
Sehari semalam Thomas menemani Rissa di rumah sakit dengan sabar. Dia tidur di sofa samping ranjang dengan jas sebagai selimutnya.
Rissa membuka matanya dan melihat kearah Thomas yang masih terlelap di sofa. Ada rasa kasihan juga karena sejak kemarin dia marah-marah terus.. tapi rasa sakit yang di torehkan cowok itu masih begitu kuat. Tapi melihat kesungguhan Thomas yang sejak kemarin menemaninya sedikit memberikan suatu rasa yang tidak bisa diartikan.
"Dia rela merawatku di sini.. apa dia sudah benar-benar berubah..? apa aku akan bisa percaya padanya?" gumam Rissa.
Masih melekat di ingatannya saat cowok itu begitu arogan merampas kesuciannya.. bahkan mengancam akan menjadikan dia pemuas nafsunya.. tapi sosok Thomas yang ada didepannya saat ini begitu berbeda. Yang dia lihat sekarang adalah sosok pria dewasa yang begitu sabar dan penuh kasih sayang. Bahkan rela menemani dirinya ada di rumah sakit.
"Kamu sudah bangun yank?"
Suara Thomas menyentaknya dari lamunan.. dengan gugup Rissa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu memperhatikan aku yank?" Thomas bergerak duduk dari tidurnya.
"Jangan ge-er anda.. siapa juga yang memperhatikan!" ujar Rissa gugup malu ketahuan.
Rissa bergerak turun dari tempat tidur.. dengan sigap Thomas mendekatinya.
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusan anda tuan!" jawab Rissa dingin.. dan terus beranjak turun.
"Awwww.." terasa masih ada nyeri di perutnya jika kebanyakan bergerak.
Thomas dengan cepat membopong tubuh Rissa dan membawanya ke kamar mandi.
"Ngga usah sok kuat.. kamu mau menyakiti anak kita?" ujar Thomas sedikit kesal.
Akhirnya Rissa hanya pasrah di bopongan Thomas yang membawanya ke kamar mandi.
Dengan pelan diturunkan tubuh Rissa.
"Aku bantu kamu mandi!"
"Nggak usah.. aku bisa sendiri!" sahut Rissa masih keras kepala.
"Diam dan nurut lah! Tari tidak akan datang! lagian aku masih hafal setiap inci dari tubuhmu.. jadi tak perlu kamu tutupi lagi!" kata Thomas kesal.
Karena masih lemah Rissa hanya pasrah dengan perlakuan Thomas. Dengan telaten Thomas memandikan Rissa.. dia tersenyum melihat perut polos Rissa yang sudah buncit..
"Ngapain senyum-senyum.. kalau pikiran anda kotor mending keluar saja!" kata Rissa ketus merasa risih di pandang seperti itu.
__ADS_1
"Bukan begitu yank.. aku cuma melihat anak kita di dalam sini dan kemarin saat aku pegang dia bergerak!" sahut Thomas sambil mengusap lembut perut buncit Rissa.
Sebenarnya dalam hati Rissa ada sedikit rasa bahagia ayah dari anak yang dikandungnya begitu perhatian disaat sulit seperti ini tanpa sanak saudara didekatnya. Jadi teringat keluarganya di kampung. Tapi bagaimana dia akan menghadapi orang tuanya dengan keadaan seperti ini.
Selesai membantu Rissa membersihkan diri.. Thomas kembali membaringkan Rissa di tempat tidur.. dan giliran dirinya membersihkan diri.
Erik datang membawa sarapan dan ganti buat bosnya
"Pagi nona.. ini sarapannya.. dimana bos Thomas?" tanya Erik celingukan mencari bosnya.
"Mandi.. makasih ya!" jawab Rissa singkat.
"Sudah tugas saya non!" kata Erik datar.
"Sudah datang Rik?" sapa Thomas keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada.. karena bajunya baru di bawakan Erik.
"Iya bos.. ini gantinya."
Erik menyerahkan paper bag berisi baju ganti Thomas.. dan cowok itu masuk kembali ke kamar mandi berganti baju.
"Erik hari itu pekerjaan kamu pending semua.. kalau ada kendala hubungi aku di sini!" ujar Thomas begitu keluar dari kamar mandi.
"Siap bos! kalau begitu saya pamit undur diri!" kata Erik melangkah keluar.
"Iya non.. ada apa?" tanya Erik datar.
"Bisa minta tolong.. nanti setelah ganti sif ajak Tari kesini?"
Erik menoleh menatap Thomas seakan meminta persetujuan dari bosnya itu. Thomas hanya mengangguk.. dan akhirnya Erik juga mengangguk ke arah Rissa. Cewek itu tersenyum senang.. lalu Erik keluar dan menutup pintunya.
"Sarapan dulu ya sayang.." kata Thomas sambil menyodorkan makanan ke mulut Rissa.. tapi Rissa memalingkan mukanya.
"Aku bisa makan sendiri!" kata Rissa masih ketus.
