
Mobil yang di kemudi Elio melaju dengan kecepatan 80 KM per jam, dengan kecepatan ini 1 jam kedepan mereka akan sampai di Desa Zkenti, Langit semakin mendung dan jam menunjukkan pukul 17:30, sebentar lagi malam, langit terlihat mendung, sebentar lagi hujan akan turun, jika itu yang terjadi maka Elio harus mempertahankan kecepatan ini untuk mencegah agar mereka terhindar dari derasnya hujan.
Hujan di malam hari akan menimbulkan embun yang cukup tebal, oleh karna itu Elio sangat terganggu jika mereka terjebak hujan dalam perjalanan kali ini. Disamping itu ia sangat tidak bersahabat dengan hujan.
Disampingnya Azkia tertidur lelap sedari tadi, Elio pun tidak membangunkannya agar ia merasa nyaman dengan perjalan mereka. Berbagai macam kejadian yang terjadi di kota membuat Elio kadang tidak ingin lebih menyusahkannya.
Ditengah mengemudinya suara dentuman Petir dan guntur tiba-tiba terdengar menggelegar.
Elio terkaget, Azkia yang terlelap pun bangun terperanjat dengan bunyi dentuman itu.
" Apa kau baik-baik saja " ucap Elio kaget sambil memerhatikan keadaan Azkia di sebelahnya, wajahnya terlihat pucat ketakutan.
3 tahun mengenalnya, Elio tidak banyak tahu tentang Azkia, perjalanan ini pun merupakan pengalaman pertamanya mengajak Azkia untuk pergi jauh dari desa tanpa Miss. Bel., ternyata dia juga tidak bersahabat dengan suara alam memekakkan telinga ini.
" Ya, aku baik-baik El ", ucapnya mencoba tenang, namun terlihat ketidaknyamanan disana.
" Ok, kita lanjut perjalanan, sebelum gelap dan malam ", ucap Elio bergegas.
" Ok "
Mobil pun melaju kembali.
" Kia, 3 tahun mengenal mu aku terasa asing dengan kebiasaanmu ini, apa setiap mendengar guntur kau akan takut seperti ini ?"
" Tidak sering El, jika aku terjaga tidak separah ini "
" Mmm... begitu kah ? "
" Ya ", ucapnya meyakinkan
" Oh ya El, berapa lama lagi kau akan mengemudi ?, aku sudah tidak sabar bertemu Miss. Bel ", tanyanya mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
" Sekitar 30 Menit lagi, beristirahatlah kembali aku akan membangunkanmu jika sampai "
" Baik "
Azkia pun memejamkan matanya mencoba tenang.
...****************...
Langit semakin gelap, Mis.Bel menunggu di depan rumahnya sambil melirik jam di tangannya, 18:00 tertera di sana.
" Ku harap, mereka akan segera sampai ", pintanya sangat.
Mis. Bel menghawatirkan kondisi Azkia, jika ia terjebak dalam kondisi seperti itu, maka Elio pasti akan bertanya padanya dan akhirnya dirinya pasti akan menceritakan sesuatu yang cerita ini pun di rahasiakan dari Azkia, gadis itu pun tak tahu.
Pip, pip
Terdengar suara klakson dari kejauhan, mata Mis.Bel menyipit memperhatikan mobil yang datang, rasa lega pun menjalari tubuhnya, akhirnya orang yang di tunggu-tunggunya telah sampai.
" Mis. Bel " ucapnya berlari memeluk wanita itu.
Mis. Bel membalas pelukan gadis yang dianggapnya anak.
" Oh, kau bertambah berat saja sayang, apa Elio memperlakukanmu dengan baik " tanyanya memastikan.
" Tentu saja Mis.Bel, kau tidak perlu khawatir"
Mereka berdua pun masuk dan membiarkan Elio sibuk mengeluarkan barang Azkia dari bagasi mobil.
" Beginilah nasibku yang terabaikan " keluh Elio
Mendengarnya membuat Azkia dan Mis. Bel tertawa. Elio pun tersenyum mendapati 2 wanita itu bahagia karenanya. Entah sejak kapan ia membuka hati pada ke dua wanita ini.
__ADS_1
" Baiklah, aku sudah mengantarkannya dengan selamat Mis. Bel "
" Yah, syukurlah kalian berdua baik-baik saja " ucap mis. Bel penuh syukur.
" El, apa kau tidak ingin masuk, kita bisa menikmati secangkir kopi " usul Azkia.
" Tidak sekarang Kia, aku akan balik dan beristirahat, rasanya badanku pegal semua " ucap Elio sambil memijit pelan lengannya.
" Mmm baiklah, aku akan mengunjungi mu besok "
" Ok , dah Mis.Bel, Kia "
Elio pun pergi mengendarai mobilnya, melaju ke kediamannya.
" Apa kondisimu baik saja sayang " tanya Mis. Bel sepeninggalan Elio.
" Sepertinya tidak Mis. Bel " ucap Azkia mengatur nafasnya yang sedari dari di paksakannya baik-baik saja. Tubuhnya menggigil, telapak tangannya terasa dingin, namun keadaannya sekarang tidak separah biasanya. Mungkinkah karna Elio ada di dekatnya hingga dia merasa cukup kuat? entahlah.
Mis. Bel merangkul Azkia masuk menuju kamarnya, membaringkan dan menyelimutinya, ia juga memberikan Azkia secangkir air hangat untuk menghangatkan dadanya agar tidak terlalu susah bernafas.
" Istirahatlah sayang, besok kita akan berbicara lagi, ok "
" Ya Mis. Bel "
Mis.Bel pun meninggalkan Azkia, untuk membiarkannya beristirahat dengan tenang.
Besok akan menjadi hari yang cukup kejam bagi Azkia, wanita tua itu menatapnya yang sedang beristirahat dari balik pintu sebelum menutupnya kembali.
" Kuatlah sayang, pasti ini terasa berat ".
...****************...
__ADS_1