintu lalu masuk kedalam.. dilihatnya pandangan Herman tidak beralih dari komputer didepan.. Rissa langsung duduk saja di kursi depan meja Herman.
"Mas aku mau bicara tapi juga dengan mbak Wati.." kata Rissa pelan.
"Hemm.. panggil Wati kesini!" perintah Herman tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Rissa beranjak keluar dan mencari keberadaan Wati.. terlihat disana sahabatnya itu masih sibuk.. Rissa menunggu sampai Wati agak santai.. lalu mendekatinya.
"Mbak.. bisa minta waktu sebentar? aku mau bicara?" sapa Rissa mendekati Wati.
Wati yang melihat wajah Rissa begitu serius hanya mengangguk dan mengikuti langkah Rissa dari belakang menuju ruangan Herman.
Mereka segera duduk bertiga di sofa kantor Herman.
"Ada apa RIS kamu mengumpulkan kita?" tanya Wati penasaran.
"Mbak.. mas.. sebelumnya Rissa mau minta maaf sudah menyita waktu kalian.. aku juga mau mengucapkan banyak terima kasih pada kalian berdua.. Rissa ingin mengundurkan diri dari sini.." kata Rissa pelan.
Tapi membuat Wati dan Herman kaget dengan keputusan gadis itu..
"Kenapa mesti keluar dari sini RIS?" tanya Herman heran..
"Iya RIS.. kamu mau kemana?"
"Rissa nggak mau terus menerus jadi beban kalian berdua.. aku tidak ingin kalian ikut malu karena keadaanku.. aku menyayangi kalian seperti kakakku sendiri.. jadi aku nggak mau kalian ikut menderita karena aku" suara Rissa terbata-bata menahan air mata yang ingin meluncur.
"Maksudnya apa RIS? aku tidak paham arah bicaramu!" Herman masih belum paham juga.
"Aku.. aku hamil mas.. mbak" kata ragu Rissa dengan tangisnya yang sudah pecah.
Herman mengusap wajahnya kasar.. sedang Wati segera memeluk Rissa yang tubuhnya bergetar karena tangisannya.
"Kurang ajar.. dasar pria bren***k" umpat Herman kesal..
"Kita harus cari pria itu dan minta pertanggung jawaban.. bagaimana juga dia sudah menghancurkan masa depanmu RIS!" kata Herman dengan penuh kemarahan.
"Tidak usah mas.. aku takut.."
"Kenapa mesti takut RIS.. apa yang akan orang bilang kalau kamu punya anak diluar nikah.. bagaimana dengan anak itu nanti?" Wati juga ikut mendesak Rissa.
"Aku akan membesarkan anak ini sendiri mbak.. meskipun aku harus menanggung malu.. dari pada aku menderita lebih baik aku sendiri" Rissa tetap pada pendiriannya.
"Lalu kenapa kamu mesti mengundurkan diri? kamu mau pulang kampung?" Wati terus minta penjelasan.
"Bagaimana mungkin aku berani pulang kampung.. bagaimana aku bisa menghadapi orang tuaku dan juga Yoga.. mbak? aku tak sanggup bertemu dengan mereka dengan keadaanku seperti ini.. aku nggak mau membuat mereka malu dan melihat kebencian di mata Yoga.. pasti dia akan jijik melihatku.. bahkan sampai sekarang dia masih marah padaku dan tidak pernah menghubungi aku lagi."
__ADS_1