KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Jangan menangis


__ADS_3

Aneh


Itu yang terlintas di benak Alexi, cukup lama Azkia duduk termenung sendiri di sana, apakah dia tidak kedinginan? bukanya dia harus masuk? dia akan sakit nantinya, itu akan membuat Elio khawatir dan pastinya pekerjaannya akan terhambat, apa Alexi harus menyuruhnya untuk masuk? ah.. bukannya kau akan menganggu dirinya Lexi? pemikiran itu menyerbu benak dan pikirannya.


Alexi sedikit khawatir dibuatnya, baiklah 5 menit lagi, Alexi akan memantaunya 5 menit ke depan, jika ia belum masuk juga, maka Alexi akan menghampiri Azkia dan memintanya masuk, udara malam tidak baik untuk kesehatannya.


Tetapi sebelum 5 menit berlalu, Azkia berdiri dan sepertinya akan berjalan ke arahnya, Alexi merasa lega dan hendak masuk segera sebelum berpapasan dengan gadis itu.


' Baiklah, ayo kita istirahat Lex' pikirnya.


Namun ketika ia akan beranjak dari teras, ia melihat seseorang mendekat ke arah Azkia dengan waspada dan melihat sekeliling, sebelum ia sempat berteriak mengingatkan gadis itu, sosok hitam membekap dan menarik Azkia dengan paksa. Ia sempat berteriak memanggil nama Azkia, tapi jarak mereka dan tekanan angin pantai yang kuat menelan kerasnya suara Alexi. Azkia tidak mendengar suara seseorang pun di sekitarnya selain sosok yang membekap dirinya dengan sangat kasar.


Alexi pun buru-buru mengejarnya, hanya saja lagi-lagi jarak mereka cukup jauh sehingga ia kehilangan jejak. ' aku harus meminta bantuan El ' pikirnya.


Ia dengan tergesa merogoh saku celananya, tapi tidak terdapat handphone di sana,


'Oh tidak, barang itu tertinggal di kamar vila', ingatnya.


' Apa yang harus ku lakukan?', pikirnya sambil mengacak rambutnya kesal menunduk, ia terdiam sejenak, terlihat ada jejak kaki yang membekas di atas pasir. Alexi pun sadar dan kemudian berlari mengikuti arah jejak itu.


Alexi cemas, sudah cukup lama ia berlari namun belum juga terlihat adanya sosok Azkia. Sesekali ia memanggil nama gadis itu, berharap ada sahutan darinya.


" AZKIA ", teriaknya, tidak ada balasan dari panggilannya. ia pun berlari lagi hingga sosok yang di carinya itu terlihat berlari ke arahnya, dan menabraknya.


" ah " terdengar rintihan kecil darinya, nafasnya terasa berat tidak teratur, tubuhnya bergetar, ia ketakutan, kakinya terasa lemas, ia akan jatuh jika Alexi tidak menahannya.


" AZKIA, kau baik-baik saja" ucapnya memastikan. Tangannya memegang kuat lengan Azkia agar tubuh gadis dihadapannya tidak jatuh terkulai.


Mendengar suara Alexi, Azkia mendongak menatapnya, matanya bergetar, perasaan lega menjalari tubuhnya dan seketika air matanya jatuh tak tertahan.


" Aa..aa.. aku, tolong aku " ucapnya terbata di sela tangis.


Alexi spontan memeluknya, sangat menyakitkan melihat wanita ini kesakitan merasa takut seperti ini. Sudut bibirnya terlihat merah akibat bungkaman sosok yang menariknya. Alexi menenangkan nya.

__ADS_1


"Ssstt.. semua akan baik-baik saja , aku bersamamu", katanya sambil menepuk lembut punggung dan kepala Azkia.


Ditengah itu Alexi menatap sekeliling mereka, ingin memastikan apakah penjahat itu masih mengejar Azkia, 'sepertinya ia telah kabur, sepertinya ia menghindari keberadaan orang lain, Tapi siapa yang berani masuk dan mencoba mengacau di kawasan keluarga Will?, pastinya ia juga merupakan orang yang berpengaruh dan berbahaya', pikirnya.


Setelah mengamati dan merasa yakin sekitar mereka aman, Alexi pun bertanya kepada Azkia. Mereka pun harus cepat menuju Vila, udara malam semakin dingin, badan Alexi terasa dingin, dan Azkia pun juga pasti merasakannya. ia sekarang kehilangan selimutnya, baju yang di pakainya pun sangat pendek dan sama sekali tidak tebal.


" Apa kau bisa berjalan? " tanyanya pada Azkia, ia mengangguk, namun itu akan memakan waktu lama jika Alexi memapah Azkia dan berjalan sendiri, Alexi pun mengangkatnya sehingga mereka akan lebih cepat untuk sampai ke Vila.