"Baiklah.. makanlah yang banyak biar kamu dan anak kita cepat sehat.. dan bisa pulang!"
Thomas menyerahkan makanan ke tangan Rissa.
" Kalau anda keberatan di sini sebaiknya anda pergi saja.. aku sudah biasa mengurus hidupku sendiri!" kata Rissa sinis.
"Kok marah lagi sih.. aku kan cuma ingin kamu segera sehat dan kita akan rawat anak kita sama sama.. emangnya kamu suka sakit terus?" kata Thomas datar membuat Rissa seakan kehabisan kata untuk membantah.
__ADS_1
"Sudahlah makan sarapanmu!" lanjut Thomas melihat cewek didepannya terdiam.
💖💖💖💖
Di tempat kerja Erik menghandel semua pekerjaan Thomas. Tak sia-sia Thomas mempunyai asisten yang begitu setia dan cekatan. Sebenarnya Erik itu teman kuliah Thomas yang lulus dengan nilai terbaik di kampusnya. Erik Pratama.. Berasal dari keluarga sederhana dengan mengontrak rumah di kota itu. Orang tuanya pegawai sipil yang hidup dengan mengandalkan gaji bulanan sebagai pegawai yang hanya mampu untuk hidup sehari-hari di kota metropolitan seperti ini. Sejak kuliah Erik sudah bekerja paruh waktu untuk membantu biaya kuliah yang di dukung juga dapat beasiswa.
Beruntung begitu lulus dengan nilai terbaik perusahaan Erik langsung merekrutnya.. dan Thomas karena kenal dengan Erik langsung mengangkat Erik sebagai asistennya dengan gaji yang lumayan besar dan sangat membantu keluarganya. Juga untuk membantu biaya sekolah 2 adiknya. Sebagian di tabung dan sudah bisa beli mobil dan sepetak rumah untuk keluarganya.
Meskipun dalam bekerja Erik terlihat begitu tegas, datar dan dingin, mahal senyum.. tapi bila bersama keluarganya dia itu pria yang hangat dan menyayangi keluarga. Karena sibuk belajar sampai sekarang dia tidak pernah punya pacar.. karena sikap dinginnya itu.. cewek juga merasa enggan untuk dekat dengannya.
Erik berjalan mencari Tari di area supermarket. Para pegawai menundukkan kepala hormat setiap berpapasan dengan asisten Erik. Tak sedikit pegawai wanita yang bertingkah genit untuk menarik perhatiannya.
"Hei gadis bar-bar! sini!" ucap Erik ketus.
Tari yang mendengar dipanggil seperti itu kesal dan tak menghiraukan Erik.. dia tetap terus melanjutkan aktivitasnya tanpa menoleh ke sumber suara. Erik yang merasa di cuekin merasa kesal dan menarik Tari sampai mereka berhadapan.
"Apaan sih Lo!" sentak Tari memandang sinis Erik.
"Aku panggil kamu dari tadi.. kuping kamu ilang ya?" kata Erik memandang tajam Tari.
"Gue nggak denger nama gue di panggil!" kata Tari santai dan mau melanjutkan pekerjaannya lagi tapi Erik menahannya.
"Gadis bar-bar nanti sore kita ke rumah sakit!"
"Heh dengar ya tuan asisten yang terhormat.. tolong anda catet.. nama gue Tari bukan gadis bar-bar.. pasang tu kuping Lo!" ucap Tari penuh emosi.
"Ok.. terserah! yang jelas nona minta kamu ikut aku ke sana!" kata Erik sambil berlalu dari dekat Tari.
"Huh.. dasar cowok es pergi sono.. pagi-pagi udah bikin mood gue rusak aja Lo!" teriak Tari kesal.. "gue ogah pergi ma Lo!"
Tari membanting kardus kosong dalam gudang sebagai pelampiasan kekesalannya pada Erik. Sedangkan Erik hanya tersenyum di dalam ruangannya membayangkan wajah Tari yang penuh dengan emosi.
"Gadis yang menarik.. begitu keras kepala.. tak ada lembutnya sebagai cewek.. tapi aku suka." gumam Erik sendiri sambil senyum-senyum.
"Apa dia sudah punya pacar atau mungkin sudah menikah? aku harus cari tahu gadis bar-bar itu!"
Erik menyelesaikan semua pekerjaan hari itu dengan cekatan belum setengah hari semua sudah beres.. sekarang dia beralih untuk menyelidiki Tari di gadis bar-bar yang membuat pikirannya kacau.
Tak perlu waktu lama Erik sudah mendapatkan info lengkap tentang Tari.
"Tari Widiastuti lulusan SMA xxx dengan tinggi 162cm berat badan 51kg hobi tidur kalau libur.. ha.. kok hobi tidur sih.. dasar gadis bar-bar.. masih singel.. Alhamdulillah! aku harus mengejarnya.!"
__ADS_1
Erik bicara sendiri sambil tersenyum..