
" Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Azkia ? " nada dingin Elio terdengar disana.
Alexi menggeleng pasrah, bukannya dia terlalu kompleks tentang Azkia ?, bagaimana nantinya jika gadis itu memiliki pacar ? ia tidak mungkin ikut campur kan ?
" Hah, jangan menekan ku dengan pertanyaan tidak mendasar itu El "
" Soalnya sangat tiba-tiba sekali "
" Kau kira aku itu apa ? "
" Cepatlah kembali, jika ada yang ingin kau katakan lebih baik kita bicarakan saja di sini " ucap Elio mengakhiri telponan.
Sekali lagi Alexi menatap gedung tempat Azkia masuk, rasa ragu meninggalkannya di tempat seperti itu membuatnya kepikiran. Kebanyakan pelanggan-pelanggan yang akan di layaninya pastilah orang-orang yang m*sum dan om-om yang sering mabuk-mabukan. Meskipun begitu Alexi tidak kuasa menegurnya saat ini.
' Mari kita perhatikan beberapa hari ini ' pikirnya sambil menjalankan mobilnya dan meninggalkan Azkia di sana.
Dilain waktu Azkia melakukan pekerjaan perdananya di kota Zefro, meski pun kerjaan yang akan dihadapinya cukup sulit baginya, ia berusaha untuk mengerjakannya dengan tekun dan sungguh-sungguh. Pekerjaan sebagai seorang cleaning ternyata sulit, banyak pelanggan yang memintanya untuk membersihkan beberapa minuman yang tumpah meskipun itu bahkan tidak sampai membasahi seluruh meja hingga mengganggu aktifitas mereka. Entah mengapa mereka para om-om berdasi dan berkemeja acak-acakan itu akan puas dengan hanya kedatangan Azkia saja. Tentunya bukan hanya Azkia saja, teman kerja lainnya pun akan mendapatkan perlakuan serupa, tidak sedikit teman-temannya mendapatkan perlakuan yang tidak baik dan senonoh, namun mereka dengan cepat melepaskan diri dan menghindarinya. Untunglah selama ini tidak ada sesuatu hal yang terjadi selama ia bekerja beberapa hari ini.
Setelah mengangkat beberapa gelas dari meja pelanggan yang sudah pulang dan mengelap meja, ia bergegas untuk mengumpulkan sampah dan membuangnya di belakang bangunan bar itu, hingga ia dapat lekas pulang dari kerja.
" Azkia " panggil Sabrina yang berdiri bersandar di samping pintu keluar bagian belakang.
" iya Rin " jawab Azkia menyahuti panggilan Sabrina, setelah perkenalan di pertemuan pertama mereka, Sabrina menyuruh Azkia untuk memanggilnya Rin saja, nama Sabrina sangat panjang dan merepotkan. Ia juga akan lebih nyaman dan merasa cepat akrab jika memanggil nama mereka dengan panggilan pendek seperti itu.
Azkia menghampiri Sabrina dengan melepaskan sarung tangan plastik sekali pakai yang langsung dibuangnya di tong sampah berwarna merah di sampingnya.
" Bergantilah dan pulang, sebentar lagi shifmu akan habis, kau harus bergegas pulang bukan " ucap Sabrina mengingatkan.
Azkia melihat jam tangannya dan bergegas berganti untuk kembali ke rumah sakit.
" Baik Rin, Ah aku harus mengembalikan ini dulu " pandangnya pada celemek yang di kenakannya.
" Sampai jumpa besok " Pamit Azkia pada sabrina kemudian dan bergegas berganti dan pergi ke rumah sakit sebelum Elio datang. Hampir saja ia akan terlambat jika Sabrina tidak mengingatkannya. Hari ini malam sabtu, tentunya Elio rutin datang pada malam ini setelah ia harus kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Azkia pun bergegas dan memeriksa kembali tas selempang hijaunya, setelah memastikan tidak ada yang terlupa ia pun keluar dari pintu belakang bar dan berlari kecil melewati beberapa gedung yang terdapat di dekat bangunan tempatnya bekerja.