" Maaf, Pegangan Azkia " ucap Alexi sambil mengangkat Azkia.


" Tapi, aku bisa melakukannya " Tolaknya halus, Namun Alexi tidak menggubrisnya, ia fokus dengan gendongan dan langkah kakinya. mereka harus cepat agar Azkia merasa aman.


...****************...


" Duduklah disini, dan tunggu aku " ucap Alexi, meletakkan Azkia di atas sofa ruang tamu.


Alexi membuka lemari tergesa-gesa, disana ia mengambil kotak P3K, kemudian berjalan dan berjongkok di depan Azkia.


Gadis itu masih menangis, tentu saja Alexi paham, bahwa semua kejadian ini sangat mengerikan bagi gadis pedesaan sepertinya, ia tidak heran jika Azkia masih saja menangis, mungkin juga ini adalah kali pertama ada seseorang yang berusaha menculiknya.


Azkia menggeleng, rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk, Alexi pun membetulkannya dan menahannya di telinga. tangannya menyentuh ujung bibirnya yang memerah,


" Apa ini tidak terasa sakit ", Azkia menggeleng lagi, Air matanya menetes mengenai punggung tangan Alexi, terasa hangat namun melihatnya sangat menyedihkan.


" Bisakah kau berhenti?, aku tau ini menakutkan, tapi melihatmu seperti ini, itu sangat menyakitkan " ucap Alexi lembut.


" Ah, apakah kau akan lebih tenang jika bersama El? , aku akan membangunkannya " ucap Alexi, ia hendak beranjak pergi, namun Azkia menahan tangannya.


" Bisakah kau merahasiakan kejadian ini dari El? " ucap Azkia menatap Alexi.


" Aku tidak ingin membuatnya bertambah khawatir dan ini adalah perjalanan yang ku nanti, ia pasti akan menyalahkan dirinya lagi "


Merahasiakan sesuatu dari El, sepertinya akan mustahil, lebam di sekitar bibir Azkia akan menimbulkan kecurigaan pada El, dan akan sangat menyusahkan bagi Alexi untuk mencari alasan yang baik. Elio juga merupakan sosok yang sulit di bohongi, suatu saat ia pasti akan mengetahuinya.

__ADS_1


" Aku tidak menjanjikan itu untukmu Azkia "


" Tapi, bukannya kau mau membantuku? "


" Ya, tapi Elio pasti akan melihat lukamu itu "


" Aku akan berusaha agar dia tidak melihatnya" ucapnya yakin.


Alexi baru mengetahui bahwa Azkia merupakan gadis yang kuat dalam pilihannya, sangat sulit menolak permintaannya, tidak heran jika Elio selalu kalah olehnya.


" Baiklah, aku akan membantumu, untuk itu kau harus beristirahat, berhentilah menangis dan pastikan pagi hari kau harus menyembunyikan wajahmu dari Elio jika kau tak ingin ketahuan "


" Aku akan mengusahakannya "


" Ayo, aku akan mengantar ke kamarmu "


...****************...


Tangannya terkepal, ia merasakan amarah dan kekesalan yang sangat amat, anggota yang menangkap gadis incaran mereka kini melarikan diri.


" Bukannya kau sudah menangkapnya? " katanya geram


Dengan gemetar ia menjawab pertanyaan pria di hadapannya itu. " Ia, maafkan saya Bos, tapi dia menendang betis saya dan kabur, aku pasti akan berhasil menangkapnya kembali, jika tuan muda keluarga Will tidak muncul disana', jawabnya kesal.


"Jadi saya pun menghindarinya, jika mereka tahu, maka masalah ini akan bertambah menyebar luas dan akan lebih merepotkan, makin banyak yang mengetahui rencana penculikan gadis itu, maka akan bertambah sulit kita hadapi bos. Sebab itu saya memutuskan untuk mundur".


Penjelasan anak buahnya tidaklah salah, akan lebih runyam lagi, jika keluarga Will ikut campur dalam keselamatan gadis itu. Tapi dengan kejadian ini pastinya mereka akan berusaha agar gadis itu tidaklah sendirian lagi.


"Hah... Ini akan bertambah sulit, kita ketahuan mengejar gadis itu, Tuan Alexi pasti mulai berhati -hati dan bertindak sekarang, Yahh untungnya mereka tidak mengetahui watak di balik penculikan ini"


" Sekarang semuanya harus lebih berhati-hati lagi, kita tidak bisa pulang dan melapor pada tuan dengan kondisi mengecewakan seperti ini".


" Baik Bos"

__ADS_1


Mereka pun bubar dan kembali ke tugas mereka masing-masing.


__ADS_2