Sepasang mata sedari tadi memerhatikan dirinya, ia tidak sadar bahwa selama beberapa hari ini ia sedang di awasi. Pukul 10 :00 Jalan melewati belakang bar cukup sepi, hingga terlihat 1 atau 2 orang saja yang melewatinya. Jalanannya cukup panjang hingga mencapai jalan utama, memerlukan 12 menit dengan langkah cepat untuk tiba disana. Azkia mempercepat langkahnya hingga ia bisa cepat berada di jalan utama. Gelap dibelakangnya seakan ingin menariknya, terdengar juga beberapa erangan kucing mengeong marah. Hal itu menambah kengerian tersendiri bagi Azkia.
" PIP "
Azkia terperanjat kaget, ia menoleh pada mobil yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Lampu mobil yang menyoroti Azkia membuat penglihatannya silau, ia tidak bisa melihat siapa orang yang berada di dalam mobil itu. Jika ingin lewat bukannya Azkia tidak menghalangi jalannya sama sekali ?
Pintu mobil terbuka, dari tempat Azkia berdiri ia menyadari bahwa itu adalah seorang pria, cukup tinggi dengan memakai jas berwarna hitam. Ah, Azkia mulai menggigil ketakutan, kenangan akan penculikan dirinya tiba-tiba menyeruak di pikirannya.
' Aku harus lari ', pikirnya.
__ADS_1
Ia pun berlari dengan kencang mencoba menghindari orang dibelakangnya itu, namun suara derap langkah berlari kian mendekatinya. Ia menoleh, pria itu sekarang mengejarnya, Azkia mulai khawatir dan merasa ngeri.
' Siapa itu ? '
' Apa yang di inginkannya ? '
' Siapa pun tolong ', ucapnya memohon dalam hati.
Semakin lama berlari kakinya terasa sakit, dibarengi dengan ketakutan, kekuatan di kakinya semakin tidak terasa, rasa-rasanya ia berlari di atas awan, Azkia menutup mata pasrah.
" Akh " Azkia menabrak sesuatu dan terjatuh.
Sepertinya ia menabrak seseorang, siapa itu ? apa mungkin orang tadi ? sepertinya ia akan menangis kali ini. Beberapa hari ini berjalan dengan baik-baik saja. Kenapa hal ini terjadi lagi ?, Apa Azkia menyinggung seseorang ? Akh, ini membuatnya kewalahan.
" Kau baik-baik saja ? " nadanya terdengar khawatir, sepertinya ia orang yang berbeda, itu tanggapan Azkia.
" Tolong aku ", pintanya sambil menggenggam lengan orang yang dihadapannya.
" Tenang, kau aman Azkia " ucapnya menenangkannya dalam pelukan.
' Hah.. Siapa dia ? kenapa dia tahu namaku ', kengerian menghampirinya seketika. Ia memberanikan diri untuk melihat siapakah orang yang sedang bersamanya saat ini. sinar lampu jalan yang berada di dekat mereka memungkinkan Azkia untuk dapat melihatnya. Rasa lega bercampur lelah menyelimutinya. Mata bagaikan laut jernih itu menyadarkannya bahwa ia akan baik-baik saja sekarang. Azkia menyandarkan kepadanya dalam dekapan hangat penuh aman pada penolongnya ini.
Takdir apa yang menghubungkan mereka berdua selama ini ?, jika dipikirkan ia selalu muncul di saat-saat yang sangat di butuhkan oleh Azkia.
" Terima kasih " ucap Azkia sangat.
" Hah, Sial, kali ini gagal lagi " umpatnya.
...****************...
Gadis ini sepetinya sedang dalam masalah, Alexi melihat sekelilingnya, ia menatap jalan dimana Azkia berlari dan berakhir menabraknya. Apa yang di takutinya ? Alexi hendak memeriksanya namun genggaman Azkia di lengan bajunya menahan niatnya. Tubuhnya gemetar dan tangannya terasa dingin. Ia sedang ketakutan.
" Bawa aku pergi dari sini " pintanya pada Alexi.
Alexi membantunya berdiri, ia masih saja gemetar dalam dekapannya. Keringat di keningnya mengucur di pipinya, bibirnya terlihat kering dan napasnya tidak teratur.
" Bagaimana keadaanmu ? "
" Aku baik-baik saja, terima kasih " ucapnya sambil tersenyum pada Alexi.
" Akan ku antar, kau ingin kemana ? "
" Aku ingin kerumah sakit, oh ya apa El sudah pergi kesana ? " tanya Azkia khawatir.
" Sepertinya ia, kau ingin bergegas ? "
__ADS_1
" Hem " angguk Azkia.
" Baik, ayo kita pergi "
Alexi membantu Azkia berjalan menuju mobilnya yang tidak jauh dari sana. ia membukakan pintu mobil dan mengatur suhu dalam mobil hingga terasa hangat.
" Kau nyaman ? "
" Ya, tentu saja "
Mobil pun melaju, rasa cemas masih terukir di wajah Azkia, apa lagi yang di pikirkannya saat ini ?, apa dia takut ketahuan ? apa aku harus menanyakannya ? hah, Alexi bingung, ia tidak ingin merasa canggung dengan Azkia saat ini.
" Kenapa kau berada di sana ? "
Azkia terdiam menatap tangannya yang masih terasa dingin. apa ia harus jujur ? bukankah akan ketahuan nantinya ?.
" Bisakah kau merahasiakannya dari El ? " ucapnya menatap Alexi penuh harap.
Alexi tidak menyangka bahwa Azkia akan memberi tahunya mengenai hal ini, ia tersenyum pada gadis itu untuk menenangkannya, ia ingin mendapatkan kepercayaan Azkia.
" Tentu, aku sangat handal dalam memegang rahasia ", ucap Alexi dengan yakin.
" Aku bekerja di sebuah Bar " ucapnya sambil menutup mata menunggu reaksi dari Alexi.
" Wah, kau sangat hebat, apa ini rahasia antara kita ? "
Selama ini tentu saja Gisel, paman Ben dan Jen tahu jika Azkia mulai bekerja, tapi tidak seorang pun dari mereka yang tahu pastinya pekerjaan apa yang di dapatkan Azkia. Jika sanya mereka tahu pastilah mereka akan menentang pekerjaan ini. Berarti hanya Alexi yang tahu sejauh ini.
" Ya, ini rahasia antara kita " ucap Azkia.
" Baiklah, karna ini adalah rahasia kita, aku akan menjemputmu sehabis kau bekerja "
" Ah, itu tidak perlu, kau pasti sangat sibuk, aku tidak ingin menjadi beban " tolaknya.
" Apa yang kau katakan, kau tidak tahu bahwa kantor ku dan El berkerja tidak jauh dari sana, aku tidak keberatan dan juga arah rumahku melewati rumah sakit, kita searah " jelasnya.
Azkia berpikir sejenak, jika Alexi menjemputnya bukannya itu akan sangat membantu ?, ia akan dengan cepat tiba di rumah sakit dan ia juga akan merasa lebih aman tentunya.
" Bagaimana ? " tanya Alexi menginginkan jawaban.
" Baik, jika itu tidak merepotkanmu "
" Ok, aku akan menunggumu tepat di belakang bar "
" Terima kasih, ah aku pulang pukul 22:00 "
__ADS_1
" Ok "
Azkia tersenyum, dipertemuan awal Alexi tampak sangat sulit di dekati, ia jarang tersenyum dan memiliki aura yang cukup mendiskriminasi. Azkia tidak pernah berharap bahwa ia akan berbicara senyaman ini dengan Alexi. Bukan hanya berbicara, tapi berbagi rahasia, Pengalaman baru lagi untuk Azkia. Mempercayai seseorang itu sangat melegakan.